Tampilkan postingan dengan label satelitpost. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label satelitpost. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2016

Secuil Surga di Selatan Kebumen

Haiii, dari Pantai Menganti Kebumen.

KEBUMEN. Berada di pesisir selatan Pulau Jawa membuat kabupaten tetangga di timur Banyumas itu diberkahi garis pantai yang maha-panjang. Membentang dari barat, perbatasan dengan Cilacap hingga ke timur, berbatasan dengan Purworejo. 

Dari situ, terciptalah sebuah panorama, lanskap alam yang amat cantik dan eksotis, yaitu pantai. Deretan pantai yang berjajar, dari barat ke timur, memberikan sumbangan destinasi wisata alam terbesar bagi Kebumen. Tak salah bila Bupati Kebumen, M Arief Irwanto sempat menyebut jika daerah yang dipimpinnya sebagai Hawaii-nya Indonesia.

Tentu, bukan tanpa alasan kenapa Arief menyematkan Hawaii. Kepulauan di tengah Samudera Pasifik itu sudah moncer dengan keindahan pantainya. Sama halnya dengan Kebumen, yang punya deretan pantai cantik nan eksotis.

Dulu, orang mengenal Pantai Ayah, Suwuk, Karangbolong, dan Petanahan sebagai destinasi pantai paling favorit di Kebumen. Di luar itu, masih ada banyak pantai yang sama cantiknya, sama alaminya karena belum banyak terjamah.

Dan berikut SatelitPost berikan beberapa wisata pantai di Kebumen yang bisa Anda sambangi dan layak disebut kepingan surga yang jatuh di Indonesia.

1. Pantai Karangagung
Pantai Karangagung. Ini yang dijuluki Tanah Lot-nya Kebumen.
Foto: SatelitPost/Anang Firmansyah
Bila Pantai Ayah sudah terlalu sering disambangi dan ramai, baiknya arahkan kendaraan Anda ke arah timur. Lurus terus, menyusuri jalur selatan di selatan Pulau Jawa, melibas lebih banyak tanjakan.

Pantai pertama yang bisa Anda datangi adalah Pantai Pedalen, Desa Argopeni. Pantai nelayan, biasa disebut kebanyakan orang. Saban hari, pantai ini selalu ramai dengan aktivitas para nelayan, baik mereka yang pulang maupun berangkat melepas sauh. Pasalnya, di kawasan pantai terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI).


Pantai Pedalen. Paling seneng kalau ke sini sore hari.
Foto oleh Sonny
Setelah dari Pantai Pedalen, arahkan lagi kendaraan Anda ke sisi timur. Tak jauh, ada Pantai Karangagung yang begitu memesona. Tanah Lot-nya Kebumen, begitu orang menyebut pantai ini. Apa pasal? Bebatuan karang menjulang di pinggir pantai, menyempurnakan lanskap. Ya, sekilas mirip dengan Pantai Tanah Lot di Bali. 

Ombak Pantai Selatan yang berkejaran, bersusulan, dipecah karang. Membuat pantai ini amat layak dikunjungi. Utamanya saat sore hari, sembari menikmati matahari tenggelam. Namun hati-hati, kala jarum menuju angka 5 maka sekelompok kera akan muncul, bergelantungan, mencari makan. 
Kalau ke sini, jangan biasain buang sampah sembarangan ya.
Foto oleh Sonny
Untuk sampai ke tempat ini, Anda hanya perlu jalan sekitar 30 menit dari jalan raya. Bila kebetulan sepi, Anda bisa memarkirkan kendaraan di dekat pantai. 

2. Pantai Menganti
Kak Ros sampai Pantai Menganti. Cieeeee, nostalgia ya, Kak. :D
Dari Pantai Karangagung, arahkan kendaraan ke timur lagi. Pantai Menganti bisa jadi destinasi wisata selanjutnya. Tenang, akses jalan menuju pantai ini sudah amat layak.

Pantai Menganti akan memesona siapapun yang datang ke sana. Deretan perahu para nelayan, pasir putihnya, karang-karang di tepi pantai, dikelilingi kawasan perbukitan yang aduhai, tebing hijau membuat Menganti begitu cantik. Belum lagi saat naik ke atas, menuju mercusuar. Hamparan Laut Selatan membentang maha luas.

Tak bawa makanan? Tenang. Sudah ada banyak warung makan yang berdiri. 

3. Pantai Pecaron
Pantai Pecaron atau Srati yang luasnyaaaaaaaa banget. 
Selesai menikmati Pantai Menganti, jangan buru-buru pulang dulu. Masih ada satu pantai yang wajib dijelajahi, yaitu Pantai Pecaron atau Srati. Lokasinya memang agak masuk dari jalan selatan itu tapi percayalah, perjalanan melintasi jalur yang sudah dihaluskan ini akan terbayar lunas. 

Laut selatan ada di hadapan. Kaki meninggalkan jejak di pasir hitam. Semilir angin membuai. Ombak laut yang berkejaran, bersusulan, membasahi kaki. Begitu syahdu.

Lokasi pantai ini memang agak tersembunyi karena berada di balik tebing. Berbeda dengan beberapa pantai sebelumnya, kawasan Pantai Pecaron amat luas. Silakan bermain, berlarian di kawasan ini. Yang penting diperhatikan, karena tak ada karang, maka ombak yang datang cukup besar. 


Lanskap dari Bukit Layur. Nemu tempat ini karena nyasar.
Ingin menikmati Pantai Pecaron dari atas? Naik sebentar ke Bukit Layur yang tak jauh dari situ. 


4. Pantai Lampon
Last but not least, ada Pantai Lampon. Lokasinya ada di timur Pantai Pecaron. Jangan takut kesasar sebab penunjuk jalan menuju pantai ini sudah tersedia dengan sangat jelas.




