Tampilkan postingan dengan label lumajang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lumajang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2016

Dibuang Sayang 3

Dengan pose seperti ini, udah cocok punya lagu belum? 

Temu Konco
Jumat (6/5) pagi, di Ranu Kumbolo. Seperti yang sudah diceritakan pada tulisan sebelumnya, apa saja aktivitas yang kami lakukan pagi itu. Mas Akhmad masak, saya bantuin motong kobis, lainnya jemur peralatan yang keujanan dan foto-foto. 

Setelah merampungkan urusan motong-motong itu, saya santai sejenak sambil melihat sekeliling. But wait, kok nggak asing sama orang yang berjarak lima meter di depan saya ini. Saya perhatikan lagi kemeja dan kausnya, lantas berseru: "Brian!"  

Yang diteriaki pun mencari arah suara dan, "Heiii... akhirnya ketemu juga," sambil mendekat ke arah saya dan mengulurkan tangan. 

"Ren... Brian nih... Mana yang lain, Yan? Mas Jaka?" 

"Ada tuh di sana, lagi foto-foto. Bentar ya aku panggil." 

Tak lama, keduanya muncul, salaman, lanjut heboh sendiri karena suprise di antara ribuan pendaki itu akhirnya ketemu sama mereka. Kehebohan inilah yang langsung ditirukan oleh teman-teman lainnya. Yeee...

Di antara ribuan pendaki. 

Jaka dan Brian, siapa lagi mereka?

Let me introduce. Mereka berdua adalah teman perjalanan saat ke Banyuwangi. Nggak beneran seperjalanan sih karena kenalan sama mereka pun pas udah pulang, sampai di St Lempuyangan, Yk. 

Oke, begini lengkapnya. Libur Isra' Mi'raj dan Natal 2015, pasukan bela perasaan, saya, Reni, Nur, dan Kak Ros main ke Banyuwangi start dr St Lempuyangan. Di sana, kami tahu ada rombongan lain yang sepertinya satu tujuan. Ternyata bener. Sama-sama ke Banyuwangi, sama-sama turun di St Karangasem, dan sama-sama nginep di daerah tersebut.

Pasukan Bela Perasaan di Stasiun Lempuyangan. 
Keesokan hari pas mau berangkat ke TN Baluran, ketemulah satu di antara rombongan tersebut. Pun ketika main di TN Baluran dan Gunung Ijen. Sayangnya, tak ada tegur sapa di antara kami. Hanya saling senyum dan menunduk malu-malu. 

Baru ada obrolan saat papasan di depan St Karangasem, saat hendak pulang. "Ehh, masnya lagi. Bareng lagi... Di gerbong berapa, Mas?" tanya kami waktu itu. 

"Di gerbong tiga, Mbak. Eh nanti bagi nomor ya," jawab mereka. 

Terus Jaka dan Brian? Mereka dua di antara rombongan ini yang turun di St Lempuyangan. Adalah Kak Ros yang ketemu sama mereka dan tukeran PIN BB. Saat itu Reni lagi di kamar mandi, sedangkan saya dan Nur ke ATM, bobol tabungan buat pulang ke Purwokerto.

Dari tuker PIN itulah, kami akhirnya saling tersambung dan diketahui keduanya berasal dari Prambanan. It means, satu kabupaten sama saya, Klaten. Yeaaayyyy... Akhirnya punya temen sedaerah yang sehobi, hahaha

Kak Ros dan Yeti adalah yang kali pertama bertemu dengan mereka setelah perjalanan ke Banyuwangi itu. Seminggu kemudian, mereka main ke rumah pas saya mudik. Terus karena satu tujuan mau ke Semeru, janjian bakal ketemu di Ranu Kumbolo deh

Refleksi. Foto by Brian

Setelah saling sapa antar-rombongan, Jaka dan Brian mengajak saya dan Reni untuk jalan-jalan sebentar ke area Ranu Kumbolo. Kami pun melihat Ranu Kumbolo dari sudut lainnya dan sama-sama indah. (*)



Sabtu, 02 Juli 2016

Realisasi Waktu dan Dana ke Semeru

Tim Piknik Keong Hore. 

TULISAN ini lebih pada hal teknis seperti aturan apa aja sih yang harus dipatuhi saat di Gunung Semeru? Apa saja yang harus dibawa, selain perlengkapan pribadi. Realisasi waktunya gimana? Dan yang paling penting, butuh budget berapa sih...

Oke, diurai satu per satu ya.

Apa yang harus dipatuhi selama pendakian. Pertama, saat pendaftaran, jangan lupa bawa surat keterangan sehat, fotokopi KTP, dan materai. Yang terakhir disebut, cukup satu lembar per kelompok. Dan ini wajib!

Kedua, untuk menghindari antrean saat pendaftaran, lebih baik lakukan pendakian saat waktu sepi alias nggak musim liburan. Kalau punyanya waktu pas libur panjang ya, risikonya lama pas pendaftaran itu. 

Langit di Basecamp Ranu Pane

Prosedur pendaftaran: Sampai di Lapangan Desa Ranu Pane, Kecamatan Senduro, Lumajang, langsung menuju kantor Resort Ranu Pane atau basecamp yang berjarak sekitar 100-200 meter. Di sana minta form pendaftaran, yang berisi surat pernyataan pendakian dan list barang bawaan yang dibawa.

Setelah itu, antre untuk briefing dengan petugas. Mereka akan menjelaskan prosedur pendakian, jalur mana yang boleh dilewati, hal yang boleh dilakukan atau tidak. 

Pos Oro-oro Ombo
Misal yang boleh dilakukan adalah mencabut Verbena brasiliensis di Pos Oro-Oro Ombo. Sementara yang dilarang, nggak boleh nyuci peralatan masak dan makan, mandi di Ranu Kumbolo. Kalau pun mau sikat gigi, bisa ambil air di Ranu Kumbolo, terus menjauh dari surganya Semeru alias mblusuk buat sikat gigi, cuci muka. 

