Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2015

Menangkup Lima Gunung, Menyaksikan Golden Sunrise


Catatan Pendakian Menuju Gunung Prau (2)


Aku di Gunung Prau

MALAM berbalut hawa dingin menyelemuti sunrise camp Gunung Prau. Badan saya mulai gemetar, menggigil. Dingin. Saya pun lekas merapatkan jaket dan sleeping bag agar tak semakin kedinginan.

Namun, malam jelang dinihari itu, Minggu (13/9), suasana masih saja ramai. Ada banyak percakapan, suara langkah kaki. Kian larut, kian banyak pendaki yang mulai berdatangan. Saat itu, jarum jam menuju angka tiga.

Satu setengah jam kemudian, seruan-seruan kencang kian terdengar. Banyak pendaki yang mulai bangun dan keluar tenda, menunggu momen spesial yang tersaji di Gunung Prau. Sementara kawan-kawan saya, Nur Fatimah, Reni Suryati, Firman Al Ahyar, dan Widi Nugroho, masih pulas tertidur. Hawa dingin yang masih mengungkung, membuat saya memilih tetap tinggal di tenda.

Barulah sekitar pukul 05.00 WIB, kami semua kompak bangun. Beberes tenda sejenak, sembahyang, dan keluar tenda. Begitu keluar, wuuhhh, dinginnya langsung menusuk tulang. Ingin rasanya kembali ke tenda, namun pemandangan yang terhampar jelas di hadapan kami jauh lebih menggoda.

Semburat warna orange di langit memberi sedikit cahaya pada pagi itu. Gradasi warna biru, hitam, dan jingga mencipta satu harmoni. Indah. Sementara di depan kami, dua gunung menjulang tinggi, menyentuh langit. Gunung Sindoro-Sumbing berdiri gagah. Nun jauh di sana, nampak Merapi, Merbabu, dan Lawu menyembul di antara lautan awan. 
Dek Firman tampak dari belakang. Wuhuuuu... 
Ini yang saya sebut dengan keajaiban pagi di Gunung Prau. Lima gunung nampak jadi satu tangkupan tangan. Jika menengok ke belakang, maka Gunung Slamet ikut terlihat. Semuanya gagah. Seakan mengajak kami untuk menjejakkan kaki di puncak-puncaknya.

Tak hanya itu. Masih di depan kami, sekumpulan awan bergerak, berarak, dan menyelimuti kawasan Dieng juga seluruh permukaan yang bisa kami lihat. Mereka nampak seperti permadani raksasa. Bila itu nyata permadani, ingin rasanya menjatuhkan badan, lalu melompat di atasnya. Sayang, itu awan. 

Apalagi saat awan bercampur kabut itu turun, melintasi perbukitan. Bagai air mengalir, menganak sungai, mengisi bagian-bagian kosong. Terus seperti itu. Tak berhenti. Cantik nian...

Pemandangan seperti ini yang sukses membuat saya rindu pada Prau. Tiga kali ke sini namun ribuan kali sudah saya dibuat jatuh hati. Hati saya, benar-benar tertinggal di sini. 

Kami dan ratusan pendaki terpukau. Apalagi saat menanti sang surya terbit di ufuk timur. Itu adalah momen yang tak terlupa. Tepat pukul 05.30 WIB, matahari muncul. Ia beranjak, memberi terang pada semesta. Membagikan cahaya hangat, menyingkirkan hawa dingin yang masih tersisa, menyapu warna hitam, dan menggantinya dengan sinar keemasan di langit. Luar biasa.
Enjoy sunrise. In frame: Nur dan Reni. Photo by me

Banyak orang menyebut, ini adalah momen Golden Sunrise yang tak akan pernah terlupakan saat di Gunung Prau. Inilah momen yang paling ditunggu para pendaki. Tak peduli, berapa jam yang mereka habiskan menuju Gunung Prau. Tak peduli, berapa keringat yang menetes saat mendaki. Tak peduli, berapa kali harus berhenti, meluruskan kaki. Menyaksikan keindahan ini adalah hadiah. Lunas tuntas. Bahkan masih diberi bonus lebih!

Kami semua terpukau. Terhipnotis. Seru-seruan kagum terdengar. Tak ingin menyiakan kesempatan ini, kami pun mengabadikan melalui bidikan kamera. Klik klik klik.
Bayangan. Tebak siapa saja di sini? 

"Amazing. Ini keren banget," kata Firman, kawan seperjalanan yang datang dari Jakarta. 

