Rabu, 17 Februari 2016

Catatan Pendakian Menuju Gunung Sindoro via Tambi

Setelah Hujan Badai Itu... 

Gunung Sindoro dari 'saudaranya' Gunung Sumbing. 


"Ju, kamu mau ikut ke Sindoro nggak? Awal bulan?

Begitu pesan singkat yang masuk ke BBM disertai screenshot percakapan WhatsApp (WA) dari Kak Ros. Saya yang saat itu baru membuka mata, langsung ngucek-ngucek dan mak-gregah. Bangun saat itu juga.

Sindoro? Awal bulan? Emmm... tanpa pikir panjang, saya langsung mengetikkan: OK, aku melu Mba

Sent. Setelah itu saya lanjutkan tidur pagi itu. 

Bangun-bangun, matahari rasanya sudah di atas kepala. Panas. Pukul 10.00 WIB. Mau tidak mau, saya harus bangun dan kembali membuka ponsel. Ada banyak BBM dan WA yang masuk. Satu di antaranya dari Kak Ros soal rencana ke Sindoro tentang siapa saja yang mau ikut, kapan waktunya, dan lainnya. Saya cuma iyain aja. Selain masih harus menyadarkan diri, juga kepikiran, dapat libur nggak ya?

Weruh-weruh SatelitPost. SatelitPost.
 Nah itu nama medianya. Foto oleh Nung
Jadwal libur adalah masalah terbesar saya selama ini. Bekerja di media, utamanya media cetak harian memang harus pandai-pandai mengatur jadwal libur sebab aturannya berbeda dengan profesi lainnya. Kami biasa bekerja mendahului hari. Maksudnya, kerja hari ini untuk terbit besok. Pun saat libur tanggal merah. Misal, tanggal merah jatuh hari Senin, kami libur di hari Minggu, sedangkan hari Senin yang tanggal merah itu, kami masuk untuk menyiapkan edisi hari Selasa. 

Bingung? Ya udah, besok dirasakan sendiri kalau kerja di media cetak, :D

Rencana ini pun saya sounding-kan pada seorang kawan yang juga hobi naik gunung. Siapa lagi kalau bukan Widi Nugroho. Jawabnya: Insyaallah, lihat sikon.

***
Kami... Pasukan Bela Perasaan. Bela perasaan masing-masing.
Dari ki-ka: Reni, Nung, Juli, Yeti, dan Kak Ros.
Foto oleh temannya Firman. 
Niatan untuk 'sekolah' di Gunung Sindoro pun kian matang. Rombongannya pun tak cuma Kak Ros sebagai inisiator, Nung, Yeti, Reni, dan Dodo yang bakal jadi sopir. Melainkan ada regu *halah* lain dari Jakarta yang tak lain teman-temannya Widi dan Firman. Iya, Firman si adek bongsor yang ke Prau waktu itu. 

Sabtu (6/2) usai pulang kerja, sekitar pukul 14.00 WIB. Disepakatilah waktu itu menuju ketinggian 3.153 mdpl. Termasuk susun-menyusun rencana perjalanan, biaya-biaya, dan peralatan. Namun, jelang H-5, ada perubahan. Karena satu hal, rombongan dari Purwokerto mundur, nggak jadi berangkat hari Sabtu. Pendakian akan dimulai hari Minggu pagi. Sementara kelompok dari Jakarta tetap sesuai rencana semula. 

Hari yang ditunggu pun datang. Setelah ngebut di malam Minggu, menyelesaikan edisi Mingguan dan editan buku *uhuk* tancap gas ke rumah, packing dengan sisa-sisa barang yang masih tergeletak. Selain saya, masih ada Yeti yang juga belum berkemas. Sementara teman yang lain sudah selesai dan bersiap tidur.

Usai berkemas, rupanya masih ada beberapa tulisan yang harus saya selesaikan. Jadilah, demi menunggu pukul 03.00 dinihari, saya begadang, ngedit tulisan di tengah rintik hujan. Sampai lebih dari jam 03.00 dan Dodo datang, saya masih ketak-ketik di ponsel. Selesai semuanya, berbarengan dengan bangunnya teman-teman, kami semua bersiap. Cek-ricek peralatan, beberes diri, dan yess berangkat. 

Mobil yang kami kendarai pun mulai meninggalkan Kota Purwokerto, mengarah ke Purbalingga, mampir sebentar di SPBU Padamara, Purbalingga, dan lanjut ke Banjarnegara, hingga Wonosobo. Selama di jalan, saya gunakan waktu untuk tidur, walau hanya beberapa jam. Cukuplah untuk menebus rasa kantuk gegara nggak tidur seharian. 

Satenya Pak, 10 tusuk Pak. Foto oleh Nung
Setelah perjalanan kurang lebih tiga jam, dari pukul 04.00 hingga 07.00 WIB, sampailah di Alun-alun Wonosobo untuk mampir makan. Niat ingsun, sebenarnya mau tidur tapi karena seharian itu saya belum makan besar serta dibangunkan Nung, jadilah dengan langkah gontai keluar mobil, mengikuti langkah mereka. Seporsi sate jadi menu pilihan. Nyammmm, lumayan untuk mengusir nyanyian cacing di perut dan membuat mata saya terbuka lebar. Usai makan, saya putuskan untuk tidak melanjutkan tidur. Cukup. 

***

Minggu, 7 Februari 2016

Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Wonosobo menjadi satu jalur pendakian menuju Sindoro, selain dari Kledung. Jalur ini dipilih Kak Ros dan Nung karena lebih cepat, sekitar enam jam. Namun waktu tempuh itu sebanding dengan trek yang disajikan, tanjakan tiada henti. 

Kantor Kepala Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar.
Pintu masuk ke Sigedang, dari pertigaan Tambi di kanan jalan kalau dari Wonosobo. Masuk, ikutin jalan yang sebagian rusak parah itu, sampai di pertigaan besar dengan cermin cembung alias Convex Mirror dekat dengan kantor Kepala Desa Sigedang. Papan bertuliskan rute pendakian via Sigedang terpampang jelas di hadapan dengan tanda arah lokasi basecamp di sampingnya. 

Kak Ros, Reni, dan Nung turun untuk izin melapor. Yeti ikut turun tapi untuk foto-foto, sedangkan saya dan Dodo ngobrol di mobil. Kurang tidur memang bikin saya sedikit males turun. Nggak lama, Nung telepon dan meminta semua yang mau naik, izin mendaftar. 

Sesampai di basecamp yang agak masuk gang, kami disambut oleh Mas Anas. Sebelumnya, kami juga bertemu dengan tiga mas pendaki dari Kendal. Di ruang tamu itu, kami diberi peta pendakian serta penjelasan singkat. Kesempatan ini tentu tidak kami siakan untuk menambah informasi, kondisi cuaca, larangan dan pantangan di Gunung Sindoro. 
Peta rute pendakian Gn Sindoro.

Dari sekian penjelasan itu, yang paling kami perhatikan adalah larangan menaiki dan mengencingi tiang bendera/tugu saat di puncak. Dari beberapa tulisan yang tersebar di blog, di kawasan puncak memang ada satu tugu dan tiang bendera. 

"Di situ ada makam Mbah Joko Negoro yang jadi sesepuh. Tapi nggak usah takut, selama kita sopan, niat kita baik, mereka tidak akan menganggu," kata Mas Anas. 

Demi mendengar makam itu, saya agak sedikit ciut. Apalagi Mas Anas sempat menyambung cerita dan kejadian-kejadian di luar nalar yang terjadi di Sindoro. Saya perhatikan wajah teman-teman. Pias, tegang. Siapa pun akan bereaksi yang sama kalau dengar cerita-cerita ini. 

Agak lama kami di rumah Mas Anas, bahkan sempet nunut pipis. Akhirnya kami pun undur diri dan minta doa supaya dilancarkan pendakian kali ini setelah membayar retribusi Rp 5 ribu per orang. Kembali ke mobil dan Dodo mengantarkan kami hingga ke warung kopi terakhir, dekat jalur pendakian. 

***
Groufie dulu bareng sopir paling baper sak-Purwokerto, Dodo. 

Sebelum berangkat, kami menundukkan kepala, menengadahkan tangan, berdoa, meminta perlindungan pada Tuhan supaya perjalanan ini dimudahkan dan dilancarkan. Amin. 

Sesuai dengan anjuran Mas Anas, kami memotong jalur, melalui belakang warung kopi, menembus kebun teh, dan menghindari jalur makadam. Lebih singkat dan lebih cepat. Ternyata, baru beberapa langkah (plis ini bukan makna harafiahnya ya) kami sudah sampai di shelter atau tempat pemberhentian 2. Kalau merujuk pada peta yang diberikan ini Pos 2. Berbentuk semacam pendopo, luas, dan kata warga setempat digunakan untuk mengumpulkan berkarung-karung daun teh yang dipetik. 

Btw, waktu kali pertama nembus kebun teh ini dan lihat treknya yang mulai nanjak, ada yang usul mau naik ojek untuk mempersingkat waktu tempuh dan save energi. Nah lho, angkat tangan? :D

Berhenti sebentar di sana, kami lanjutkan perjalanan. Sempat bingung mau ambil yang mana karena di samping shelter ada dua lajur, satu lajur makadam dan satunya lajur tanah. Beruntung ada warga setempat yang melintas dan memberitahu rute mana yang harus diambil. Jawabnya, lajur tanah. Sekali lagi demi menyingkat waktu. 

