Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2016

Menuju Ujung Timur Pulau Jawa Bagian 5

Patung Penari Gandrung yang jadi ikon-nya Banyuwangi.
Lokasinya di dekat situs Watu Dodol. Foto by Kak Ros
Jumat, 25 Desember 2015

TAMAN Nasional Baluran benar-benar memanjakan semua indra yang kami miliki. Sejak pukul 10.30 hingga 15.00 WIB, kami terpuaskan di taman seluas 25 ribu hektare ini. Bahkan kami nyaris lupa bila masih harus menempuh perjalanan, kembali ke Banyuwangi, sebelum pekat datang. 

Wefie terakhir sebelum berucap selamat tinggal pada TN Baluran. 
Kelak, entah berapa tahun lagi, kami akan kembali lagi. Tentu dengan formasi pasukan bela perasaan yang lebih lengkap.

Kini, giliran saya yang memegang kemudi. Ngengggg, motor sewaan kami membelah Jalan Raya Situbondo-Banyuwangi. Masih ramai lancar sehingga tak terlalu menyulitkan saya untuk menyalip kendaraan lain.

Jalur pulang masih sama dengan jalur berangkat. Artinya, kami kembali melewati situs Watu Dodol. Sesuai rencana, kami harus mampir ke sini.

Sekitar 45 menit, kami memakirkan kendaraan di pinggir jalan. Ya, kami sudah sampai di situs Watu Dodol, yaitu batu besar dengan ketinggian enam meter yang berada di tengah jalan.

Situs Watu Dodol. Batu besar, membelah ruas jalan
Situbondo-Banyuwangi.
Sumber foto www.lamanberita.com
Hasil berselancar di Wikipedia dan Kompas.com menuliskan, batu besar dengan sebatang pohon kelor di sisi selatannya, dianggap mistis oleh warga sekitar. Ada banyak legenda mengenai watu ini. Satu di antara yang tenar adalah cerita tentang prajurit Blambangan membawa bekal berupa jadah (sejenis dodol, yaitu jenang ketan berbentuk lonjong seukuran telapak tangan) saat perang melawan Majapahit. 

Saat beristirahat di tepi pantai, bekal yang ia bawa tertinggal. Dodol tersebut akhirnya berubah menjadi Watu Dodol. Secara harafiah, dodol memang diartikan sebagai jenang, merujuk pada makanan manis berbentuk persegi seukuran kelingking.

Ironisnya, saat booming batu akik beberapa waktu lalu, banyak orang yang mencongkel batu besar tersebut sedikit demi sedikit dicongkel demi memperoleh pecahannya. Alhasil, bagian bawah batu tersebut terlihat banyak congkelan. 

Meski terlihat angker, namun kini Watu Dodol terlihat asri karena dihiasi taman sebagai jalur hijau. Sayangnya, saat kami datang ke sana, tengah dilakukan perbaikan dan pembangunan di sekitarnya. Alhasil, kami tidak bisa mendekat ke batu tersebut.

Pantai Watu Dodol dengan ombak yang tak terlalu besar.
Foto by Kak Ros
Sama seperti pengguna jalan lainnya, kami dibuai dengan lanskap supereksotis sebab langsung bersisian dengan Selat Bali. Apalagi, jauh di bawah dari tempat kami berdiri memang terdapat area pantai berpasir dan berkerikil hitam, yang disebut Pantai Watu Dodol. Nampak beberapa penggunjung berenang di tepinya. Ombaknya memang tak terlalu besar. Sementara pengunjung lainnya, terlihat berswafoto.

Di dekat pantai tersebut, juga terdapat bangunan yang di atasnya terdapat patung seorang wanita yang menarikan tarian Gandrung, yaitu tarian khas Bwi. 

Patung Penari Gandrung. Langitnya cenderung mendung.
Foto oleh Nung
Di sini, saya lebih banyak diam. Sama sekali tidak mengabadikan gambar. Sementara Kak Ros, Nung, dan Renny mencari spot, objek foto, saya pesan seporsi bakso. Tanpa mi. Cukup bakso dan kuah.

Saya pun iseng bertanya pada si penjual bakso, sambil menunjuk daratan yang ada di depan kami.

"Pulau Bali, Mba," jawabnya.

Saya pun hanya ber-oh pelan dan sejurus kemudian, "Hah, Pulau Bali? Pulau Dewata, Mba? Beneran?"

Perempuan muda berjilabab itu mengangguk dan memberi penegasan, "Iya, itu Pulau Bali."

Mata kami pun berbinar, tak percaya, Bali hanya seperlemparan batu dari tempat kami berdiri. Hingga, muncullah rencana, "Bali yok, walaupun cuma nyebrang sebentar. Setidaknya, kaki ini pernah napak di Bali."

Iya, daratan di seberang itu adalah Pulau Bali. Deket banget kan?
Foto oleh Kak Ros
Kak Ros dan Reni pun bergegas mencari tahu bagaimana kami ke sana. Tak lama, mereka muncul dengan wajah yang tak kalah happy. "Aku udah tanya sama bapak-bapak yang jual jagung bakar. Katanya kita bisa ke sana pakai feri, ada setiap jam dan cuma satu jam. Gimana?"