Selain itu, sebaiknya hindari jalan di malam hari sebab dikhawatirkan ketemu dengan hewan nocturnal khas hutan. Dilarang mendekati area Kawah Jonggring Saloka dan batas bisa seneng-seneng di Puncak pukul 10.00 WIB. Yang paling penting, jangan buang sampah sembarangan!!!

Turu sek, sedelo... 

Setelah briefing, minta cap dan bayar tiket pendakian. Di hari biasanya, dikenai tarif Rp 17.500 per hari, sedangkan hari libur dan weekend, Rp 22 ribu. Sebelum benar-benar mendaki, pengecekan tiket dilakukan di gerbang Selamat Datang Para Pendaki.

Selanjutnya, apa saja yang harus dibawa saat pendakian?

Perlengkapan pribadi: 
- Sleeping Bag (SB)
- Matras
- Headlamp/senter dan baterai cadangan
- Baju sebanyak 3-4 potong. Hindari mengenakan baju/kaus berbahan cotton. Lebih baik pakai kaus yang quick dry, baju bola minimal. Tujuannya sebagai tindakan preventif atas suhu udara Semeru yang dingin beuudd.
- Celana. Jangan pakai celana jins. Beratnya itu lho ga ketulungan plus bisa bikin kram.
- Jaket. Pernah ngrasain udara di bawah 5 derajat? Nah, lebih baik bawa jaket tambahan yes, buat jaga-jaga. 
- Jas hujan. Bawa jas hujan plastik yang harganya Rp 7 ribuan itu, sebanyak dua atau tiga. Antisipasi sama cuaca Semeru. 
- Emergency blanket alias selimut darurat. Wajib bawa per orang. Ada di toko-toko outdoor terdekat. Harga kisaran Rp 30 ribu-Rp 40 ribuan. Warnanya silver, tipis.
- Sepatu. Wajib pake sepatu, apalagi kalau niat muncak. Karena lebih aman dan nyaman. 
- Sandal. Nggak wajib sih cuma kalau mau lepas sepatu, mau lari-larian di area Ranu Kumbolo, masih bisa pakai alas kaki. Kalau mau cekeran kayak saya kemarin juga nggak apa-apa. Lebih asyik. 
- Buff/masker
- Obat pribadi
- Trash bag alias plastik sampah

Hujan-hujanan dari Pos 1 sampai Watu Rejeng

Perlengkapan kelompok: 
- Tenda
- Kompor dan/atau trangia
- Gas dan/atau spiritus
- Nasting dan/atau cooking set
- Obat-obatan, P3K seperti obat merah, sakit perut, panas/paracetamol, kasa, perban, mag, pusing, Hansaplast, koyo, Tolak Angin, Oxygen, dll
- Peralatan makan; sendok, piring, gelas, pisau, 
- Konsumsi alias logistik. Beras, sayuran, lauk, buah, garam, penyedap rasa, minyak/mentega, abon, kering tempe, kering kentang, ikan teri, roti, snack yang asin dan manis, permen, cokelat, madu, kopi, bumbu masak, dll. Penting juga untuk bawa Fitbar, Soyjoy, Snickers, dan sejenisnya. Kecil sih tapi efektif buat ngganjel lapar. 
Jangan bawa mi instan banyak-banyak. Lebih baik 'bersusah' sedikit motongin sayur, bikin sup, ketimbang masak mi. Lebih enak dan bergizi. *gara-garanya nggak dibolehin makan mi sama Mas Akhmad waktu di Kalimati. Katanya, "Apa? Masak mi instan?!" Langsung aja saya, Reni, dan Mas Fahmi yang sejak dari Puncak kepengin banget makan mi langsung mrengut, menekuk muka. "Ya udah masak mi, tapi dicampur sama bihun dan sayur." Nah baru kesampaian makan mi itu waktu di Ranu Pane, ngecamp hari terakhir. 
- Kanebo. Lho buat apa sih? Emang mau ngelap motor? Asal tahu saja, benda ini bermanfaat ketika naik gunung pas musim ujan. Buat ngelap tenda, misalnya.  
- Lilin dan korek. Kali aja ye, mau candle light dinner di Ranu Kumbolo.
- Tali webbing
- Dan lainnya menyesuaikan kebutuhan. Untuk air, cukup bawa buat bekal di jalan aja. Alam Semeru itu baik buangettt kok, udah nyiapin air, kiriman Tuhan.

Terus realisasi waktunya gimana, berangkat pulang jam berapa? Transportasi dari Purwokerto gimana, kan nggak ada kereta yang langsung ke sana ya. Ada sih tapi muahaal buanget. 

Rabu (4/5/2016)
13.30 : Meet up di Terminal Purwokerto.
14.00-19.30: Perjalanan ke Yogyakarta menggunakan Bus Efisiensi.
Bus Efisiensi tingkat dua yg masih jadi pajangan di Pool Kutowinangun
20.00-20.30: Perjalanan ke Stasiun Tugu, Yk menggunakan Shuttle Efisiensi, gratis.
20.45-04.00: Perjalanan ke Stasiun Malang Baru menggunakan KA Malioboro Ekspress.

KA Malioboro Ekspress jurusan Yk-Malang

Kamis (5/5/2016)
04.00 : Sampai di Stasiun Malang, langsung cari angkot menuju Pasar Tumpang. Nggak usah pake acara tawar-menawar, karena tarifnya sama rata. 
04.00-04.30: Perjalanan ke Pasar Tumpang
05.00-05.30: Sampai di Pasar Tumpang, bisa istirahat, salat Subuh
05.45-07.30: Perjalanan ke Desa Ranu Pane, Kecamatan Senduro, Lumajang yang jadi pintu pendakian ke Gunung Semeru menggunakan jeep. Sama, nggak usah ditawar tarifnya. 

