Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2015

Catatan Pendakian Menuju Bukit Prau (Bag 1)


Keajaiban Malam di Ketinggian 2565 Mdpl
Pemandangan di pagi hari dari Gunung Prau, 2565 mdpl. Nampak Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi, dan Merbabu.



DIENG sungguh eksotis. Semua pun sepakat. Dan, satu lokasi untuk menikmati kecantikan itu ada di Gunung Prau. Ini ceritanya.


"Semuanya siap ya. Nanti jalannya santai aja, nggak usah buru-buru. Kalau capek istirahat. Oke, sebelum naik, kita doa. Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing dipersilakan."

Sabtu (12/9) malam, di tengah rinai gerimis, kami berlima, saya, Nur Fatimah, Reni Suryati, Widi Nugroho, dan Firman Al Ahyar menundukkan kepala, menengadahkan tangan. Mulut pun komat-kamit. Merapalkan beberapa doa agar perjalanan kali ini, Tuhan selalu memberikan kemudahan, kelancaran, dan keselamatan.

Pendakian dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Saat gerimis mereda, kami menapakkan kaki di tangga Desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo menuju Gunung Prau. Jalur ini disebut Ondo Sewu. Disebut Ondo Sewu alias Tangga Seribu, mungkin karena jumlah anak tangganya banyak. 

Ini semacam 'tantangan' yang pertama harus dilalui. Sebab, bagi sebagian orang, menaiki tangga merupakan aktivitas yang menjemukan. Butuh tenaga ekstra.

Desa Patakbanteng merupakan satu dari beberapa jalur pendakian resmi menuju gunung setinggi 2.565 mdpl tersebut. Selain via Desa Patakbanteng, pendakian bisa dimulai dari Basecamp Dieng, Basecamp Kaliembu, Basecamp Dwarawati, dan Basecamp Wates. Kelima jalur ini memiliki keunikan tersendiri, namun akan berkumpul di titik area camp yang sama.

Setelah melewati Ondo Sewu, jalur pematang dan galengan di antara ladang warga menjadi trek selanjutnya. Jalan sekitar 100 meter, akan 'bertemu' dengan jalur makadam atau batu yang disusun rapi. Di jalur tersebut, kami mulai bertemu dengan beberapa rombongan pendaki lainnya. Seperti dari Kendal, Semarang, Kudus, dan lainnya. Saling ngobrol dan guyon dapatlah menjadi penyemangat menyelesaikan jalur yang kian menanjak ini.

Sampai di tikungan, kami berhenti sebentar. Sedikit demi sedikit, tenaga mulai terkuras. Rupanya, kami hampir sampai di Pos 1.

"Tanggung, yuk jalan lagi, depan Pos 1 tuh," kata Widi Nugroho sembari mengajak kami.

Kami pun bergegas, kembali melangkahkan kaki. Sampai di Pos 1 Sikut Dewo, sudah ada beberapa petugas yang mengecek tiket. Nah, jika ketahuan tidak membawa tiket masuk, siap-siap saja kembali ke basecamp ditambah denda berupa satu bibit tanaman. 

Dari informasi yang saya dapat dari petugas tersebut, sekitar 700 orang sudah naik ke Gunung Prau. Bisa dibilang, itu jumlah yang amat sedikit bila dibandingkan saat perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus kemarin, tercatat ada 6 ribu pendaki!

"Hati-hati aja, Mas, Mbak. Harus mulai pakai masker atau penutup hidung. Debunya banyak banget," ujar mereka.

Benar saja, baru sebentar naik ke Pos 1 menuju Pos 2 Canggal Walangan, debu-debu jalur pendakian bergerak, terbawa saat kaki melangkah lantas terbawa angin. Jalur pendakian menuju Pos 2 terbilang susah-susah gampang. Susah karena tubuh harus mulai beradaptasi dengan udara dingin serta trek yang semakin menanjak-berdebu. Gampang, karena setelah trek naik itu, jalur kembali landai dengan kanan-kiri terdapat warung makan milik warga setempat untuk sekadar melepas lelah.

Di Pos 2, kami sejenak melepas lelah. Meletakkan ransel. Menikmati camilan yang kami bawa. Tentu sambil bersenda gurau.

"Habis Pos 2, nanti treknya mantep banget. Semangat teman-teman tapi, udah dapet setengah perjalanan kok," ujar Nur Fatimah yang disambut teriakan semangat dari kami semua sambil berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan.