Pantai ini juga memiliki kampung nelayan dan TPI. Letak pantainya memang agak naik dari kawasan tersebut. Hati-hati saat mengendarai motor sebab jalannya bekas tebing yang diratakan. 
Kamu cantik, Pantai Lampon... Btw, di sini bisa ngecamp lho...
Dan, silakan terpukau dengan pantai ini. Eksotisnya luar biasa. Anda juga bisa mendirikan tenda, bersantai menikmati malam di kawasan pantai ini. 

Masih dalam satu kawasan, Anda bisa menjelajahi gua, pantai, bukit, dan tanjung yang bisa Anda jelajahi. Jangan takut tersesat, Anda bisa meminta bantuan warga sekitar untuk mengantar.


Karang-karang di Pantai Lampon.
Tentu, selain keempat pantai ini, masih ada beberapa pantai lain di kawasan Kebumen. Nantikan kelanjutannya di SatelitPost ya. (*)



Note: Tulisan ini sudah terlebih dahulu terbit di Harian Pagi SatelitPost, Sabtu, 12 Desember 2015.

Jumat, 04 Desember 2015

Kala Hati Terpikat di Bromo


SELAMAT malam.

Gunung Batok, Bromo, dan Semeru dari kejauhan.
Kerennnnn bangettttttt. Foto: Anang Firmansyah

Ternyata, lama nggak posting soal gunung itu bikin kangen. Ngublek-ngublek file lama, ketemulah dengan cerita perjalanan ke Gunung Bromo, akhir tahun lalu. Pas banget, belum ada bahan untuk mengisi halaman Leisure Time SatelitPost.

Jadilah dengan kecepatan penuh, berpacu dengan deadline, saya lekas merampungkan tulisan ini. Kalau dirunut lebih jauh, ini adalah kelanjutan perjalanan ke Malang bareng anaknya Pak Bambang alias Dodi Nugroho, sahabat saya dari SMP sampai sekarang.

Untuk itu, terima kasih buat kontributor tulisan ini, Dodi yang karib disapa Hoho, sekaligus inisiator main ke Gunung Bromo. Terima kasih sudah nyariin open trip, terima kasih sudah jadi sahabat perjalanan yang baik. Kamu emang paling bisa diandalkan, bro... 

Juga Anang Firmansyah, fotografer SatelitPost buat foto-foto kecenya. Yap di tulisan ini, saya lebih banyak menggunakan foto milik Anang. Alasannya, secara teknik dan hasil, jauh lebih bagus dibanding punya saya dan Dodi.

Maklumin untuk kosakata yang rapi ya karena ini untuk terbit di koran. Dan di beberapa bagian, saya sisipi beberapa cerita dengan diksi versi saya. Selamat membaca. 

Btw, saat mau post tulisan ini, ada berita tentang status Gunung Bromo yang dinaikkan dari level II Waspada ke level III Siaga. Imbasnya, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup objek wisata kawah gunung tersebut seperti kawah Bromo, lautan pasir berbisik, dan savana dari seluruh aktivitas wisata.

Seperti dikutip dari liputan6.com, dengan status siaga tersebut, kaldera di Gunung Bromo harus steril dari wisatawan dan aktivitas masyarakat karena jarak aman sekitar 2,5 kilometer. Semoga selalu aman, Bromo. Kami rindu. 

================================================================

BRAHMA. Nama dewa utama dalam Agama Hindu tersebut disematkan pada gunung setinggi 2.329 mdpl di Jawa Timur. Yang kemudian dialihbahasakan menjadi Gunung Bromo. 

Bagi penduduk sekitar, utamanya Suku Tengger, Bromo merupakan gunung suci. Setahun sekali, mereka mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara tersebut bertempat di Pura Luhur Poten yang berlokasi di kaki gunung. Upacara Kasodo dilakukan pada tengah malam hingga dinihari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (ke 10) menurut penanggalan Jawa.

Kawasan Pegunungan di sekitar Bromo.
Foto: Anang Firmansyah
Kini, tak ada yang tak mengenal Bromo. Berlokasi di empat kabupaten yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang, gagahnya Bromo sudah moncer hingga ke penjuru dunia. Hamparan lautan pasir membentang, gunung tinggi gagah menjulang, serta berbaris pegunungan, perbukitan seakan menjadi pagar kawasan ini. Menjadikan kawasan Bromo sebagai daerah tereksotis di Indonesia, bahkan di dunia. 

Oleh karena itu, tak sebatas menjadi gunung suci, Bromo juga menjadi satu destinasi wisata di Jawa Timur, bagi wisatawan lokal dan manca. Jangan heran, nyaris setiap hari, ada saja wisatawan yang datang berkunjung. Jumlah ini bakal meningkat kala libur panjang dan akhir pekan. Kebanyakan, mereka ingin menikmati suasana sunrise atau matahari terbit di Bromo. 

Ada dua cara yang bisa dipilih untuk 'bermain' di sini. Jika cukup nyali, tahu medan, mahir berkendara, dan irit budget, membawa kendaraan pribadi bisa menjadi pilihan. Sebaliknya, bila terlalu awam, sama sekali buta tentang Bromo, bergabung dengan paket wisata alias open trip bisa jadi solusi. Selain lebih aman dan terkondisikan, dengan open trip, bisa menambah teman perjalanan. Pasalnya, dalam satu rombongan terdiri dari empat hingga delapan, menyesuaikan dengan kapasitas jeep yang disediakan. 

Gunung Batok dan Pura Luhur Ponten. Foto: Saya
Seperti yang SatelitPost lakukan, beberapa waktu lalu. Besaran biaya yang dipatok dari penyedia jasa open trip, mulai dari Rp 300 ribu hingga jutaan, tergantung paket wisata yang dipilih. Berkaca pengalaman, Fun Adventure Malang menawarkan tarif yang lumayan yaitu Rp 300 ribu. Dari cerita beberapa teman seperjalanan, tarif ini jauh lebih murah dibanding yang mereka dapatkan.