"Iya, keren. Setiap gunung punya keindahan berbeda-beda. Treknya juga mantap," ujar Widi menambahkan. 
Ucapan wabilkhusus buat sahabat tercinta, Tante Ana


Lama sekali kami menyaksikan pemandangan ini. Hingga tak sadar, cahaya hangat matahari berubah menjadi panas. Kami pun sepakat kembali ke tenda. Sarapan, membereskan tenda sembari berkemas, dan pulang. Setelah memastikan tak ada satu pun barang yang tertinggal, juga sampah, kami memulai perjalanan pulang. Tepat pukul 08.00 WIB, kami turun bersama pendaki lainnya. 

Jalur yang kami tempuh pada perjalanan pulang kali ini pun berbeda. Jika saat berangkat kami mendaki via jalur Patakbanteng, kini kami pulang via jalur Dieng. Perbedaan yang amat terasa dari kedua jalur ini adalah treknya. Jika via Patakbanteng lebih menanjak, curam, dan berdebu, jalur Dieng lebih landai dan panjang. 

Pun jarak tempuhnya. Bila naik dari Patakbanteng, kami hanya butuh waktu 2,5 jam, nah naik melalui jalur Dieng bisa dua kali lipatnya. Bisa lima hingga enam jam! 

Di jalur ini, kami 'bermain' sebentar di padang bunga aster atau daisy. Bunga ini tampak cantik. Apalagi saat ia mekar dalam rerimbunan. Makin membuat kami jatuh hati. 
Swafoto pakai si tepi. Biarkan yang di samping saya ini tampak jelek. :p 

Padang bunga Daisy alias Aster. Satu sudut yang kurindukan di Prau

Juga Bukit Teletubbies. Disebut Bukit Teletubbies, kontur bukit ini memang seperti pemandangan bukit yang ada di film kartun anak-anak yang tenar tahun 2000-an itu. Saking gembiranya, saya sampai berlari-lari di kawasan ini. Selain untuk mengejar waktu turun supaya lebih cepat. Firman pun lantas menantang saya untuk kembali berlari hingga titik yang telah ditentukan. Tapi urung kami lakukan demi menghemat tenaga sebab perjalanan masih jauhhh. Pukul 11.30 WIB, kami sampai di jalur menuju Basecamp Dieng.

Lunas sudah perjalanan kali ini. Apalagi dalam pendakian kali ini, kami tak hanya mengantarkan dua kawan yaitu Firman dan Widi untuk menjejakkan kaki di Gunung Prau, namun juga menebas rindu pada tanah setinggi 2.565 mdpl itu. Untuk sementara, rasa kangen pada Prau sudah terobati. Entah seminggu, sebulan, atau tiga bulan kemudian. Rindu Prau itu pasti muncul lagi.
Foto di puncak tertinggi Bukit Teletubbies saat pulang. 

Sebagian orang beranggapan, Gunung Prau adalah satu dari sekian gunung yang ramah untuk pendaki pemula. Yang harus diperhatikan adalah air sebab di atas tak ada mata air. Selain itu, pihak pengelola juga menerapkan denda berupa bibit pohon yang diberlakukan atas pelanggaran yang dilakukan di Gunung Prau. Misal, untuk pelanggaran membuang sampah sembarangan dikenakan dua bibit pohon, menebang pohon lima bibit, mencoret pohon/batu lima bibit, dan lainnya. Selamat merencanakan pendakian. Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak. Jangan mengambil apapun kecuali gambar. Jangan membunuh apapun kecuali waktu. Salam. (sri juliati)

Fiuhhh, sampai juga. 


==============================================================

Tulisan ini sudah termuat di halaman 1 Harian Pagi SatelitPOst edisi Rabu (16/9)

Sabtu, 22 Agustus 2015

Catatan Pendakian Menuju Gunung Sumbing

Mendaki gunung bukanlah hobi utama saya. Namun, saya cukup senang bila diajak melangkahkan kaki ke tempat-tempat tertinggi. Seperti, pekan kemarin, ketika seorang kawan mengajak saya ke Gunung Sumbing.



JARUM jam menuju angka delapan. Motor saya sudah mengaspal di jalanan Banyumas-Banjarnegara, Minggu (16/8). Jalanan, relatif sepi pagi itu. Jadilah dengan kecepatan penuh, kami, saya bersama ketiga rekan, Reni Suryati, Supri, dan layouter SatelitPost, Anas Masruri, beranjak menuju Wonosobo. 