Baru sekian langkah, saya sudah meminta break alias istirahat. "Depan berhenti ya Dek," seru saya pada Firman Al Ahyar yang ada di depan. 

Saya pun duduk, meluruskan kaki. Pun dengan kawan-kawan. Rasa lelah mulai mendera. Padahal, yang tadi kami lalui, belum seberapa. Jalan masih panjang. 

Jalur menuju Pos 3, memang lebih berat dibanding trek sebelumnya. Kian menanjak, terjal, dengan kontur tanah berdebu. Saat menapak, kaki harus benar-benar mantap. Jika tidak, bisa terpeleset seperti yang terjadi pada beberapa kawan.

Di jalur ini pulalah, kami dan para pendaki lebih sering berhenti. Selain kian melelahkan, kami juga harus mulai antre demi menghindari debu yang beterbangan. Apalagi saat kami naik, bertepatan dengan turunnya kabut. Makin mantaplah jalur ini.

"Eh, jalan lagi yok. Dingin nih kalau berhenti terlalu lama," kata Reni. 

"Ayok, mending jalan pelan-pelan tapi terus gerak. Nih, sambil dimakan madu atau cokelatnya, buat nambah tenaga," ujar Widi menimpali Reni. 

Ya, kami tak ingin terlalu lama berhenti. Demi menghindari udara dingin yang mulai memerangkap tubuh. Kami harus terus berjalan, walau mulai tertatih-tatih.

Selesai dengan jalur tersebut, kami sampai di Pos 3 Cacingan. Jalurnya kembali menanjak namun tak seperti jalur dari Pos 2. Sudah ada anak tangga dari bambu sebagai pijakan. Kondisi ini jauh berbeda saat kali pertama saya ke sini, Maret 2014. Jalurnya masih berupa bebatuan dan sempit.

Tak lama berjalan, saya menemukan sekumpulan bunga aster. Artinya, kami sudah semakin dekat dengan camp area. Benar, baru saya memikirkan hal itu, Nur dan Firman yang berada di depan, berseru: "Mbak, landai... Udah sampai... Yey..." 

Benar, kami sudah sampai di jalur landai menuju camp area. Kami menyusuri setiap jengkal camp area demi menemukan sedikit tanah lapang untuk membangun 'rumah.' Ya, setiap akhir pekan seperti ini, Gunung Prau selalu ramai dengan para pendaki. Tak perlu khawatir tak mendapat tempat mendirikan tenda, sebab camp area di sini amat luas. Sangat. 
Ki-Ka: Si adek sama kakaknya alias Firman dan Nung.

"Pukul 22.30 WIB, dua setengah jam perjalanan. Yok bikin tenda," ujar Widi yang mulai membongkar ransel, mengeluarkan tenda.
Makan ya banyak, Juli...


Usai bekerjasama mendirikan tenda, sekitar 30 menit, kami mulai memasak. Kopi dan teh tersaji lebih dahulu, disusul mi serta makaroni rebus. Walau makaroni agak sedikit kurang matang namun tetap saja lahap dimakan. Lha wong lapar gegara tenaga terkuras habis saat pendakian tadi. Rencananya, setelah makan selesai, kami akan langsung masuk tenda, beristirahat. Namun, rasanya sayang melewatkan malam indah di Gunung Prau hanya dengan tidur. Saya pun menyibak tenda dan mendongak ke atas. Pemandangan langit yang sangat spektakuler tersaji di atas saya. 

"Mas Widi, keren banget. Eh ayo keluar, ini bintangnya keren banget," ujar saya dengan sedikit berteriak, walau tak terlalu kencang. 
Menu makan berupa makaroni setengah matang dan mi rebus.



Semuanya keluar dan menjadi saksi hidup bagaimana langit nan maha luas itu dipenuhi gemerlap bintang. Ribuan, jutaan, bahkan sangat mungkin miliaran jumlahnya. Kelap-kelip. Berkedip pada kami. Aihh, indah. Kami sangat beruntung, cuaca malam itu sangat cerah. Maka sambil menikmati sajian yang amat keren itu, kami duduk, ngopi-ngeteh, dan tentu saja tak melewatkan sesi swafoto. 

