Tampilkan postingan dengan label tugu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2016

Dibuang Sayang

Gunung Semeru dari Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Lumajang.

BANYAK kisah, cerita yang belum sempat dituliskan di Catatan Pendakian Menuju Atap Jawa bagian 1 sampai 5. Bukan apa-apa. Ini soal keterbatasan tempat dan keleluasaan menggunakan pilihan kata. 

Padahal, cerita-cerita di bawah ini sama serunya, sama menariknya seperti tulisan sebelumnya. Sebab ada buanyak buanget hal tak terduga selama perjalanan tersebut. 

Gaya penulisan kali ini juga berbeda dengan tulisan sebelumnya. Kali ini lebih santai, banyak menggunakan kosakata verbal, walau tetap acuh pada pedoman EYD. Mari disimak...

1. Gedubrukan
Itu satu kata yang pas menggambarkan semua kejadian jelang keberangkatan, Rabu (4/5). Ada banyak alasan. Pertama, saya belum packing. Kedua, masih ada agenda refund tiket KA dan beliin tiket KA buat Ariyadi, teman dari SMA yang juga ikut pendakian kali ini. Of course, setelah merayu dia habis-habisan. 

Ketiga, masih ada beberapa kebutuhan yang harus dibeli. Keempat, belum beli tiket bus untuk ke Yogya. Dan semua sudah harus selesai sebelum pukul 13.00 WIB. 

Puncaknya, Mbak Mei M, anggota lain yang datang dari Brebes, ngasih tahu Reni kalau dia baru sampai Cilongok, Banyumas saat jarum jam menuju angka 12.50 WIB. Padahal jarak antara Cilongok-Terminal Purwokerto sekitar 30 menit, dengan catatan nggak macet dan bus yang membawa Mbak Mei bisa nyalip kendaraan lain. 

Sempat mecucu? Iya, karena dari awal Mbak Mei dikasih tahu untuk berangkat gasik supaya ada selisih waktu, biar nggak kedandapan alias kemrungsung. 

Sampai di Terminal Bulupitu, Purwokerto sudah ada Dedek Elvis dan Mas Anas dan kompak bilang, bus yang akan membawa kami ternyata udah berangkat. Wootttt? Barusan, kata mereka. Kami terlambat. 

Mencoba menjelaskan keadaan, akhirnya kami akan diikutkan pada jam keberangkatan berikutnya alias jam 2. Jeda sebentar, Mbak Mei datang. Alhamdulillah. Sementara Mas Supri, nunggu di Banyumas. 

Yang ditunggu akhirnya datang juga. Mbak Mei, kiri nomor dua. 

Di bus saya berhitung. Bus berangkat jam 2. Perjalanan Purwokerto-Yogya butuh waktu sekitar 5-6 jam, dengan catatan nggak macet. Artinya sekitar jam 7-8, kami baru sampai. Syukur kalau jam 7 udah sampe. Soalnya dari pool bus di Gamping, masih butuh waktu sekitar 30 sampai ke Stasiun Tugu. Once again, nggak macet. Sementara tiket KA jam 20.45 WIB. Kalau sampainya jam 8? Memikirkan itu, kepala saya pusing. Mending tidur. 

Bus sempat berhenti di Kutowinangun, Kebumen, sekitar pukul 16.50. Nyaris jam 5 dan saya berpandangan sama Mas Supri. Sementara masih harus melintasi Purworejo, masuk ke Kulon Progo dan Sleman. Nyampe nggak ya? Sementara di luar jendela, hujan deras mengguyur.

Bus Efisiensi yang kami gunakan sore itu.
Sekitar jam 7, bus sudah masuk di Yogya. Jalanan lumayan sepi, bus bisa melaju cepat, dan sesekali menyalip. Saya berseru, "Alhamdulillah," sambil tetep harap-harap cemas. Dan, pukul 19.35 WIB, bus sampai di pool di kawasan Gamping, Yk. Bagi mereka yang lanjut ke kota dan bandara, diperkenankan menggunakan layanan shuttle. 

Apesnya kami, shuttle tersebut belum terparkir dan kami harus menunggu. Sementara di grup chat BBM, sesama anggota saling bertanya, "Tim Purwokerto, sudah sampai mana?" "Yogya macet lho?" "Nyandak nggak sampai stasiun?" dan pertanyaan lain yang bikin saya tambah keder. Ditambah dari pihak bus bilang, "Shuttle-nya kayaknya masih ketahan di kota Mbak, macet." 