Kami sempat berhenti dua kali. Pertama di daerah Banjarnegara untuk mengisi perut dengan semangkuk soto Semarang nan menyegarkan. Kedua, di Pasar Kretek, Wonosobo, membeli buah-buahan sebagai bekal pendakian.

Sekitar pukul 11.15 WIB, kami tiba di pos pendakian Gunung Sumbing, Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Wonosobo. Tak hanya kami, puluhan bahkan ratusan pendaki telah memadati satu di antara basecamp yang menjadi jalur resmi pendakian gunung setinggi 3.371 mdpl ini. Tujuh kilometer dari basecamp, gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah itu, gagah menyambut kami.

Sempat beristirahat selama 1,5 jam sembari memastikan tidak ada bekal yang tertinggal, tepat pukul 13.00 WIB, pendakian pun dimulai. Cuaca cerah, cenderung panas memayungi kami. Awalnya, kami melintasi jalur beraspal sebelum sampai jalur bebatuan yang tersusun rapi, membelah Dusun Garung. 

Gunung Sumbing dari basecamp Dusun Garung. 

 Di sepanjang jalan, aroma tembakau kering menyeruak, menguar, memenuhi lubang pernapasan. Lembaran daun tembakau itu ditata rapi, dijemur di depan rumah, lapangan. Ya, sebagian besar warga di dusun menggantungkan nasib hidupnya dari ladang tembakau. 

Wajah-wajah ceria para pendaki. ki-ka: Mas Supri, Mas Anas, Reni
Selepas menikmati perjalanan di dusun tersebut, kami masuk ke ladang warga dan sempat berbincang dengan seorang petani yang hendak pulang soal harga tembakau. "Alhamdulillah, panen Mas, sak niki sekilo biasane seket ewu (Alhamdulilah, panen, Mas, sekarang satu kilogram Rp 50 ribu)," kata pria paruh baya sambil menenteng cangkul itu. 

Usai dari ladang warga, kami kembali bertemu dengan jalan bebatuan yang ditata rapi atau makadam sebelum menuju Pos 1 Malim KM III. Bisa dibilang, jalur ini cukup menyita tenaga dan waktu. Selain panjang, jalur ini mulai menanjak. Kami lebih sering berhenti untuk melepas lelah. 

Sebenarnya, ada cara 'mudah' menyelesaikan jalur ini yaitu menggunakan transportasi ojek. Warga sekitar menawarkan jasa ojek mengantar pendaki dari basecamp menuju Pos 1. Tarifnya sekitar Rp 25 ribu sekali jalan. Lumayan, bagi mereka yang ingin menyimpan waktu dan tenaga. 
Mereka, nampak dari belakang menuju Pos 1. Semangat, kakak!!!!
 Saat sinar matahari mulai meredup dan sayup terdengar suara azan Magrib, kami memutuskan berhenti. Meletakkan beban yang semakin berat di punggung, sembahyang, dan membuat teh, sebagai penghangat suasana yang semakin dingin. Rupanya, kami telah memasuki Pos 2 KM IV Genus. 

"Lepas dari Pos 2, nanti nglewatin jalur namanya engkol-engkolan. Ada tiga lajur tapi semuanya ketemu di titik sama. Dinikmatin aja jalannya, nyante, nggak usah cepet-cepet. Kalau capek, istirahat. Soalnya jalurnya nikmat bangettt," ujar Supri. Sebagai jawaban, kami menganggukkan kepala sambil memakai masker, kaus tangan, dan menyalakan senter. Perjalanan menuju Pos 3 pun dimulai di bawah langit yang mulai menghitam. 
Jalur pendakian mulai Pos 1

Baru saja melangkah, rombongan kami berhenti. Banyaknya pendaki yang naik, membuat kami berjalan satu per satu. Antre. Tak apa. Anggap saja sembari melepas lelah. Dibanding jalur yang telah kami lalui sebelumnya, jalur engkol-engkolan jauhhh lebih susah. Kondisi jalur berupa track tanah merah berpasir dan sedikit licin. Minim pohon lagi. Bila tak hati-hati melangkah, bisa saja terpeleset.

Banyak pendaki bilang, tanjakan di jalur ini sungguh tak manusiawi. Maksudnya, sama sekali tak ada bonus berupa jalan datar. Tanjakan curam semua. Apalagi dengan kemiringan hingga 70 derajat. Alhasil, sebagian besar dari tanjakan ini saya lalui dengan merangkak, merayap. Tenaga pun nyaris terkuras habis di jalur ini. Entah sudah puluhan kali kami berhenti di jalur ini. 