Perjalanan menuju Desa Ranu Pane, Lumajang
08.00-10.00: Urus perizinan, Simaksi, briefing, dll
11.00-12.30: Makan, cek peralatan, kebutuhan, persiapan berangkat
13.00-17.15: Let's start. Pendakian dimulai, melintasi empat pos. Dari Basecamp ke Pos 1, jarak lumayan jauh. Pos 1 ke 2 lumayan. Pos 2 ke 3, deket, tapi hati-hati dengan jurang di sisi kiri. Pos 3 ke 4, banyak ketemu tanjakan. 
17.30-18.00: Ngecamp di Ranu Kumbolo, hingga keesokan harinya. 

Ranu Kumbolo, sore itu.

Jumat (6/5/2016)
05.00: Bangun tidur kuterus Subuhan, bikin yang anget-anget
05.30-09.00: Enjoy sunrise, foto-foto, masak sup, sarapan pakai lauk kering tempe, teri, nasi goreng, dan sup. 
Mumbul-mumbul, golek keringet. Akhirnya ketemu Brian dan Jaka, :p
09.00-10.00: Beberes tenda, peralatan masak, dan makan. Persiapan pendakian.
10.15-13.45: Again, let's start. Pendakian dimulai kembali hingga Kalimati. Melewati Tanjakan Cinta, Oro-oro Ombo, Cemoro Kandang makan semangka, padang rumput Jambangan, dan finish

Pos Jambangan, sebelum Kalimati. 

14.00- 14.30: Ngecamp, bikin tenda, cari air di Sumber Mani.
15.00-18.00: Istirahat, salat, makan, briefing, nyicil persiapan ke Mahameru. Setelah jam 6, nggak ada yang nggak tidur. 
23.00-23.15: Bangun, persiapan summit attack, gerakin badan biar nggak terlalu dingin, makan jelly
23.30: Bismillah, Mahameru, kami datang. 

The Journey. In frame: Mbak Mei dan Mas Momo

Sabtu (7/5/2016)
00.00-07.45: The real journey, perjalanan yang sesungguhnya. Pertama yang dilintasi adalah padang edelweis (jangan dipetik), lalu trek pasir kasar campur kerikil kecil dan mulai nanjak, lantas trek tanah keras dan akar-akar pohon, Arcopodo yang terdapat banyak plakat untuk mengenang mereka yang menyatu dengan Gunung Semeru. Lepas dari Arcopodo, ketemu dengan batas vegetasi yang ditandai dengan Cemoro Tunggal dan jembatan berpasir. 
Dan pendakian, dimulai. 
08.00-10.00: Sampai di Mahameru, sujud syukur, melihat dari ketinggian 3.676 mdpl, foto-foto, dan turun satu per satu. Batas aman di puncak hanya sampai jam 10 ya. 

Alhamdulillah, Mahameru
10.15-12.00: Turun masih dengan jalur yang sama, sampai di Kalimati. 
12.30-16.00: Istirahat, salat, makan, dan berkemas. 
16.30-18.30: Persiapan turun dengan jalur yang sama. Waktunya lebih singkat karena lari-lari kecil, dan sampai di Ranu Kumbolo. 
19.00-23.00: Turun lagi dan sampai di Basecamp Ranu Pane. 
23.30-00.00: Ngecamp dan bikin di halaman depan kantor Kepala Desa Ranu Pane. Lanjut tidur. 

Mahameru, dalam ingatan. Mahameru, dalam wefie


Minggu (8/5/2016)
05.00: Bangun tidur kuterus Subuhan, bikin yang anget-anget. 
05.30-10.15: Beberes, packing, sarapan, mandi, beli suvenir, dan lainnya.
10.30-11.00: Persiapan kembali ke Malang, say goodbye dengan Semeru.
11.30-12.30: Menggunakan jeep, kembali ke Pasar Tumpang. 
13.00-13.30: Di Pasar Tumpang, nyari angkot untuk kembali ke Stasiun Malang, makan semangka. 
13.00-14.00: Sampai di Stasiun Malang. 
14.00-15.30: Enjoy Kota Malang, cuma bisa ke Tugu Malang, dan Masjid. 
16.00: Pulanggggggg dengan KA Malabar. Bye Semeru, Bye Malang. 

Enjoy Tugu Malang, depan Balaikota. Sempetin foto dulu, :D


Senin (9/5/2016)
00.00-02.30: Masih di KA Malabar dan persiapan turun Stasiun Kroya
02.45-03.00: Turun Stasiun Kroya, cari mendoan, dan bus ke Purwokerto
03.00-04.00: Menuju Terminal Purwokerto. 
04.30: Sampai di Terminal and home sweet home

Sampailah pada poin penting dari perjalanan ini. Biaya alias berapa duit sih yang dikeluarkan untuk ke Semeru? Nah yang perlu diperhatikan, biaya bisa berubah dan menyesuaikan ya. Apalagi kalau bisa dapet tiket KA yang murah dan banyak temen, maksimal 20 orang. Duhh, bisa lebih miring lagi nih. Plus ini start dari Purwokerto. 

Biaya masing-masing
1. Tiket KA Malioboro Ekspres = Rp 175.000
2. Tiket KA Malabar = Rp 250.000
3. Tiket Bus Efisiensi = Rp 60.000
4. Simaksi Rp 17.500x3 hari = Rp 52.500
5. Iuran Logistik, perkap, dll = Rp 100.000+
= Rp 637.500

Biaya kelompok
1. Angkotan Rp 165rbx2 (PP)   = Rp 330.000
2. Jeep Rp 650rbx2 (PP) = Rp 1.300.000+
Rp 1.630.000 dibagi dengan jumlah anggota 10 , -> Rp 163.000
Tambahkan dengan biaya masing-masing, Rp 637.500+Rp 163.000= Rp 800.500.

Oke, clear? Yeaahhh. (*)

Senin, 06 Juni 2016

Catatan Pendakian Menuju Atap Jawa (V)

Tim Piknik Keong Hore sampai di Mahameru, 3.676 mdpl. 