Dan, malam pun kian larut. Angin mulai berhembus. Dingin. Ditambah beberapa kawan mulai menguap. Kami pun sepakat masuk ke tenda, istirahat, merebahkan badan usai perjalanan melelahkan itu, demi menanti keajaiban esok pagi di Gunung Prau. (sri juliati/bersambung)


=================================
Naskah feature ini sudah dimuat di Halaman 1 Harian Pagi SatelitPost, edisi Senin (14/9). 

Minggu, 07 Juni 2015

MTs Pakis, Rumah Kedua untuk 16 Siswa


BEKERJA, bagi saya, tak melulu berada di lapangan, mencari narasumber, melakukan penggalian, lantas menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Bekerja, bagi saya, adalah bagaimana (setidaknya) menjadi 'oksigen.'

Inilah naskah feature saya tentang sebuah sekolah di ujung lereng Gunung Slamet sana. Yang jauh dari riuh gemelap lampu kota namun mampu memberi terang bagi anak usia sekolah di kampung tersebut. 

Dari mereka, saya belajar banyak tentang arti sekolah itu sesungguhnya. Sekolah yang tak sekadar sebagai tempat untuk menambah ilmu tapi berproses untuk menjadi seseorang yang bermanfaat bagi sesama. Sekolah yang tak hanya memborbardir anak didik dengan ilmu eksak namun mengajak mereka untuk bercengkerama dengan alam. 

Terima kasih untuk semua yang sudah membantu. Terutama untuk Fotografer SatelitPost, Anang Firmansyah yang sudah menemani liputan sampai azan Salat Jumat berkumandang. Selamat membaca.  

SISWA MTS Pakis melakukan kegiatan belajar Agroforestry di Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Cilongok, Banyumas, Jumat (27/3). Agroforestry merupakan kegiatan belajar menggabungkan materi pertanian dengan kehutanan sesuai dengan latar belakang siswa. SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH

Sutarni dan Laboratorium Alami Seluas 35 Hektare
"Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita
Tanah air, pasti jaya, untuk selama-lamanya
Indonesia pusaka, Indonesia tercinta
Nusa bangsa dan bahasa, kita bela bersama."

LAGU Satu Nusa Satu Bangsa ciptaan Liberty Manik mengalun pelan dari MP3 komputer jinjing. Lagu yang dinyanyikan ulang oleh band Cokelat itu, sayup-sayup terdengar pada ruangan di Kampung Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jumat (27/3). 

Lagu pembawa hawa nasionalisme itu menghiasi langit cerah, beriringan dengan suara serangga khas hutan. Lantas bergantian dengan lagu nasional dan lagu bertema perjuangan lainnya seperti Syukur, Tanah Air, Bendera, hingga Bangun Pemudi Pemuda yang membuat siapapun pendengarnya merasa takjub. 

Lalu, saat jarum jam menunjukkan angka 10, seorang pemuda memberikan aba-aba berkumpul. Nihil dengan lonceng dan bel yang berbunyi, 12 siswa MTs Pakis nampak takzim, berkerumun di depan kelas. Sebagian mereka menggunakan seragam Pramuka. Sebagian lagi, berpakaian ala kadarnya anak-anak desa. Seorang lelaki bernama Mat Roif lantas membeberkan rencana kegiatan belajar siang ini.

"Tadi kan teman-teman sudah bikin adonan dari daun yang dicampur air dan tanah, sekarang ambil kertas HVS, sikat gigi atau kuas. Masukkan sikat atau kuas tersebut ke dalam adonan, lalu pulaskan pada kertas sampai merata. Jika kertas sudah tertutup, tulis besar-besar nama kalian. Nek wis rampung, tembe dipe ngasi garing (setelah selesai, baru dijemur hingga kering, red)," ujarnya sembari mencontohkan. 

Hening, kemudian berganti dengan riuh-rendah ke-12 siswa dari kelas VII dan VIII itu. Ada yang langsung sibuk sendiri membuat prakarya, ada yang masih ngurusi adonan daunnya. Ada yang sudah nyaris selesai, ada yang masih sibuk mengguratkan sikat gigi di atas kertas. Sesekali, mereka saling bergurau, berceloteh tentang tulisan siapa yang paling bagus. 

"Jajal deleng nggonmu, kie nggone nyong wis rampung, apik maning (coba lihat punyamu, punyaku sudah selesai, bagus lagi, red)." Sepintas suara terdengar di antara celotehan riang ini. "Nggonku juga uwis, mayuh koh gagian dipe (punyaku juga sudah selesai, ayo lekas dijemur, red)," sahut beberapa siswa lainnya. 