"Kalau aku sih yes. Mumpung masih di sini," jawab saya. 

"Yang lain?"

"Hayuk aja, sing penting tekan Bali, Kak..." Nung menyambung. 

"Iya, ke Bali aja. Soalnya temen-temenku pada tanya, kita mau ke Bali apa nggak, soalnya kan deket banget," timpal Reni. 

Sepakat. Kami, pasukan bela perasaan, besok, akan datang ke Bali. Untuk pertama kali. Ya, di antara kami semua, belum ada yang satu pun kakinya melangkah ke Pulau Dewata. 

Titik hujan memaksa kami untuk bergegas, kembali ke Bwi. Tentu setelah membayar seporsi bakso dan bilang makasih sama Mbak-nya yang sudah berbaik hati menunjukkan Pulau Bali pada kami. 

View sekitaran kompleks Watu Dodol. Banyak pengguna jalan yang mampir, berswafoto. Seperti kami.
Foto oleh Kak Ros
Sepanjang perjalanan kembali itu, kami bersenandung ditingkahi titik hujan. Bali, Bali, Bali. Itu yang terlintas di pikiran. Akhirnya mimpi ke Bali bakal kesempaian. Ahhh, saya harus bersabar. Sebentar lagi.

Air Tuhan yang semula titik kecil, berubah jadi sebesar kerikil. Kami gagap. Turun pakai jas hujan atau terabas saja. Opsi kedua yang kami pilih, siapa tahu di depan terang. 

Nyatanya tak sepenuhnya benar. Masih gerimis dan cenderung hendak lebat. Akhirnya saya memacu kendaraan namun tetap berhati-hati. Tak lama kami melintas di Pelabuhan Ketapang dan saya menunjuk, "Ini lho, kita besok mau ke sini." I was so excited!!!

Sebelum sampai di Kota Banyuwangi, kami sempatkan diri untuk makan. Ya sejak makan pecel Jeng Gun tadi, perut kami belum diisi nasi. Hanya camilan berupa keripik dan bakso. Senang bisa sampai di Banyuwangi membuat kamu lupa makan. 

Di sebuah warung makan seberang SPBU Ketapang, kami parkirkan kendaraan. Alasan kenapa kami pilih makan di sini adalah, ada tulisan es campur di depan pintu. Iya, saat itu, Kak Ros emang lagi kepengin menikmati es campur yang sayangnya warungnya lagi nggak bikin. Apalah daya, kami sudah telanjur masuk dan memesan menu pilihan masing-masing. 

Beruntung, warung sepi dan kami bisa lebih leluasa gletakan, makan, sambil ngecharge ponsel. Satu per satu ponsel kami mulai tewas. Jangan tanya si Tepi, dia udah tewas lebih dulu. -__-
SPBU Ketapang yang luasss banget. Musala dan toiletnya bersih.
Sumber foto: kaskus.co.id dari post-nya 
ernahari
Selesai makan, kami berbagi tugas. Kak Ros dan Nung akan lebih dulu beberes diri di SPBU Ketapang. Sementara saya dan Reni jaga HP yang di-charge. Nggak lama, setelah mereka selesai, kami pun nyusul. 

Jarum jam menuju angka 6. Sejenak beristirahat sembari meluang waktu, bersujud, berucap ribuan syukur dan terima kasih pada Tuhan di senja itu. Terima kasih, Tuhan. Hingga kini, kami semua dalam perlindungan-Mu.

Terang wajah kami. Selain kena air wudu, juga kami sempatkan diri membersihkan muka (baca: alasan malas mandi). Motor pun kembali beradu dengan aspal, menuju destinasi berikutnya. (bersambung)

Senin, 22 Februari 2016

Menuju Ujung Timur Pulau Jawa Bagian 3

Saya di Taman Blambangan. Kali pertama lho foto tanpa tahu malu. :P
Foto oleh Nung


Jumat, 25 Desember 2015

PUKUL 05.30 WIB. Semua alarm di ponsel kami berdering, memecah Subuh, Jumat itu. Adalah Reni yang pertama kali bangun, disusul Kak Ros. Sementara saya dan Nung masih bergumul dengan dinginnya Subuh dan menyusup ke sela-sela sleeping bag yang kami jadikan selimut. 

"Heh, bangun... Gantian mandi, sebelum dipakai yang lain," kata Kak Ros dan Reni. 

Kami berdua agak ogah-ogahan. Apalagi saya yang hobi tidur. Rasanya, belum cukup merebahkan badan setelah 20 jam perjalanan itu. Apa mau dikata, daripada jadwal berantakan, saya bergegas ke kamar mandi, mengusir rasa malas, dan membenamkan diri pada air dingin. 

Brrrrr, dingin... 
Yok, packing-packing lagi.

Sambil menunggu personel yang masih mandi, yang lain berkemas, packing lagi, merapikan kamar. Tepat pukul 06.00 WIB, kami keluar kamar, turun, dan bertemu Bu Dewi yang tengah melayani pembeli.