Jalan lagi, eh sempat kebingungan lagi mau ambil yang mana. Si Yeti yang nyaranin trabas kebun teh malah ambil jalur makadam. Tembusnya sih sama, tapi ya celananya kami yang jadi korban karena kena semak belukar. Yeti mah enggak. Istirahat, sebentar ambil napas sambil mikir rute lain. Kenapa nggak ikut peta? Karena petanya kurang jelas, nggak ada penunjuk arah mata angin. T.T

Daripada bingung mau lewat mana, ya udah selfie. 
Setelah istirahat lanjut jalan dan kejutan, ketemu sama orang! Kecuali warga setempat yang kami temui di shelter 2, sepanjang perjalanan yang nyaris satu jam itu, kami tidak menjumpai siapapun. Terbitlah asa, jangan-jangan ini mas-mas yang tadi kami temui di rumah Mas Anas. Mereka memberi petunjuk agar kami terobos jalur setapak (lagi) menuju ke arah mereka. Saking girangnya ketemu pendaki lain, semua dari kami langsung cepet jalannya. Hahaha

Setiba di hadapan mereka, kami kecewa. Pertama, bukan mas-mas dari Kendal. Kedua, mas-mas itu malah mau turun, bukan naik. Yah, di-PHP-in. Beruntungnya sih kami dikasih tahu jalur yang bener. Di sepanjang jalan itu, kami mulai ketemu dengan pendaki lain. Tujuannya, turun. Ampun, Mak, ini nggak ada yang nemenin naik???

Jalan menuju perbatasan kebun teh dan hutan.
Dan Alhamdulillah-nya, ketemulah dengan shelter tiga. Istirahat lagi, minum-minum, ngemil sebentar, kami pilih teruskan perjalanan. Tanggung, masih jam 11.30-an sebab kami punya rencana untuk istirahat, makan siang, salat, dan packing ulang sebelum masuk hutan. Jalan lagi sekitar 20 menit. Sampailah di perbatasan kebun teh dan tanah Perhutani. Ada sepetak bidang kecil yang kami jadikan 'markas' sementara untuk ishoma.

Total perjalanan dari warung kopi sampai tanah perbatasan ini nyaris dua jam karena berangkat sekitar pukul 10.00 WIB. Lama? Hehehe. Wajar, kami kan pasukan bela perasaan. Wanita pulak (halah, gender lagi, Jul?).

Ishoma. Foto oleh Reni.

Di situ, kami menggelar tiga matras. Satu matras untuk salat Zuhur karena sudah masuk jamnya dan dua matras untuk nggelar bekal yang dibawa dari rumah. Mulai dari nasi, kering tempe, dan teri hingga beberapa camilan. Ya beginilah, kalau kaum Hawa pergi, nggak bisa nggak bawa bekal banyak. Apalagi kami ini pasukan yang takut kelaparan. Yang satu kalau laper ngomel-ngomel, ada yang migrain, ada yang langsung lemes, ada pula yang milih diem nahan laper

Ada sekitar 1,5 jam kami istirahat. Saking lamanya, ada yang sempet kepikiran buat bikin tenda. Akkk, ini mah saking nyamannya. Dan selama itu pula, kami mulai sering bertemu dengan pendaki yang mau turun. Seolah, tanpa dikomando, mereka kompak tanya: Perempuan semua, Mbak? Berlima? sambil diiringi kernyitan di dahi dan suara, ckckck

Menu makan siang bekal dari rumah. 
***

Setelah packing ulang, the real pendakian, sebenar-benarnya jalan menuju Gunung Sindoro pun dimulai. Bismillah, setapak demi setapak, beriringan, bersama-sama melintas jalur hutan dengan tanjakan. Ditingkahi dengan suara burung, sapaan semangat dari pendaki yang lagi-lagi mau turun, dan gurauan ringan. Berhenti ambil napas, minum, ngemil, atau menikmati Choki-choki.

Tanjakan yang kami lalui, sungguh tak ada habisnya. Amat jarang bertemu bonus jalan datar. Tanjakaannnn semua walau masih di area hutan. Pun saat masuk ke kawasan hutan lantara. Tanjakan terus mendera kami, tiada henti. Ditambah gerimis yang mulai turun. Sempat kami kenakan jas hujan tapi kemudian dilipat lagi, dan dipakai lagi saat hujan terus turun, semakin deras.

Dan sepanjang naik itu, kami tidak bertemu dengan pendaki lain yang naik. Ya, daritadi cuma kami berlima. 

Mulai di hutan lantara lah, tenaga kami perlahan mulai terkuras. Lebih banyak berhenti. Bahkan saya sempat di-rescue sama Yeti karena tertinggal jauh di belakang. Pas di-rescue, digandeng tangannya, Yeti sempat tanya, "Kamu laper? migrain?" Saya pun menggeleng pelan sambil bilang, "Nggak Yet, cuma capek." Jujur saat itu pengin mewek. Terharu.
Juli, mau nyerah? Udah capek? Noh, lihat bawah, Jul. Kamu udah
lewati apa aja? Foto oleh Reni. 

Ssaat di kawasan pohon pertengahan, yang jadi batas tempat untuk pendirian tenda, tenaga saya nyaris habis. Berkali-kali saya harus membujuk kaki untuk mau melangkah. Tak kurang jalan 15 langkah, saya harus berhenti. Begitu seterusnya. Beban di pundak juga kian berat. 

Puncaknya saat hujan turun dengan derasnya, tenaga pun sempurna habis. Rasanya udah nggak kuat banget. Kaki udah mulai sulit melangkah. Demi melihat wajah saya yang kata mereka pucat habis, maka diputuskan untuk cari tempat camp. Ditambah cuaca yang tidak memungkinkan lagi untuk jalan. Badai.

Lokasi sekitar camp. Iya, dengan kemiringan seperti ini. 
Niatnya camp bentar, kalau cuaca sudah membaik, dilanjut lagi pendakiannya. Saat istirahat, dari bawah muncullah beberapa pria dewasa yang mau naik. Ajaibnya mereka nggak bawa banyak barang. Asa pun muncul, wah nggak apa deh naik dikit lagi biar dapet tempat camp yang enak soalnya di kawasan ini lebih mirip hutan mati, tebing bebatuan, dengan kemiringan 45 derajat. Nyaris tak ada lahan datar. Ada sih tapi cuma muat satu tenda, itu pun sudah ada yang ngisi.

Nung pun tanya pada satu di antara mereka. "Pak, di atas masih ada camp lagi nggak?"

"Ada Mbak, dua jam lagi," sahut mereka.

Lokasi sekitar camp. 
Demi mendengar kata dua jam itu, Nung mengernyitkan dahi. Dua jam mereka, empat jam kami ya, Pak. Belum sempat dijawab mereka menyarankan kami untuk gelar tenda di kawasan ini. "Bikin tenda di sini aja Mbak, jangan ke atas, lagi badai. Ada yang pingsan. Kami mau ke sana. Saya bukain tempat ya," kata satu di antara mereka setelah tahu kami berlima cewek semua.

Lantas dengan cekatan, beliau mengayunkan golok, memangkas beberapa tanaman disulap jadi tempat camp darurat. "Mbak, ini saya pinjamkan golok, nanti kalau sudah selesai saya ambil lagi," katanya lantas menyusul teman-temannya yang sudah terlebih dahulu naik.

Alhamdulillah... di tengah badai itu, kami beruntung dengan mereka, warga setempat yang jadi relawan dan tim SAR. Tidak hanya diberi tahu kondisi di atas tapi juga dibantu buka lahan. Keberuntungan ini tak lepas dari doa-doa yang dipanjatkan para ibu yang tahu anak-anaknya pamitan naik gunung.

Setelah itu, kami mulai mendirikan tenda. Gerak cepat. Nah yang jadi masalah selanjutnya adalah posisi lahan camp yang kami tempati tidak rata, cenderung di kemiringan 45 derajat. Tapi abaikan yang penting tenda berdiri dulu. Tak butuh lama, tenda pinjeman Dodo itu jadi rumah. Adalah Yeti dan saya yang disuruh masuk duluan karena kondisi yang tidak memungkinkan, setelah itu Kak Ros, Reni, dan Nung yang jadi penyapu memastikan semua barang dan orang sudah masuk.

Berpelukaaaannn... Eh ini mah sebelum turun.
Begitu masuk, kami langsung berpelukan saling memberi kehangatan, terutama Yeti yang mulai menggigil dan migrain. Tangan saling mengusap, memberi aliran hangat, di tengah badai yang makin menggila.

Alhamdulillah... sungguh tidak lagi yang kami ucapkan selain ungkapan ini. Saat cuaca benar-benar memburuk, kami tetap bersama, meringkuk di dalam tenda, dan akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan. Yang saya ingat, waktu itu masih pukul 17.00 sore. Bangun sekitar 17.30 dan cuaca masih sama. Hujan badai.

Akhirnya tak ada bisa kami lakukan selain kembali tidur, rebahan dengan posisi ala kadarnya atau ngobrol. Mau masak pun susah. Dan ini berlangsung sampai lebih pukul 19.00 WIB. Angin plus hujan yang begitu deras, memukul-mukul tenda jadi satu alasannya. Sampai kemudian agak reda, Nung, Kak Ros, dan Reni keluar benerin tenda dan pasak di tengah gelap malam, sementara saya dan Yeti gelar matras. 

"Nek ngene ki carane piye ya, Yet? Turune arep madhep ngendi?" tanya saya sambil garuk-garuk kepala ditingkahi seruan-seruan di luar. 

"Hahaha, embuh. Yo wis ngene wae," kata dia sambil mengarahkan matras yang sejurus kemudian dibongkar lagi, sampai entah berapa kali kayak mainan puzzle

Kondisi tenda di tanah kemiringan.
Belum ada 15 menit di luar, cuaca kembali memburuk. Hujan deras berteman dengan angin kembali turun. Terpaksa Kak Ros dan Reni langsung masuk, disusul Nung setelah memastikan kondisi tenda yang lumayan lebih kuat dibanding sebelumnya. Untuk sementara kami bisa bernapas lega. Setidaknya tenda kami tak tersapu angin yang kian menderu. 