Rasane, malam itu pengin mbengok: Uaaasss........ eeemmmm.

Berusaha untuk nggak panik, saya optimistis shuttle bakal datang tepat waktu dan nyusun rencana sama Mas Supri. Kalau sampai jam 8, shuttle nggak dateng, kami ngojek atau sewa kendaraan lain. Pukul 19.45 WIB. Sejam lagi kereta yang akan membawa kami, segera berangkat. 

Di tengah deal-dealan harga dengan semacam rental mobil, shuttle dengan dominasi warna orange masuk garasi. Begitu berhenti, kami langsung berebut tempat duduk, taruh tas, dan duduk sambil bilang ke pak sopir, "Pak, keretanya kami jam tengah 9, jadi langsung berangkat nggih." Dan ternyata, pak sopirnya malah ngobrol di depan pintu, sedangkan kami deg-degan parah. 

Puji syukur harus kami sampaikan pada Tuhan kala itu. Jalanan nggak macet, booo... Jadi kami sampai di Stasiun Tugu jam 20.15 WIB. Alhamdulillah. 

Dan, surprise!!! Pak Nur Faizin, teman kerja Mas Supri, yang awalnya mau ikut naik tapi gagal karena ada acara keluarga, duduk di tepi tangga pintu masuk selatan Stasiun Tugu, menyambut kami, sambil membawakan dua bungkus yang saya lirik itu adalah Teh Kotak. Salaman, ngobrol bentar, lantas pamitan. Rizkinya nggak cuma sampai situ: dikasih uang saku. Alhamdulillah, panjang umur dan sehat selalu nggih, Pak... 

Udah gedubrukan-nya nyampe situ aja? Ini puncaknya. 

Jadi begini, sementara teman-teman yang lain masuk, nyari gerbong dan tempat duduk, saya dan Mas Supri playon ke pintu timur St Tugu untuk jemput Ariel dan Irkhas K yang nunggu di sana. Tiketnya Ariel ada pada saya. 

Tanpa melihat, saya berikan selembar tiket pada Mas Supri yang nerobos pintu check in untuk menjemput Ariel. Saya bergegas ke ATM, mbobol tabungan sambil berharap Mas Supri tahu keberadaan saya. 

Keluar dari ATM, balik ke pintu check in ternyata Ariel masih tertahan karena tiket yang saya berikan salah. Wott!! Lekas cek tas, ternyata saya salah ambil tiket. Itu tiketnya Mas Anas yang nanti saya gunakan untuk nyari tempat duduk. Sementara tiket lainnya, saya berikan pada Reni. 

Setelah Ariel berhasil masuk, kami jalan cepat menuju kereta dan cari gerbong masing-masing. Saya di gerbong dua, Ariel gerbong 3. Setelah masuk kereta dan bertemu teman-teman lain yang sedang menata tas, saya nggak menjumpai Mas Supri. Lah ini orang kemana? Keretanya bentar lagi berangkattttt...

KA Malioboro Ekspress
Langsung cek HP dan waktu yang bersamaan ada panggilan masuk: Mas Supri. "Mbak, dimana? Aku butuh tiketku tadi ditanyain petugas?" katanya sambil tengak-tengok dari luar gerbong, terlihat mencari sesuatu.  

"Udah di dalem mas, di gerbong dua," jawab saya. Klik. Telepon terputus dan tak lama Mas Supri muncul. "Owalahhhh... tak cariin dari gerbong paling belakang, sampai tanya ke petugas mana gerbong ekonomi, ternyata udah pada di sini," katanya.

Kami berpandangan dan kompak tertawa ngakak. Mengingat serangkaian rusuh-rusuh di Terminal Bulupitu, di pool Gamping, dan terakhir di St Tugu. Harus pakai mecucu dulu, ngebut naik motor, playon, deg-degan di jalan, jalan cepat, salah kasih tiket, dan diakhiri dengan saling mencari. 

Pukul 20.45 WIB, KA Malang Ekspres jurusan Yogyakarta-Malang, berangkat. Ke timur. Sekali lagi. (*)

Jumat, 27 November 2015

Sampai Jumpa di Yogya


SLOGAN Yogya berhati nyaman membekas di ingatan. Tak ayal, Kota Yogya masuk jadi satu wish list destinasi saya tahun ini.