Di tengah, gaduh indah itu, Kepala MTs Pakis, Isrodin memberi sinyal soal tugas selanjutnya. "Nek sampun rampung damel prakarya, niki teng kacang panjang wonten hama. Hama niki sing marai kacang panjange mboten woh. Tugase rencang-rencang sakniki ngresiki hamane. Ben ngenjang saged dipanen (Kalau sudah selesai membuat prakarya, di kacang panjang ini ada hama. Hama ini yang membuat kacang panjang tak bisa berbuah. Tugas teman-teman sekarang membersihkan hama, supaya kelak bisa dipanen, red)," kata Kang Isrodin, begitu biasa dia disapa. 

Beberapa siswa yang telah selesai lantas bergegas, 'melupakan' sejenak tugas kerajinan tangan. Mereka masuk dalam bidang-bidang tanaman, memetik hama yang mengganggu. Tentu sambil sesekali mengobrol ringan. 

Sutarni (14) nampak antusias dalam pembelajaran ini. Ia tak henti-henti mengecek apakah kacang panjang di hadapannya telah bersih dari hama. Bagi pelajar yang bercita-cita jadi dokter ini, ini adalah pengalaman baru. Pun dengan banyak materi pelajaran yang diberikan sekolah padanya. "Seneng karena dapat pengalaman baru bagaimana cara bercocok tanaman kacang panjang," ujarnya pada SatelitPost

Beginilah suasana kegiatan belajar di MTs Pakis. Sekolah yang baru berdiri dua tahun lalu ini seakan menjadi oase di Kampung Pesawahan. Bagaimana tidak, puluhan tahun kampung yang berada di ketinggian 700 mdpl ini tak memiliki fasilitas layanan pendidikan yang memadai. Sekolah terdekat dari kampung tersebut ada di desa tetangga, yakni Desa Karanggondang. Itu pun hanya jenjang sekolah dasar. Kondisi inilah yang membuat banyak anak usia sekolah di Kampung Pesawahan dan sekitarnya memilih tak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Untuk sampai di sekolah ini, setidaknya membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari Kota Purwokerto. Beruntung sejak satu tahun lalu, jalanan yang menuju desa di ujung utara Kecamatan Cilongok ini sudah diaspal mulus bak jalan tol. Sehingga tak menyulitkan laju sepeda motor walau harus melintasi belokan tajam, tanjakan, serta hutan pinus sepanjang 2 kilometer meski suasana sepi tetap mengungkung wilayah ini. 

Lantaran berlokasi persis di lereng gunung, MTs Pakis memiliki satu mata pelajaran (mapel) andalan, yakni Agroforestry yang menggabungkan materi serta mengenalkan siswa pada kegiatan seputar pertanian dan kehutanan. Setiap Selasa, Rabu, dan Jumat, siswa belajar Agroforestry. "Dalam materi ini, anak-anak diajarkan langsung bagaimana cara menanam sayuran, beternak, sampai ngarit (menyiangi tanaman, red)," kata Kang Isrodin. 

Tak heran jika di sekeliling sekolah yang hanya memiliki tiga ruang kelas ini, tumbuh berbagai macam tanaman hortikultura seperti kacang panjang, padi, dan lainnya. Di depan kelas juga terdapat kolam yang berisi ikan hasil 'sumbangan' siswa. Di bawah sekolah, terdapat tiga kandang kambing yang dirawat para siswa. "Impiannya, ketika lulus, selain punya ijazah, mereka juga punya tabungan berupa kambing. Satu siswa satu ekor kambing," ujar pria asli Purbalingga ini. 

Siswa di sekolah ini juga terbiasa belajar langsung dengan alam. Terkadang mereka lesehan di dekat Telaga Kumpe yang tak jauh dari sekolah. Tak jarang, mereka duduk melingkar di gazebo dekat kandang kambing. Pada mereka, tak ada cerita, hanya duduk dan menerima materi di dalam kelas. Saban hari, mereka menjadikan hutan dan lahan seluas 35 hektare milik Perhutani sebagai media belajar. Mengelola langsung apa-apa yang di dalam dan pinggir hutan. 

"Lahan sekolah kami memang hanya sekitar 500 meter persegi tapi kami punya laboratorium alami seluas 35 hektare!" ujar Kang Isrodin sambil berseloroh. 

