Tampilkan postingan dengan label puncak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puncak. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2016

Catatan Pendakian Menuju Atap Jawa (V)

Tim Piknik Keong Hore sampai di Mahameru, 3.676 mdpl. 

MAAF. Maaf sudah lama menunggu kelanjutannya. Maaf karena belakangan ini saya kembali sibuk sama urusan kerjaan dan lainnya. Ini kelanjutannya ya. Bagian terakhir sih, tapi masih ada satu lagi nanti. 


Setelah Pendakian Delapan Jam dan Tangisan Itu...


JUMAT (6/5). Malam dingin. Gerakan tubuh tak tenang. Sementara gemerisik angin di luar. Seakan baru saja memejamkan mata, alarm berdering. Memecah malam. 

"Ayo bangun, bangun. Mbak Jul, Mba Ren, Mba Mei, bangun..." suara Supriyono membangunkan kami. 

Dengan nada berat, baru bangun tidur dan menahan kantuk, saya menyahut dari dalam. Setelah itu, dalam hitungan menit, suasana tenda kami lebih riuh. Saling bersahutan, berseru, mengabsen satu per satu. 

"Oksigen?"

"Aman, Mas."

"Air?"

"Aman."

"Webbing?"

"Udah, Mas."

"P3K?"

"Siap."

"Camilan, madu, senter, perlengkapan pribadi, jaket, sarung tangan?"

"Beres, udah lengkap semua, Mas." 

"Oke. Semua sudah siap dan lengkap. Jadi, jalur ke puncak beda banget sama jalur yang sudah kita lewati kemarin. Lebih sering ketemu tanjakan, minim jalan datar, udara semakin dingin, dan trek pasir. Semuanya saling menjaga, jangan sampai terpisah dari rombongan. Sebelum memulai perjalanan, silakan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Dipersilakan," ujar Akhmad M.

Selain berucap syukur, doa-doa meminta keselamatan, perlindungan, dan penjagaan pada Tuhan, kami sampaikan malam itu. Berpilin menjadi satu dan menuju langit. Tuhan, jaga kami, anak-anak kesayangan-Mu.

Trek. Lampu senter dinyalakan. Satu per satu, mulai mengayun langkah. "Inget urutannya ya, paling depan Mas Momo, Mbak Mei, Mbak Juli, Mbak Reni, Mas Supri, setelah itu cowok-cowok, baru saya yang paling belakang. Diinget-inget siapa saja yang ada di depan dan belakang kalian," seru Akhmad dari belakang. 


Menuju Puncak. 
Jarum jam hendak menuju angka 12. Malam itu, jalur pendakian dari Kalimati menuju puncak Gunung Semeru, penuh dengan kelap-kelip lampu senter. Ramai. Yang bila dilihat dari kejauhan nampak seperti bintang berjalan. Sembari berjalan, sembari mengusap-usapkan tangan, sembari bergurau, sembari saling menyemangati. 

Stuck. Baru jalan berapa langkah, jalur pendakian menembus hutan lereng Semeru macet. Bukan hanya jalan raya yang macet, jalur pendakian pun penuh sesak oleh para pendaki, dengan tujuan yang sama: puncak. 

Bagi sebagian orang, ini cukup menyebalkan sebab harus antre, menunggu, sebelum kembali jalan satu per satu. Namun bagi kami, kondisi ini cukup menguntungkan. Sebab dapat dimanfaatkan untuk beristirahat, meluruskan kaki. 

"Antrenya udah kayak antre sembako ya," seru beberapa teman di belakang. 

"Mumpung macet, jadi lebih baik gunakan buat istirahat, makan camilan," ujar Akhmad M, sekali lagi. 

Tak lama 'kemacetan' terurai dan kami kembali berjalan, sesuai dengan formasi. Mendaki sekian langkah, terdengar teriakan break. Suara itu berasal dari Mei M yang berada persis di depan saya. 

Kembali beristirahat. Namun tak lama, kembali beranjak. Langkah Mei pun perlahan mulai stabil dan jarang meminta istirahat. Sementara itu, kami mulai berpapasan dengan para pendaki yang memilih untuk turun. 