(Teman seperjalanan ini kami 'temukan' saat sama-sama menunggu jemputan. Kebanyakan dari Jakarta dan pasangan. Glek)

Gunung Bromo bisa ditempuh melalui jalur Probolinggo, Nongkojajar, dan Tumpang. Dari penjelasan sopir jeep yang kami sewa, Mas Andik, jalur Probolinggo dan Nongkojajar bersahabat untuk setiap jenis kendaraan. Sebaliknya dengan jalur Tumpang, Malang. Siap-siap untuk berlonjak kaget saat melintasi jalan makadam dengan tanah dan batu mencuat lepas. Pun lagi jalurnya sempit dan gelap, utamanya saat malam hari. 

Bila menggunakan jasa open trip, biasanya para sopir jeep akan menjemput wisatawan di meeting point yang telah disepakati. Biasanya di dalam Kota Malang, seperti di alun-alun, stasiun, atau beberapa kawasan lainnya. Karena tujuan utama SatelitPost ingin menikmati sunrise, maka Mas Andik menjemput di Alun-alun Malang pukul 00.30 WIB. 

Jangan kira perjalanan yang dibutuhkan hanya satu atau dua jam, nyaris tiga jam. Meski demikian perjalanan malam itu cukup mengasyikkan karena Mas Andik sangat komunikatif, merangkap menjadi tour guide yang menjelaskan segala detil perjalanan, apa saja yang harus dilalui, dan lainnya. Jeep pun beberapa kali berhenti demi menunggu rombongan lain. Sekitar pukul 02.00 WIB, rombongan jeep pun berarak, bergantian melibas jalur menuju Bromo.

Setelah 'bertempur' jalanan yang lebih sering membuat kaget dan gagal tidur, jeep pun berhenti di jalan menuju Bukit Penanjakan 1, satu spot terbaik untuk menikmati keeksotisan Bromo dari kejauhan serta ketinggian tertentu. 

(Soal kemahiran Mas Andik mengemudikan jeep, jempol 10 buat dia. Wuuuhhh, jago banget. Tahu mana lokasi kubangan, ketemu jalan berlumpur. Kagum saya)

Jika beruntung, jeep akan berhenti di dekat lokasi bukit sehingga hanya tinggal jalan kaki beberapa langkah saja. Namun bila sopir jeep tak menemukan tempat parkir yang cukup dekat, siap-siap saja jalan kaki dengan trek jalan aspal menanjak dan menguras tenaga. Tenang, bagi Anda yang memilih hemat waktu dan tenaga, bisa menggunakan ojek yang akan terus-menerus menawarkan jasanya dengan tarif mulai Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu untuk dua orang, tergantung jarak yang ditempuh. Jika masih keukeuh jalan kaki, tolaklah dengan halus dan gunakan bahasa Jawa. Niscaya, Anda tak akan dikejar atau ditawari lagi.

(Saya pun sempat berniat untuk menggunakan jasa ojek. Bukan apa-apa, saya agak kaget dengan langkahnya si Hoho yang cepat dan lebih sering tertinggal di belakang. Karena satu alasan, saya memilih tetap jalan kaki. And the best moment adalah Hoho akhirnya mau nemenin jalan sambil menepuk-nepuk punggung dan bilang, "kuat lah, lulusan Prau kok ra kuat." Sahabat 15 tahun saya itu kayaknya nggak bisa sehari aja nggak ngledekin ya. Hemmm.

Satu-dua tukang ojek memang masih menawari kami dan bilang,"nanti nggak dapet sunrise lho, Mas." Dan Hoho pun menjawab, "Mboten nopo-nopo, Pak. Lagian niki masih kuat jalan kok."

"Depan, yang ada portal itu berhenti bentar ya, istirahat," pinta saya yang dibalas dengan anggukan.

Setelah sampai portal, lho ternyata sudah masuk lokasi Bukit Penanjakan. Kami pun langsung mencari lokasi yang nyaman dan tak terlalu ramai, yaitu di dekat menara. Waktu itu, hanya ada beberapa pengunjung. Kami pun foto-foto sebentar. 


"Aku kayaknya mau ke toilet dulu sambil beli Pop Mie. Kamu mau?" tanya Hoho. 

"Enggg, aku kopi aja deh," jawab saya sambil tetap mengarahkan kamera ponsel milik Hoho. Sementara Tab saya sudah wafat sebelum waktunya. 

Baru jalan beberapa langkah, Hoho sudah memanggil. "Ju, ju... Sini, sini, lebih bagus," seru dia sambil menunjuk lokasi baru yang tak jauh dari tempat saya berdiri. Dan ternyata benar, lokasi ini jauh lebih terbuka dan padang)
Selain Alhamdulillah, terima kasih Tuhan untuk panorama sekece ini,
apalagi yang harus diucapkan. Foto: Anang Firmansyah
Menikmati sunrise dari Bukit Penanjakan adalah satu kemewahan yang dihadirkan Tuhan di Bromo. Dari ujung timur, matahari muncul, 'melahirkan' warna emas yang rupawan dan menyihir mata. Sementara jika melirik ke sebelah, Gunung Semeru, Bromo, dan Batok nampak, menyembul dari lautan kabut yang berarak. 

Kawah Jonggring Saloka, kawah Gunung Semeru terlihat mengeluarkan asap, juga Gunung Bromo, tanda masih aktif. Sementara Gunung Batok bersemayam tenang dengan rupa hijaunya. Hanya kalimat indah, pujian yang terlontar kala melihat pemandangan alam yang amat luar biasa. 

Sebenarnya lokasi untuk menikmati magic-nya pemandangan ini tak hanya dari Bukit Penanjakan, melainkan di Bukit Cinta yang masih satu jalur dengan Penanjakan. Hanya saja itu lokasi alternatif bila Bukit Penanjakan terlalu ramai. 