Semangat saya nyaris down. Rasanya, hampir mustahil menyelesaikan ongkel-ongkelan. Ini belum separuhnya. 

"Istirahat dulu aja, santai. Kalau capek, lihat ke bawah, lihat apa yang kalian udah lalui," ujar Supri yang sepanjang perjalanan terus menyemangati kami. 

Ya, di antara kami berempat, maka Supri-lah yang bisa dibilang senior. Terhitung, sudah tiga kali ia mendaki Gunung Sumbing yang membuat pria asal Banyumas ini hapal jalur pendakian. 

Benar saja. Saat kami berbalik, duduk, merebahkan badan, terhampar luas pemandangan Wonosobo di malam hari. Kerlap-kerlip lampu, lalu-lalang kendaraan di jalan utama Wonosobo-Temanggung, Gunung Sindoro, gagah menjulang di depan kami, menjadi penawar lelah paling ampuh malam itu. Apalagi saat mendongak ke atas, ke langit. Langit malam itu cerah, dipenuhi bintang. Spektakuler.

Teriakan semangat dari rekan sesama pendaki, juga membuat rasa lelah dan down perlahan hilang. Setiap kali kami berhenti, maka pemandangan nan eksotis dan hentakan semangat menjadi obat. Rasa pesimistis sirna, digantikan dengan optimisme tinggi: yakin sampai tempat camp.

Dan setelah melalui engkol-engkolan, sampailah di Pos 3 KM V Sedelupak Roto. Total, kami telah berjalan sepanjang lima kilometer. Di Pos 3, telah banyak berdiri tenda. Karena tak ada lagi tempat untuk mendirikan camp, kami memutuskan untuk kembali menanjak hingga ke Pestan yang menjadi lokasi ngecamp paling favorit.

Namun, jalur menuju Pestan bukanlah jalur yang nyaman karena harus kembali melewati track menanjak. Meski tak seperti jalur engkol-engkolan, tetap saja, kami kewalahan. Berkali-kali kami menyemangati diri kami masing-masing. "Sebentar lagi sampai, sebentar lagi sampai."

Pestan merupakan kawasan yang hampir keseluruhan hanyalah rerumputan dan hanya ada beberapa pepohonan kecil. Alhasil, angin berhembus sangat kencang di area ini. Namun, di sini, telah berdiri tenda yang akan menjadi 'rumah' para pendaki. 

Setelah menemukan sedikit tanah kosong, di balik rerimbunan, kami pun berbagi tugas. Supri dan Anas mendirikan tenda, sedangkan saya dan Reni memasak. Mi rebus telur dengan lauk ikan asin dan teh hangat menjadi santapan kami malam itu. Tak terasa, jam menunjuk angka 10 dan kami pun bersiap tidur, demi perjalanan ke puncak, dinihari nanti.

=====================================================================


Perjalanan 4,5 Jam Terbayarkan


ANGIN malam menderu. Menghantam sisi-sisi tenda. Suara kerasnya membuat saya terbangun. Senin (17/8), pukul 01.20 WIB.

Setelah memastikan tak ada apa-apa dengan 'rumah' kami, saya kembali merebahkan badan, memejamkan mata. Suara angin terus bergemuruh. 

Barulah pada pukul 02.00 WIB, saat alarm berbunyi, kami berempat, saya, Reni Suryati, Supri, dan Layouter SatelitPost, Anas Masruri benar-benar bangun, membuka tenda. 

"Wuzzzz wuzzzz wuzzzz." Angin dingin menampar wajah. Kami pun kompak, kembali masuk tenda.

Sambil mengumpulkan 'nyawa', di dalam tenda, kami menyiapkan beberapa perbekalan untuk perjalanan menuju puncak Gunung Sumbing sesuai rencana. Di samping membuat teh untuk menghangatkan badan. 

Selepas bersiap dan badan sudah mulai beradaptasi dengan hawa dingin di ketinggian 2.437 mdpl, tepat pukul 03.00 WIB, kami memulai perjalanan. Menuju puncak. Menuju ketinggian 3.371 mdpl.

Telapak tangan diusap-usapkan untuk 'mengalirkan' udara hangat. Jaket dirapatkan. Sambil berjalan, sambil berdoa. Harapan agar Tuhan memberi kemudahan dan kelancaran untuk summit attack pagi ini, membumbung tinggi. 

Langit masih pekat. Cahaya senter dari para pendaki lainnya, dengan tujuan yang sama, mulai nampak. Menciptakan formasi bak bintang berjalan. Kaki-kaki kecil mulai menapaki jalur pendakian. Selangkah demi selangkah.