MAAF. Maaf sudah lama menunggu kelanjutannya. Maaf karena belakangan ini saya kembali sibuk sama urusan kerjaan dan lainnya. Ini kelanjutannya ya. Bagian terakhir sih, tapi masih ada satu lagi nanti. 


Setelah Pendakian Delapan Jam dan Tangisan Itu...


JUMAT (6/5). Malam dingin. Gerakan tubuh tak tenang. Sementara gemerisik angin di luar. Seakan baru saja memejamkan mata, alarm berdering. Memecah malam. 

"Ayo bangun, bangun. Mbak Jul, Mba Ren, Mba Mei, bangun..." suara Supriyono membangunkan kami. 

Dengan nada berat, baru bangun tidur dan menahan kantuk, saya menyahut dari dalam. Setelah itu, dalam hitungan menit, suasana tenda kami lebih riuh. Saling bersahutan, berseru, mengabsen satu per satu. 

"Oksigen?"

"Aman, Mas."

"Air?"

"Aman."

"Webbing?"

"Udah, Mas."

"P3K?"

"Siap."

"Camilan, madu, senter, perlengkapan pribadi, jaket, sarung tangan?"

"Beres, udah lengkap semua, Mas." 

"Oke. Semua sudah siap dan lengkap. Jadi, jalur ke puncak beda banget sama jalur yang sudah kita lewati kemarin. Lebih sering ketemu tanjakan, minim jalan datar, udara semakin dingin, dan trek pasir. Semuanya saling menjaga, jangan sampai terpisah dari rombongan. Sebelum memulai perjalanan, silakan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Dipersilakan," ujar Akhmad M.

Selain berucap syukur, doa-doa meminta keselamatan, perlindungan, dan penjagaan pada Tuhan, kami sampaikan malam itu. Berpilin menjadi satu dan menuju langit. Tuhan, jaga kami, anak-anak kesayangan-Mu.

Trek. Lampu senter dinyalakan. Satu per satu, mulai mengayun langkah. "Inget urutannya ya, paling depan Mas Momo, Mbak Mei, Mbak Juli, Mbak Reni, Mas Supri, setelah itu cowok-cowok, baru saya yang paling belakang. Diinget-inget siapa saja yang ada di depan dan belakang kalian," seru Akhmad dari belakang. 


Menuju Puncak. 
Jarum jam hendak menuju angka 12. Malam itu, jalur pendakian dari Kalimati menuju puncak Gunung Semeru, penuh dengan kelap-kelip lampu senter. Ramai. Yang bila dilihat dari kejauhan nampak seperti bintang berjalan. Sembari berjalan, sembari mengusap-usapkan tangan, sembari bergurau, sembari saling menyemangati. 

Stuck. Baru jalan berapa langkah, jalur pendakian menembus hutan lereng Semeru macet. Bukan hanya jalan raya yang macet, jalur pendakian pun penuh sesak oleh para pendaki, dengan tujuan yang sama: puncak. 

Bagi sebagian orang, ini cukup menyebalkan sebab harus antre, menunggu, sebelum kembali jalan satu per satu. Namun bagi kami, kondisi ini cukup menguntungkan. Sebab dapat dimanfaatkan untuk beristirahat, meluruskan kaki. 

"Antrenya udah kayak antre sembako ya," seru beberapa teman di belakang. 

"Mumpung macet, jadi lebih baik gunakan buat istirahat, makan camilan," ujar Akhmad M, sekali lagi. 

Tak lama 'kemacetan' terurai dan kami kembali berjalan, sesuai dengan formasi. Mendaki sekian langkah, terdengar teriakan break. Suara itu berasal dari Mei M yang berada persis di depan saya. 

Kembali beristirahat. Namun tak lama, kembali beranjak. Langkah Mei pun perlahan mulai stabil dan jarang meminta istirahat. Sementara itu, kami mulai berpapasan dengan para pendaki yang memilih untuk turun. 

Bruk. Mei pun terduduk. Sontak, kami pun langsung mengerumuni dan menanyakan keadaannya. 

"Kenapa Mbak Mei?"

"Ini masih jauh ya? Aku kuat nggak sampai atas?" tanyanya sembari menahan tangis.

"Lha Mbak Mei yakin sampai ke atas nggak?"

"Iya, yakin..."

"Ya udah kalau yakin, yakin aja. Jalan pelan-pelan, kita tungguin." 

Mendengar itu, perempuan asal Brebes tersebut malah menitikkan air mata, menangis. Ia tergugu di tengah deru angin dan udara yang mulai menggigil. 

"Mbak... Mbak Mei yakin sampai puncak bareng kita kan? Buang jauh pikiran bakal ngrepotin yang di sini," kata Irkhas Kurniawan sembari menenangkan Mei. 

"Iya Mbak, santai aja. Kita di sini kan saudara, saling menjaga, nggak ada yang direpotin kok," timpal lainnya. 

Terdiam sebentar. Mei pun lantas mengusap sisa tetes air. Masih dengan sedikit sesenggukan, ia mengangguk pelan. 

"Okelah, semangat! Bisa sampai puncak," kata Mei sesudah itu. 


Mbak Mei, semangat Mbak Mei... Foto: Supri
Kami pun bernapas lega. Semangat Mei telah kembali. Kami pun bersiap, bergegas menjejakkan kaki menuju tanah tertinggi di Pulau Jawa. Teriakan semangat menggema.

"Nah gitu Mbak Mei. Yang penting itu semangat dan mental Mbak, fisik mengikuti," seru Irkhas yang turut menyemangati. 

Angin malam kian menderu. Saya harus menambah jaket untuk menjaga hangat tubuh. Sementara kaki kian berat melangkah sebab kami sudah sampai di trek berpasir dengan kemiringan lebih dari 45 derajat.  Sementara tali webbing sudah kami pergunakan untuk menuntun satu per satu anggota. 