Bruk. Mei pun terduduk. Sontak, kami pun langsung mengerumuni dan menanyakan keadaannya. 

"Kenapa Mbak Mei?"

"Ini masih jauh ya? Aku kuat nggak sampai atas?" tanyanya sembari menahan tangis.

"Lha Mbak Mei yakin sampai ke atas nggak?"

"Iya, yakin..."

"Ya udah kalau yakin, yakin aja. Jalan pelan-pelan, kita tungguin." 

Mendengar itu, perempuan asal Brebes tersebut malah menitikkan air mata, menangis. Ia tergugu di tengah deru angin dan udara yang mulai menggigil. 

"Mbak... Mbak Mei yakin sampai puncak bareng kita kan? Buang jauh pikiran bakal ngrepotin yang di sini," kata Irkhas Kurniawan sembari menenangkan Mei. 

"Iya Mbak, santai aja. Kita di sini kan saudara, saling menjaga, nggak ada yang direpotin kok," timpal lainnya. 

Terdiam sebentar. Mei pun lantas mengusap sisa tetes air. Masih dengan sedikit sesenggukan, ia mengangguk pelan. 

"Okelah, semangat! Bisa sampai puncak," kata Mei sesudah itu. 


Mbak Mei, semangat Mbak Mei... Foto: Supri
Kami pun bernapas lega. Semangat Mei telah kembali. Kami pun bersiap, bergegas menjejakkan kaki menuju tanah tertinggi di Pulau Jawa. Teriakan semangat menggema.

"Nah gitu Mbak Mei. Yang penting itu semangat dan mental Mbak, fisik mengikuti," seru Irkhas yang turut menyemangati. 

Angin malam kian menderu. Saya harus menambah jaket untuk menjaga hangat tubuh. Sementara kaki kian berat melangkah sebab kami sudah sampai di trek berpasir dengan kemiringan lebih dari 45 derajat.  Sementara tali webbing sudah kami pergunakan untuk menuntun satu per satu anggota. 

Entah berapa kali kami berhenti di trek pasir itu. Benar apa kata orang, trek pasir menuju Mahameru memang luar biasa. Luar biasa indah, luar biasa susah. Bahkan tergolong trek paling sulit dari sekian banyak gunung di Tanah Air. Benar-benar menguras tenaga. 

Meski demikian, kaki saya pun mulai terbiasa dengan trek pasir tersebut. Agar tenaga yang dikeluarkan tak sia-sia, saya menggunakan trik dengan ujung sepatu yang ditancapkan ke pasir, baru kemudian mengangkat tubuh. Kebanyakan orang menggunakan tumit sebagai tumpuan. Alih-alih dapat melangkah ringan, malah kerap terperosok. Yang terjadi kemudian, naik tiga langkah, turun dua langkah.


Gunakan ujung sepatu untuk mendaki. Foto diambil waktu di puncak. 

Dengan trik tersebut, tenaga masih bisa terjaga, tidak terlalu ngos-ngosan. Langkah kaki pun sedikit lebih ringan. 

Satu lagi yang harus diperhatikan adalah pijakan. Meski didominasi pasir, jalur ke puncak tetaplah menyisakan bebatuan, kerikil, hasil muntahan dari kawah Mahameru. Pastikan batu yang dipijak kuat, menanggung beban kita. Bila tidak, ia bisa saja jatuh, meluncur. Cara memberitahu bila ada batu menggelinding adalah berteriak, "Awas, batu/rock." Dengan begitu, para pendaki bisa memperhatikan arah jatuhnya batu dan menghindarinya. 

Hingga tak terasa, sudah masuk waktu Subuh, 04.30 WIB. Total kami berjalan sudah lima jam dan belum jua sampai di puncak.

Sembari melepas lelah, beberapa anggota melaksanakan salat Subuh. Rasa syukur kembali terucap dalam sujud pagi itu. Rampung salat, saya mendongak ke atas, ke arah puncak berada. 


Leren, sekali lagi. Depan: Elvis, Reni, Mbak Mei. Belakang: Mas Anas, Juli, Mas Momo.
Foto: Mas Supri

"Mas, yang merah-merah itu puncaknya ya?" tanya saya pada Supriyono merujuk pada pendaki dengan jaket atau carrier warna merah, nun jauh di atas sana. 