"Lho, mau berangkat sekarang?" tanyanya.

"Inggih, Bu. Sambil cari sarapan sekalian di jalan," jawab kami.

"Ya udah, bentar, saya tak bilang bapak untuk nyiapin motor," kata dia menuju ke arah suami. 

Ya, selain menyediakan penginapan, Bu Dewi juga memiliki persewaan motor. Tarifnya Rp 70 ribu per 24 jam. Kelebihan sewa motor di sini adalah tanpa DP. Sementara untuk penginapan, diberlakukan DP seikhlasnya. Pengalaman kami, DP Rp 50 ribu.

Sambil menunggu Pak Subur menyiapkan dua unit motor, saya menyelesaikan kekurangan yang harus dibayarkan. Untuk penginapan masih kurang Rp 30 ribu, sedangkan motor, karena kami sewa dua hari dua motor, maka harus merogoh kocek Rp 280 ribu.

Hampir ada satu jam lebih kami tertahan di sini. Selain ada sedikit kesalahpahaman antara kami dengan Pak Subur, juga ada kelengkapan motor, yaitu lampu depan yang rusak. Pak Subur pun memberi kami dua alternatif, ganti motor atau nunggu dibenerin lampunya.


Dua motor yang kami gunakan untuk muter2 Bwi. Iya, merah-putih.
Opsi pertama kami pilih. Kami tak ingin kehilangan lebih banyak waktu. Sekitar pukul 07.10 WIB, kami keluar dari penginapan sambil menitipkan pesan pada Pak dan Bu Subur untuk mencarikan tenda, sesuai pesanan kami sebelumnya.

Ya demi alasan kepraktisan dan mengurangi barang bawaan, kami sekalian menyewa tenda dan matras untuk menginap di Ijen. Bu Subur sudah mengiyakan jauh-jauh hari. 

Dan lagi-lagi, saat keluar dari area stasiun, kami berpapasan dengan rombongan mas-mas yang naik dari St Lempuyangan. Interaksi kami, cuma menunduk malu-malu sambil senyum. Hehe.


Langit di Banyuwangi kala itu. Teduh. Mataharinya malu-malu.
Saya yang di belakang, bonceng Kak Ros bertugas sebagai navigator amatiran. Awalnya, saya pakai cara GPS manual tapi kata Kak Ros terlalu berisiko karena sering tidak jelas arahnya. Pindah dengan aplikasi navigasi dan muncul tragedi. Tab saya mendadak hang dan langsung tersedot habis baterainya. Mati saya. 

Beruntung, Pak Subur ada di belakang kami. Ia memberikan petunjuk ke mana kami harus melaju, menuju Kota Banyuwangi. Selama di jalan itu saya otak-atik Tab dan menancapkan kabel pada powerbank. Di situ saya merutuki Tab yang tak kunjung berdamai saat main ke daerah timur.

Ya, kejadian ini bukan kali pertama terjadi. Saat main ke Malang, 2014 lalu, si Tepi (nama Tab saya) juga begitu. Sudah di-charge semalaman di kereta, baru digunakan sebentar sudah langsung mati. Entah, ada yang salah.

Kekesalan pada si Tepi sedikit mencair setelah melintasi jalanan Banyuwangi. Ademmm, banyak pepohonan di kanan-kiri jalan. Jalannya juga mulus dan belum begitu ramai. Mungkin karena masih pagi.

Yeayyyy... kami sudah sudah di tlatah Blambangan. Satu daerah yang dulu cuma ada di angan dan tulisan buku diary saya, kini siap kami 'jelajahi' selama dua hari ke depan. 

Sesuai rekomendasi Bu Dewi, ada satu pantai yang deket sama kota, yaitu Pantai Boom. Dalam perjalanan menuju pantai tersebut, mampirlah ke Taman Blambangan.


Kami di Taman Blambangan begitu sampai. Mukanya masih ceria.
Awalnya, kami kira itu adalah alun-alun karena bentuknya tanah lapang. Kebiasaan kami, kalau main ke satu kota baru, wajib main ke alun-alun. Ternyata setelah dicek, itu sekadar taman. Sebab di sekelingnya tidak ada pendopo, masjid, atau lapas yang jadi penanda keberadaan alun-alun.

Setelah memarkirkan kendaraan di tepi jalan, memastikan aman, baik kendaraan maupun keril, kami menikmati taman ini sambil bertanya pada wanita paruh baya di mana kami bisa menemukan SPBU terdekat.

"Dari sini, ambil kiri terus lurus aja, Mbak, deket kok," jawabnya sambil melanjutkan aktivitas jogging


Warga setempat yang berolahraga. 
Taman Blambangan ramai dengan warga yang berolahraga. Sementara kami, foto-foto tanpa tahu malu di beberapa sudut. Seperti di tulisan Taman Blambangan sampai di tong sampahnya. Ini masih mending nggak tengah jalannya ya. Hahaha

Alhasil, aksi kami dilihatin sama warga sekitar, hehe. Dalam hati mereka (mungkin) mbatin, "Ini Mbak-mbake weruh tulisan wae nggumun?" 