Entah berapa kali kami berhenti di trek pasir itu. Benar apa kata orang, trek pasir menuju Mahameru memang luar biasa. Luar biasa indah, luar biasa susah. Bahkan tergolong trek paling sulit dari sekian banyak gunung di Tanah Air. Benar-benar menguras tenaga. 

Meski demikian, kaki saya pun mulai terbiasa dengan trek pasir tersebut. Agar tenaga yang dikeluarkan tak sia-sia, saya menggunakan trik dengan ujung sepatu yang ditancapkan ke pasir, baru kemudian mengangkat tubuh. Kebanyakan orang menggunakan tumit sebagai tumpuan. Alih-alih dapat melangkah ringan, malah kerap terperosok. Yang terjadi kemudian, naik tiga langkah, turun dua langkah.


Gunakan ujung sepatu untuk mendaki. Foto diambil waktu di puncak. 

Dengan trik tersebut, tenaga masih bisa terjaga, tidak terlalu ngos-ngosan. Langkah kaki pun sedikit lebih ringan. 

Satu lagi yang harus diperhatikan adalah pijakan. Meski didominasi pasir, jalur ke puncak tetaplah menyisakan bebatuan, kerikil, hasil muntahan dari kawah Mahameru. Pastikan batu yang dipijak kuat, menanggung beban kita. Bila tidak, ia bisa saja jatuh, meluncur. Cara memberitahu bila ada batu menggelinding adalah berteriak, "Awas, batu/rock." Dengan begitu, para pendaki bisa memperhatikan arah jatuhnya batu dan menghindarinya. 

Hingga tak terasa, sudah masuk waktu Subuh, 04.30 WIB. Total kami berjalan sudah lima jam dan belum jua sampai di puncak.

Sembari melepas lelah, beberapa anggota melaksanakan salat Subuh. Rasa syukur kembali terucap dalam sujud pagi itu. Rampung salat, saya mendongak ke atas, ke arah puncak berada. 


Leren, sekali lagi. Depan: Elvis, Reni, Mbak Mei. Belakang: Mas Anas, Juli, Mas Momo.
Foto: Mas Supri

"Mas, yang merah-merah itu puncaknya ya?" tanya saya pada Supriyono merujuk pada pendaki dengan jaket atau carrier warna merah, nun jauh di atas sana. 

"Iya Mbak. Udah deket kan?"

Saya hanya mengangguk dan berhitung. Artinya sebentar lagi kami akan sampai Mahameru. Rasa optimistis terpancar, dengan langkah seperti ini dan jarak sedekat itu, satu jam lagi, kami sampai. Sementara sinar Matahari, diam-diam muncul dari ufuk timur. 


Capek? Buanget. Tapi tetep senyum kalau ada kamera. Foto: Mas Supri.

Mendaki lagi dan sejam kemudian. Kami hanya sepersekian langkah dari lokasi bersujud. Artinya jejak yang kami tinggalkan di bawah, belum ada apa-apanya. Puncak masih terlalu jauh. 

Jalan lagi dan kini Matahari sudah benderang, memberi terang pada semesta. Mendongak sekali lagi dan puncak masih terasa amat jauh. Nyaris putus harapan. Apalagi beberapa kawan seperti Elvis Rijal, Irkhas Kurniawan, Fahmi Fauzi, Momo, dan Anas Masruri sudah jauh di depan. Namun bila mengingat harus merangkak demi menyelesaikan jalur ini, pikiran untuk berhenti, hilang sudah. 


Ramai, iya. Treknya luar biasa, iya banget. Foto: Mas Fahmi.

Dengan sepenuh hati, saya membujuk kaki untuk mendaki. Sedikit lagi. Sembari menikmati kawasan Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS) dari ketinggian tertentu di bawah sinar Matahari pagi. Bercakap dengan pendaki lain turut jadi moodbooster untuk lekas menyelesaikan jalur ini.  

Menunduk saat mendaki. Tegap saat turun. Foto: Mas Supri

Baru setengah berjalan, saya kembali terduduk. Jalur ini nyaris menjatuhkan mental dan semangat. Sudah jauh berjalan, puncak masih jauh dari pandangan. Tidak, saya belum mau menyerah. Dengan sisa tenaga, saya kembali mendaki,merambati tali webbing yang dikomandoi Supriyono.

Tak terasa, kami sampai di sebuah batu besar. Asa mengembang sebab jarak ke puncak sudah semakin dekat, seperlemparan batu lagi, kami sampai. Sebentar lagi. 

10 meter. Kami masih antre bersama para pendaki. 

Lima meter. Kami bergantian dengan pendaki yang ingin turun. 

Tiga meter. Kami melibas tanjakan bebatuan. 

Dua meter. Kami mendaki, satu tangga lagi.


Satu meter itu bersama kawan dr Palembang. Foto: Mas Supri
Satu meter. Kami melihat kawah Jonggring Saloka mengeluarkan asap. 
Dan, hap. Kaki kami, saya, Supriyono, dan disusul Jack Kidd telah menjejak tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kaki kami ada di ketinggian 3.676 mdpl. Kami sampai di tanah di mana para dewa bersemayam, Mahameru. Pukul 07.50 WIB. 


Cieee... yang udah sampai duluaaannnn.... 

Elvis Rijal, Irkhas Kurniawan, Fahmi Fauzi, Momo, dan Anas Masruri, anggota kami lainnya sudah sampai terlebih dahulu. Mereka melambaikan tangan, meminta turut bergabung. Kami menuju ke arah mereka dan disambut dengan jabat tangan erat serta ucapan selamat. 

Mata saya pun basah. Saya menahan agar rintik itu tak turun. Namun yang terjadi kemudian, saya menunduk, kemudian berjongkok, dan tergugu. Semakin saya mencegah untuk tak menangis, dada kian sesak dan air mata kian deras mengalir, tumpah. 

Saya teringat, bagaimana untuk sampai ke mari, harus berjalan kaki, menahan beban selama sembilan jam, lanjut mendaki selama delapan jam. Bagaimana saya cari cara mengatasi tiga ketakutan yaitu takut dingin, takut merepotkan anggota lain, dan takut turunan. 