Teriakan semangat, izin jalan duluan, permisi, memenuhi jalur Pestan menuju Pasar Watu. Disebut Pasar Watu, karena jalur ini berupa bebatuan yang berserakan. Hati-hati saat melangkah dan berpijak. Bisa jadi batu yang dipijak tak cukup kuat dan membuatnya tergelincir, jatuh. Para pendaki akan berseru, mengingatkan pendaki lainnya atau yang di bawah untuk menghindar dengan kata 'awas batu' dan 'rock'.

Cukup lama kami berkutat di Pasar Watu. Track yang kian menanjak, tanpa ampun, dan tiada henti. Sempat ada bonus sedikit berupa jalan menurun yang di sisi kirinya terdapat jurang. Setelah itu, kami kembali menemui tanjakan curam. Dahi dan lutut semakin lebih sering beradu, bertemu saking curamnya. Dan saya, entah sudah berapa kali saya menyelesaikan jalur ini dengan merangkak. 
Jalur ke Watu Kotak. Foto diambil saat turun.

"Sesekali kita memang harus merangkak, menunduk, untuk bisa sampai ke puncak. Sama kayak hidup," kata Supri seraya menyemangati kami yang mulai kelelahan.

Usai melintasi Pasar Watu, di hadapan kami ada sebuah batu yang amat besar. Lokasi ini disebut Watu Kotak yang merupakan perbatasan kilometer VI. Kami pun melepas lelah. Berbalik dan melihat ke bawah. 

Pemandangan super keren terbentang di hadapan. Awan berarak, menyelimuti wilayah Wonosobo-Temanggung. Bagai lautan warna putih. Semburat warna orange, khas matahari hendak bangun memberi warna tersendiri. Indah dan amat eksotis. Kami pun terhipnotis dengan keajaiban ini.

"Kerennnnn bangettttttt. Amazingggg, gengs...," teriak saya.
Spektakuler di pagi hari. Lautan awan dari ketinggian 2.763 mdpl

Semuanya terkagum. Bahagia. Sempurna, terbentang keindahannya. Sempurna, karena ini ciptaan dari sang Maha Sempurna. Syukur pun kami panjatkan melalui doa di subuh itu. 

Panorama ini menjadi obat segala letih. Memompa semangat demi kembali meneruskan perjalanan menuju puncak. Dari Watu Kotak, kami mendaki menuju Tanah Putih. Track menanjak dengan bebatuan belumlah habis.

Tepat saat sampai di Tanah Putih, matahari di hari Kemerdekaan, Senin, 17 Agustus terbit. Memberi warna terang pada semesta. Memancarkan cahaya benderang. Menyingkap pekat dan gelap yang masih menggantung di langit. Sementara di atas sana, sayup terdengar lantunan lagu Indonesia Raya dari para pendaki yang telah terlebih dahulu sampai. 

"Nggak masalah, nggak dapat sunrise di puncak. Sampai di puncak aja udah bersyukur banget, sunrise itu bonus," ujar Supri yang terus sepanjang perjalanan, tak henti membagikan semangat dan membimbing kami. 

Ya bagi kami, terutama saya, menikmati sunrise di puncak gunung adalah bonus setelah melewati semua ini. Yang paling utama, bagaimana kami semua bisa sampai puncak bersama dan pulang dengan selamat. 
Jalur di Tanah Putih. Foto diambil saat turun. 
Bisa dibilang, jarak Tanah Putih menuju puncak Gunung Sumbing, hanyalah sepelemparan batu. Tak seperti jarak track engkol-engkolan, jalur Pestan menuju Pasar Watu, atau bahkan dari basecamp sampai ke Pos 1. Dekat. Tapi terjalnya jalur membuat kami lebih kerap berhenti. Ditambah dengan tenaga yang nyaris terkuras. 

Maka dengan sisa-sisa tenaga, kami kembali mendaki, walau tertatih-tatih sambil terus menyemangati diri sendiri: "Sebentar lagi puncak, Jul. Sebentar lagi. Kuat, kuat." 

Sekitar 100 meter dari puncak, kami menemukan pertigaan. Satu lurus, terus mendaki dan ke kanan untuk menuju Puncak Kawah Gunung Sumbing. Kami memilih lurus. Puncak Buntu menjadi tujuan. Gunung Sumbing memang memiliki dua puncak yaitu Puncak Buntu dan Kawah dengan ketinggian yang tak jauh beda. 