Hello Jogja
Sebenarnya, kota ini sangat tidak asing bagi saya. Pertama, waktu masih kecil, usia TK, saya pernah tinggal di sini sama bapak. Kalau nggak salah, di daerah Pengok. Kedua, setiap mudik, pulang ke rumah, saya selalu melintas kota ini. Sayang, untuk menikmati, jalan-jalan santai di malam hari, haha-hihi bareng sahabat di kota ini, belum pernah saya lakukan. Paling sekadar jalan, cari oleh-oleh, dan sudah, pulang.

Nah, di tulisan kali ini, saya akan bercerita tentang pengalaman jalan ke Yogya. Saking banyaknya yang ingin dibagikan, cerita akan terbagi dalam tiga tulisan. Dan ini lah tulisan pertamanya. Selamat membaca...

=================================================

Semalam di Kota Pelajar

Bisa dibilang, main ke Yogya bukanlah tujuan utama. Jadi rencana utamanya adalah: akhir November tanggal 20an, saya mau pulang, kondangan ke tempat seorang sahabat yang menikah, Indah Diana lantas menuju ketinggian. Berhubung Mz Ganjar, Gubernur Jateng menutup semua ketinggian di Jawa Tengah pasca-tragedi kebakaran hutan, alhasil rencana utama itu gagal.

Rencana utama boleh gagal dan harus ada rencana cadangan. Saya tetap pulang dengan alasan kondangan itu dan untuk mengisi waktu, Yogya jadi tujuan. Langsung saja saya hubungi seorang kawan yang sempat satu kelas waktu SMA. Yep, Ariyadi alias Ariel, yang dulu meet up di Gn Prau. 


Ariel, paling kiri saat main ke Baturraden, Banyumas
Susun-menyusun rencana dan destinasi, jadilah keputusan: Sabtu-Minggu (21-22/11) main di Yogya. Sendirian? Yo nggak donggg... Ada Reni Suryati, yang beberapa waktu belakangan jadi teman makan, jogging, main, tidur, #eh. Sebenarnya masih ada Nur Fatimah atau Nung dan temannya yang mau ikut. Lantaran nggak dapat cuti, keduanya memilih mundur. 

Sabtu (21/11) pun datang. And I was so excited. Selain bakal ke Yogya, saya juga nggak perlu menghabiskan malam Minggu di kantor dengan setumpuk pekerjaan. Bagi saya, itu satu kemewahan tersendiri. Hahaha.

Demi bisa berangkat pagi, pakai KA Logawa jurs Purwokerto-Jember, saya pilih nggak tidur setelah pulang dari kantor sekira pukul 02.30 WIB. Beberes kamar, packing, masak nasi goreng, dan nungguin pagi. Sayang, rencana ini gagal karena partner saya, Reni Suryati bangun kesiangan. Hahaha.

Kami pun sepakat memundurkan jadwal keberangkatan, jadi jam 10.30 WIB dengan KA Joglokerto, kereta baru lansiran DAOP V Purwokerto, jurusan Purwokerto-Solo. Kebetulan banget, saya memang kepengin mencoba KA Joglokerto. Sembari nunggu jam 10, saya pun tidurrr. Zzzzzz.

Sekitar pukul 09.30 WIB, saya bangun, bersiap kembali, menunggu Reni. Nggak lama Reni datang dan kami berangkat ke Stasiun Purwokerto pakai taksi. Tapi apa daya, karena sopir taksinya nyasar, kami pun ketinggalan KA Joglokerto. Hahaha. Berpikir cepat, kami pun memutuskan untuk ke terminal dan menggunakan Bus Efisiensi. Dari Stasiun Purwokerto-Terminal Bulupitu, kami gunakan angkot G1 dengan tarif Rp 4 ribu per satu orang. 

Sebelum turun angkot, saya sempat ngobrol dengan bapak sopir angkot. Usianya paruh baya. Dia bilang, pendapatan angkot sekarang turun drastis. "Kalau dulu, ditarget Rp 150 ribu, Mbak, sak niki Rp 75 ribu mpun gedhe banget. Mpun kathah motor, Mbak," kata dia.

Saya pun ber-oh pelan. Kemudahan memiliki sepeda motor yang digeber diler bisa disebut sebagai pemicu hidup segan mati tak maunya bisnis angkot. Bagaimana pun masyarakat butuh moda transportasi yang cepat dan murah. Di sisi lain angkot memiliki kekurangan, kerap ngetem dan terkadang tidak praktis. 