Saya pun teringat, pada ayah yang 14 tahun sudah berada di surga, rambut ibu yang tak menyisakan warna hitam serta kulit keriputnya. Serta apa yang saya lakukan dan perbuat selama ini. 

Saya teringat, Maha Baiknya Tuhan pada saya, kami. Sepanjang perjalanan ini, nyaris tak ada aral besar, selalu dijaga oleh-Nya, dan diberikan banyak kemudahan. Alhamdulillah

Tak lama, Reni Suryati dan Ariyadi menyusul sampai di puncak. Menyisakan sedikit gemetar, saya memeluk Reni. "Udah Mbak, nangis bae lhoo," ledeknya. 


Mahameru, Mahameru, Mahameru. Foto: Ariyadi
Kami pun menikmati Mahameru. Kami bermain di lapangan luas dengan bebatuan berserakan. Berfoto, bersenda gurau, sambil menunggu kawah Jonggring Saloko menguarkan asap dan suara, 'Boom' menggegar. 

Kejutan datang sekali lagi. Mei M dan Akhmad M sampai di puncak. Kami berteriak kegirangan. Semua anggota akhirnya bisa menapakkan kaki di Mahameru. Bersama-sama. 


Mas Supriyono. Alhamdulillah ya Mas... 

Tak ada lagi yang bisa terucap selain ucapan syukur pada Tuhan. Terima kasih, sudah memberikan kami kesempatan untuk menikmati sekeping surga di atap Jawa. (tamat)


Depan, sedikit lagi. Pas dijalanin, ternyata nggak sampe-sampe.
Foto: Mas Supri

SatelitPost on the Top of Java. Bareng layouter SatelitPost, Anas M

Suasana puncak pagi itu. 

Mas Anas, Liverpool yg nggak juara2, dan kawah Jonggring Saloko.

Pasukan Bela Perasaan, love youuuuuu... :*

Sesekali, Id Card mejeng. 

Ketika yang lain sibuk cari spot foto, aku malah tidur-tiduran. 

Kawah Jonggring Saloko. 

Seger ya makan pir di puncak. 

Elvis dan pertanyaan khusus untuk Mas Akhmad M


Formasi. 

Biru dan Langit Luas. 

Minggu, 29 Mei 2016

Catatan Pendakian Menuju Atap Jawa (IV)

Tanjakan Cinta. 

"AYO Jul, semangat Jul... dikit lagi..."

"Iya Mbak, ayooo bentar lagi sampai..."

Seruan-seruan itu banyak membakar semangat saya untuk lekas menyelesaikan Tanjakan Cinta. Begitu kata orang-orang untuk menyebut tanjakan yang berada di atas Ranu Kumbolo tersebut. Kata mereka, dua bukit yang mengapit jalur tersebut mirip dengan bentuk hati. Itulah kenapa disebut Tanjakan Cinta.

Hap. Sepasang kaki saya sudah berada di tempat kawan-kawan beristirahat. Dengan napas terengah-engah, lekas menggeletakkan carrier yang rasanya hampir menimpa tubuh kurus saya.

"Tak pikir yo, yang namanya Tanjakan Cinta itu, tanjakannya cuma sebentar dan nggak tinggi-tinggi amat. Hla nek liat di gambar kan rasane cedek banget yo, jebulanee... nguras tenaga," kata saya sembari meluruskan kaki. 

Masih tentang Tanjakan Cinta. 
Kawan-kawan saya, seperti Fahmi Fauzi, Anas Masruri, Elvis Rijal, Ariyadi, dan Jack Kidd yang sudah terlebih dahulu sampai hanya tertawa ringan menanggapi omelan saya. Melihat ada kawan lain yang masih berusaha menyelesaikan tanjakan ini, saya lantas turut menyemangati. 

Ayo Mbak Mei, semangat... Dikit lagi sampe... 

"Ayo Mbak Mei, Mas Supri, Reni... Semangat, sebentar lagi sampai," seru saya. 

Setelah semua sampai, tak butuh waktu lama untuk kembali memanggul carrier dan menyelesaikan satu tanjakan lain yang akan mengantarkan kami ke lanskap yang tak kalah keren. Satu tanjakan terakhir di puncak bukit yang cukup membuat saya kembali tergeletak di tanah Semeru. 

"Yo istirahat di depan aja, jangan di sini," kata Akhmad M turut mengomando kawan lainnya. Dengan ogah-ogahan, saya pun menurutinya. Begitu sampai di tempat terbuka, kami semua bengong, mata kami terbelalak, dan raut wajah kami sama bahagianya seperti kali pertama sampai di Ranu Kumbolo. Inilah bonus setelah bersahabat dengan tanah tinggi di Tanjakan Cinta. 

Oro-oro Ombo. Itulah pemandangan yang membawa kami seperti ke alam lain. Sebuah padang savana nan maha luas dengan jalan setapak yang membelah dan perlahan menjadi kebun Verbena brasiliensis, tanaman perdu berwarna ungu. Banyak orang mengira itu adalah lavender. Sayangnya bukan. 

Oro-oro Ombo. Ada dua jalan, mlipir ke kiri atau jalan di tengah.

Di balik keindahannya, tanaman yang berasal dari Amerika Selatan ini rupanya mengancam ekosistem dan habitat tanaman asli Gunung Semeru. Sifat invansifnya secara membabi-buta mengubah padang sabana Oro-oro Ombo. 

"Makanya sama tim Sahabat Volunter (Saver) Semeru dan Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS), tanaman ini disarankan untuk dicabut," kata Supriyono menjelaskan. 

"Boleh dibawa pulang?"

"Boleh. Mau sekarung juga nggak apa-apa."

"Jadi, kita mau lewat mana? Lewat tengah, nglewatin padang atau mlipirin di bukit," tanya Akhmad sambil menunjuk jalan setapak di bukit sebelah kiri. 

"Sama nggak sih Om?" 