Tak mau siswa hanya asyik dengan alam, sekolah ini memperluas cakrawala anak didiknya dengan proses pembelajaran yang menyenangkan. Para siswa kerap belajar langsung dengan masyarakat di sekitar sekolah dan orangtua sebagai sumber belajar. Seperti mengamati aktivitas sehari-hari, belajar langsung bagaimana cara beternak, hingga melakukan pendataan penduduk. Termasuk mengadakan kunjungan alias anjangsana ke beberapa lembaga atau instansi pemerintahan yang ada di Kota Purwokerto. 

"Hal ini kami lakukan agar siswa mengenal dunia luar, sekalian ngajak mereka refreshing, jalan-jalan ke kota," kata dia.

Untuk menanamkan karakter pada siswa, sekolah ini juga memiliki program bulanan seperti pendekar alias pendidikan karakter. Dalam kegiatan ini, anak-anak menginap di sekolah dan berkegiatan bersama teman lainnya. Seperti memasak, makan, salat bersama, dan kegiatan belajar lainnya. "Program Pramuka dan OSIS juga tetap berjalan meski dengan jumlah siswa yang terbatas," ujarnya. 


Dengan Cangkul, Nurwati Bisa Bersekolah
DUA tahun, MTs Pakis menjadi tempat belajar untuk anak-anak usia sekolah di Kampung Pesawahan dan Karanggondang, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok. Sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar pun terbilang memadai. Empat unit komputer dan ratusan buku-buku penunjang pelajaran tertata rapi di sudut kelas. Termasuk LCD Proyektor yang nyaris semua fasilitas ini merupakan sumbangan dari donatur. 

Bayangan tentang guru-guru nan mumpuni, pengajar di sekolah ini sempat terlintas di kepala SatelitPost. Ketika hal ini ditanyakan pada Kepala MTs Pakis, Kang Isrodin sedikit tersenyum. 

Ia bilang, para relawan dari berbagai kalanganlah yang membantu proses kegiatan belajar mengajar di sekolah ini. Relawan yang berjumlah hingga 15 orang ini datang dari penjuru Kota Purwokerto. Terbanyak adalah para guru yang sesekali menyempatkan waktu, ikut mengajar. Sebutan untuk mereka pun bukan guru, melainkan teman belajar. Selain 'menghilangkan' kecanggungan antara guru dan siswa, juga aktivitas yang kerap dilakukan adalah berbagi ilmu. Hubungan inilah yang membuat keakraban antara siswa, guru, kepala sekolah, dan orangtua lekas terjalin serta bersahabat. 

"Kalau hari Sabtu, banyak mahasiswa dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang membantu jadi volunteer," kata dia, Jumat (27/3). 

Di tengah banyaknya kegiatan menyenangkan dan program yang dijalankan sekolah, terbersit pertanyaan, berapa biaya yang dikeluarkan para orangtua untuk menyekolahkan anaknya di MTs Pakis? Kang Isrodin menggeleng pelan. "Tidak ada biaya alias gratis. Kami sama sekali tidak menarik biaya SPP atau biaya lainnya dari para siswa. Sekolah ini didirikan untuk melayani siswa yang tak terjangkau," kata pria lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto tersebut. 

Siswa berasal dari keluarga kurang mampu dan tinggal di desa di sekitar hutan. Sementara sebagian besar walimurid berprofesi sebagai petani, peternak, atau penderes. Kondisi itulah yang sangat tak memungkinkan bagi sekolah untuk menarik biaya. Bahkan untuk seragam, pihak sekolah tak mewajibkan siswa untuk memiliki. Pun saat pendaftaran siswa baru. Sekolah hanya meminta walimurid untuk menyerahkan satu jenis alat pertanian seperti cangkul dan parang/arit. Ya, dengan cangkul, anak-anak ini bisa terus bersekolah hingga lulus tanpa biaya apapun.

"Yang terpenting bagi kami, anak-anak di desa ini bisa sekolah, mendapatkan pendidikan, memperoleh bekal yang berguna saat mereka lulus, dan bisa mengaplikasikan di masyarakat," kata teman belajar di MTs Pakis, Mad Taufik. 

Bagi mereka, sekolah harus bisa menjadi rumah ke dua bagi para siswa. Satu di antaranya dengan menyusun kegiatan dan materi pembelajaran yang menggembirakan, bukan membebani siswa.  