Memasak jadi aktivitas kami selanjutnya. Mau tidak mau, bisa tidak bisa harus memasak walau harus dengan kondisi tenda miring. Beruntung, saya membawa buku yang lumayan jadi alas. Masak-memasak pun dimulai. Merebus air hangat yang pertama, minumannya kopi dan susu. Sebenarnya mau bikin teh tapi apa daya tehnya nggak tahu di mana yang ternyata keesokan harinya, ketemu di tas saya. Setelah itu, barulah membikin mi rebus plus telur. 

Tak butuh lama, semua makanan itu sudah siap dan kami santap. Alhamdulillah... Walau cuma mi rebus, juara untuk menebas lapar sedari sore. 

"Eh, segane karo terine. Enak dicampur. Nang endi ya, Ju?" kata Kak Ros. 

"Engg, sedela, tak goletane," kata saya sambil ngobrak-abrik pojok tenda yang disulap jadi gudang logistik karena semua makanan ada di situ. "Nyoh, kie..."

Hujan badai masih jadi teman kami. Namun kali ini disambung dengan seru-seruan memanggil nama seseorang. "Debbie... Debbie..." 

Demi mendengar nama itu, pikiran kami kompak bilang, 'Ada yang kepisah dari rombongan nih.' Demi melihat kami yang sedang makan mi bersama, rasa syukur terus dipanjatkan. Teriakan memanggil Debbie itu terus terdengar hingga kami selesai makan dan saya minta dibikinin mi rebus lagi karena nggak kebagian telur. 

"Ya Allah, semoga Debbie lekas ketemu, sehat semuanya," ujar Kak Ros yang kami amini bersama. 

Setelah pencarian 4 jam, Debbie akhirnya ketemu. Alhamdulillah
Itu (sepertinya) tenda rombongannya.
Di sela-sela masak mi rebus, terdengarlah suara pria mendekati tenda dan bertanya, "Mbak, tendanya bisa buat masak nggak?" 

"Iya bisa, Mas. Gimana?" sahut kami dari dalam tenda.

"Bisa minta tolong dibikinin air hangat nggak? teman saya ada yang kena hypo," jawab dia. 

Deg! Hati kami terguncang. Tanpa babibu, kami lekas masakkan air dan menyisipkan doa-doa semoga kami dan semua pendaki selalu diberi perlindungan dan kekuatan. 

"Nung, entar kasih di termosmu aja," saran Kak Ros memberi komando. 

"Iya. Lha terus gimana kita ngasihnya, kan kita nggak tahu dia di tenda mana?" 

"Ya gampang lah, kita teriak aja, 'Mas-mas yang minta air anget ini airnya,' kan ntar dia datang," jawab saya sambil menirukan teriakan itu. 

"Iya, Mbak, saya belum pergi kok."

Mendengar jawaban mas-mas itu kami kompak tertawa. Lebih tepatnya malu karena tingkah kami yang cukup memalukan. Bisa dibilang, kami adalah pasukan yang nggak bisa nggak ngomong dengan suara keras kalau lagi ngobrol. Secapek apapun kami, tetap bisa ngobrol dengan suara keras. Makanya, kami senang bikin heboh. 

"Mas, mending masnya balik ke tenda dulu deh. Nanti kalau udah mateng, kita panggil," kata Nung.

"Oh gitu, oke, Mbak, makasih sebelumnya." 

Iya, kami iba sama mas-masnya karena kondisinya ujan. Nggak tega kalau dia nunggu lama di luar tenda. Sekitar lima menit air pun matang dan sesuai kesepakatan, kami teriak-teriak dan masnya langsung nyusul ke tenda. 

Alhamdulillah (sekali lagi dan seterusnya), di tengah kondisi seperti ini, kami masih bisa membantu orang lain. Terima kasih, Tuhan...

***

Habis makan, terbitlah kantuk. Setelah membersihkan peralatan makan, mengais sisa-sisa mi rebus di piring, meminum habis kopi dan susu, kami bersiap tidur. 

Masalah datang, ini posisi tidurnya mau gimana ya? Ya itu tadi, tenda kami ada di kemiringan dan makin lama malah makin melorot. Ditambah ada batu besar di tengah dan cerukan dalam di bawah. Makin susahlah. Diakalinlah, tiga tidur di atas yaitu Yeti, Reni, dan Nung dan dua di bawah, saya dengan Kak Ros. 

Ini baru tiga keril. Masih ada dua.
Itu masih belum usai, karena ada keril-keril superbesar di pinggir plus tetesan air Tuhan yang merembes tenda. Bongkar pasang lagi sampai akhirnya balik ke formulasi sebelumnya dengan tambahan posisi kaki ditekuk, karena nggak mungkin diselonjorin. Lebih nggak mungkin lagi kan, diselonjorin dan nimpa temen di bawah, Hahaha.

Dengan apa adanya tenda dan pose tidur, satu per satu dari kami pulas tertidur. Meski sesekali saya terbangun dan mencium bau yang eeemmmmmmmm... ini kentut siapaaa??? Hahaha
Selamat ulang tahun Kakak Ros, :D

Btw, hari Minggu saat naik itu, ulang tahunnya Kakak Ros lhoo... Super ya Kak, ulang tahunnya dirayain di gunung. Maap, nggak ada kue dan lilin. Yang ada hanya harapan semoga lekas menikah... :D

***

Senin, 8 Februari 2016

Pukul 03.00 dinihari. Saya masih ingat karena begitu terbangun mendengar alarm, saya langsung melihat jam. Saya matikan alarm yang ternyata dari HP-nya Reni. Begitu mematikan, Kak Ros ikut bangun dan mengguncang-guncangkan tubuh teman-teman lainnya. 

"Heh, bangun, heh. Jangan pada tidur, ini tendanya mau melorot. Ini gimana?" 

Saya bangun dan ngecek. Iya sih, dibanding sebelum tidur, luas tenda memang agak berkurang. Tapi masak iya, jam segini mau benerin tenda. Apalagi di luar masih hujan angin. Begitu juga dengan Nung yang meski bangun tampak ogah-ogahan untuk keluar. Juga Reni dan Yeti, ikut bangun sih tapi kantuk mengalahkan niatan bangun mereka. 

Alhasil, kami pilih tidur lagi, merapatkan sleeping bag dengan posisi yang nyaris sama persis saat pertama tidur. Paginya, Kak Ros cerita, dia mimpi lagi masuk gua gelap, makanya takut kalau tetiba tenda ini jatuh. Alamakkk.

***

Saya tidak tahu jam berapa persisnya kami bangun. Bisa pukul 06.00, bisa jadi malah 07.00 WIB karena cuaca tak kunjung membaik. Setelah bangun, hampir semua teman-teman keluar lalu masak di luar tenda karena cuaca perlahan berubah. Mendung tapi sudah tidak lagi gerimis. Malah muncul pelangi.

Pelangi di ketinggian sekian ribu mpdl yang keren banget. 
Melihat pelangi di gunung itu semacam hadiah bagi kami. Setelah dihajar tanjakan tiada henti selama empat jam, dihantam badai sejak sesorean hingga malam dan pagi, dibikin sesak oleh teriakan-teriakan mencari teman yang terpisah, dan dipaksa tidur ala kadarnya di tengah hawa dingin yang menelisik hingga tulang.

Saya, entah kenapa milih lanjutin tidur. Cuaca sendu seperti ini memang paling enak untuk tidur. 

Reni sama Yeti lagi nyiapin sarapan. Ciiieeee...

Nggak lama, saya pun bangun dan temen-temen lain masih heboh masak, bikin sarapan yaitu nasi goreng, sup, dan goreng kerupuk. Sambil masak, kami rapat dadakan untuk ambil keputusan. 

"Sekarang jam 8 ya, misal kita muncak jam 9 setelah sarapan, tambah dua jam ya tiga jam deh, jam 12 di puncak. Sejam di sana, turun lagi sampai sini jam 3, masih packing dan lain-lain kita start turun jam 4. Kalau cuaca bagus bisa turun dua jam, kalau nggak? Padahal masih ada perjalanan Wonosobo-Purwokerto. Sementara Yeti naik kereta jam tengah 9. Gimana, muncak nggak?"

Maka tak ada lima menit, keputusan penting pun diambil. Pendakian ke Sindoro, kami cukupkan sampai di sini, di kawasan hutan bekas terbakar tinggal rerantingan, di kawasan tebing dengan ketinggian 45 derajat. 

Ya, kami memilih tidak summit attack. Selain durasi waktu dan jarak tempuh, juga cuaca Sindoro yang tak kunjung cerah. Sebentar cerah maka lebih lama mendung dan kabut yang turun. 

Jadilah, dengan keikhlasan, legowo, dan tidak ada sesal sama sekali, kami tidak naik. Kami tidak berada di ketinggian 3.153 mdpl. Cukup di ketinggian 2.000an mdpl.

"Dua kali ke Sindoro, lewat jalur berbeda, dua kali nggak muncak tapi nggak apa-apa sih, besok dicoba lain waktu, tapi via Kledung aja deh, lebih landai, hahaha," ujar Nung. 