Malu? Nggak dong, kan pasukan bela perasaan nggak punya malu ya. Ya sekali lagi, kami menggunakan dalih: mumpung, nggak ada yang kenal. 


Si Reni sampai nyebrang buat motoin kita. Maap ya Ren... 
Yang saya suka dari lokasi sekeliling taman ini, ada videotron berisikan daftar harga kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) di dekat perempatan. Nah, menurut saya, itu adalah info penting dan pasti dibaca sama para emak yang mau mborong beras, telur, minyak goreng, atau sembako lainnya ke pasar. Ketimbang videotronnya buat nayangin iklan sponsor dan itu cuma diulang-ulang. *eh*


Videotron di seberang Taman Blambangan. Banyumas wajib punya nih.
Lepas dari Taman Blambangan, kami menuju SPBU, dan balik lagi ke taman menuju Pantai Boom sesuai plang penunjuk jalan. Si Tepi sudah tidak bisa diharapkan lagi.\

Menggunakan feeling celeng (kalau kata Kak Ros), kami berusaha menemukan Pantai Boom. Selain ngikutin arah jalan, maka kami mengandalkan GPS alias Gunakan Penduduk Sekitar jadi solusi. Awalnya, kami bertanya pada pria paruh baya, kemudian laki-laki muda. 

Tak lama, kami sudah sampai di kawasan Pantai sekaligus Pelabuhan Boom karena menjadi dermaga kapal pencari ikan. Pantai Boom, merupakan satu pantai yang lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Banyuwangi. Kalau di Kabupaten Cilacap, ya Teluk Penyu atau Widuri-nya Pemalang. Saking tidak jauhnya, kita bisa jalan kaki. Tapi ya tetep menguras keringat sih.

Selamat datang di Pantai sekaligus Pelabuhan Boom. Foto oleh Nung
Kata Bu Dewi, Pantai Boom merupakan satu spot terbaik untuk melihat sunrise. Sayangnya, pas kami ke sana, jarum jam sudah menuju angka 8. Plus awan teduh memayungi kami.

Harga Tiket Masuk (HTM)-nya Rp 2 ribu per motor. Ada satu kejadian kurang mengenakkan saat hendak membeli tiket. Kami sedikit dibentak oleh penjual tiket karena salah ambil jalan masuk. Kebetulan jalan masuk kendaraan motor dan mobil, bersebelahan dan tidak ada penanda. Karena nggak tahu, kami asal masuk yang ternyata itu jalur mobil. 

Di situlah, kami dibentak, dimarahi karena salah lajur. Sontak, kami pun kaget, mlongo. "Yah, Mbak, kan kita ga tahu," bela kami sambil nyodorin duit Rp 4 ribu untuk dua motor.

IMO, tindakan petugas ini agak sedikit disesalkan. Pertama, nggak baik marah-marah mbak, nanti lekas tua lho. Kedua, 'objek' kemarahan itu adalah pengunjung, yang notabene masyarakat. Setahu saya, pekerjaan melayani masyarakat seperti mereka, dituntut tidak boleh marah-marah. Harus ramah. Boleh menegur, asal disampaikan dengan bijak, tidak dengan nada tinggi. Apalagi dia bekerja di bagian tiket objek wisata, yang erat kaitannya dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) alias sumber duitnya pemerintah setempat. 

Mungkin, petugas nggak tau, kalau kami adalah tamu, pendatang karena kendaraan yang kami gunakan berpelat P. Mungkin juga, dia sedang kesal karena libur Natal, tanggal merah, disuruh masuk kerja. I know what you feel, Mbak. *eh*


Kesal setelah dimarahin petugas, keempat perempuan ini melampi-
askannya dengan foto-foto. Biar puas, nggak ada ganjelan. :D
Setelah mendapat tiket, kami bergegas mencari lahan parkir motor. Ada masalah lagi, kami kesusahan mencari. Mungkin karena ini pertama kali main tapi memang minim tanda dan tidak ada petugas yang mengarahkan. Bahkan kami harus muter dua kali sampai ketemu tempat parkir. Ada jalan kecil menuju lokasi parkir tapi meragukan karena tertutup sama pagar yang ada talinya. Akhirnya kami terobos aja deh.

Pantai Boom memiliki pasir hitam. Ya kan persis sama Teluk Penyu dan Widuri. Banyak warga yang berenang di pantai yang berhadapan dengan Selat Bali ini. Ombaknya tak terlalu tinggi namun akan lebih baik bila tetap mawas diri. 

Fasilitas lain yang tersedia di Pantai Boom adalah jogging track, mini-panggung, restoran, serta payung dengan kursi untuk menikmati pantai yang disewakan. Sesekali terdengar imbauan petugas agar orangtua menjaga dan mengawasi anak-anaknya yang berenang.


Pantai Boom yang berhadapan langsung dengan Selat Bali. 
Agak lama kami di sini. Setelah banyak foto sampai mati gaya, kami memutuskan untuk say goodbye pada Pantai Boom. Sebenarnya masih pengin di sini sedikit lebih lama tapi masih ada banyak lokasi yang harus kami singgahi dan itu destinasi utama. 