(Sambil menikmati sunrise, foto-foto, kami pun berbagi. Saya nggrusuhi dia makan Pop Mie, sebagai gantinya kopi saya jadi sasaran. Buat saya, ngopi dan ngemi di atas bukit atau gunung adalah satu hal yang paling menyenangkan. 

Kami pun sempat bertemu dengan rombongan keluarga asal Jerman dan Tiongkok, jika didengar dari bahasa mereka. Kami pun hanya tersenyum. Mau diajakin ngobrol, bahasa Jerman saya sudah sangat payah. Mandarin? Lupa. Ampun deh, Mak...)

Puas menikmati sunrise, SatelitPost dibawa untuk menjelajah ke Gunung Bromo. Untuk sampai, menjejakkan kaki di Bromo, ada dua cara, jalan kaki atau menyewa kuda. Jalur yang menuju puncaknya pun ada dua, naik tangga dan mlipir di pinggir gunung. Keduanya sama-sama bertemu di pinggir kawah. 

(Mau tahu cara saya turun dari Bukit Penanjakan menuju lokasi parkir jeep? Lari. Hahaha. Hoho yang ngajakin saya lari, katanya biar cepat sampai. 

Saya dan Hoho foto di atas jeep yang mengantarkan kami ke sini.
Suwun atas jepretannya Mas Andik
Setelah ketemu dengan jeep-nya yang harus dihafal nomor pelatnya, kami pun ngobrol-ngobrol dengan Mas Andik dan sopir jeep lainnya. Soal Bromo dan lain-lainnya. Bosan ngobrol ya kami duduk santai di pinggir jalan sambil nunggu peserta lain yang masih di jalan. Saya sempat menunjuk satu gunung yang terletak di kejauhan dan Hoho pun menegur. 

"Itu jangan tunjuk-tunjuk. Pamali. Tarik lagi." Tapi sejurus kemudian, "Hahaha. Kan cuma mitos, kayak gitu kok dipercaya." Huuuu, dasar.

Sebelum sampai ke Gunung Bromo, Mas Andik sempat mengajak kami main sebentar di kawasan rerumputan. Foto-foto itu yang pasti. Kami kan pasukan narsis. 

Setelah sampai di lokasi parkir Gunung Bromo, Mas Andik cuma berpesan, hati-hati dan akan tetap menunggui kami jam berapa pun mau turun. Alhamdulillah-nya, cuaca kala itu teduh, nggak panas dan mendung banget.

Berbekal satu botol air minum dan Coki-coki, kami pun mulai melangkahkan kaki. Saat itu, ramaiiiii bangettttt. Mungkin karena libur Natal dan anak-anak sekolah ya. Dan sepanjang jalan itu, tetap saja saya ketinggalan dari Hoho. Dia? Nungguin lah. Termasuk saat kami memilih mlipir pinggir gunung. Ogah capek dan ngedap jadi alasan kenapa saya nggak mau naik lewat tangga. 

Monggo, buat yang nggak mau capek, bisa naik kuda.
Foto: Anang Firmansyah
Saat berjalan mlipir itu, kami berpapasan dengan banyak orang. Satu yang paling saya ingat adalah rombongan keluarga dari Kartasura dengan seorang bapak yang kocak abis karena diledek anak-anaknya, "Jarene mantan penerbang, ngene wae wedi Pak." "Lho kuwi kan mbiyen, saiki bapak wis tuwo, wis wedi."

"Dari mana Mas?" tanya si bapak ke Hoho. 

"Dari Solo, Pak..."

"Lho Solone pundi?"

"Hehehe, Klaten, Pak."

"Klatene?"

"Polanharjo."

"Woalah, jebule wong Polanharjo tooo. Aku Kartosuro. Iki ngajak dolan anak-anak. Heh, cah, bapak dienteni... Bapak i lho wediii, ngertio mau lewat tangga wae," ujar si bapak. 

Dan karena satu daerah, akhirnya kami pun ngobrol dengan si bapak menggunakan bahasa Jawa. Termasuk saat mereka mengambil foto kami bersama dan berpamitan, turun lebih dulu karena hendak melanjutkan perjalanan ke Bali. 

"Mbak, Mas Polanharjo, pamit sek yoo," seru si bapak. "Nggih Pak, ngatos-atos," jawab kami, kompak)

Saya dan Kawah Bromo yang aduhaaiiii bangett dan bikin nyer-nyer.
Foto: Dodi Nugroho
Dari bibir kawah, terdengar jelas bagaimana suara gemuruh Bromo, tanda masih aktif. Mendesiskan asap. Hati-hati, jaga langkah saat di kawasan ini karena konturnya berpasir. Namun lebih dari itu, ini adalah pengalaman paling ajaib, menarik, dan jelas tak terlupakan. Sebab kawah Bromo begitu nyata di depan. 

Masih di kawasan Bromo, bersemayam pula sebuah pura yang menjadi tempat beristananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dipuja oleh umat Hindu, yaitu Pura Luhur Poten Gunung Bromo. Pura ini menjadi tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu. Pura Luhur Poten berdiri tahun 2000. Pura ini menjadi tempat pemujaan Dewa Brohmo (Dewa Brahma), yang menjadi manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Pencipta. 

Pura Luhur Ponten nampak dari kejauhan. Foto: Anang Firmansyah

Dari Bromo, lautan pasir alias Segara Wedi jadi tujuan selanjutnya. Sejauh mata memandang, hanya ada pasirrrrrrr yang terlihat. Membentang maha luas. Pasir berbisik, begitu fenomena alam yang disematkan di area ini. Pasalnya, pasir-pasir yang terbawa angin tersebut, seakan bergemerisik, 'berbicara' dalam bahasanya mereka. 

(Di sini, kami tak terlalu banyak mengambil gambar. Mati gaya, boooo)

Masih ada kawasan lain yang dipastikan menghipnotis, yaitu padang savana yang orang sebut dengan Bukit Teletubbies. Perbukitan 'berbaris rapi' dengan permadani warna hijau yang amat empuk. Benar-benar mirip seperti rumah Tinky Winky, Dipsy, Lala, dan Po itu.