"Iya Mbak. Udah deket kan?"

Saya hanya mengangguk dan berhitung. Artinya sebentar lagi kami akan sampai Mahameru. Rasa optimistis terpancar, dengan langkah seperti ini dan jarak sedekat itu, satu jam lagi, kami sampai. Sementara sinar Matahari, diam-diam muncul dari ufuk timur. 


Capek? Buanget. Tapi tetep senyum kalau ada kamera. Foto: Mas Supri.

Mendaki lagi dan sejam kemudian. Kami hanya sepersekian langkah dari lokasi bersujud. Artinya jejak yang kami tinggalkan di bawah, belum ada apa-apanya. Puncak masih terlalu jauh. 

Jalan lagi dan kini Matahari sudah benderang, memberi terang pada semesta. Mendongak sekali lagi dan puncak masih terasa amat jauh. Nyaris putus harapan. Apalagi beberapa kawan seperti Elvis Rijal, Irkhas Kurniawan, Fahmi Fauzi, Momo, dan Anas Masruri sudah jauh di depan. Namun bila mengingat harus merangkak demi menyelesaikan jalur ini, pikiran untuk berhenti, hilang sudah. 


Ramai, iya. Treknya luar biasa, iya banget. Foto: Mas Fahmi.

Dengan sepenuh hati, saya membujuk kaki untuk mendaki. Sedikit lagi. Sembari menikmati kawasan Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS) dari ketinggian tertentu di bawah sinar Matahari pagi. Bercakap dengan pendaki lain turut jadi moodbooster untuk lekas menyelesaikan jalur ini.  

Menunduk saat mendaki. Tegap saat turun. Foto: Mas Supri

Baru setengah berjalan, saya kembali terduduk. Jalur ini nyaris menjatuhkan mental dan semangat. Sudah jauh berjalan, puncak masih jauh dari pandangan. Tidak, saya belum mau menyerah. Dengan sisa tenaga, saya kembali mendaki,merambati tali webbing yang dikomandoi Supriyono.

Tak terasa, kami sampai di sebuah batu besar. Asa mengembang sebab jarak ke puncak sudah semakin dekat, seperlemparan batu lagi, kami sampai. Sebentar lagi. 

10 meter. Kami masih antre bersama para pendaki. 

Lima meter. Kami bergantian dengan pendaki yang ingin turun. 

Tiga meter. Kami melibas tanjakan bebatuan. 

Dua meter. Kami mendaki, satu tangga lagi.


Satu meter itu bersama kawan dr Palembang. Foto: Mas Supri
Satu meter. Kami melihat kawah Jonggring Saloka mengeluarkan asap. 
Dan, hap. Kaki kami, saya, Supriyono, dan disusul Jack Kidd telah menjejak tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kaki kami ada di ketinggian 3.676 mdpl. Kami sampai di tanah di mana para dewa bersemayam, Mahameru. Pukul 07.50 WIB. 


Cieee... yang udah sampai duluaaannnn.... 

Elvis Rijal, Irkhas Kurniawan, Fahmi Fauzi, Momo, dan Anas Masruri, anggota kami lainnya sudah sampai terlebih dahulu. Mereka melambaikan tangan, meminta turut bergabung. Kami menuju ke arah mereka dan disambut dengan jabat tangan erat serta ucapan selamat. 

Mata saya pun basah. Saya menahan agar rintik itu tak turun. Namun yang terjadi kemudian, saya menunduk, kemudian berjongkok, dan tergugu. Semakin saya mencegah untuk tak menangis, dada kian sesak dan air mata kian deras mengalir, tumpah. 

Saya teringat, bagaimana untuk sampai ke mari, harus berjalan kaki, menahan beban selama sembilan jam, lanjut mendaki selama delapan jam. Bagaimana saya cari cara mengatasi tiga ketakutan yaitu takut dingin, takut merepotkan anggota lain, dan takut turunan. 

Saya pun teringat, pada ayah yang 14 tahun sudah berada di surga, rambut ibu yang tak menyisakan warna hitam serta kulit keriputnya. Serta apa yang saya lakukan dan perbuat selama ini. 