"Anak-anak harus senang dulu dengan sekolah. Itu yang pertama dan utama. Bagaimana caranya? Cari tahu latar belakang siswa. Karena di sini banyak siswa yang orangtuanya petani dan tinggal di pinggir hutan, maka materi pendidikan yang kami berikan sebagian besar berkaitan dengan pertanian. Namun, kami tetap menggunakan kurikulum yang sudah ditetapkan pemerintah. Kami berikan ruang bebas agar siswa bisa belajar dan berkreasi sehingga sekolah bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk mereka," ujar mereka.

Hal yang sama juga disampaikan Nurwati (14). Siswa kelas VIII ini mengaku senang bisa bersekolah. Selain jarak sekolah yang tak terlalu jauh ditambah tak ada pungutan, ia mendapatkan banyak pengalaman lantaran sering belajar langsung di alam. Termasuk saat ia diajak berjalan-jalan ke Purwokerto dan Jakarta. Melihat Monas di Jakarta menjadi kisah tak terlupakan bagi Ketua OSIS ini.

"Dulu, setelah lulus dari SD, orangtua menyuruh saya untuk kerja, tapi setelah ada kunjungan dari teman-teman MTs Pakis, orangtua mengizinkan saya sekolah. Ternyata, sekolahnya asyik, menyenangkan. Saya ingin terus sekolah sampai saya jadi guru yang bisa membagikan ilmu untuk murid-muridnya," kata dia. 

Pun dengan Ibu Yatinah, warga Karanggondang. Ibunda dari Prihartini ini selalu mendukung apapun yang dilakukan pihak sekolah. "Nganah sekolah, aja kaya nyong sing gur lulus SD (bersekolahlah, jangan seperti saya yang hanya lulusan SD)," ujar wanita yang berusia 40 tahun ini. (sri juliati/habis)



NB:
Feature ini telah terbit di Harian Pagi SatelitPost, edisi 31 Maret dan 1 April 2015. Tulisan ini pula yang mengantarkan penulis menjadi Juara ke Dua dalam Lomba Features yang diselenggarakan Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2015. 

Jumat, 05 Juni 2015

Yang ke Dua


MENJADI yang ke dua bukanlah impian setiap orang. Rasanya, semua orang selalu ingin menjadi yang pertama.

But sometimes, kita butuh menjadi yang ke dua. Agar tahu, bagaimana rasanya. Juga memahami setiap langkah, semua proses untuk menjadi yang utama.

Dan, inilah cerita saya kala menjadi yang ke dua. Mungkin tak sebagus dengan kisah lainnya namun setidaknya ini bisa saya ceritakan pada anak-anak, 20 tahun kelak. 

===
Jumat, 15 Mei 2015. Beberapa pesan masuk ke BBM saya, malam itu usai mengaktifkan akses Mobile Data. Tidak terlalu saya pedulikan sebab saat itu saya sibuk berkemas. Memasukkan kebutuhan camping ke ransel lantas bergegas mandi. Jarum jam sudah menunjuk ke angka tujuh. 

Tak berapa lama setelah mandi, kawan saya, Reni datang ke rumah. Disusul Nur alias Nung bersama sahabatnya, Dimas atau Kiyip. Sambil ngobrol menentukan rute tujuan camping kali ini. saya buka BBM di Tab (fyi, Tab ini hadiah ulang tahun ke 23 dari saya sendiri, hehe).

Rupanya, buanyak pesan pribadi yang masuk namun yang saya buka pertama kali adalah BBM Grup SatelitPost News alias grup kantor. Pesan terakhir datang dari Mas Hanan, Koordinator Liputan. Isinya tak lebih soal penugasan dan soal ucapan selamat pada Gesti juga saya. Lho, kok saya? Ada apa? Kalau Gesti jelas karena hari itu dia menikah. Saya? 

Cepat-cepat saya bukan pesan lainnya yang satu di antaranya datang dari Mbak Anies, yang tak lain adalah istri dari Mas Hanan. Dia bilang selamat sambil melampirkan gambar. Penasaran, saya cepat-cepat gambar tersebut. Dan isinya...

"PENGUMUMAN LOMBA ARTIKEL DAN FEATURES BIDANG PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2015"
Bibir saya lantas membaca cepat dan menemukan kolom: Lomba Features. Dalam kolom tersebut, ada nama saya!!! Lengkap dengan judul features, media, tanggal muat, dan keterangan Pemenang 2.