Be calm Nung, puncak Gunung Sindoro nggak akan pindah kok. Sabar saja, pasti suatu saat bisa di atas sana. :))

Setelah rapat itu, kami sarapan dengan menu super lengkap dan enak. Nyaaammmm, kenyang... Dan Alhamdulillah ya, nggak pake acara rebutan telur karena telurnya udah dimasak bareng nasgor. Hehehe

Sarapan termewah selama naik gunung. Abaikan kaki Yeti.
Saat berkemas usai sarapan, beberapa pendaki sempat menyapa kami bahkan menawarkan bantuan kalau mau muncak bareng karena puncak setengah jam lagi. Kami jawab, "Nggak Mas, makasih. Hati-hati." Niat kami sudah bulat, kali ini kami tidak ingin muncak. Apalagi kami tidak percaya, kalau cuma setengah jam. Tim SAR aja bilang, dua jam kok

Di sela-sela packing dan foto-foto itu, saya sekelebat melihat si adek, Firman. Iya tim dari Jakarta yang rencananya mau bareng. Tapi saya pikir lagi, kayaknya nggak deh, kan rencanannya dia Senin udah perjalanan balik ke Jakarta. Tapi pas saya masuk ke tenda, tetiba " Mbak, Mbak itu kayak Ahyar (sapaan Firman lainnya karena nama dia Firman Al Ahyar) bukan sih?" tanya Reni sambil nunjuk anak laki-laki pakai kaus hijau di bawah kami, jarak 20 meter. 
Dua tenda di bawah itu, ternyata tendanya Firman dkk.

"Genah iya koh, Ren, aku lihat dari tadi kok kayak Firman."

"Aku ngehnya sama gesture-nya. Beneran nggak sih ya, Mbak?"

"Ana apa sih?" Kak Ros tetiba ikut nimbrung

"Itu koh Mbak, kayak si Ahyar," kata Reni. 

"Ya udahlah, panggil." 

Dan begitu saja, kami dengan kerasnya berseru... "Firman..." dan Kak Ros menimpali, "Ahyar..."

Ndilalah-nya yang bersangkutan mendongak, mencari sumber suara dan bener, itu Firman Al Ahyar, si bongsor yang saya panggil adek karena usianya masih muda beliaaahhh, 20 tahun ya Dek? 

Lambaian tangan kami disambut Firman dengan naik, menyusul ke tenda. Dengan gaya bicara 'sedikit' dewasa, dia cerita tentang macetnya perjalanan dari Jakarta sampai ke sini. Juga alasan kenapa masih di sini. Termasuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Kami pun menawarkan diri untuk turun bersama dan diiyakan.
Rombongan Mendoan dan Kerak Telur. Akhirnya ketemu juga.
Jangan kapok ya gaes... 
(Dan setelah turun, setelah pulang ke kota, setelah balik ke meja kerja masing-masing ada satu cerita dari Adek yang bikin sesak dada dan menohok nurani saya. Maapin Mbak ya Dek...)

Turun, turun. Cerah terus mendung lagi. 
Sekitar pukul 11.00 WIB, kami turun. Membawa segudang cerita, pengalaman, dan banyak hal yang kian mengeratkan persahabatan dan persaudaraan kami. Mendung memayungi langkah dan disusul hujan deras di sekitar perkebunan teh, memaksa kami berhenti lebih lama di shelter 2 hingga pukul 15.00 WIB.


Terima kasih untuk Tuhan atas semua perlindungan-Mu. Terima kasih pada orangtua kami yg tiada henti melantunkan doa untuk anak-anak kesayangannya. Juga saudara, para sahabat, dan semua orang yang kami temui di mana saja.


Dan yes, masih ada PR dari sekolah Gunung Sindoro. Semoga lekas kami selesaikan. (*)


Note: Kalau ditanyain lagu-lagu apa saja yang nemenin atau jadi soundtrack naik kali ini, jawabnya fourtwenty alias 4.20. Ya nggak usah sensi atau negative thinking gitu kalau cuma baca nama band-nya, apalagi kalau tahu siapa yang di belakang band ini. Iya, Roby Geisha. 
Rebahkan lelah tubuh, di tempat tinggi tak berpenghuni
Lupakan sejenak masalah duniamu
lembut sang awan kan menyambutmu
Bermimpiku berada, di tempat indah tak terjamah
Hanya ada aku dan teman-temanku
Mimpi-mimpi tak seperti mimpi
Bahagia, bahagiaku cukup sederhana
Tak terhingga, sekali pun harta dan takhta
Tak sanggup membayarnya
Bercanda dan tertawa, berbagi apa saja yang ada
Tak terpikir dunia, tak peduli juga
Apa yang ada di bawah sana
Hemmmm...
Puisi Alam-fourtwenty
Dengerin karya-karyanya aja deh, dari Fana Merah Jambu, Argumentasi Dimensi, Aku Tenang, Diam-diam Kubawa Satu, Iritasi Ringan, apalagi Puisi Alam. Beuhhh, itu kami bangeeettttt. Trust it. Suaranya Ari Lesmana itu bikin kecanduan plus petikan gitarnya Nuwi yang bikin kita nggak mau lepas headset.


Btw, ada yang terlupa dari semua cerita ini.

Pertama soal perbekalan. Karena kami wanita doyan makan plus kami naik dalam cuaca tak menentu, kami lebihkan logistik yang dibawa. Selain nasi, kering tempe, dan teri, kami juga membawa beras, lima telur, lima bungkus mi instan, dua bungkus roti sobek, sayur untuk sup, roti gandum, camilan, gula, teh, susu, kopi, agar-agar, dan aneka bumbu masak.

Kedua air. Kondisi Sindoro via Tambi nggak ada sumber mata air, at least masing-masing dari kami bawa tujuh botol air mineral ukuran besar, tiga botol air mineral ukuran sedang, dan satu liter termos air panas.

Ketiga fisik. Persiapkan fisik dengan sebaik mungkin, ya seminggu sebelumnya olahraga seperti jogging.

Keempat jangan lupa kanebo. Ini musim hujan dan benda ini sangat berguna selama pendakian. Juga jas hujan. 



Galeri
Area perkebunan teh Tambi. Kata Kak Ros: Ichi Ochaaaaa

Masih di kebun teh dan cerah. 10 menit kemudian, hujan. 

Kak Ros, jangan tunjuk-tunjuk. 

Area datar yang udah diisi sama tenda lain. Hiks... 

Langit Desa Sigedang sebelum kami berangkat. Cerah ya? 

Maksudnya, biar di-endorse sama Cozmeed. Plis abaikan cover yg terbalik

Eh, ada yang jatuh yaa... :D

Juli lagi lari-lari, katanya biar Menghapus Jejakmu
Foto oleh Reni




Jumat, 04 Desember 2015

Kala Hati Terpikat di Bromo


SELAMAT malam.

Gunung Batok, Bromo, dan Semeru dari kejauhan.
Kerennnnn bangettttttt. Foto: Anang Firmansyah

Ternyata, lama nggak posting soal gunung itu bikin kangen. Ngublek-ngublek file lama, ketemulah dengan cerita perjalanan ke Gunung Bromo, akhir tahun lalu. Pas banget, belum ada bahan untuk mengisi halaman Leisure Time SatelitPost.

Jadilah dengan kecepatan penuh, berpacu dengan deadline, saya lekas merampungkan tulisan ini. Kalau dirunut lebih jauh, ini adalah kelanjutan perjalanan ke Malang bareng anaknya Pak Bambang alias Dodi Nugroho, sahabat saya dari SMP sampai sekarang.

Untuk itu, terima kasih buat kontributor tulisan ini, Dodi yang karib disapa Hoho, sekaligus inisiator main ke Gunung Bromo. Terima kasih sudah nyariin open trip, terima kasih sudah jadi sahabat perjalanan yang baik. Kamu emang paling bisa diandalkan, bro... 

Juga Anang Firmansyah, fotografer SatelitPost buat foto-foto kecenya. Yap di tulisan ini, saya lebih banyak menggunakan foto milik Anang. Alasannya, secara teknik dan hasil, jauh lebih bagus dibanding punya saya dan Dodi.

Maklumin untuk kosakata yang rapi ya karena ini untuk terbit di koran. Dan di beberapa bagian, saya sisipi beberapa cerita dengan diksi versi saya. Selamat membaca. 

Btw, saat mau post tulisan ini, ada berita tentang status Gunung Bromo yang dinaikkan dari level II Waspada ke level III Siaga. Imbasnya, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup objek wisata kawah gunung tersebut seperti kawah Bromo, lautan pasir berbisik, dan savana dari seluruh aktivitas wisata.

Seperti dikutip dari liputan6.com, dengan status siaga tersebut, kaldera di Gunung Bromo harus steril dari wisatawan dan aktivitas masyarakat karena jarak aman sekitar 2,5 kilometer. Semoga selalu aman, Bromo. Kami rindu. 

================================================================

BRAHMA. Nama dewa utama dalam Agama Hindu tersebut disematkan pada gunung setinggi 2.329 mdpl di Jawa Timur. Yang kemudian dialihbahasakan menjadi Gunung Bromo. 

Bagi penduduk sekitar, utamanya Suku Tengger, Bromo merupakan gunung suci. Setahun sekali, mereka mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara tersebut bertempat di Pura Luhur Poten yang berlokasi di kaki gunung. Upacara Kasodo dilakukan pada tengah malam hingga dinihari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (ke 10) menurut penanggalan Jawa.

Kawasan Pegunungan di sekitar Bromo.
Foto: Anang Firmansyah
Kini, tak ada yang tak mengenal Bromo. Berlokasi di empat kabupaten yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang, gagahnya Bromo sudah moncer hingga ke penjuru dunia. Hamparan lautan pasir membentang, gunung tinggi gagah menjulang, serta berbaris pegunungan, perbukitan seakan menjadi pagar kawasan ini. Menjadikan kawasan Bromo sebagai daerah tereksotis di Indonesia, bahkan di dunia. 

Oleh karena itu, tak sebatas menjadi gunung suci, Bromo juga menjadi satu destinasi wisata di Jawa Timur, bagi wisatawan lokal dan manca. Jangan heran, nyaris setiap hari, ada saja wisatawan yang datang berkunjung. Jumlah ini bakal meningkat kala libur panjang dan akhir pekan. Kebanyakan, mereka ingin menikmati suasana sunrise atau matahari terbit di Bromo. 