Saya teringat, Maha Baiknya Tuhan pada saya, kami. Sepanjang perjalanan ini, nyaris tak ada aral besar, selalu dijaga oleh-Nya, dan diberikan banyak kemudahan. Alhamdulillah

Tak lama, Reni Suryati dan Ariyadi menyusul sampai di puncak. Menyisakan sedikit gemetar, saya memeluk Reni. "Udah Mbak, nangis bae lhoo," ledeknya. 


Mahameru, Mahameru, Mahameru. Foto: Ariyadi
Kami pun menikmati Mahameru. Kami bermain di lapangan luas dengan bebatuan berserakan. Berfoto, bersenda gurau, sambil menunggu kawah Jonggring Saloko menguarkan asap dan suara, 'Boom' menggegar. 

Kejutan datang sekali lagi. Mei M dan Akhmad M sampai di puncak. Kami berteriak kegirangan. Semua anggota akhirnya bisa menapakkan kaki di Mahameru. Bersama-sama. 


Mas Supriyono. Alhamdulillah ya Mas... 

Tak ada lagi yang bisa terucap selain ucapan syukur pada Tuhan. Terima kasih, sudah memberikan kami kesempatan untuk menikmati sekeping surga di atap Jawa. (tamat)


Depan, sedikit lagi. Pas dijalanin, ternyata nggak sampe-sampe.
Foto: Mas Supri

SatelitPost on the Top of Java. Bareng layouter SatelitPost, Anas M

Suasana puncak pagi itu. 

Mas Anas, Liverpool yg nggak juara2, dan kawah Jonggring Saloko.

Pasukan Bela Perasaan, love youuuuuu... :*

Sesekali, Id Card mejeng. 

Ketika yang lain sibuk cari spot foto, aku malah tidur-tiduran. 

Kawah Jonggring Saloko. 

Seger ya makan pir di puncak. 

Elvis dan pertanyaan khusus untuk Mas Akhmad M


Formasi. 

Biru dan Langit Luas. 

Rabu, 25 Mei 2016

Catatan Pendakian Menuju Atap Jawa (II)

Surganya Gunung Semeru. Selamat datang di Ranu Kumbolo

Dua minggu. Adalah waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan tulisan ini. Lama? Biangetttt. Biasanya untuk satu tulisan seperti ini, satu hari juga sudah selesai.

Tapi apa daya. Harus PP Purwokerto-Solo untuk sebuah agenda terselubung *uhuk* ditambah tugas dari kantor yang makin banyak gegara ditinggal teman editor cuti, juga sempat terkapar dua hari memaksa saya menunda untuk menyelesaikan tulisan ini. 

Dan akhirnya, setelah melalui aral di atas, jadilah tulisan bagian ke dua dari pendakian ke Gunung Semeru bersama Tim Piknik Keong Hore. Makasih untuk yang sudah nungguin dan terus tanya, kapan lanjutannya kelar. 

Ini buat kalian, gaes...


Berjalan, Mendaki Lima Jam Demi Surganya Semeru


Mendaki melintas bukit// Berjalan letih menahan menahan berat beban// Bertahan di dalam dingin// Berselimut kabut Ranu Kumbolo

Menatap jalan setapak// Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir// Mereguk nikmat cokelat susu// Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda

BAITdemi bait lagu Mahameru dari Dewa 19 terdengar dari earphone yang tersumpal pada dua telinga. Menjadi teman kala menuju gunung tertinggi di Pulau Jawa.
Kita mah paling nggak tahan buat nggak poto2 ya, gengs.
Foto: Mas Akhmad M

Jalur bebatuan yang ditata rapi mirip makadam atau yang disebut Ledengan adalah jalan yang harus kami tapaki dari gerbang Selamat Datang Para Pendaki sebelum berakhir di Pos 1. Jalurnya cenderung landai, sempit, dan panjang, sesekali bertemu dengan batang pohon tumbang. Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk menyelesaikan jalur ini.

Selain tubuh harus mulai beradaptasi dengan ketinggian, gerimis berubah menjadi hujan deras mengguyur. Memaksa kami berhenti sejenak, berteduh mengenakan jas hujan. 