(Sayang pas sampai sini, hujan turun dengan lebatnya. Plus kami yang sudah mulai payah. Capek)
Foto: Anang Firmansyah

Semua lanskap alam yang ada di Bromo sungguh memikat mata, menenangkan jiwa, dan membuat jatuh hati. Mata benar-benar dimanja pemandangan seajaib ini. Keakraban dan keramahan warga sekitar juga membuat betah, damai. Tak ada yang tak terpikat dengan karya Tuhan ini. Bahkan, Tuhan mungkin tersenyum kala mencipta panorama seindah ini. (*)


Nomor telepon Fun Adventure Malang: 0821-3989-9009
Nomor telepon Mas Andik, sopir jeep yang baik hati banget: 0812-3373-6374

Minggu, 29 November 2015

Wisata Bukit yang Lagi Hits di Banyumas

Panorama dari Bukit Taman Angkasa, Banyumas.
Foto dari Sukarni, Gerakan Desa Membangun


BANYUMAS boleh bangga. Meski menyandang status kota (kecil) namun wilayah ini dikelilingi landmark alam yang amat mengagumkan. Kawasan perbukitan, lembah, dan sungai, membentang di Sinaring Tanah Jawa ini.

Tak berlebihan menyematkan julukan Banyumas, surga seribu curug alias air terjun. Juga tak berlebihan pula, menambahkan kata: bukit. Banyumas, surga 1000 curug dan bukit. Hal ini sebagai bonus topografi Banyumas yang berada persis di kaki Gunung Slamet.

Dulu, orang hanya mengenal Banyumas dari Lokawisata Baturraden sebagai ikon wisatanya. Namun, beberapa waktu belakangan, wisata curug mulai mendapat tempat. Yang dulu didatangi hanya segelintir orang, kini ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun luar kota. Mulai dari anak kecil, remaja, hingga orang tua. 

Pun dengan wisata bukit. Dulu, orang hanya tahu Bukit Bintang di Baturraden sebagai satu lokasi untuk melihat Kota Purwokerto dari ketinggian. Kini, ada beberapa bukit yang bisa 'dijelajahi' demi memandang Banyumas dan sekitarnya dari ketinggian tertentu. 

Bisa dibilang, media sosial jadi satu pemicu tenarnya dua lanskap alam hadiah untuk Banyumas ini. Banyaknya pengunjung yang ber-selfie lantas membagikannya ke media sosial memancing keingintahuan para pengguna lainnya. Imbasnya, mereka pun berbondong-bondong datang, berkunjung, atau sekadar membuktikan keindahan yang dilihat di media sosial. 

Beberapa waktu lalu, SatelitPost membahas keindahan curug yang tersebar di Banyumas, kini Anda akan diajak menjelajah, berwisata ke dua bukit yang tengah jadi perbincangan banyak orang, utamanya anak-anak muda. Supaya seperti mereka, jadi anak kekinian. Bila ada waktu, sempatkanlah mampir ke sana. Namun ingat, bawa turun sampah yang dibawa ya. Selamat bertualang.

1. Bukit Watu Meja, Kebasen
Sungai Serayu dari Bukit Watu Meja.

NAMA bukit yang satu ini jelas sudah tak asing lagi karena sudah kondang ke mana-mana. Dikunjungi oleh siapa saja dan darimana saja. Satu kata untuk bukit ini, ramai. Apalagi saat hari libur.

Bukit ini berada di Desa Tumiyang, Kecamatan Kebasen. Bila datang dari Purwokerto, lurus dan ikuti saja jalan di samping Pasar Patikraja. Jarak dari persimpangan Pasar Patikraja hingga ke desa ini lumayan agak jauh. Namun jangan khawatir, Anda tidak akan tersesat sebab beberapa petunjuk jalan sudah dipasang. Yang perlu Anda lakukan hanya mengikuti penanda tersebut. Lokasinya ada di sisi kiri jalan. 

Sampai di sana, Anda bisa memarkirkan kendaraan di rumah warga setempat. Tarif? Seikhlasnya. Soal keamanan kendaraan, tenang, aman kok. Sebab warga sekitar memberikan karcis parkir untuk menghindari tertukarnya kendaraan. Hati-hati jangan sampai hilang.

Dari lokasi parkir tersebut, Anda tinggal berjalan kaki. Ada dua jalur yang bisa dipilih, jalur ekstrem dan jalur landai. Kelebihan jalur ekstrem, lebih cepat sampai tapi tanjakannya lumayan bikin napas ngos-ngosan. Sebaliknya jalur landai, lebih lama karena harus memutar. Tenang, dua jalur itu akan bertemu di titik yang sama kok.

Jalur Ekstrem menuju Watu Meja. Semangat kakak...
Setelah berjalan kurang lebih 30 menit (sudah dengan istirahat dan foto-foto) sampailah di lokasi Bukit Watu Meja. Namun sebelum masuk, Anda harus mencatatkan nama serta asal disertai tarif seikhlasnya untuk membangun pengembangan wisata ini. 

Dan tadaaa... pemandangan Sungai Serayu yang berkelak-kelok, beserta jembatan rel kereta api, yang jadi ikon Banyumas, dan kawasan perbukitan, persawahan, di wilayah tersebut membentang luas. Lanskap alam yang begitu mengagumkan. Membuat mata tak jemu untuk memandang. Apalagi saat kereta api melintas di jembatan tersebut, sempurna. 
Itu rel kereta api di atas Sungai Serayu yang jadi ikon Banyumas.

Warga sekitar bilang, waktu paling pas untuk menikmati keindahan Bukit Watu Meja adalah saat pagi, matahari terbit juga sore, matahari terbenam. Namun, siang ke sini pun tak masalah, karena sama-sama kerennya. 