Jalan sebentar dari terminal angkot, kami pergi ke loket bus Efisiensi beli dua tiket, masing-masing dibanderol Rp 60 ribu. "Berangkat jam 12.00 ya Mbak," kata kasir loket sambil memberikan lembaran tiket hasil print.
Tiket Bus Efisiensi yang sekarang ini... 
 Kami pun melongok jam tangan. Pukul 11.15 WIB, masih 45 menit lagi. Demi menunggu waktu, saya sempatkan mampir sebentar ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang berlokasi di dalam Terminal Bulupitu. Terminal yang menempati lahan seluas delapan hektare ini dilengkapi dengan taman bermain untuk anak-anak, Taman Payung, TBM, serta Taman Lalu Lintas yang masih dibangun. Juga ada aksesori berupa backdrop besar bergambar Menara Eifel di Paris dan patung singa Merlion, Singapura. Dua tambahan ini yang bikin terminal nggak cuma jadi tempat antar jemput penumpang, melainkan sudah menjadi tempat wisata foto.


TBM di Terminal Bulupitu. Adem karena ada AC dan Free WiFi
TBM berada di samping ruang menyusui dengan kaca hitam. Seperti TBM pada umumnya, maka ruangan ini berisikan buku-buku dari berbagai genre, seperti fiksi, non-fiksi, tokoh, agama, kesehatan, dan lainnya. Ruangannya relatif sempit, hanya 4x4 meter dengan tiga rak yang cukup besar dan penuh. 

Buku Para Priyayi-nya Umar Kayam jadi pilihan saya. Tapi nggak lama saya kembalikan ke rak karena menemukan buku lain, karangan Goenawan Muhammad, pendiri Tempo. Judul lengkapnya saya nggak inget tapi isinya tentang tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno, Tan Malaka, Rendra, Pramoedya Ananta Toer, dan lainnya. Karena saya lagi ngefans dengan Pram, maka tulisan tentang dia yang saya baca. 


Beberapa koleksi di TBM Terminal Bulupitu
Sempat ngobrol-ngobrol bentar dengan petugas, TBM buka setiap hari. Siapa pun boleh meminjam gratis. Baik dibaca di tempat maupun dibawa pulang. Boleh dibawa pulang asal ybs kerap ke terminal. Kecuali kalau mau ninggalin KTP asli yes. 

"Kebanyakan ke sini pada baca koran Mbak. Beberapa paling baca buku," ujarnya petugas. 

Ketika jarum jam menuju angka 11.45 WIB, kami segera menuju pool Efisiensi. Di sana, sudah ada beberapa calon penumpang yang menunggu. Tak lama, bus yang hendak mengantarkan kami ke Kota Pelajar itu datang. Tepat pukul 12.00 WIB, bus berangkat. Ramai walau tak terlalu penuh. 

Sepanjang perjalanan, kami ngobrol santai, haha-hihi bareng, cerita ngalor-ngidul, termasuk membahas telatnya kami ke stasiun, hahaha. Sampai kemudian rasa kantuk melanda dan kami pilih untuk tidur. Save energy boooo, buat jalan-jalan di Yogya nanti.

Dibandingkan menggunakan kereta, perjalanan memakai bus lebih lama. Sekali pun pakai PATAS AC, sekitar 4,5 jam. Alhasil, pukul 16.30 WIB, kami sampai di Yogya, itu pun belum di kotanya, masih di Gamping, Sleman untuk ganti shuttle yang akan mengantarkan kami ke Malioboro, lokasi meet up dengan Ariel. Akhirnya, pukul 16.55 WIB, kami sampai di kawasan Malioboro. Huraaiiii...
Malioboorrrrrrooooooooooooooooooo.... 
Langsung saja kami melangkahkan, menyusuri kawasan yang rame beuudd itu dan mencari masjid yang terdekat. Hingga kami temukanlah dengan Masjid Malioboro yang berada di Kompleks DPRD Provinsi DIY. Usai salat, kami menunggu Ariel yang kala itu ada di Malioboro Mall. Nggak lama, kawan saya yang udah kemana-mana itu muncul. Ngobrol-ngobrol bentar hingga datanglah sesosok laki-laki, mengenakan jaket, tas selempang, celana pendek, dan berkumis yang wajahnya sudah sangat tidak asing bagi saya. Nama dia pun kerap muncul di tulisan-tulisan saya. 

Guess he?