Rombongan pendaki, di bawah jas hujan. Foto: Mas Supri
Di sisi lain, perut saya pun memberi kode, minta diisi. Mengingat apa pesan Akhmad M sebelum berangkat, semua anggota harus berkata jujur, maka saya bilang, "Mas, laper..."

"Depan, tempat yang agak luas berhenti, kita makan ya," katanya memberi komando.

Seakan mendapat tambahan energi untuk berjalan, kami lantas menghabiskan jalur pendakian menuju Pos 2 yang tinggal beberapa langkah. Kabar baiknya, hujan mulai mereda saat kami sampai di Pos 2. 

Bangunan di Pos 2 sesak dengan para pendaki. Kami pun terpaksa mlipir, mencari tempat agak lapang untuk meluruskan kaki. Tak lama, Supriyono datang membawa semangka yang dihargai Rp 2 ribu per potong. 

Semua mata kami berbinar. Seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah, itulah perasaan kami begitu menerima potongan semangka dari pria asal Banyumas itu. 

"Ahhh, ini enak bangettt..." seru saya sambil menggigit potongan semangka merah itu dan mengunyahnya. Manis. 

"Iya, bener banget, Mbak," jawab beberapa teman lainnya. 

Naik gunung itu nggak cuma butuh fisik, semangat yang kuat.
Namun juga mood. Lihat aja Mbak2 ini, tetap aja happy. :)
Foto: Mas Supri
Bagi kami, utamanya saya, menikmati buah di gunung adalah satu keistimewaan tersendiri. Ini cukup untuk mengobati rasa lelah serta perjalanan yang seakan tiada henti. Sebab sejauh mata memandang, hanya melihat jalur yang terus naik, turun. Belum ada tanda atau komando untuk membuka tenda.

"Masih lama, Ri?" tanya saya pada seorang kawan, Ariyadi yang sebelumnya sudah pernah ke Semeru. 

"Masih... Ya dua-tiga jam lagi lah. Itu nanti naik ke sana, muterin bukit. Jalan aja, nggak usah dipikir jauhnya. Nanti juga sampe," jawabnya sambil menunjuk pada sederatan carrier para pendaki yang terlihat dari kejauhan. 

Mas Supri di Watu Rejeng. Denger-denger kawasan ini agak wingit.
Foto: Nggak tahu siapa yang ngambil foto ini.

Kembali melangkahkan kaki dan sampailah di tempat yang disebut Watu Rejeng. Dari papan petunjuk, kami 'baru' berada di ketinggian 2350 mdpl. Dasar kami yang paling tak tahan bertemu dengan tanah agak lapang, lekas menurunkan beban dan meluruskan kaki. Lumayan...

"Yuk jalan lagi, biar nggak kesorean," ajak Supri yang tentu kami setujui.
Kami kembali mengitari punggungan bukit, bertemu dengan turunan, tanjakan, jembatan merah, turunan, tanjakan lagi. Kaki harus lebih berhati-hati sebab jalur ini banyak bersisian dengan jurang rawan longsor. 

Lama berjalan sembari menahan beban, tak terasa kaki sudah berada di Pos 3. Ramainya pos memaksa kami berjalan lagi. Dan...

"Iya, tanjakan. Sekali aja tanjakannya Mbak, depan udah landai kok," kata Jack Kidd demi melihat wajah kami yang terkaget-kaget. 

Ayo Mbak Mei, semangat. Tanjakan di Pos 3.
Foto: Mas Supri
Memang dari basecamp hingga Pos 3, kami sudah bertemu dengan berbagai tanjakan. Namun tanjakan yang sudah kami lalui, tak terlalu curam seperti yang ada di Pos 3. Dengan hati-hati, kami mulai mendaki, menahan carrier yang semakin berat di punggung. Bahkan saya harus terus membungkuk demi menyelesaikan tanjakan ini. Pelan-pelan menapakkan kaki sebab jalur tersebut licin, bekas gerimis.

"Break," seru saya dengan napas yang terengah-engah. Fiuh, akhirnya saya berhasil melalui tanjakan tersebut. Lega. 