Di lokasi ini juga terdapat sebuah batu besar yang bentuknya menyerupai meja. Mungkin, ini jadi alasan penamaan dari tempat wisata ini, Watu Meja. Tak cuma menikmati lanskap Sungai Serayu, Anda juga bisa menjelajah hutan pinus yang masuk di wilayah KPH Banyumas Timur. Awesome
Hutan Pinus dan kami. Lagi-lagi sama Reni. Hahaha. ^^

Ramai? Bangetttt... Apalagi kalau hari libur. 

Soal makanan, tenang, Anda tak perlu bawa banyak bekal sebab ada banyak sekali warung yang menjajakan makanan dan minuman, lengkap dengan lesehan. Harganya, masih bisa terjangkau kok. (sri juliati)


2. Taman Angkasa, Banyumas
ADA cara lain untuk menikmati pemandangan saat matahari terbit dan tenggelam. Jika bosan ke pantai, Anda bisa coba berkunjung ke Taman Angkasa Banyumas di Desa Binangun. 

Selamat datang di Taman Angkasa
Taman Angkasa Banyumas terletak di Grumbul Juwiring, Desa Binangun, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Taman ini berada di kawasan puncak Gunung Depok yang berketinggian sekitar 420 meter dpl.

Gunung Depok merupakan gunung kecil dengan puncak landai. Anda dapat melihat wilayah Banyumas, Cilacap, dan Purbalingga. Jika Anda perhatikan dengan saksama, melihat Banyumas dari puncak Gunung Depok seperti menyaksikan taman raksasa. Pemandangannya indah dan hijau. Sungai-sungai yang mengalir menyempurnakan menambah asri pemandangan. 
Jalur menuju Taman Angkasa. Siap-siap...
Taman Angkasa bisa ditempuh dari Alun-alun Banyumas, yaitu Alun-alun-Desa Pasinggangan-Desa Binangun. Jika lewat jalan ini, ada sebagian rusak jalan di Desa Pasinggangan dan Binangun. Rute lain yaitu Desa Kalisube-Dawuhan-Binangun. Hati-hati saat melintas di Desa Binangun, sedangkan jalan di Desa Kalisube dan Dawuhan, mulus. 

Desa Binangun juga mengembangkan sejumlah paket wisata. Pengunjung bisa belajar dengan biaya sebesar Rp 50 ribu untuk jumlah maksimal 10 orang per kelompok.

Enjoy sunrise. Sun is shining and so are you... 
Taman Angkasa Banyumas di Binangun masih dukungan infrastruktur pendukung karena objek wisata ini baru dikembangkan pada Juni 2015. Mari, menikmati sunrise atau sunset dengan secangkir teh senggani di Binangun. (Sukarni dari Gerakan Desa Membangun)

Minggu, 18 Oktober 2015

Menebas Rindu di Gunung Slamet: Puncak Nggak Akan Lari Kok


YAP. Ini adalah bagian terakhir dari tulisan khas alias feature-nya Rizqi. Tulisan ini lebih pada perjuangan mereka ke Puncak Slamet. Selanjutnya, silakan disimak. Semoga berkenan, maaf bila ada salah-salah kata. 

==================================================================

KONDISI kawah Gunung Slamet di sekelilinganya masih terdapat
 material pasir hitam akibat erupsi setahun yang lalu, Senin (28/9).
SATELITPOST/RIZKY RAMADANI


PUNCAK ada di hadap kami. Tanah tertinggi di Jawa Tengah itu, nyata di depan kami. Tinggal beberapa langkah lagi, kaki ini akan menjejak untuk kali ketiga.

Rupanya, kami sudah berjalan selama 2,5 jam dari Pos 5 Samhyang Rangkah menuju Pos 9 Pelawangan. Kami mulai pendakian dari Pos 5, tempat kami ngecamp pukul 07.30 WIB dan sampai di Pos 9, yang menjadi 'gerbang' menuju puncak Slamet pukul 09.00 WIB. 

Jalan dari Pos 5 hingga Pos 6 Samhyang Jampang tak terlalu jauh. Cukup mendaki sekitar 25 menit, kami sampai di ketinggian 2800 mdpl. Kami pun sempat beristirahat sebentar, duduk santai di sebatang pohon yang tumbang. 

Usai mengembalikan tenaga, kami kembali berjalan menuju Pos 7 yang jaraknya sedikit lebih jauh. Sepanjang perjalanan menuju pos bernama Samhyang Kendit tersebut, saya menjumpai 'keajaiban' lain, tanaman edelweis. Saya bersyukur masih bisa menjumpai si bunga abadi dengan kecantikan yang sungguh memikat ini. Sesi foto bersamanya pun jelas tak kami lewatkan.
Jalur menuju Pos 7. Iya, ini yang kebakaran kemarin.

Sayangnya, baru beberapa langkah dari rerimbunan si bunga abadi, kami menjumpai pemandangan yang tidak enak dilihat. Di jalur yang kami lewati terdapat sisa-sisa pohon bekas terbakar. Akibat dari ulah pendaki yang sembrono membuat api unggun dan tidak benar-benar dimatikan saat meninggalkan, membuat terjadinya insiden kebakaran di jalur pendakian. Kejadian ini terjadi usai dibukanya kembali jalur pendakian Slamet pasca-erupsi.

Dari Pos 7, kami langsung beranjak ke Pos 9, tanpa perlu berhenti di Pos 8 Samhyang Katebonan. Pasalnya, jarak antara ketiga pos ini teramat pendek. 

"Mau muncak, Mas? Udah, istirahat dulu saja. Puncak nggak akan lari kemana-mana kok," kata seorang pendaki yang tetiba saja menyapa kami begitu sampai di Pos 9.