Ada dua cara yang bisa dipilih untuk 'bermain' di sini. Jika cukup nyali, tahu medan, mahir berkendara, dan irit budget, membawa kendaraan pribadi bisa menjadi pilihan. Sebaliknya, bila terlalu awam, sama sekali buta tentang Bromo, bergabung dengan paket wisata alias open trip bisa jadi solusi. Selain lebih aman dan terkondisikan, dengan open trip, bisa menambah teman perjalanan. Pasalnya, dalam satu rombongan terdiri dari empat hingga delapan, menyesuaikan dengan kapasitas jeep yang disediakan. 

Gunung Batok dan Pura Luhur Ponten. Foto: Saya
Seperti yang SatelitPost lakukan, beberapa waktu lalu. Besaran biaya yang dipatok dari penyedia jasa open trip, mulai dari Rp 300 ribu hingga jutaan, tergantung paket wisata yang dipilih. Berkaca pengalaman, Fun Adventure Malang menawarkan tarif yang lumayan yaitu Rp 300 ribu. Dari cerita beberapa teman seperjalanan, tarif ini jauh lebih murah dibanding yang mereka dapatkan.

(Teman seperjalanan ini kami 'temukan' saat sama-sama menunggu jemputan. Kebanyakan dari Jakarta dan pasangan. Glek)

Gunung Bromo bisa ditempuh melalui jalur Probolinggo, Nongkojajar, dan Tumpang. Dari penjelasan sopir jeep yang kami sewa, Mas Andik, jalur Probolinggo dan Nongkojajar bersahabat untuk setiap jenis kendaraan. Sebaliknya dengan jalur Tumpang, Malang. Siap-siap untuk berlonjak kaget saat melintasi jalan makadam dengan tanah dan batu mencuat lepas. Pun lagi jalurnya sempit dan gelap, utamanya saat malam hari. 

Bila menggunakan jasa open trip, biasanya para sopir jeep akan menjemput wisatawan di meeting point yang telah disepakati. Biasanya di dalam Kota Malang, seperti di alun-alun, stasiun, atau beberapa kawasan lainnya. Karena tujuan utama SatelitPost ingin menikmati sunrise, maka Mas Andik menjemput di Alun-alun Malang pukul 00.30 WIB. 

Jangan kira perjalanan yang dibutuhkan hanya satu atau dua jam, nyaris tiga jam. Meski demikian perjalanan malam itu cukup mengasyikkan karena Mas Andik sangat komunikatif, merangkap menjadi tour guide yang menjelaskan segala detil perjalanan, apa saja yang harus dilalui, dan lainnya. Jeep pun beberapa kali berhenti demi menunggu rombongan lain. Sekitar pukul 02.00 WIB, rombongan jeep pun berarak, bergantian melibas jalur menuju Bromo.

Setelah 'bertempur' jalanan yang lebih sering membuat kaget dan gagal tidur, jeep pun berhenti di jalan menuju Bukit Penanjakan 1, satu spot terbaik untuk menikmati keeksotisan Bromo dari kejauhan serta ketinggian tertentu. 

(Soal kemahiran Mas Andik mengemudikan jeep, jempol 10 buat dia. Wuuuhhh, jago banget. Tahu mana lokasi kubangan, ketemu jalan berlumpur. Kagum saya)

Jika beruntung, jeep akan berhenti di dekat lokasi bukit sehingga hanya tinggal jalan kaki beberapa langkah saja. Namun bila sopir jeep tak menemukan tempat parkir yang cukup dekat, siap-siap saja jalan kaki dengan trek jalan aspal menanjak dan menguras tenaga. Tenang, bagi Anda yang memilih hemat waktu dan tenaga, bisa menggunakan ojek yang akan terus-menerus menawarkan jasanya dengan tarif mulai Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu untuk dua orang, tergantung jarak yang ditempuh. Jika masih keukeuh jalan kaki, tolaklah dengan halus dan gunakan bahasa Jawa. Niscaya, Anda tak akan dikejar atau ditawari lagi.

(Saya pun sempat berniat untuk menggunakan jasa ojek. Bukan apa-apa, saya agak kaget dengan langkahnya si Hoho yang cepat dan lebih sering tertinggal di belakang. Karena satu alasan, saya memilih tetap jalan kaki. And the best moment adalah Hoho akhirnya mau nemenin jalan sambil menepuk-nepuk punggung dan bilang, "kuat lah, lulusan Prau kok ra kuat." Sahabat 15 tahun saya itu kayaknya nggak bisa sehari aja nggak ngledekin ya. Hemmm.

Satu-dua tukang ojek memang masih menawari kami dan bilang,"nanti nggak dapet sunrise lho, Mas." Dan Hoho pun menjawab, "Mboten nopo-nopo, Pak. Lagian niki masih kuat jalan kok."

"Depan, yang ada portal itu berhenti bentar ya, istirahat," pinta saya yang dibalas dengan anggukan.

Setelah sampai portal, lho ternyata sudah masuk lokasi Bukit Penanjakan. Kami pun langsung mencari lokasi yang nyaman dan tak terlalu ramai, yaitu di dekat menara. Waktu itu, hanya ada beberapa pengunjung. Kami pun foto-foto sebentar. 


"Aku kayaknya mau ke toilet dulu sambil beli Pop Mie. Kamu mau?" tanya Hoho. 

"Enggg, aku kopi aja deh," jawab saya sambil tetap mengarahkan kamera ponsel milik Hoho. Sementara Tab saya sudah wafat sebelum waktunya. 

Baru jalan beberapa langkah, Hoho sudah memanggil. "Ju, ju... Sini, sini, lebih bagus," seru dia sambil menunjuk lokasi baru yang tak jauh dari tempat saya berdiri. Dan ternyata benar, lokasi ini jauh lebih terbuka dan padang)
Selain Alhamdulillah, terima kasih Tuhan untuk panorama sekece ini,
apalagi yang harus diucapkan. Foto: Anang Firmansyah
Menikmati sunrise dari Bukit Penanjakan adalah satu kemewahan yang dihadirkan Tuhan di Bromo. Dari ujung timur, matahari muncul, 'melahirkan' warna emas yang rupawan dan menyihir mata. Sementara jika melirik ke sebelah, Gunung Semeru, Bromo, dan Batok nampak, menyembul dari lautan kabut yang berarak. 

Kawah Jonggring Saloka, kawah Gunung Semeru terlihat mengeluarkan asap, juga Gunung Bromo, tanda masih aktif. Sementara Gunung Batok bersemayam tenang dengan rupa hijaunya. Hanya kalimat indah, pujian yang terlontar kala melihat pemandangan alam yang amat luar biasa. 

Sebenarnya lokasi untuk menikmati magic-nya pemandangan ini tak hanya dari Bukit Penanjakan, melainkan di Bukit Cinta yang masih satu jalur dengan Penanjakan. Hanya saja itu lokasi alternatif bila Bukit Penanjakan terlalu ramai. 

(Sambil menikmati sunrise, foto-foto, kami pun berbagi. Saya nggrusuhi dia makan Pop Mie, sebagai gantinya kopi saya jadi sasaran. Buat saya, ngopi dan ngemi di atas bukit atau gunung adalah satu hal yang paling menyenangkan. 

Kami pun sempat bertemu dengan rombongan keluarga asal Jerman dan Tiongkok, jika didengar dari bahasa mereka. Kami pun hanya tersenyum. Mau diajakin ngobrol, bahasa Jerman saya sudah sangat payah. Mandarin? Lupa. Ampun deh, Mak...)

Puas menikmati sunrise, SatelitPost dibawa untuk menjelajah ke Gunung Bromo. Untuk sampai, menjejakkan kaki di Bromo, ada dua cara, jalan kaki atau menyewa kuda. Jalur yang menuju puncaknya pun ada dua, naik tangga dan mlipir di pinggir gunung. Keduanya sama-sama bertemu di pinggir kawah. 

(Mau tahu cara saya turun dari Bukit Penanjakan menuju lokasi parkir jeep? Lari. Hahaha. Hoho yang ngajakin saya lari, katanya biar cepat sampai. 

Saya dan Hoho foto di atas jeep yang mengantarkan kami ke sini.
Suwun atas jepretannya Mas Andik
Setelah ketemu dengan jeep-nya yang harus dihafal nomor pelatnya, kami pun ngobrol-ngobrol dengan Mas Andik dan sopir jeep lainnya. Soal Bromo dan lain-lainnya. Bosan ngobrol ya kami duduk santai di pinggir jalan sambil nunggu peserta lain yang masih di jalan. Saya sempat menunjuk satu gunung yang terletak di kejauhan dan Hoho pun menegur. 

"Itu jangan tunjuk-tunjuk. Pamali. Tarik lagi." Tapi sejurus kemudian, "Hahaha. Kan cuma mitos, kayak gitu kok dipercaya." Huuuu, dasar.

Sebelum sampai ke Gunung Bromo, Mas Andik sempat mengajak kami main sebentar di kawasan rerumputan. Foto-foto itu yang pasti. Kami kan pasukan narsis. 

Setelah sampai di lokasi parkir Gunung Bromo, Mas Andik cuma berpesan, hati-hati dan akan tetap menunggui kami jam berapa pun mau turun. Alhamdulillah-nya, cuaca kala itu teduh, nggak panas dan mendung banget.

Berbekal satu botol air minum dan Coki-coki, kami pun mulai melangkahkan kaki. Saat itu, ramaiiiii bangettttt. Mungkin karena libur Natal dan anak-anak sekolah ya. Dan sepanjang jalan itu, tetap saja saya ketinggalan dari Hoho. Dia? Nungguin lah. Termasuk saat kami memilih mlipir pinggir gunung. Ogah capek dan ngedap jadi alasan kenapa saya nggak mau naik lewat tangga. 