Lantaran mendengar kata break dan menunggu anggota kelompok yang masih menyelesaikan tanjakan, beberapa teman turut berhenti. Menyegarkan tenggorokan dan mengisi perut dengan camilan. 

Bonus jalan datar menjadi hadiah kami berikutnya. Langkah pun semakin terasa ringan, walau di beberapa titik, kami kembali berhenti, meski tak sering. Sore yang datang ditingkahi suara-suara binatang malam yang bersahut-sahutan memaksa kami untuk lebih cepat mengayunkan langkah.

Seru-seruan di depan menjadi tanda kami hampir sampai di camp area. Benar saja, dari kejauhan dan ketinggian tertentu, nampak sesuatu berkilauan. "Ren, Ren, lihat, Ren... Itu..." kata saya sambil menunjuk apa yang di depan meski terlihat separuh, tertutup rerimbunan. 

"Wah, iya Mbak... Ayo, ayo, cepetan Mbak, biar nggak kesorean," ujarnya sambil mempercepat ayunan kaki.

Itu. Sesuatu di balik rerimbunan.
Demi 'sesuatu' itu, kami bergegas. Begitu sampai di Pos 4, bertemu dengan jalan yang mulai menurun dan membawa kami ke sebuah surga. Itulah Ranu Kumbolo, sebuah danau nan luas yang berada di ketinggian 2400 mdpl. Itulah surga di Gunung Semeru. Itulah surganya para pendaki. 

Saya bilang apa: ini surga! Buktikan saja sendiri.

Sore itu, Ranu Kumbolo tenang, bersemayam. Bagaikan sebuah mangkok raksasa yang lantas oleh sang Maha Pemurah diteteskanlah air. Terciptalah satu keajaiban di balik lebatnya hutan dan tingginya bukit. 

Mas Supri dan Ranu Kumbolo.
Foto Reni: 
Rasa lelah bekas mendaki sekira lima jam menguap, dari pukul 12.30-17.30 WIB. Tak bersisa. Tergantikan dengan rasa bahagia, bangga, dan antusiasme yang luar biasa. Seperti anak kecil yang bertemu mainan baru, kami berloncatan, bergembira, dan tak lupa berucap syukur pada Tuhan di sujud sore itu. 

Syukur di sujud sore itu. Alhamdulillah, terima kasih Tuhan.
Foto: Reni
Puas berfoto, mengabadikan keindahan ini, kami kembali turun. Kabar gembiranya, camp area yang akan jadi tempat bermalam kami ada di beranda Ranu Kumbolo. Ya, kami akan mendirikan 'rumah' di tepi surga itu. Bahagianya. 

Sebagian Tim Piknik Keong Hore. Tak ada lagi rasa lelah.
Foto: Mas Supri
Malam pun datang. Suasana tepi Ranu Kumbolo kian ramai. Para pendaki mulai berdatangan dan bergegas mendirikan tenda. Sementara kami, sudah duduk manis di tenda masing-masing, sembari menikmati secangkir kopi, bandrek, atau susu dan menyantap nasi berlauk kering tempe, teri, dan kentang. Ambooooiii, nikmatnya.

Malam itu, tak ada yang lebih membahagiakan bagi saya selain bisa bersama dengan para sahabat, bercengkerama dengan mereka, menikmati santap malam, melihat Ranu Kumbolo, serta langit yang bertahtakan bintang. Sungguh, ada damai di sanubari. (bersambung)

Minggu, 18 Oktober 2015

Menebas Rindu di Gunung Slamet: Puncak Nggak Akan Lari Kok


YAP. Ini adalah bagian terakhir dari tulisan khas alias feature-nya Rizqi. Tulisan ini lebih pada perjuangan mereka ke Puncak Slamet. Selanjutnya, silakan disimak. Semoga berkenan, maaf bila ada salah-salah kata. 

==================================================================

KONDISI kawah Gunung Slamet di sekelilinganya masih terdapat
 material pasir hitam akibat erupsi setahun yang lalu, Senin (28/9).
SATELITPOST/RIZKY RAMADANI


PUNCAK ada di hadap kami. Tanah tertinggi di Jawa Tengah itu, nyata di depan kami. Tinggal beberapa langkah lagi, kaki ini akan menjejak untuk kali ketiga.