Terima kasih Pantai Boom... Kapan hari, kami ke sini lagi ya. Tentu pas pagi hari biar bisa lihat matahari pertama di ujung timur Pulau Jawa. Ya, di timur, Matahari selalu terbit lebih dulu. (Bersambung)




Galeri
Kelakuan kami sebelum keluar dari penginapan. Poto-poto lagi. Haha.

Mereka yang tidak tahu malu dan diri foto-foto di Taman Blambangan.

Sampai tong sampah aja harus difoto. Bwi punya 4 tong, Bms cuma 2.

Pasir ini erat kugenggam, tak bersisa sebutir di telapak tangan
Jika ia tak sanggup lagi menghakimi, mungkin hanya waktu yang mampu mengadili ia.
Pasir, kulelah mengukir, ku terusir tersingkir
Pasir, tak terukur, kau gugur teratur
Aku terkubur, tersungkur

Pasir-Tigapagi feat Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca)

Suasana Pantai Boom di pagi hari. Ramai. 

Tambahkan Matahari yang baru bangun. Sempurna. 

Kami di tenda yang disewain. Eh ini sebelum 'diminta' pergi
sama petugas. Hehehe. Foto: Reni

Jumat, 19 Februari 2016

Menuju Ujung Timur Pulau Jawa Bagian 1

Peta Kabupaten Banyuwangi. Tujuan liburan akhir tahun 2015.
Sumber foto: www.banyuwangikab.go.id
SEMUA ini berawal dari buku diary kecil, bersampul hijau, yang terselip di antara koleksi buku. Di satu lembarnya, di awal tahun 2015, saya menuliskan Banyuwangi sebagai wishlist destinasi wisata yang harus disambangi. Setidaknya sekali seumur hidup. 

Time flies. Hingga September, pas naik ke Gunung Prau bareng Pasukan Kece Bong, saya masih terngiang dengan wishlist ini. Sampai ditanyain mau ke mana akhir tahun sama Mas Widi pun, si ketua Pasukan Kece Bong, saya dengan mantap menjawab: Banyuwangi. -selanjutnya saya tulis dengan singkatan Bwi-

Sekitar bulan November, saya pun iseng, googling backpacker ke Bwi. Ada satu tulisan lengkap dari Mba Diah Nurrayni di blog-nya. Saya baca sampai akhir dan seketika muncul rasa takjub: "Gila, Mba-nya berdua, cewek-cewek aja bisa kok, masak saya yang punya banyak pasukan nggak bisa?!"

Dari tulisan itulah, rencana ke Bwi, saya share ke Reni Suryati, perempuan yang setahun belakangan jadi partner klayapan. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengiyakan. Bahkan, kalau tidak ada tambahan personel, kami siap main walau cuma berdua. 

Pun saat saya tawarkan pada Nur Fatimah, si bungsu di kelompok kami. Awalnya masih pikir-pikir, tapi sejurus kemudian, langsung diiyakan. Susun-menyusun plan kasar, saya tanyakan pada Kak Rosmawati, sosok yang paling dituakan *eh.* Sama seperti Nur, sempet pikir-pikir tapi OK deh. Yang penting beli tiket dulu, jadi atau batal, itu urusan nanti. 


Rencana kasar ala saya. Hahaha.
Sempet juga ngompor-ngomporin teman lainnya. Sayangnya, ada sudah ada plan piknik sendiri, ada yang naik gunung, ada juga yang nggak boleh ambil libur atau cuti. Akhirnya, terkumpullah pasukan bela negara, eh pasukan bela perasaan yang terdiri dari saya, Reni Suryati, Nur Fatimah, dan Kak Ros. Tanggal bepergian kami sepakati, yaitu Kamis (24/12/2015) hingga Minggu (27/12/2015). 

Karena tak ingin kehabisan tiket, saya dan Reni lekas berburu ke Stasiun Purwokerto. Ketiadaan kereta jurusan Purwokerto (Pwt) ke Bwi membuat kami cari alternatif. Hingga terpilihlah KA Sri Tanjung, jurusan St Yogyakarta Lempuyangan ke St Karangasem, Banyuwangi dengan tarif Rp 100 ribu per orang. 

Pertanyaannya, kenapa bukan Stasiun Banyuwangi? Dari referensi blog yang saya baca, Stasiun Karangasem lebih dekat ke kota dibanding St Banyuwangi yang jadi tujuan akhir si kereta ekonomi ini. Sementara stasiun akhir itu cenderung lebih dekat ke Pelabuhan Ketapang. 


Pasukan Bela Perasaan. Dari ki-ka: Juli, Nung, Reni, dan Kak Ros.

Setelah membeli tiket, hingga sekitar dua minggu sebelum hari H keberangkatan, nyaris tak ada pembahasan apapun soal Bwi. Kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Saya sibuk ngurusin berita, liputan karena ada teman wartawan yang cuti, Kak Ros sibuk sama audit dan laporan akhir tahun, Reni sibuk kejar target, dan Nur sibuk ngurusin administrasi.