Yesss, Widi Nugroho!!! Iyaakkk, dia. 
Ini nih, biang keresean kali ini. :p

Jadi gini ceritanya: si mas ini, awalnya ngajakin saya ke ketinggian yang akhirnya gagal. Karena nggak jadi, si mas ini sudah ada rencana buat pulang kampung ke Yogya yang tanggalnya sama dengan rencana saya ke Yogya. Jadilah kita janjian untuk meet up dan main bareng dengan catatan dia dapat tiket kereta plus nggak disuruh lembur. Sepekan sebelum pulang, dia BBM, kasih kabar kalau tiket ke Yogya sudah ludes. Dari situ, dia kasih kesimpulan nggak jadi pulang.

Anehnya, selama seminggu itu, dia mancing-mancing soal rencana saya ke Yogya, jadi apa nggak, sama siapa saja, mau ke mana aja, tidurnya gimana, dan lainnya. Namun setiap kali saya tanya, jadi pulang apa nggak, dia nggak jawab. Kalau pun jawab, pasti ngeles. Saya pun mencium gelagat, ini orang pasti ngerjain. 

Ternyata, bener. Siang-siang, waktu saya dan Reni dalam perjalanan, dia BBM tanya kami sudah sampai mana dan berujung pada kalimat: Nanti ketemuan di Malioboro jam 5 ya. Hmmm.

Setelah ngumpul semua, mencari penginapan jadi agenda selanjutnya setelah salat Magrib. Kami pun sepakat cari penginapan di sekitar Malioboro sambil menyusun ulang rencana mau kemana kita. Di kawasan Malioboro yang agak masuk gang itu, kami nggak menemukan tempat penginapan yang pas. Ada sih yang murah, Rp 100 ribuan lah. Tapi lokasinya lebih masuk gang dan arah Pasar Kembang. Hehehe. 

Akhirnya kami jalan lagi sampai di Jalan Pasar Kembang. Sempat tanya ke sebuah guest house tapi masih pikir-pikir dulu. Jalan lagi, coba nyari di depan Stasiun Tugu karena di sana ada beberapa penginapan baru, siapa tahu tarifnya lebih miring. Nyatanya enggak. Dua hotel yang kami sempat tanyakan, tarifnya Rp 300 ribu sampai Rp 350 ribu. 

Sembari jalan, kami haha-hihi, saling berbagi cerita lucu, konyol, juga sembari ketak-ketik cari sewa motor. Sayang, sampai Reni menghubungi tiga nomor sewa motor, nggak ada satu pun yang diterima. Alhasil, ia pun memutuskan untuk pulang ke Cilacap, Minggu (22/11) pagi. Iya, selain ada agenda ke Yogya, Reni juga ada rencana untuk pulang ke rumah untuk melepas rindu pada ayah-ibu dan saudara-saudaranya. 

Berhubung Reni mau pulang, kami pun sepakat menginap di hotel yang kali pertama didatengin tadi. Terpaksa balik lagi dengan pembagian tugas, saya dengan Ariel booking kamar, sedangkan Reni dan Mas Widi beli tiket KA Lodaya. Lokasi meet up pun disepakati di Mall Malioboro. 


Tempat penginapan yang boleh kami rekomendasikan.
Khresna Guest House, nama penginapan kami. Berlokasi di Jalan Pasar Kembang nomor 29, Yogyakarta alias pinggir jalan persis, depan St Tugu. Dari hasil tanya-tanya dengan petugas resepsionis, Khresna Guest House punya 14 kamar dengan dua tipe. Rinciannya, sembilan tipe Standard Double Room (Rp 160 ribu) dan lima Superior Double and Twin Room (Rp 250 ribu). Berhubung tipe Standard sudah habis, kami terpaksa memilih tipe Superior. Itu pun tinggal tersisa satu kamar. Kami mendapat kamar nomor lima di lantai dua. Btw, kalau nggak bawa duit tunai, ada mesin EDC BCA kok.
Info lebih lengkapnya, monggo...

Meski ada di Jalan Pasar Kembang, tenang penginapan ini aman kok. Aman dalam arti sebenarnya ya. Meski nggak begitu luas, tapi kamarnya nyaman dan homie banget. Persis dengan tagline yang disematkan feel at home.

Setelah meletakkan tas, kami lekas menuju Malioboro Mall. Suasana malam itu makin ramai. Banyak anak muda, orangtua yang menikmati malam di Malioboro dengan foto-foto, belanja-belanji. Agak lama menunggu dua orang tua eh orang dua itu. Hehehe. Dan setelah berkumpul, maka melintaslah sepeda motor kami, membelah jalanan Malioboro. 