Rupanya, kami sudah berjalan selama 2,5 jam dari Pos 5 Samhyang Rangkah menuju Pos 9 Pelawangan. Kami mulai pendakian dari Pos 5, tempat kami ngecamp pukul 07.30 WIB dan sampai di Pos 9, yang menjadi 'gerbang' menuju puncak Slamet pukul 09.00 WIB. 

Jalan dari Pos 5 hingga Pos 6 Samhyang Jampang tak terlalu jauh. Cukup mendaki sekitar 25 menit, kami sampai di ketinggian 2800 mdpl. Kami pun sempat beristirahat sebentar, duduk santai di sebatang pohon yang tumbang. 

Usai mengembalikan tenaga, kami kembali berjalan menuju Pos 7 yang jaraknya sedikit lebih jauh. Sepanjang perjalanan menuju pos bernama Samhyang Kendit tersebut, saya menjumpai 'keajaiban' lain, tanaman edelweis. Saya bersyukur masih bisa menjumpai si bunga abadi dengan kecantikan yang sungguh memikat ini. Sesi foto bersamanya pun jelas tak kami lewatkan.
Jalur menuju Pos 7. Iya, ini yang kebakaran kemarin.

Sayangnya, baru beberapa langkah dari rerimbunan si bunga abadi, kami menjumpai pemandangan yang tidak enak dilihat. Di jalur yang kami lewati terdapat sisa-sisa pohon bekas terbakar. Akibat dari ulah pendaki yang sembrono membuat api unggun dan tidak benar-benar dimatikan saat meninggalkan, membuat terjadinya insiden kebakaran di jalur pendakian. Kejadian ini terjadi usai dibukanya kembali jalur pendakian Slamet pasca-erupsi.

Dari Pos 7, kami langsung beranjak ke Pos 9, tanpa perlu berhenti di Pos 8 Samhyang Katebonan. Pasalnya, jarak antara ketiga pos ini teramat pendek. 

"Mau muncak, Mas? Udah, istirahat dulu saja. Puncak nggak akan lari kemana-mana kok," kata seorang pendaki yang tetiba saja menyapa kami begitu sampai di Pos 9.


Monggo, istirahat dulu, Mas. Nggak akan lari puncak dikejar. 
Ajakan ini tak kuasa kami tolak. Selain mengistirahatkan kaki, kami juga perlu menghimpun tenaga untuk pendakian ke puncak yang jelas-jelas ada di depan saya. Ya, pendakian sebenar-sebenarnya pendakian dimulai dari Pos 9. Medan terjal dengan kemiringan kurang lebih 30-45 derajat serta material batuan cadas akan menjadi sahabat kami. 

Dengan penuh perjuangan serta kesabaran, kami mulai menapakkan kaki di bebatuan cadas. Pelan-pelan agar tidak terperosok. Maklum, bebatuan di sini ada yang berbentuk kerikil yang bisa membuat kaki terperosok jika salah meniti langkah. Perlu keseimbangan serta kehati-hatian saat melewati medan ini. 

Baru setengah perjalanan di medan bebatuan tersebut, kabut mulai ikut naik. Matahari langsung tertutup awan dan sempat membuat kami kecewa. Tak mungkin menyelesaikan perjalanan dengan kondisi seperti ini. Sangat berbahaya jika semua jalur tertutup kabut. Selain juga menutup pemandangan di atas dan kawah Gunung Slamet.


Jalur menuju Puncak Slamet. Juli, lihat Mbak itu, kamu nggak kepengin? 
Kami tunggu dengan sabar sampai kemudian kabut itu menghilang dan mulai lagi pendakian. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, sampai satu setengah jam kemudian, kami berhasil melewati jalur bebatuan dari Pos Pelawangan. 

Yes. Puncak! Dua kaki saya rupanya sudah menginjak di puncak. Dua kaki saya sudah menapak di tanah tertinggi Jawa Tengah dengan ketinggian 3482 mdpl. Kami bertiga, saya, Ega Firmanto dan Mujiono sampai dengan selamat di atapnya Jawa Tengah. 