Monggo, istirahat dulu, Mas. Nggak akan lari puncak dikejar. 
Ajakan ini tak kuasa kami tolak. Selain mengistirahatkan kaki, kami juga perlu menghimpun tenaga untuk pendakian ke puncak yang jelas-jelas ada di depan saya. Ya, pendakian sebenar-sebenarnya pendakian dimulai dari Pos 9. Medan terjal dengan kemiringan kurang lebih 30-45 derajat serta material batuan cadas akan menjadi sahabat kami. 

Dengan penuh perjuangan serta kesabaran, kami mulai menapakkan kaki di bebatuan cadas. Pelan-pelan agar tidak terperosok. Maklum, bebatuan di sini ada yang berbentuk kerikil yang bisa membuat kaki terperosok jika salah meniti langkah. Perlu keseimbangan serta kehati-hatian saat melewati medan ini. 

Baru setengah perjalanan di medan bebatuan tersebut, kabut mulai ikut naik. Matahari langsung tertutup awan dan sempat membuat kami kecewa. Tak mungkin menyelesaikan perjalanan dengan kondisi seperti ini. Sangat berbahaya jika semua jalur tertutup kabut. Selain juga menutup pemandangan di atas dan kawah Gunung Slamet.


Jalur menuju Puncak Slamet. Juli, lihat Mbak itu, kamu nggak kepengin? 
Kami tunggu dengan sabar sampai kemudian kabut itu menghilang dan mulai lagi pendakian. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, sampai satu setengah jam kemudian, kami berhasil melewati jalur bebatuan dari Pos Pelawangan. 

Yes. Puncak! Dua kaki saya rupanya sudah menginjak di puncak. Dua kaki saya sudah menapak di tanah tertinggi Jawa Tengah dengan ketinggian 3482 mdpl. Kami bertiga, saya, Ega Firmanto dan Mujiono sampai dengan selamat di atapnya Jawa Tengah. 

"Alhamdulillah akhirnya sampai semua di puncak," kata Mujiono, anggota organisasi pencinta alam Walang Ajibarang yang kali pertama naik ke Gunung Slamet.

Ada banyak rasa yang tak bisa dilukiskan. Haru, bahagia, senang, jadi satu. Juga rasa syukur yang tak henti kami ucapkan pada Tuhan. Sungguh, terima kasih Tuhan sudah melindungi dan menjaga kami. Sudah menciptakan karya yang luar biasa indah ini. Kami sangat kagum, terpesona, sampai tak henti-henti memandang sekeliling puncak.

Puas menikmati pemandangan ini, kami kembali berjalan menuju bibir kawah. Ada semacam tugu atau batas kabupaten antara Purbalingga-Banyumas. Dari situ, kami melihat kawah Gunung Slamet yang begitu luas, lengkap dengan lubang menganga di tengah kawah berselimutkan kepulan asap belerang. Bila ingin mengitari kawah, bisa ditempuh dengan waktu sekitar dua jam. 
PUNCAK SLAMET, 3482 MDPL. 

Saya takjub melihat karya ini. Sempurna dari Sang Maha Sempurna. Saya pun lantas mengingat bagaimana perjuangan untuk sampai di sini. Canda tawa dengan pedagang dan pendaki lain. Tertatih-tatih melewati jalur pendakian. Menikmati kemewahan di pagi hari, ngopi sambil melihat sunrise. Sungguh, ini akan jadi cerita tak terlupakan. 

Puas menikmati pemandangan di puncak, yang walaupun tertutup kabut, pukul 11.30 WIB, kami bergegas turun. Kembali ke Pos 5. Dibanding perjalanan naik, perjalanan turun kali ini lebih cepat dan tidak menguras tenaga. Yang diperlukan hanya kehati-hatian dan fokus saat menuruni lereng supaya tidak tergelincir dan jatuh ke jurang.

Satu setengah jam kemudian, tepatnya pukul 13.00 WIB, kami sudah nyante di Pos 5. Cepat kan? Kami tak ingin bergegas pulang dan memutuskan kembali 'menginap' di hotel seribu bintang, bertakhtakan bintang-gemintang di langit. 

Keesokan harinya, Selasa (28/9), kami bersiap untuk berkemas. Pulang menuju Basecamp Bambangan. Berangkat dari Pos 5 pukul 07.30 WIB, sampai di basecamp pukul 11.30 WIB. Kami sangat santai saat perjalanan pulang dengan alasan ingin lebih menikmati pemandangan di sekitar Gunung Slamet. Padahal alasan sebenarnya, kaki saya terkilir sehingga 'menghambat' laju jalan.

Bagi saya, ini sungguh perjalanan yang amat menyenangkan. Bisa kembali datang, mengunjungi Simbah Slamet adalah satu keinginan saya selama delapan tahun ini. Kerinduan padanya sudah tertebas dan tersampaikan. Lunas. Namun, bukan berarti saya tak akan lagi mengunjungi Gunung Slamet. Pasti. Suatu hari nanti, saya akan kembali lagi ke sini. Tentu dari jalur pendakian yang berbeda. Terima kasih Tuhan, alam, dan Gunung Slamet. 

Sekadar saran bagi yang ingin melakukan pendakian, siapkan fisik, mental, peralatan, dan logistik. Utamanya air. Sebagai pandangan, kami membawa tiga botol air mineral ukuran besar, dua botol ukuran kecil, dan dua derigen air masing-masing lima liter. Musim kemarau menjadikan ketiadaan mata air di Pos 5 sehingga mau tidak mau harus membawa air dari basecamp. 

Selain itu, pastikan api yang telah dibuat baik dalam bentuk rokok maupun api unggun, harus benar-benar mati. Jika tak ingin kejadian kebakaran kembali terulang dan membuat jalur pendakian kembali ditutup seperti sekarang ini. Jangan lupa juga, bawa turun sampahmu. Gunung bukan tempat sampah. Salam. (rizqi ramdhani)


note: setelah merampungkan tulisan ini, Rizqi kembali lagi ke Gn Slamet dengan dalih mengantar teman-temannya dari Bekasi. 