Tujuan pertama kami, pedagang helm. Kebetulan si Ariel nggak bawa helm cadangan. Demi menghindari tilangan, akhirnya saya memutuskan untuk beli helm. Lumayan dapat Rp 75 ribu, helm CTR warna biru. 

Setelah mendapat helm, makan jadi agenda selanjutnya. Perut minta diisi, apalagi seharian itu saya belum makan makanan berat. Sekadar ngemil dan minum susu. Saya pun mengusulkan makan Bakmi Jawa khas Yogya. Ketemulah dengan warung kaki lima yang punya menu bakmi Jawa di dekat SMP 6 dan STM 2 Yogya. Kami pun memesan tiga Bakmi Jawa dan satu nasi goreng untuk Reni. 

Agak lama kami menunggu pesanan. Apalagi kawasan itu tengah mati listrik. Alhasil, kami menunggu sambil menikmati keremangan cahaya senter. Hahaha.

Bau harum pun memenuhi indra penciuman saya. Aroma gurih dari bumbu masak yang digunakan, kuah kaldu yang disiramkan, lantas mi dan aneka sayuran yang diolah bersama, membuat lidah ingin lekas mencicipi. Begitu seporsi Bakmi Jawa itu datang, wuuhhh, tangan sama lidah nggak sabar buat mencicip. Porsinya banyak banget. Saat dicicip, ada sensasi gurih yang terjejak di mulut. Nggak terlalu gurih banget sesuai sama bayangan saya sih. But overall, enak dan mantap. Kerennya lagi, saya nggak minta bantuan buat menghabiskan! 

Setelah makan, kami melanjutkan jalan-jalan. Niat semula adalah nongkrong di kawasan Tugu. Tapi melihat ramainya yang pada nongkrong dan foto-foto di situ, kami memilih mlipir dan 'berpindah' ke angkringan. Berhubung Reni minta nongkrong di tempat yang bisa buat foto-foto, maka Mas Widi dan Ariel ngajak kami merapat kawasan angkringan Kali Code.

"Eh ada kopi joss. Pahit nggak, Mas?" tanya saya sama Mas Widi.

"Ya pesen pake gula lah," jawab dia. 


Kopi Joss. Tapi yang disajikan
nggak sebanyak ini kok. Foto diambil
dari kuliner.panduanwisata.id
Maka, sama dengan Mas Widi, saya pesan kopi joss, yaitu minuman kopi dengan tambahan arang. Sementara Reni pesan susu Milo dan Ariel, Cooffemix. Tambahan dua porsi pisang bakar cokelat keju. 

Setelah pesanan kopi datang, saya langsung meniup dan menyeruput pelan-pelan kopi itu. Slurppp... Kok nggak asing sama rasanya ya? Mikir sebentar tapi udah langsung dikomentarin sama Mas Widi. "Ini mah kopi instan terus ditambahin arang, Mbak... Kalau yang depan Stasiun Tugu itu benar-benar pakai kopi hitam, porsinya juga banyak, dan dijamin melek sampai pagi." Ohh pantes, rasanya nggak asing di lidah.
Angkringan di kawasan Kali Code. Foto diambil di
santapjogja.com

Di kompleks angkringan tersebut, para pengamen silih berganti. Pun dengan kami yang bergonta-ganti topik obrolan hingga tak terasa jarum jam nyaris menuju angka 11. Reni sudah beberapa kali menguap, Ariel yang harus pulang ke rumah di Klaten dan butuh waktu 45 menit sampai sana, dan Mas Widi yang bakal dicariin Ibuk kalau pulang kemalaman. Akhirnya, kami menyudahi jalan-jalan malam ini, demi perjalanan esok pagi. 

Selesai lah malam Mingguan di Yogya kali ini. Saya pun happy.

Btw, lagu yang jadi soundtrack trip kali ini adalah: Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa-nya Frau. Iya, saya lagi jatuh cinta dengan denting piano dan suara perempuan yang bernama lengkap Leilani Hermiasih. Suaranya itu unik. Pun dengan lirik lagunya yang nggak biasa dan membuat saya bertekuk lutut. Ditambah dengan suaranya Mas Ugoran Prasad. Wuuhhh, mantaaaaapppp jaya, luar biasa. Apalagi, pas banget Mbak Lani asli Yogya dan sempat menempuh kuliah di jurusan Antropologi, UGM. Saya pun lantas membayangkan, jangan-jangan angkringan di Kali Code ini kerap disambangi sama Mbak Lani ya. Who knows! (bersambung)