"Alhamdulillah akhirnya sampai semua di puncak," kata Mujiono, anggota organisasi pencinta alam Walang Ajibarang yang kali pertama naik ke Gunung Slamet.

Ada banyak rasa yang tak bisa dilukiskan. Haru, bahagia, senang, jadi satu. Juga rasa syukur yang tak henti kami ucapkan pada Tuhan. Sungguh, terima kasih Tuhan sudah melindungi dan menjaga kami. Sudah menciptakan karya yang luar biasa indah ini. Kami sangat kagum, terpesona, sampai tak henti-henti memandang sekeliling puncak.

Puas menikmati pemandangan ini, kami kembali berjalan menuju bibir kawah. Ada semacam tugu atau batas kabupaten antara Purbalingga-Banyumas. Dari situ, kami melihat kawah Gunung Slamet yang begitu luas, lengkap dengan lubang menganga di tengah kawah berselimutkan kepulan asap belerang. Bila ingin mengitari kawah, bisa ditempuh dengan waktu sekitar dua jam. 
PUNCAK SLAMET, 3482 MDPL. 

Saya takjub melihat karya ini. Sempurna dari Sang Maha Sempurna. Saya pun lantas mengingat bagaimana perjuangan untuk sampai di sini. Canda tawa dengan pedagang dan pendaki lain. Tertatih-tatih melewati jalur pendakian. Menikmati kemewahan di pagi hari, ngopi sambil melihat sunrise. Sungguh, ini akan jadi cerita tak terlupakan. 

Puas menikmati pemandangan di puncak, yang walaupun tertutup kabut, pukul 11.30 WIB, kami bergegas turun. Kembali ke Pos 5. Dibanding perjalanan naik, perjalanan turun kali ini lebih cepat dan tidak menguras tenaga. Yang diperlukan hanya kehati-hatian dan fokus saat menuruni lereng supaya tidak tergelincir dan jatuh ke jurang.

Satu setengah jam kemudian, tepatnya pukul 13.00 WIB, kami sudah nyante di Pos 5. Cepat kan? Kami tak ingin bergegas pulang dan memutuskan kembali 'menginap' di hotel seribu bintang, bertakhtakan bintang-gemintang di langit. 

Keesokan harinya, Selasa (28/9), kami bersiap untuk berkemas. Pulang menuju Basecamp Bambangan. Berangkat dari Pos 5 pukul 07.30 WIB, sampai di basecamp pukul 11.30 WIB. Kami sangat santai saat perjalanan pulang dengan alasan ingin lebih menikmati pemandangan di sekitar Gunung Slamet. Padahal alasan sebenarnya, kaki saya terkilir sehingga 'menghambat' laju jalan.

Bagi saya, ini sungguh perjalanan yang amat menyenangkan. Bisa kembali datang, mengunjungi Simbah Slamet adalah satu keinginan saya selama delapan tahun ini. Kerinduan padanya sudah tertebas dan tersampaikan. Lunas. Namun, bukan berarti saya tak akan lagi mengunjungi Gunung Slamet. Pasti. Suatu hari nanti, saya akan kembali lagi ke sini. Tentu dari jalur pendakian yang berbeda. Terima kasih Tuhan, alam, dan Gunung Slamet. 

Sekadar saran bagi yang ingin melakukan pendakian, siapkan fisik, mental, peralatan, dan logistik. Utamanya air. Sebagai pandangan, kami membawa tiga botol air mineral ukuran besar, dua botol ukuran kecil, dan dua derigen air masing-masing lima liter. Musim kemarau menjadikan ketiadaan mata air di Pos 5 sehingga mau tidak mau harus membawa air dari basecamp. 

Selain itu, pastikan api yang telah dibuat baik dalam bentuk rokok maupun api unggun, harus benar-benar mati. Jika tak ingin kejadian kebakaran kembali terulang dan membuat jalur pendakian kembali ditutup seperti sekarang ini. Jangan lupa juga, bawa turun sampahmu. Gunung bukan tempat sampah. Salam. (rizqi ramdhani)


note: setelah merampungkan tulisan ini, Rizqi kembali lagi ke Gn Slamet dengan dalih mengantar teman-temannya dari Bekasi.