Tulisan saya di kolom Sorot Redaksi.
Membandingkan dua Banyu, hehe.
Namun di sela-sela kesibukan, kami masih sempatkan untuk googling, cari penginapan, transportasi, termasuk tempat yang wajib dikunjungi. Setelah mendapat kontak dll, H-2 minggu, kami putuskan untuk kumpul, bahas perlengkapan, itinerary, dan lainnya. Setelah beres, kami pun menunggu datangnya hari H sambil menyelesaikan pekerjaan. Can't wait!!! (bersambung)



Kamis, 18 Februari 2016

Secuil Surga di Selatan Kebumen

Haiii, dari Pantai Menganti Kebumen.

KEBUMEN. Berada di pesisir selatan Pulau Jawa membuat kabupaten tetangga di timur Banyumas itu diberkahi garis pantai yang maha-panjang. Membentang dari barat, perbatasan dengan Cilacap hingga ke timur, berbatasan dengan Purworejo. 

Dari situ, terciptalah sebuah panorama, lanskap alam yang amat cantik dan eksotis, yaitu pantai. Deretan pantai yang berjajar, dari barat ke timur, memberikan sumbangan destinasi wisata alam terbesar bagi Kebumen. Tak salah bila Bupati Kebumen, M Arief Irwanto sempat menyebut jika daerah yang dipimpinnya sebagai Hawaii-nya Indonesia.

Tentu, bukan tanpa alasan kenapa Arief menyematkan Hawaii. Kepulauan di tengah Samudera Pasifik itu sudah moncer dengan keindahan pantainya. Sama halnya dengan Kebumen, yang punya deretan pantai cantik nan eksotis.

Dulu, orang mengenal Pantai Ayah, Suwuk, Karangbolong, dan Petanahan sebagai destinasi pantai paling favorit di Kebumen. Di luar itu, masih ada banyak pantai yang sama cantiknya, sama alaminya karena belum banyak terjamah.

Dan berikut SatelitPost berikan beberapa wisata pantai di Kebumen yang bisa Anda sambangi dan layak disebut kepingan surga yang jatuh di Indonesia.

1. Pantai Karangagung
Pantai Karangagung. Ini yang dijuluki Tanah Lot-nya Kebumen.
Foto: SatelitPost/Anang Firmansyah
Bila Pantai Ayah sudah terlalu sering disambangi dan ramai, baiknya arahkan kendaraan Anda ke arah timur. Lurus terus, menyusuri jalur selatan di selatan Pulau Jawa, melibas lebih banyak tanjakan.

Pantai pertama yang bisa Anda datangi adalah Pantai Pedalen, Desa Argopeni. Pantai nelayan, biasa disebut kebanyakan orang. Saban hari, pantai ini selalu ramai dengan aktivitas para nelayan, baik mereka yang pulang maupun berangkat melepas sauh. Pasalnya, di kawasan pantai terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI).


Pantai Pedalen. Paling seneng kalau ke sini sore hari.
Foto oleh Sonny
Setelah dari Pantai Pedalen, arahkan lagi kendaraan Anda ke sisi timur. Tak jauh, ada Pantai Karangagung yang begitu memesona. Tanah Lot-nya Kebumen, begitu orang menyebut pantai ini. Apa pasal? Bebatuan karang menjulang di pinggir pantai, menyempurnakan lanskap. Ya, sekilas mirip dengan Pantai Tanah Lot di Bali. 

Ombak Pantai Selatan yang berkejaran, bersusulan, dipecah karang. Membuat pantai ini amat layak dikunjungi. Utamanya saat sore hari, sembari menikmati matahari tenggelam. Namun hati-hati, kala jarum menuju angka 5 maka sekelompok kera akan muncul, bergelantungan, mencari makan. 
Kalau ke sini, jangan biasain buang sampah sembarangan ya.
Foto oleh Sonny
Untuk sampai ke tempat ini, Anda hanya perlu jalan sekitar 30 menit dari jalan raya. Bila kebetulan sepi, Anda bisa memarkirkan kendaraan di dekat pantai. 

2. Pantai Menganti
Kak Ros sampai Pantai Menganti. Cieeeee, nostalgia ya, Kak. :D
Dari Pantai Karangagung, arahkan kendaraan ke timur lagi. Pantai Menganti bisa jadi destinasi wisata selanjutnya. Tenang, akses jalan menuju pantai ini sudah amat layak.

Pantai Menganti akan memesona siapapun yang datang ke sana. Deretan perahu para nelayan, pasir putihnya, karang-karang di tepi pantai, dikelilingi kawasan perbukitan yang aduhai, tebing hijau membuat Menganti begitu cantik. Belum lagi saat naik ke atas, menuju mercusuar. Hamparan Laut Selatan membentang maha luas.

Tak bawa makanan? Tenang. Sudah ada banyak warung makan yang berdiri. 