"Bedanya kalau kita lewat bawah, harus turun, lumayan curam. Kalau lewat sana, lebih landai dan teduh. Ending-nya sama, nanti ketemu taneman ini juga," ujarnya. 

"Mlipir aja deh. Besok pulangnya lewat tengah Oro-oro Ombo." 

Verbena brasiliensis, tanaman yg disarankan utk dicabut. Bukan lavender ya.

Semuanya pun sepakat. Bukan apa-apa, supaya lebih hemat tenaga dan tak terlalu ngoyo saat turun. Apalagi tenaga kami sudah terkuras di Tanjakan Cinta.

Benar saja, seperti ucapan pria asal Yogyakarta tersebut, akhir dari jalan setapak ini tetap di kebun Verbena brasiliensis. Tentu kami tak menyiakan kesempatan ini untuk berfoto, mengabadikan momen. Jarang-jarang kami bertemu dengan tanaman ungu ini. 

Pura-pura candid. Uhuk. Makasih fotonya Mas Jack yg nama
panggilannya mirip sama Layouter kantor, Pak Jack. :D
Setelah menyelesaikan Oro-oro Ombo, kejutan kembali menanti kami di depan. Cemoro Kandang, yakni sebuah hutan cemara yang menjadi jalur pendakian kami selanjutnya. Di berandanya, kami kembali beristirahat dan menggeletakkan carrier

"Ngemil, ngemil dulu, makan," komando Supriyono sambil menuju ke arah warung. 

Ya, di jalur pendakian yang sudah semakin jauh ini, yang bila dijumlah menempuh enam jam berjalan kaki, kami masih menemukan sebuah warung yang menjajakan aneka gorengan, semangka, dan rokok. Jangan tanya soal harganya. Sebanding dengan perjuangan para penjual untuk sampai ke Cemoro Kandang. Satu bungkus rokok dihargai Rp 30 ribu, sedangkan satu potong semangka dijual Rp 2.500. 

Dan untuk kedua kalinya, Supriyono membawakan 10 potong semangka. Seketika, dahaga dan lelah sirna usai menyantap sepotong semangka. Yang lagi-lagi kenikmatannya tak bisa terjabarkan.

Semangka dan Mas Supri. Duhhh, suegernyaaa...

Tak ingin terlalu lama beristirahat, tepat pukul 11.45 WIB, kami sudah harus kembali memanggul carrier. Yang rasanya semakin berat saja. Apalagi setelah mendengar arahan bila kami mulai mendaki alias lebih banyak ketemu tanjakan ketimbang jalan datar. 

Benar saja, baru berapa langkah, kami sudah bertemu dengan jalan yang mulai naik, naik, naik, dan diapit pohon cemara. Membuat saya harus kembali mengambil napas dan jeda sembari meluruskan punggung, mengusap keringat. 

Jalan lagi di tengah cuaca yang semakin terik, berteman dengan semilir angin, serta obrolan ringan. Terus berjalan, mengikuti jalur yang sudah ada, saling menyapa, memberi semangat pada pendak lain. Bagi saya, bertemu, berbincang dengan mereka, para pendaki seakan jadi oase di tengah perjalanan yang belum ada separuhnya ini. Walau hanya bertanya, datang dari mana. Seakan kami adalah sahabat dan saudara yang lama tak bertemu.

Saya terus berjalan. Berjalan sambil menahan diri agar tak lekas berhenti. Berjalan hingga pikiran dan kaki kompak menyuruh saya berhenti. Berhenti, saat saya benar-benar butuh untuk jeda. Saya baru benar-benar berhenti saat bertemu dengan kawan lain yang sudah mendahului dan menemukan tanah lapang untuk meluruskan kaki. 

Muka-muka udah capek setelah dihajar jalan naik. Masih ada satu tanjakan lagi. Foto: Mas Jack

"Leren, leren sek, Mbak..." ajak Jack Kidd sambil mengulurkan botol minuman. 

Glek glek. Cukup dua teguk dan air dari Ranu Kumbolo itu sudah langsung membasahi tenggorokan. Duhhh, segarnya... Beberapa kawan lain seperti Anas Masruri, Elvis Rijal, Fahmi Fauzi, Ariyadi, dan Reni Suryati sudah terlebih dulu melepas lelah.

"Mbak Mei sama Mas Supri masih di belakang, Mbak?" 

"Iya masih, Mas. Paling bentar lagi sampe. Lha Mas Akhmad, Mas Irkhas, sama Mas Momo?" 

"Udah duluan. Kayaknya malah udah sampai tempat camp," kata Jack. 

"Apa malah udah bikin tenda sama makanan ya, Mas. Jadi begitu dateng kita tinggal makan? Hahaha," seru lainnya. 

"Iya, iya bener," sambung kawan lain. 

"Emang udah mau deket, Mas?" tanya saya. 

"Udah. Itu naik sekali lagi terus jalan turun, landai," kata Jack Kidd sembari menunjuk puncak bukit yang membentang di hadap kami.

Meski hanya menyisakan satu bukit lagi, tanjakan di depan kami, lumayan terjal dan tinggi. Ditambah beban yang semakin berat dan cuaca terik. Tenaga pun sempurna terkuras. Beberapa kali, saya harus membujuk kaki dan merundukkan punggung untuk mau kembali mendaki. Sekali lagi. 

Dan fiuh, kami sudah sampai di puncak bukit. Bagaikan keluar dari sebuah hanggar yang besar, kami disambut dengan padang rumput nan luas juga edelweis. Dari Jambangan, puncak Gunung Semeru yang disebut Mahameru terlihat jelas, lengkap dengan garis-garis penanda aliran lahar berwarna perak,  walau lebih sering tertutup kabut. 

Sampai juga di Jambangan. Fiuh, fiuh, akhirnya...
Saya dan Reni begitu antusias. Rona wajah kami yang sedari tertekuk lantaran panjangnya jalur kini kembali cerah. Tawa meledak di antara kami. Juga antusias, ketidaksabaran akan datangnya perjalanan menuju puncak. 