Monggo, buat yang nggak mau capek, bisa naik kuda.
Foto: Anang Firmansyah
Saat berjalan mlipir itu, kami berpapasan dengan banyak orang. Satu yang paling saya ingat adalah rombongan keluarga dari Kartasura dengan seorang bapak yang kocak abis karena diledek anak-anaknya, "Jarene mantan penerbang, ngene wae wedi Pak." "Lho kuwi kan mbiyen, saiki bapak wis tuwo, wis wedi."

"Dari mana Mas?" tanya si bapak ke Hoho. 

"Dari Solo, Pak..."

"Lho Solone pundi?"

"Hehehe, Klaten, Pak."

"Klatene?"

"Polanharjo."

"Woalah, jebule wong Polanharjo tooo. Aku Kartosuro. Iki ngajak dolan anak-anak. Heh, cah, bapak dienteni... Bapak i lho wediii, ngertio mau lewat tangga wae," ujar si bapak. 

Dan karena satu daerah, akhirnya kami pun ngobrol dengan si bapak menggunakan bahasa Jawa. Termasuk saat mereka mengambil foto kami bersama dan berpamitan, turun lebih dulu karena hendak melanjutkan perjalanan ke Bali. 

"Mbak, Mas Polanharjo, pamit sek yoo," seru si bapak. "Nggih Pak, ngatos-atos," jawab kami, kompak)

Saya dan Kawah Bromo yang aduhaaiiii bangett dan bikin nyer-nyer.
Foto: Dodi Nugroho
Dari bibir kawah, terdengar jelas bagaimana suara gemuruh Bromo, tanda masih aktif. Mendesiskan asap. Hati-hati, jaga langkah saat di kawasan ini karena konturnya berpasir. Namun lebih dari itu, ini adalah pengalaman paling ajaib, menarik, dan jelas tak terlupakan. Sebab kawah Bromo begitu nyata di depan. 

Masih di kawasan Bromo, bersemayam pula sebuah pura yang menjadi tempat beristananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dipuja oleh umat Hindu, yaitu Pura Luhur Poten Gunung Bromo. Pura ini menjadi tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu. Pura Luhur Poten berdiri tahun 2000. Pura ini menjadi tempat pemujaan Dewa Brohmo (Dewa Brahma), yang menjadi manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Pencipta. 

Pura Luhur Ponten nampak dari kejauhan. Foto: Anang Firmansyah

Dari Bromo, lautan pasir alias Segara Wedi jadi tujuan selanjutnya. Sejauh mata memandang, hanya ada pasirrrrrrr yang terlihat. Membentang maha luas. Pasir berbisik, begitu fenomena alam yang disematkan di area ini. Pasalnya, pasir-pasir yang terbawa angin tersebut, seakan bergemerisik, 'berbicara' dalam bahasanya mereka. 

(Di sini, kami tak terlalu banyak mengambil gambar. Mati gaya, boooo)

Masih ada kawasan lain yang dipastikan menghipnotis, yaitu padang savana yang orang sebut dengan Bukit Teletubbies. Perbukitan 'berbaris rapi' dengan permadani warna hijau yang amat empuk. Benar-benar mirip seperti rumah Tinky Winky, Dipsy, Lala, dan Po itu.

(Sayang pas sampai sini, hujan turun dengan lebatnya. Plus kami yang sudah mulai payah. Capek)
Foto: Anang Firmansyah

Semua lanskap alam yang ada di Bromo sungguh memikat mata, menenangkan jiwa, dan membuat jatuh hati. Mata benar-benar dimanja pemandangan seajaib ini. Keakraban dan keramahan warga sekitar juga membuat betah, damai. Tak ada yang tak terpikat dengan karya Tuhan ini. Bahkan, Tuhan mungkin tersenyum kala mencipta panorama seindah ini. (*)


Nomor telepon Fun Adventure Malang: 0821-3989-9009
Nomor telepon Mas Andik, sopir jeep yang baik hati banget: 0812-3373-6374

Minggu, 29 November 2015

Wisata Bukit yang Lagi Hits di Banyumas

Panorama dari Bukit Taman Angkasa, Banyumas.
Foto dari Sukarni, Gerakan Desa Membangun


BANYUMAS boleh bangga. Meski menyandang status kota (kecil) namun wilayah ini dikelilingi landmark alam yang amat mengagumkan. Kawasan perbukitan, lembah, dan sungai, membentang di Sinaring Tanah Jawa ini.

Tak berlebihan menyematkan julukan Banyumas, surga seribu curug alias air terjun. Juga tak berlebihan pula, menambahkan kata: bukit. Banyumas, surga 1000 curug dan bukit. Hal ini sebagai bonus topografi Banyumas yang berada persis di kaki Gunung Slamet.

Dulu, orang hanya mengenal Banyumas dari Lokawisata Baturraden sebagai ikon wisatanya. Namun, beberapa waktu belakangan, wisata curug mulai mendapat tempat. Yang dulu didatangi hanya segelintir orang, kini ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun luar kota. Mulai dari anak kecil, remaja, hingga orang tua. 

Pun dengan wisata bukit. Dulu, orang hanya tahu Bukit Bintang di Baturraden sebagai satu lokasi untuk melihat Kota Purwokerto dari ketinggian. Kini, ada beberapa bukit yang bisa 'dijelajahi' demi memandang Banyumas dan sekitarnya dari ketinggian tertentu. 

Bisa dibilang, media sosial jadi satu pemicu tenarnya dua lanskap alam hadiah untuk Banyumas ini. Banyaknya pengunjung yang ber-selfie lantas membagikannya ke media sosial memancing keingintahuan para pengguna lainnya. Imbasnya, mereka pun berbondong-bondong datang, berkunjung, atau sekadar membuktikan keindahan yang dilihat di media sosial. 

Beberapa waktu lalu, SatelitPost membahas keindahan curug yang tersebar di Banyumas, kini Anda akan diajak menjelajah, berwisata ke dua bukit yang tengah jadi perbincangan banyak orang, utamanya anak-anak muda. Supaya seperti mereka, jadi anak kekinian. Bila ada waktu, sempatkanlah mampir ke sana. Namun ingat, bawa turun sampah yang dibawa ya. Selamat bertualang.

1. Bukit Watu Meja, Kebasen
Sungai Serayu dari Bukit Watu Meja.

NAMA bukit yang satu ini jelas sudah tak asing lagi karena sudah kondang ke mana-mana. Dikunjungi oleh siapa saja dan darimana saja. Satu kata untuk bukit ini, ramai. Apalagi saat hari libur.

Bukit ini berada di Desa Tumiyang, Kecamatan Kebasen. Bila datang dari Purwokerto, lurus dan ikuti saja jalan di samping Pasar Patikraja. Jarak dari persimpangan Pasar Patikraja hingga ke desa ini lumayan agak jauh. Namun jangan khawatir, Anda tidak akan tersesat sebab beberapa petunjuk jalan sudah dipasang. Yang perlu Anda lakukan hanya mengikuti penanda tersebut. Lokasinya ada di sisi kiri jalan. 

Sampai di sana, Anda bisa memarkirkan kendaraan di rumah warga setempat. Tarif? Seikhlasnya. Soal keamanan kendaraan, tenang, aman kok. Sebab warga sekitar memberikan karcis parkir untuk menghindari tertukarnya kendaraan. Hati-hati jangan sampai hilang.

Dari lokasi parkir tersebut, Anda tinggal berjalan kaki. Ada dua jalur yang bisa dipilih, jalur ekstrem dan jalur landai. Kelebihan jalur ekstrem, lebih cepat sampai tapi tanjakannya lumayan bikin napas ngos-ngosan. Sebaliknya jalur landai, lebih lama karena harus memutar. Tenang, dua jalur itu akan bertemu di titik yang sama kok.

Jalur Ekstrem menuju Watu Meja. Semangat kakak...
Setelah berjalan kurang lebih 30 menit (sudah dengan istirahat dan foto-foto) sampailah di lokasi Bukit Watu Meja. Namun sebelum masuk, Anda harus mencatatkan nama serta asal disertai tarif seikhlasnya untuk membangun pengembangan wisata ini. 

Dan tadaaa... pemandangan Sungai Serayu yang berkelak-kelok, beserta jembatan rel kereta api, yang jadi ikon Banyumas, dan kawasan perbukitan, persawahan, di wilayah tersebut membentang luas. Lanskap alam yang begitu mengagumkan. Membuat mata tak jemu untuk memandang. Apalagi saat kereta api melintas di jembatan tersebut, sempurna. 
Itu rel kereta api di atas Sungai Serayu yang jadi ikon Banyumas.

Warga sekitar bilang, waktu paling pas untuk menikmati keindahan Bukit Watu Meja adalah saat pagi, matahari terbit juga sore, matahari terbenam. Namun, siang ke sini pun tak masalah, karena sama-sama kerennya. 

Di lokasi ini juga terdapat sebuah batu besar yang bentuknya menyerupai meja. Mungkin, ini jadi alasan penamaan dari tempat wisata ini, Watu Meja. Tak cuma menikmati lanskap Sungai Serayu, Anda juga bisa menjelajah hutan pinus yang masuk di wilayah KPH Banyumas Timur. Awesome
Hutan Pinus dan kami. Lagi-lagi sama Reni. Hahaha. ^^

Ramai? Bangetttt... Apalagi kalau hari libur. 

Soal makanan, tenang, Anda tak perlu bawa banyak bekal sebab ada banyak sekali warung yang menjajakan makanan dan minuman, lengkap dengan lesehan. Harganya, masih bisa terjangkau kok. (sri juliati)


2. Taman Angkasa, Banyumas
ADA cara lain untuk menikmati pemandangan saat matahari terbit dan tenggelam. Jika bosan ke pantai, Anda bisa coba berkunjung ke Taman Angkasa Banyumas di Desa Binangun. 