3. Pantai Pecaron
Pantai Pecaron atau Srati yang luasnyaaaaaaaa banget. 
Selesai menikmati Pantai Menganti, jangan buru-buru pulang dulu. Masih ada satu pantai yang wajib dijelajahi, yaitu Pantai Pecaron atau Srati. Lokasinya memang agak masuk dari jalan selatan itu tapi percayalah, perjalanan melintasi jalur yang sudah dihaluskan ini akan terbayar lunas. 

Laut selatan ada di hadapan. Kaki meninggalkan jejak di pasir hitam. Semilir angin membuai. Ombak laut yang berkejaran, bersusulan, membasahi kaki. Begitu syahdu.

Lokasi pantai ini memang agak tersembunyi karena berada di balik tebing. Berbeda dengan beberapa pantai sebelumnya, kawasan Pantai Pecaron amat luas. Silakan bermain, berlarian di kawasan ini. Yang penting diperhatikan, karena tak ada karang, maka ombak yang datang cukup besar. 


Lanskap dari Bukit Layur. Nemu tempat ini karena nyasar.
Ingin menikmati Pantai Pecaron dari atas? Naik sebentar ke Bukit Layur yang tak jauh dari situ. 


4. Pantai Lampon
Last but not least, ada Pantai Lampon. Lokasinya ada di timur Pantai Pecaron. Jangan takut kesasar sebab penunjuk jalan menuju pantai ini sudah tersedia dengan sangat jelas.




Pantai ini juga memiliki kampung nelayan dan TPI. Letak pantainya memang agak naik dari kawasan tersebut. Hati-hati saat mengendarai motor sebab jalannya bekas tebing yang diratakan. 
Kamu cantik, Pantai Lampon... Btw, di sini bisa ngecamp lho...
Dan, silakan terpukau dengan pantai ini. Eksotisnya luar biasa. Anda juga bisa mendirikan tenda, bersantai menikmati malam di kawasan pantai ini. 

Masih dalam satu kawasan, Anda bisa menjelajahi gua, pantai, bukit, dan tanjung yang bisa Anda jelajahi. Jangan takut tersesat, Anda bisa meminta bantuan warga sekitar untuk mengantar.


Karang-karang di Pantai Lampon.
Tentu, selain keempat pantai ini, masih ada beberapa pantai lain di kawasan Kebumen. Nantikan kelanjutannya di SatelitPost ya. (*)



Note: Tulisan ini sudah terlebih dahulu terbit di Harian Pagi SatelitPost, Sabtu, 12 Desember 2015.

Minggu, 29 November 2015

Wisata Bukit yang Lagi Hits di Banyumas

Panorama dari Bukit Taman Angkasa, Banyumas.
Foto dari Sukarni, Gerakan Desa Membangun


BANYUMAS boleh bangga. Meski menyandang status kota (kecil) namun wilayah ini dikelilingi landmark alam yang amat mengagumkan. Kawasan perbukitan, lembah, dan sungai, membentang di Sinaring Tanah Jawa ini.

Tak berlebihan menyematkan julukan Banyumas, surga seribu curug alias air terjun. Juga tak berlebihan pula, menambahkan kata: bukit. Banyumas, surga 1000 curug dan bukit. Hal ini sebagai bonus topografi Banyumas yang berada persis di kaki Gunung Slamet.

Dulu, orang hanya mengenal Banyumas dari Lokawisata Baturraden sebagai ikon wisatanya. Namun, beberapa waktu belakangan, wisata curug mulai mendapat tempat. Yang dulu didatangi hanya segelintir orang, kini ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun luar kota. Mulai dari anak kecil, remaja, hingga orang tua. 

Pun dengan wisata bukit. Dulu, orang hanya tahu Bukit Bintang di Baturraden sebagai satu lokasi untuk melihat Kota Purwokerto dari ketinggian. Kini, ada beberapa bukit yang bisa 'dijelajahi' demi memandang Banyumas dan sekitarnya dari ketinggian tertentu. 

Bisa dibilang, media sosial jadi satu pemicu tenarnya dua lanskap alam hadiah untuk Banyumas ini. Banyaknya pengunjung yang ber-selfie lantas membagikannya ke media sosial memancing keingintahuan para pengguna lainnya. Imbasnya, mereka pun berbondong-bondong datang, berkunjung, atau sekadar membuktikan keindahan yang dilihat di media sosial. 

Beberapa waktu lalu, SatelitPost membahas keindahan curug yang tersebar di Banyumas, kini Anda akan diajak menjelajah, berwisata ke dua bukit yang tengah jadi perbincangan banyak orang, utamanya anak-anak muda. Supaya seperti mereka, jadi anak kekinian. Bila ada waktu, sempatkanlah mampir ke sana. Namun ingat, bawa turun sampah yang dibawa ya. Selamat bertualang.

1. Bukit Watu Meja, Kebasen
Sungai Serayu dari Bukit Watu Meja.

NAMA bukit yang satu ini jelas sudah tak asing lagi karena sudah kondang ke mana-mana. Dikunjungi oleh siapa saja dan darimana saja. Satu kata untuk bukit ini, ramai. Apalagi saat hari libur.