"Mbak, itu Mbak... Mahameru," serunya sambil menunjuk Mahameru nun di atas sana. 

"Iya Ren. Kita udah sampai sini ya... Ah nggak sabar..," kata saya dan mengarahkan ponsel. 

"Nanti malem kita muncak dan semoga besok bisa bareng-bareng berdiri di sana. Amin..." ujar dia yang harus saya amini. 

"Jul, Mbak Mei mana? Aku pengin nunjukin treknya, biar dia siap-siap," tanya Ariyadi yang saya jawab dengan menunjuk Mei Mustikawati di belakang, tertinggal beberapa meter dari saya. 

Ren, Ren, depan Mahameru tuh. :D
Foto: Mas Fahmi
Betapa girangnya kami dengan kenyataan, di depan adalah Mahameru membuat kaki lebih ringan mengayun. Lebih tepatnya sedikit berlari kecil. Apalagi jalur pendakian ini cenderung landai dan kembali menurun. Tak terlalu lagi peduli dengan carrier serta jalur yang masih sekitar 2 km. Melihat puncak Semeru yang gagah sekali di siang jelang sore itu, benar-benar menjadi mood booster.

Jalan menurun dari Jambangan itu akhirnya menemui ujungnya, sebuah padang nan maha luas, Kalimati. Di sana, sudah ada Akhmad M dan Irkhas Kurniawan yang tergeletak menunggu. Kami bergembira. Empat jam, waktu yang kami butuhkan dari Ranu Kumbolo hingga Kalimati. 

Siang itu, Kalimati sudah penuh dengan tenda warna-warni para pendaki yang telah datang lebih dahulu. Tak usah khawatir bakal kehabisan tempat, sebab area Kalimati sangat luas dan bisa menampung hingga ribuan tenda. Beruntung, kami menemukan spot mendirikan camp dengan posisi yang cukup teduh, di bawah pohon cemara. 

Bebongkar carrier, bikin tenda, sebelum gerimis datang.
Foto: Mas Fahmi
Baru sebentar membongkar carrier dan memasang tenda, tetiba saja gerimis yang berubah jadi hujan tercurah dari langit. Sempat menghentikan kegiatan kami. Namun tak lama, begitu jadi gerimis, kami kembali membangun rumah sederhana, tanpa jendela. 

Menyiapkan santapan sore jadi aktivitas selanjutnya. Segelas teh hangat, susu, bandrek, kopi, aneka camilan, serta senda gurau terlebih dulu jadi penghangat dan pengakrab suasana di antara dinginnya angin lembah Semeru.

Lebih beruntung lagi, di Kalimati juga terdapat sumber mata air yang disebut Sumber Mani. Jaraknya sekitar 500 meter dan dapat ditempuh selama 30 menit PP dari Kalimati. Tak hanya itu, tersedia pula MCK untuk kebutuhan buang air dengan kondisi layak. 

Selamat sore, kamu... dari Kalimati. Depan: Mas Jack, belakang: Mbak Mei.
Foto: Mas Supri
Siang berganti sore dan malam pun menjelang. Usai menandaskan santapan, membersihkan piring, dan alat masak, Akhmad M mengambil alih untuk melakukan briefing untuk persiapan summit attack. Pertama yang dilakukan adalah mendata jumlah daypack atau tas kecil milik anggota. "Yang cewek nanti nggak usah bawa tas," kata dia. 

Setelah mengumpulkan daypack, kami diminta menyiapkan perlengkapan pribadi yang harus dibawa saat ke puncak. Sebut saja penutup wajah (masker/buff), kaus tangan, kaus kaki, senter, dan jaket. 

"Disiapin dari sekarang, biar nanti malem nggak gugup. Jangan lupa masing-masing bawa emergency blanket. Selain yang dipakai, semuanya harus masuk tas termasuk P3K, air, camilan, madu," ujarnya memberi komando. 

Suasana tegang sempat menyelimuti kami. Bukan apa, perjalanan yang akan kami lalui berikutnya tak sama seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. Bahkan perjalanan itu belum ada apa-apanya dibanding perjalanan ke puncak. Persiapan maksimal dan disiplin adalah satu kuncinya. 

"Summit nanti jalannya nggak kayak kemarin atau tadi. Kalau memang ragu, nggak kuat mending mundur dari sekarang dan stay di tenda. Kalau mau niat naik, harus kuat, yakin. Setelah ini, jam 7, semua anggota harus tidur. Nggak ada toleransi, semua harus tidur. Jam 11 malam nanti kita bangun terus jalan." (bersambung)


GALERI

Meninggalkan Ranu Kumbolo. Satu per satu. Foto: Mas Fahmi

Wefie terakhir di Ranu Kumbolo. Foto: Ariyadi

Ketemu anjing di Tanjakan Cinta. Foto: Mas Fahmi

Saya dan Oro-oro Ombo. Foto: Mas Fahmi

Selonjor, setelah bersahabat dengan Tanjakan Cinta. 

Ibu dan anak. Saya, besok, 10 tahun kemudian. :D


Oro-oro Ombo. Padang sabana yang jadi kebun Verbena.
Foto: Mas Fahmi

Kaki, sepatu, dan kami. Jalan sekali lagi ya, kaki. 

Cie, Mbak Mei ketemu temennya. :D
Foto: Mas Supri

Sampai di Kalimati. Foto keluarga lagi. Foto: Lupa.

Kalimati, siang jelang sore itu. Foto: Mas Fahmi

Gerimis, tenda, dan Mas Supri. 

Sumbermani. Foto: Mas Supri

Mas Akhmad lagi nyiapin makanan. Foto: Mas Supri

We........ Foto: Mbak Mei

Depan-belakang: Mas Momo, Mas Fahmi, dan Mas Akhmad yang
lagi masak. Lagi? Iya, di mana-mana mah dia masak terus.
Foto: Mbak Mei