Selamat datang di Taman Angkasa
Taman Angkasa Banyumas terletak di Grumbul Juwiring, Desa Binangun, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Taman ini berada di kawasan puncak Gunung Depok yang berketinggian sekitar 420 meter dpl.

Gunung Depok merupakan gunung kecil dengan puncak landai. Anda dapat melihat wilayah Banyumas, Cilacap, dan Purbalingga. Jika Anda perhatikan dengan saksama, melihat Banyumas dari puncak Gunung Depok seperti menyaksikan taman raksasa. Pemandangannya indah dan hijau. Sungai-sungai yang mengalir menyempurnakan menambah asri pemandangan. 
Jalur menuju Taman Angkasa. Siap-siap...
Taman Angkasa bisa ditempuh dari Alun-alun Banyumas, yaitu Alun-alun-Desa Pasinggangan-Desa Binangun. Jika lewat jalan ini, ada sebagian rusak jalan di Desa Pasinggangan dan Binangun. Rute lain yaitu Desa Kalisube-Dawuhan-Binangun. Hati-hati saat melintas di Desa Binangun, sedangkan jalan di Desa Kalisube dan Dawuhan, mulus. 

Desa Binangun juga mengembangkan sejumlah paket wisata. Pengunjung bisa belajar dengan biaya sebesar Rp 50 ribu untuk jumlah maksimal 10 orang per kelompok.

Enjoy sunrise. Sun is shining and so are you... 
Taman Angkasa Banyumas di Binangun masih dukungan infrastruktur pendukung karena objek wisata ini baru dikembangkan pada Juni 2015. Mari, menikmati sunrise atau sunset dengan secangkir teh senggani di Binangun. (Sukarni dari Gerakan Desa Membangun)

Jumat, 27 November 2015

Sampai Jumpa di Yogya


SLOGAN Yogya berhati nyaman membekas di ingatan. Tak ayal, Kota Yogya masuk jadi satu wish list destinasi saya tahun ini.


Hello Jogja
Sebenarnya, kota ini sangat tidak asing bagi saya. Pertama, waktu masih kecil, usia TK, saya pernah tinggal di sini sama bapak. Kalau nggak salah, di daerah Pengok. Kedua, setiap mudik, pulang ke rumah, saya selalu melintas kota ini. Sayang, untuk menikmati, jalan-jalan santai di malam hari, haha-hihi bareng sahabat di kota ini, belum pernah saya lakukan. Paling sekadar jalan, cari oleh-oleh, dan sudah, pulang.

Nah, di tulisan kali ini, saya akan bercerita tentang pengalaman jalan ke Yogya. Saking banyaknya yang ingin dibagikan, cerita akan terbagi dalam tiga tulisan. Dan ini lah tulisan pertamanya. Selamat membaca...

=================================================

Semalam di Kota Pelajar

Bisa dibilang, main ke Yogya bukanlah tujuan utama. Jadi rencana utamanya adalah: akhir November tanggal 20an, saya mau pulang, kondangan ke tempat seorang sahabat yang menikah, Indah Diana lantas menuju ketinggian. Berhubung Mz Ganjar, Gubernur Jateng menutup semua ketinggian di Jawa Tengah pasca-tragedi kebakaran hutan, alhasil rencana utama itu gagal.

Rencana utama boleh gagal dan harus ada rencana cadangan. Saya tetap pulang dengan alasan kondangan itu dan untuk mengisi waktu, Yogya jadi tujuan. Langsung saja saya hubungi seorang kawan yang sempat satu kelas waktu SMA. Yep, Ariyadi alias Ariel, yang dulu meet up di Gn Prau. 


Ariel, paling kiri saat main ke Baturraden, Banyumas
Susun-menyusun rencana dan destinasi, jadilah keputusan: Sabtu-Minggu (21-22/11) main di Yogya. Sendirian? Yo nggak donggg... Ada Reni Suryati, yang beberapa waktu belakangan jadi teman makan, jogging, main, tidur, #eh. Sebenarnya masih ada Nur Fatimah atau Nung dan temannya yang mau ikut. Lantaran nggak dapat cuti, keduanya memilih mundur. 

Sabtu (21/11) pun datang. And I was so excited. Selain bakal ke Yogya, saya juga nggak perlu menghabiskan malam Minggu di kantor dengan setumpuk pekerjaan. Bagi saya, itu satu kemewahan tersendiri. Hahaha.

Demi bisa berangkat pagi, pakai KA Logawa jurs Purwokerto-Jember, saya pilih nggak tidur setelah pulang dari kantor sekira pukul 02.30 WIB. Beberes kamar, packing, masak nasi goreng, dan nungguin pagi. Sayang, rencana ini gagal karena partner saya, Reni Suryati bangun kesiangan. Hahaha.

Kami pun sepakat memundurkan jadwal keberangkatan, jadi jam 10.30 WIB dengan KA Joglokerto, kereta baru lansiran DAOP V Purwokerto, jurusan Purwokerto-Solo. Kebetulan banget, saya memang kepengin mencoba KA Joglokerto. Sembari nunggu jam 10, saya pun tidurrr. Zzzzzz.

Sekitar pukul 09.30 WIB, saya bangun, bersiap kembali, menunggu Reni. Nggak lama Reni datang dan kami berangkat ke Stasiun Purwokerto pakai taksi. Tapi apa daya, karena sopir taksinya nyasar, kami pun ketinggalan KA Joglokerto. Hahaha. Berpikir cepat, kami pun memutuskan untuk ke terminal dan menggunakan Bus Efisiensi. Dari Stasiun Purwokerto-Terminal Bulupitu, kami gunakan angkot G1 dengan tarif Rp 4 ribu per satu orang. 

Sebelum turun angkot, saya sempat ngobrol dengan bapak sopir angkot. Usianya paruh baya. Dia bilang, pendapatan angkot sekarang turun drastis. "Kalau dulu, ditarget Rp 150 ribu, Mbak, sak niki Rp 75 ribu mpun gedhe banget. Mpun kathah motor, Mbak," kata dia.

Saya pun ber-oh pelan. Kemudahan memiliki sepeda motor yang digeber diler bisa disebut sebagai pemicu hidup segan mati tak maunya bisnis angkot. Bagaimana pun masyarakat butuh moda transportasi yang cepat dan murah. Di sisi lain angkot memiliki kekurangan, kerap ngetem dan terkadang tidak praktis. 

Jalan sebentar dari terminal angkot, kami pergi ke loket bus Efisiensi beli dua tiket, masing-masing dibanderol Rp 60 ribu. "Berangkat jam 12.00 ya Mbak," kata kasir loket sambil memberikan lembaran tiket hasil print.
Tiket Bus Efisiensi yang sekarang ini... 
 Kami pun melongok jam tangan. Pukul 11.15 WIB, masih 45 menit lagi. Demi menunggu waktu, saya sempatkan mampir sebentar ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang berlokasi di dalam Terminal Bulupitu. Terminal yang menempati lahan seluas delapan hektare ini dilengkapi dengan taman bermain untuk anak-anak, Taman Payung, TBM, serta Taman Lalu Lintas yang masih dibangun. Juga ada aksesori berupa backdrop besar bergambar Menara Eifel di Paris dan patung singa Merlion, Singapura. Dua tambahan ini yang bikin terminal nggak cuma jadi tempat antar jemput penumpang, melainkan sudah menjadi tempat wisata foto.


TBM di Terminal Bulupitu. Adem karena ada AC dan Free WiFi
TBM berada di samping ruang menyusui dengan kaca hitam. Seperti TBM pada umumnya, maka ruangan ini berisikan buku-buku dari berbagai genre, seperti fiksi, non-fiksi, tokoh, agama, kesehatan, dan lainnya. Ruangannya relatif sempit, hanya 4x4 meter dengan tiga rak yang cukup besar dan penuh. 

Buku Para Priyayi-nya Umar Kayam jadi pilihan saya. Tapi nggak lama saya kembalikan ke rak karena menemukan buku lain, karangan Goenawan Muhammad, pendiri Tempo. Judul lengkapnya saya nggak inget tapi isinya tentang tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno, Tan Malaka, Rendra, Pramoedya Ananta Toer, dan lainnya. Karena saya lagi ngefans dengan Pram, maka tulisan tentang dia yang saya baca. 


Beberapa koleksi di TBM Terminal Bulupitu
Sempat ngobrol-ngobrol bentar dengan petugas, TBM buka setiap hari. Siapa pun boleh meminjam gratis. Baik dibaca di tempat maupun dibawa pulang. Boleh dibawa pulang asal ybs kerap ke terminal. Kecuali kalau mau ninggalin KTP asli yes. 

"Kebanyakan ke sini pada baca koran Mbak. Beberapa paling baca buku," ujarnya petugas. 

Ketika jarum jam menuju angka 11.45 WIB, kami segera menuju pool Efisiensi. Di sana, sudah ada beberapa calon penumpang yang menunggu. Tak lama, bus yang hendak mengantarkan kami ke Kota Pelajar itu datang. Tepat pukul 12.00 WIB, bus berangkat. Ramai walau tak terlalu penuh. 

Sepanjang perjalanan, kami ngobrol santai, haha-hihi bareng, cerita ngalor-ngidul, termasuk membahas telatnya kami ke stasiun, hahaha. Sampai kemudian rasa kantuk melanda dan kami pilih untuk tidur. Save energy boooo, buat jalan-jalan di Yogya nanti.