Bukit ini berada di Desa Tumiyang, Kecamatan Kebasen. Bila datang dari Purwokerto, lurus dan ikuti saja jalan di samping Pasar Patikraja. Jarak dari persimpangan Pasar Patikraja hingga ke desa ini lumayan agak jauh. Namun jangan khawatir, Anda tidak akan tersesat sebab beberapa petunjuk jalan sudah dipasang. Yang perlu Anda lakukan hanya mengikuti penanda tersebut. Lokasinya ada di sisi kiri jalan. 

Sampai di sana, Anda bisa memarkirkan kendaraan di rumah warga setempat. Tarif? Seikhlasnya. Soal keamanan kendaraan, tenang, aman kok. Sebab warga sekitar memberikan karcis parkir untuk menghindari tertukarnya kendaraan. Hati-hati jangan sampai hilang.

Dari lokasi parkir tersebut, Anda tinggal berjalan kaki. Ada dua jalur yang bisa dipilih, jalur ekstrem dan jalur landai. Kelebihan jalur ekstrem, lebih cepat sampai tapi tanjakannya lumayan bikin napas ngos-ngosan. Sebaliknya jalur landai, lebih lama karena harus memutar. Tenang, dua jalur itu akan bertemu di titik yang sama kok.

Jalur Ekstrem menuju Watu Meja. Semangat kakak...
Setelah berjalan kurang lebih 30 menit (sudah dengan istirahat dan foto-foto) sampailah di lokasi Bukit Watu Meja. Namun sebelum masuk, Anda harus mencatatkan nama serta asal disertai tarif seikhlasnya untuk membangun pengembangan wisata ini. 

Dan tadaaa... pemandangan Sungai Serayu yang berkelak-kelok, beserta jembatan rel kereta api, yang jadi ikon Banyumas, dan kawasan perbukitan, persawahan, di wilayah tersebut membentang luas. Lanskap alam yang begitu mengagumkan. Membuat mata tak jemu untuk memandang. Apalagi saat kereta api melintas di jembatan tersebut, sempurna. 
Itu rel kereta api di atas Sungai Serayu yang jadi ikon Banyumas.

Warga sekitar bilang, waktu paling pas untuk menikmati keindahan Bukit Watu Meja adalah saat pagi, matahari terbit juga sore, matahari terbenam. Namun, siang ke sini pun tak masalah, karena sama-sama kerennya. 

Di lokasi ini juga terdapat sebuah batu besar yang bentuknya menyerupai meja. Mungkin, ini jadi alasan penamaan dari tempat wisata ini, Watu Meja. Tak cuma menikmati lanskap Sungai Serayu, Anda juga bisa menjelajah hutan pinus yang masuk di wilayah KPH Banyumas Timur. Awesome
Hutan Pinus dan kami. Lagi-lagi sama Reni. Hahaha. ^^

Ramai? Bangetttt... Apalagi kalau hari libur. 

Soal makanan, tenang, Anda tak perlu bawa banyak bekal sebab ada banyak sekali warung yang menjajakan makanan dan minuman, lengkap dengan lesehan. Harganya, masih bisa terjangkau kok. (sri juliati)


2. Taman Angkasa, Banyumas
ADA cara lain untuk menikmati pemandangan saat matahari terbit dan tenggelam. Jika bosan ke pantai, Anda bisa coba berkunjung ke Taman Angkasa Banyumas di Desa Binangun. 

Selamat datang di Taman Angkasa
Taman Angkasa Banyumas terletak di Grumbul Juwiring, Desa Binangun, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Taman ini berada di kawasan puncak Gunung Depok yang berketinggian sekitar 420 meter dpl.

Gunung Depok merupakan gunung kecil dengan puncak landai. Anda dapat melihat wilayah Banyumas, Cilacap, dan Purbalingga. Jika Anda perhatikan dengan saksama, melihat Banyumas dari puncak Gunung Depok seperti menyaksikan taman raksasa. Pemandangannya indah dan hijau. Sungai-sungai yang mengalir menyempurnakan menambah asri pemandangan. 
Jalur menuju Taman Angkasa. Siap-siap...
Taman Angkasa bisa ditempuh dari Alun-alun Banyumas, yaitu Alun-alun-Desa Pasinggangan-Desa Binangun. Jika lewat jalan ini, ada sebagian rusak jalan di Desa Pasinggangan dan Binangun. Rute lain yaitu Desa Kalisube-Dawuhan-Binangun. Hati-hati saat melintas di Desa Binangun, sedangkan jalan di Desa Kalisube dan Dawuhan, mulus. 

Desa Binangun juga mengembangkan sejumlah paket wisata. Pengunjung bisa belajar dengan biaya sebesar Rp 50 ribu untuk jumlah maksimal 10 orang per kelompok.

Enjoy sunrise. Sun is shining and so are you... 
Taman Angkasa Banyumas di Binangun masih dukungan infrastruktur pendukung karena objek wisata ini baru dikembangkan pada Juni 2015. Mari, menikmati sunrise atau sunset dengan secangkir teh senggani di Binangun. (Sukarni dari Gerakan Desa Membangun)