Tangan saya pun gemetar. Napas pun menjadi tak keruan, pun dengan detak jantung yang sangat cepat. Ada rasa sangat tak percaya jika lolos jadi juara dua di lomba tulis yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) itu. Lamat-lamat, saya bilang: Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah...

Usai sedikit tenang, saya bilang pada Nung, Reni, dan Dimas. Dan yeayyyy, keriuhan pecah saat itu juga. Makan-makan menjadi todongan mereka. Alhamdulillah, matur nuwun Gusti... Sungguh, berkah-Mu memang luar biasa. 

Honestly, ada rasa nggak percaya. Selain nggak pasang target bakal juara, juga ini adalah lomba Kemdikbud ke dua yang saya ikuti. Tahun 2013 di ajang yang sama, Alhamdulillah, dapat juara tiga. Agak sedikit pesimistis juga karena siapa tahu saya dicoret dari daftar peserta karena udah pernah menang tapi ikut lagi. Plus tulisan saya mengupas tentang madrasah yang notabene bukan jadi ranahnya Kemdikbud tapi Kemenag. Sehingga saat saya kirim tulisan tersebut, nothing to lose saja. Tapi ternyata, hasilnya di luar dugaan.

Dan, kabar saya jadi juara dua melesat cepat. Memenuhi dinding Facebook dan BBM. Terima kasih semuanya... =))

===

Kamis, 28 Mei 2015. Taksi Blue Bird yang disopiri mas-mas dari Garut mengantarkan saya dari depan BPKP, Rawamangun ke Hotel Atlet Century Park, Jalan Pintu Satu Senayan. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 45 menit (dan Alhamdulillah nggak macet), saya gunakan untuk ngobrol dengan pria satu anak itu. Dasar saya yang memang nggak bisa diam, jadi apa saja bisa jadi bahan obrolan. Mulai dari Garut (saya pamer pernah ke sana), keluarga, macetnya Jakarta, Purwokerto, sampai gelombang panas yang melanda India, beberapa waktu belakangan. 

Setiba di depan hotel, saya langsung menuju ke lantai satu yang jadi pusat acara penganugerahan. Sempat tingak-tinguk karena ada banyak orang di sini, sedangkan saya nggak ketemu dengan panitia yang dikenal. Saya pun permisi duduk di sebuah meja yang berisi bapak-bapak dan basa-basi tanya asal dan lainnya. Alhamdulillah, ketemu dengan mereka yang satu tujuan, hanya saja mereka jadi pemenang di bidang foto.

Tak lama, Mbak Lani, seorang panitia mendekat ke arah saya. Setelah salaman, basa-basi, dan cipika-cipiki, kami pun dipersilakan untuk mencicipi coffee break yang telah tersedia sembari nunggu Pak Menteri Anies Baswedan. Yap, orang nomor satu di Kemdikbud ini direncanakan hadir dan akan langsung menyerahkan piagam pada para pemenang. Inilah yang membuat saya sangat girang karena beliau adalah satu idola saya. 

Dengan perasaan yang campur aduk, dag dig dug, saya nunggu beliau sembari ngobrol dengan para jawara lainnya. Berkenalanlah saya dengan Mas Nanta, wartawan Harian Bhirawa yang jadi juara tiga lomba tulis Feature. Karena dia tinggal di Banyuwangi, praktis sepanjang obrolan, kami menggunakan bahasa Jawa. Juga dengan pemenang lainnya seperti Pak Hapaza dari Lombok, Pak Junaidi dari Padang, Bu Yuanita dari Manado, dan lainnya. 

Dan penantian kami selama kurang lebih tiga jam berbuah manis. Pak Menteri pun datang. Sayang, saya tak bisa melihat bagaimana ia datang karena pada saat yang bersamaan saya malah ke toilet. Duh... Begitu keluar dari toilet, saya langsung buru-buru masuk ke ruang acara dan meletakkan tas daypack di sebuah kursi. Rupanya, acara sudah langsung dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya

Usai bernyanyi, seorang panitia membisiki saya untuk pindah tempat duduk ke bagian depan, bergabung dengan pemenang lainnya. Rupanya, Pak Menteri Anies duduk di seberang saya. Wuahhh, makin nggak keruan rasanya. Ya seneng, ya deg-degan. 