Kamis, 15 Oktober 2015

Ngopi di Pos 5 Sambil Menikmati Sunrise


INI adalah bagian ke dua dari tulisan, Menebas Rindu di Gunung Slamet karya layouter SatelitPost. Bagian pertama, bisa dilihat di link http://tulisanjuli.blogspot.co.id/2015/10/menebas-rindu-di-gunung-slamet.html.

Sesuai dengan judulnya, tulisan ini bercerita tentang moment sunrise di Pos 5. Tentu, masih ada satu tulisan tentang perjalanan ke puncak. Sabar ya. Untuk sementara, sila disimak. 

===========================================================
MATAHARI terbit  difoto dariPos 5 pendakian Gunung Slamet, Senin (28/9).
SATELITPOST/RIZKY RAMDHANI

DELAPAN tahun yang lalu. Tepat di tanggal 17 Agustus 2007, pagi. Usai pengibaran sang saka Merah-Putih di puncak Gunung Slamet oleh Mapala Satria UMP. Setelah perayaan Hari Kemerdekaan. Api berkobar di Pos 4 Samarantu. Kabar ini datang dari seorang pendaki dan langsung tersiar cepat, termasuk di telinga saya. 

Insiden ini memaksa saya dan 239 pendaki lainnya bertahan atau mungkin lebih tepatnya terjebak di puncak. Demi apapun, kami tak bisa turun kala itu.

Delapan tahun kemudian. Senin (28/9), saya sudah terbangun di 'rumah' kecil kami di Pos 5 Samhyang Rangkah. Di atas ketinggian 2650 mdpl itu, masih terekam jelas dalam ingatan semua detil peristiwa delapan tahun silam. 

Ya, saya selamat. Sebab tak lama dari kabar kebakaran itu, tim Basarnas bergegas mendaki untuk melakukan pemadaman. Saya tak tahu persis apa penyebab kebakaran tersebut. Itulah satu peristiwa menegangkan yang pernah saya alami saat melakukan pendakian. 

Selain saya, dua rekan dalam pendakian, Ega Firmanto dan Mujiono juga telah bangun. Walau badan masih terasa pegal, mata merah kurang tidur, kami tetap memaksakan diri untuk bangun, untuk menyaksikan sebuah keajaiban alam di pagi hari. Golden sunrise di Pos 5 Gunung Slamet.

Demi menghangatkan badan dan suasana, saya pun bergegas memasak air. Kami sepakat untuk membuat kopi sebagai minuman 'pembuka' di pagi hari. Aroma harum kopi langsung menguar begitu air panas disiramkan di atasnya, memenuhi indra penciuman. Wuuuhhh, sedeppp... Itulah kemewahan yang bisa saya rasakan di gunung. Kapanlagi bisa ngopi di atas gunung sambil lihat sunrise?!

Bersandingkan secangkir kopi, kami bersama para pendaki lain, berdiri memandang ke arah yang sama. Timur. "Ini nih moment yang paling saya tunggu kalau manjat (Gunung) Slamet, lihat sunrise," kata seorang pendaki yang duduk di depan tenda. Mau tidak mau, ucapannya harus saya amini. 

Dan, kejadian tersebut cepat saja. Di timur, pancaran garis cakrawala berwarna merah kekuningan mulai terlihat. Itu jadi satu tanda, sang penguasa siang akan segera terbit. Saya pun bersiap, berbekal kamera ponsel, mengarahkan posisi di mana ia akan muncul dan mulailah, klik klik klik. Ia, matahari bangun, muncul dan menampakkan diri. Menjadikan semua panorama yang lihat menguning, bukan kuning melainkan, menjadi emas seperti warnanya. Juga semburat warna biru. Menjadikan langit yang semula pekat menjadi terang. Membangunkan semesta raya dan tentu saja saya yang masih terkantuk-kantuk. 

"Mas, minta tolong fotoin dong, yang belakangnya ada sunrise ya," pinta seorang pendaki wanita sembari menyodorkan kameranya. 

Saya pun tak kuasa menolak permintaan itu, walau sebenarnya saya juga kepengin difoto seperti itu. Hehehe.

Sejuknya udara pagi, ditambah kicauan burung, suara khas babi hutan, dan lolongan anjing hutan menambah semarak suasana pagi hari di Pos 5. Hijaunya punggungan bukit yang mulai terlihat kala matahari kian meninggi, membuat mata semakin segar. Sebuah harmoni panorama yang luar biasa indah. 

Suasana dan kondisi Pos 5 juga kian ramai dengan coletehan-celotehan para pendaki. Ada sekitar lima tenda yang berdiri di camp area tersebut. Dalam hitungan saya, itu banyak dan sempat membuat kami bingung saat mendirikan tenda. Kondisi Pos 5 sekarang jauh berbeda dibanding dulu. Dulu, area camp masih luas. Sekarang, sudah nampak rimbun dengan tanaman perdu. 

Tak terasa, jarum jam sudah menunjuk angka enam. Saatnya sarapan. "Gie arep masak apa nggo sarapan? Masak sayur bayem bae apa?” tanya Ega kepada saya. 

"Ya kena, sing penting kena nggo sarapan, nyong tak gawe wedang susu ya," sahut saya kepada Ega, si atlet maraton. 

Momen kebersamaan dan canda tawa riang menemani aktivitas pagi itu. Tentu saja, apapun makanannya tetap kami lahap sebab bagaimana pun saat melakukan pendakian ke puncak, jangan sampai perut dibiarkan kosong. Sarapan itu kunci. 

Usai sarapan, kami masuk ke tenda, menyiapkan bekal untuk summit attack. Bersiap menuju puncak. Bersiap menjejak di ketinggian 3428 mdpl. Bersiap melangkah di tanah tertinggi di Jawa Tengah. Tuhan, restui dan lindungi perjalanan kami. (*)


penulis: rizqi ramdhani
editor: sri juliati