Saat tenaga sudah habis, kaki sudah tak lagi kuat untuk terus mendaki, dan matahari kian benderang, rupanya kami telah sampai di bagian tertinggi dari Gunung Sumbing. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4,5 jam dari Pestan, dari pukul 03.00-07.30 WIB, sampailah kami di puncak tertinggi kedua di Jawa Tengah ini. 

Gunung Sindoro, Gunung Prau, dan Pegunungan Dieng
Setelah menemukan tanah sedikit lapang, cukup untuk meluruskan kaki dan punggung, kami berhenti. Menghadap ke depan dan tampaklah di sana Gunung Sindoro, gagah menjulang. Gunung setinggi 3.136 mdpl itu tampak merayu. Di belakangnya, ada Gunung Prau, yang saat 17-an kemarin rupanya disambangi 6 ribu pendaki. Juga Gunung Slamet dan kawasan Pegunungan Dieng. Sementara jika berbalik ke belakang, Gunung Merapi, Merbabu, dan Lawu 'menyembul' di antara lautan awan.

Rasanya, saat berada di titik tinggi walau bukan yang tertinggi di Gunung Sumbing, sangat luar biasa. Ada rasa puas, syukur yang tiada terhingga. Yang tak mampu dijabarkan dengan serentatan kata-kata, selain dengan kata: Alhamdulillah.

Bagaimana tidak. Setelah melewati jalur terpanjang dari basecamp ke Pos 1, dari Pos 1 ke Pos 2, melintasi engkol-engkolan demi menuju Pos 3, yang disambung melintasi tanjakan ke Pestan, 'bermain' di antara bebatuan di Pasar Watu, beristirahat di Watu Kotak, dan mendaki di Tanah Putih, semua lelah dan usaha keras itu terbayar.

Cozmeed dan puncak tinggi Gunung Sumbing
Dari ketinggian 3.371 mdpl itu, kami banyak belajar. Pantang menyerah, kerjasama, saling menyemangati, sabar, dan legowo. Pantang menyerah dengan segala tanjakan. Kerjasama, bagaimana saling berbagi peran. Saling menyemangati saat ada satu di antara kami mulai hopeless. Sabar karena puncak tak akan lari. Legowo tidak bisa menikmati momen sunrise.

Di puncak itu, berfoto menjadi agenda wajib. Kami juga memasak nasi goreng dan teh hangat. Rasanya, sudah pasti sangat lezat. Apalagi bukan hanya kami saja yang menikmati, beberapa rekan pendaki lain juga ikut 'menghabiskan.'
Monggo, nasi goreng spesial dicicip... :) 

"Monggo, Mas, dicicipi. Lumayan lho..." seru layouter SatelitPost, Anas Masruri pada rekan pendaki lain yang duduk di sebelah kami. 

"Iya, Mas. Ayo, ayo, kita semua di sini saudara, nggak usah sungkan-sungkan, habiskan..." kata Supri menimpali.  Benar saja, lima menit kemudian. Seporsi nasi goreng itu langsung tandas. 

Puas menikmati puncak Sumbing, kembali ke tenda di Pestan menjadi agenda selanjutnya. Bisa dibilang, waktu tempuh saat naik dan turun berbeda, nyaris separuhnya. Jika untuk naik kami butuh waktu 4,5 jam, saat turun kami menghabiskan waktu dua jam. Setelah berkemas, memastikan tidak ada sampah dan bekal yang tertinggal, kami pun pulang. Tepat saat kabut turun dan kembali melintasi track engkol-engkolan yang 'aduhai' itu. Pukul 17.30 WIB, kami tiba di basecamp
Pak Ketua sekaligus bapak dua anak takzim menulis. 
 Selamat merencanakan pendakian. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi puntung rokok karena dapat mengakibatkan kebakaran. Termasuk bila membuat api unggun, pastikan telah memadamkannya. Yang paling utama, patuhi semua peraturan dan pantangan saat mendaki seperti jangan mengeluh di Pestan serta jangan bohong dan sombong saat di Dusun Garung. (sri juliati)




Alhamdulillah, sampai puncak... 

ketika biru bertemu biru dan aku mencintai warna biru...

Halooo, kamu-ku... Selamat pagi... :)

Saat lelah, pandanglah ke bawah.



Naskah ini telah terbit di Harian Pagi SatelitPost edisi Sabtu (22/8) dan Minggu (23/8) halaman Etalase (1) sebagai Feature. 

Big thanks, guys. Kalian keren...