Dibandingkan menggunakan kereta, perjalanan memakai bus lebih lama. Sekali pun pakai PATAS AC, sekitar 4,5 jam. Alhasil, pukul 16.30 WIB, kami sampai di Yogya, itu pun belum di kotanya, masih di Gamping, Sleman untuk ganti shuttle yang akan mengantarkan kami ke Malioboro, lokasi meet up dengan Ariel. Akhirnya, pukul 16.55 WIB, kami sampai di kawasan Malioboro. Huraaiiii...
Malioboorrrrrrooooooooooooooooooo.... 
Langsung saja kami melangkahkan, menyusuri kawasan yang rame beuudd itu dan mencari masjid yang terdekat. Hingga kami temukanlah dengan Masjid Malioboro yang berada di Kompleks DPRD Provinsi DIY. Usai salat, kami menunggu Ariel yang kala itu ada di Malioboro Mall. Nggak lama, kawan saya yang udah kemana-mana itu muncul. Ngobrol-ngobrol bentar hingga datanglah sesosok laki-laki, mengenakan jaket, tas selempang, celana pendek, dan berkumis yang wajahnya sudah sangat tidak asing bagi saya. Nama dia pun kerap muncul di tulisan-tulisan saya. 

Guess he?

Yesss, Widi Nugroho!!! Iyaakkk, dia. 
Ini nih, biang keresean kali ini. :p

Jadi gini ceritanya: si mas ini, awalnya ngajakin saya ke ketinggian yang akhirnya gagal. Karena nggak jadi, si mas ini sudah ada rencana buat pulang kampung ke Yogya yang tanggalnya sama dengan rencana saya ke Yogya. Jadilah kita janjian untuk meet up dan main bareng dengan catatan dia dapat tiket kereta plus nggak disuruh lembur. Sepekan sebelum pulang, dia BBM, kasih kabar kalau tiket ke Yogya sudah ludes. Dari situ, dia kasih kesimpulan nggak jadi pulang.

Anehnya, selama seminggu itu, dia mancing-mancing soal rencana saya ke Yogya, jadi apa nggak, sama siapa saja, mau ke mana aja, tidurnya gimana, dan lainnya. Namun setiap kali saya tanya, jadi pulang apa nggak, dia nggak jawab. Kalau pun jawab, pasti ngeles. Saya pun mencium gelagat, ini orang pasti ngerjain. 

Ternyata, bener. Siang-siang, waktu saya dan Reni dalam perjalanan, dia BBM tanya kami sudah sampai mana dan berujung pada kalimat: Nanti ketemuan di Malioboro jam 5 ya. Hmmm.

Setelah ngumpul semua, mencari penginapan jadi agenda selanjutnya setelah salat Magrib. Kami pun sepakat cari penginapan di sekitar Malioboro sambil menyusun ulang rencana mau kemana kita. Di kawasan Malioboro yang agak masuk gang itu, kami nggak menemukan tempat penginapan yang pas. Ada sih yang murah, Rp 100 ribuan lah. Tapi lokasinya lebih masuk gang dan arah Pasar Kembang. Hehehe

Akhirnya kami jalan lagi sampai di Jalan Pasar Kembang. Sempat tanya ke sebuah guest house tapi masih pikir-pikir dulu. Jalan lagi, coba nyari di depan Stasiun Tugu karena di sana ada beberapa penginapan baru, siapa tahu tarifnya lebih miring. Nyatanya enggak. Dua hotel yang kami sempat tanyakan, tarifnya Rp 300 ribu sampai Rp 350 ribu. 

Sembari jalan, kami haha-hihi, saling berbagi cerita lucu, konyol, juga sembari ketak-ketik cari sewa motor. Sayang, sampai Reni menghubungi tiga nomor sewa motor, nggak ada satu pun yang diterima. Alhasil, ia pun memutuskan untuk pulang ke Cilacap, Minggu (22/11) pagi. Iya, selain ada agenda ke Yogya, Reni juga ada rencana untuk pulang ke rumah untuk melepas rindu pada ayah-ibu dan saudara-saudaranya. 

Berhubung Reni mau pulang, kami pun sepakat menginap di hotel yang kali pertama didatengin tadi. Terpaksa balik lagi dengan pembagian tugas, saya dengan Ariel booking kamar, sedangkan Reni dan Mas Widi beli tiket KA Lodaya. Lokasi meet up pun disepakati di Mall Malioboro. 


Tempat penginapan yang boleh kami rekomendasikan.
Khresna Guest House, nama penginapan kami. Berlokasi di Jalan Pasar Kembang nomor 29, Yogyakarta alias pinggir jalan persis, depan St Tugu. Dari hasil tanya-tanya dengan petugas resepsionis, Khresna Guest House punya 14 kamar dengan dua tipe. Rinciannya, sembilan tipe Standard Double Room (Rp 160 ribu) dan lima Superior Double and Twin Room (Rp 250 ribu). Berhubung tipe Standard sudah habis, kami terpaksa memilih tipe Superior. Itu pun tinggal tersisa satu kamar. Kami mendapat kamar nomor lima di lantai dua. Btw, kalau nggak bawa duit tunai, ada mesin EDC BCA kok.
Info lebih lengkapnya, monggo...

Meski ada di Jalan Pasar Kembang, tenang penginapan ini aman kok. Aman dalam arti sebenarnya ya. Meski nggak begitu luas, tapi kamarnya nyaman dan homie banget. Persis dengan tagline yang disematkan feel at home.

Setelah meletakkan tas, kami lekas menuju Malioboro Mall. Suasana malam itu makin ramai. Banyak anak muda, orangtua yang menikmati malam di Malioboro dengan foto-foto, belanja-belanji. Agak lama menunggu dua orang tua eh orang dua itu. Hehehe. Dan setelah berkumpul, maka melintaslah sepeda motor kami, membelah jalanan Malioboro. 

Tujuan pertama kami, pedagang helm. Kebetulan si Ariel nggak bawa helm cadangan. Demi menghindari tilangan, akhirnya saya memutuskan untuk beli helm. Lumayan dapat Rp 75 ribu, helm CTR warna biru. 

Setelah mendapat helm, makan jadi agenda selanjutnya. Perut minta diisi, apalagi seharian itu saya belum makan makanan berat. Sekadar ngemil dan minum susu. Saya pun mengusulkan makan Bakmi Jawa khas Yogya. Ketemulah dengan warung kaki lima yang punya menu bakmi Jawa di dekat SMP 6 dan STM 2 Yogya. Kami pun memesan tiga Bakmi Jawa dan satu nasi goreng untuk Reni. 

Agak lama kami menunggu pesanan. Apalagi kawasan itu tengah mati listrik. Alhasil, kami menunggu sambil menikmati keremangan cahaya senter. Hahaha.

Bau harum pun memenuhi indra penciuman saya. Aroma gurih dari bumbu masak yang digunakan, kuah kaldu yang disiramkan, lantas mi dan aneka sayuran yang diolah bersama, membuat lidah ingin lekas mencicipi. Begitu seporsi Bakmi Jawa itu datang, wuuhhh, tangan sama lidah nggak sabar buat mencicip. Porsinya banyak banget. Saat dicicip, ada sensasi gurih yang terjejak di mulut. Nggak terlalu gurih banget sesuai sama bayangan saya sih. But overall, enak dan mantap. Kerennya lagi, saya nggak minta bantuan buat menghabiskan! 

Setelah makan, kami melanjutkan jalan-jalan. Niat semula adalah nongkrong di kawasan Tugu. Tapi melihat ramainya yang pada nongkrong dan foto-foto di situ, kami memilih mlipir dan 'berpindah' ke angkringan. Berhubung Reni minta nongkrong di tempat yang bisa buat foto-foto, maka Mas Widi dan Ariel ngajak kami merapat kawasan angkringan Kali Code.

"Eh ada kopi joss. Pahit nggak, Mas?" tanya saya sama Mas Widi.

"Ya pesen pake gula lah," jawab dia. 


Kopi Joss. Tapi yang disajikan
nggak sebanyak ini kok. Foto diambil
dari kuliner.panduanwisata.id
Maka, sama dengan Mas Widi, saya pesan kopi joss, yaitu minuman kopi dengan tambahan arang. Sementara Reni pesan susu Milo dan Ariel, Cooffemix. Tambahan dua porsi pisang bakar cokelat keju. 

Setelah pesanan kopi datang, saya langsung meniup dan menyeruput pelan-pelan kopi itu. Slurppp... Kok nggak asing sama rasanya ya? Mikir sebentar tapi udah langsung dikomentarin sama Mas Widi. "Ini mah kopi instan terus ditambahin arang, Mbak... Kalau yang depan Stasiun Tugu itu benar-benar pakai kopi hitam, porsinya juga banyak, dan dijamin melek sampai pagi." Ohh pantes, rasanya nggak asing di lidah.
Angkringan di kawasan Kali Code. Foto diambil di
santapjogja.com

Di kompleks angkringan tersebut, para pengamen silih berganti. Pun dengan kami yang bergonta-ganti topik obrolan hingga tak terasa jarum jam nyaris menuju angka 11. Reni sudah beberapa kali menguap, Ariel yang harus pulang ke rumah di Klaten dan butuh waktu 45 menit sampai sana, dan Mas Widi yang bakal dicariin Ibuk kalau pulang kemalaman. Akhirnya, kami menyudahi jalan-jalan malam ini, demi perjalanan esok pagi. 

Selesai lah malam Mingguan di Yogya kali ini. Saya pun happy.

Btw, lagu yang jadi soundtrack trip kali ini adalah: Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa-nya Frau. Iya, saya lagi jatuh cinta dengan denting piano dan suara perempuan yang bernama lengkap Leilani Hermiasih. Suaranya itu unik. Pun dengan lirik lagunya yang nggak biasa dan membuat saya bertekuk lutut. Ditambah dengan suaranya Mas Ugoran Prasad. Wuuhhh, mantaaaaapppp jaya, luar biasa. Apalagi, pas banget Mbak Lani asli Yogya dan sempat menempuh kuliah di jurusan Antropologi, UGM. Saya pun lantas membayangkan, jangan-jangan angkringan di Kali Code ini kerap disambangi sama Mbak Lani ya. Who knows! (bersambung)