Pembacaan doa dan laporan panitia menjadi agenda kegiatan selanjutnya. Rupanya, tahun ini ada peningkatan yang cukup luar biasa di semua kategori. Untuk lomba penulisan Features yang saya ikuti, diikuti 70 naskah dari tahun lalu hanya sekitar 27 tulisan. Meningkat pesat! Dan saya berhasil 'menyingkirkan' 67 naskah itu (minus yang jadi juara)!!! Warbiasaahhhh!!! Saya anggap, ini satu keberhasilan yang amat membanggakan.

Setelah itu, datanglah acara yang paling pokok, yaitu penyerahan piagam penghargaan. Satu per satu pemenang dipanggil. Yang pertama adalah Mas Nanta, juara tiga. Kemudian, saya. Yap, saya jadi nama ke dua yang dipanggil. 

Saat MC memanggil nama saya, ada rasa bahagia yang membuncah! Saya pun maju ke depan setelah menunduk, memberi hormat pada yang menyaksikan. Tepuk tangan pun membahana. Ah, rupanya saya masih merindukan suasana seperti ini. Apalagi saat biodata diri saya ditampilkan di sebuah layar. Biodata itu berisi nama, tempat tanggal lahir, agama, pekerjaan, hobi (saya mengisi membaca dan traveling), alamat, plus dengan foto close up saya yang mengenakan jersey Munchen, syal biru, dengan latar belakang telaga di Tegal Alun, Gn Papandayan. 

Di depan, saya langsung 'berhadapan' dengan Pak Anies. Beliau pun tersenyum. Saya asumsikan itu ke arah saya. Pak Anies pun tersenyum sangat bangga. Cukup, ini bikin saya beneran klepek-klepek. Sebagai balasannya, saya pun memberi senyuman atau lebih tepatnya cengiran maut. Heheheu.

MC selesai memanggil semua pemenang dan tibalah Pak Anies memberikan piagam penghargaan. Satu per satu sambil mengucapkan selamat. Tibalah giliran saya. Akkk, saya grogi setengah mati berhadapan dengan idola saya ini. Orang yang selama ini cuma bisa saya kagumi lewat tulisan, ide, pemikiran, dan quote-nya ternyata membawa piagam yang akan diserahkan pada saya. 
Salaman sama Pak Anies. Idola. Terima kasih semuanya...

Sebisa mungkin saya tersenyum dengan amat manis. Pak Menteri bilang: "Sri Juliati. Selamat ya, semoga bermanfaat." Saya pun membalas: "Nggih Pak, matur nuwun." Sejurus kemudian baru sadar kalau saya ngomong pakai bahasa Jawa. Namun, suara dan kilatan flash dari kamera melupakan pikiran saya itu. 

Sungguh. Saya terlalu bahagia hari itu. Sungguh, ada satu kisah lain yang terukir dalam kehidupan saya selama 25 tahun ini bersama ribuan cerita indah lainnya. Pengalaman ini jelas menjadi satu hal yang tak akan pernah terlupakan. Yang kelak akan saya kenang sebagai cerita membanggakan 20 tahun kemudian. 

Bahwa si bungsu nan jahil yang dulunya pemalu itu (uhuk) bisa berdiri, salaman,dan  berdampingan dengan idolanya. Bahwa, si bungsu ini bisa memberikan kebanggaan tersendiri pada keluarganya. Bahwa, si perempuan yang tengah memasuki usia kritis 25 tahun dan sering ditanyain kapan nikah ini bisa menjadi bagian dari mereka-mereka yang bekerja di dunia sunyi seperti kata Pak Anies. 

Dan, tak selamanya menjadi yang ke dua itu buruk. Menjadi yang ke dua, adalah satu capaian tersendiri untuk saya. Tentu, di lain kesempatan saya harus menjadi yang pertama. (*)

foto bersama dengan pemenang lainnya. nggak ada yang memperhatikan tali sepatu saya kan? :D

NB: 
Makkkk... anakmu ketemu Pak Menteri, dijak salaman mbek ngobrol. Anakmu iso gawe bungah ya, Makkk... Sehat terus ya Mak, ben iso deleng anake nek juara. 

Bapak, melihatku dari surga sana kan? Bangga ya Pak, anak yang paling sering kau ajak bertualang itu bisa memberikan sedikit kebanggaan pada keluarga? Senang kan Pak, anak yang sering minta duit saat bapak mau pergi itu bisa jadi juara tingkat nasional? Tenang di surga ya, Pak. 

Mbak... adimu pinter yo, ;)