Tampilkan postingan dengan label karangsalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karangsalam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 April 2015

Part 3: Waiting on You


Yang Tercecer


PUKUL 12.05 WIB. Kami bertiga, saya, Nur, dan Reni sampai di Stasiun Cibatu, Garut. Dari referensi yang pernah saya baca, stasiun ini pernah disinggahi komedian legendaris, Charlie Chaplin. 

Setiba di stasiun, toilet menjadi tujuan pertama. Panggilan alam sudah tidak bisa ditahan. Duh.

Usai keluar dari toilet, saya sempat bertemu dengan rombongan penjemput yang kalau saya dengarkan logat bicaranya, mereka berasal dari Cilacap. Ternyata benar, mereka dari Kroya. Saya pun bertanya bagaimana akses dari stasiun ke terminal. Ibu tersebut menggeleng pelan. "Wah, nggak tahu mbak, soalnya jarang ke sini pakai kendaraan umum," jawab beliau.

Nggak lama setelah ibu dan rombongannya itu pergi, sekelompok pekerja stasiun tengah bergerombol dan seolah menghampiri kami. Tanpa babibu, Reni yang rupanya mahir berbahasa Sunda langsung mendekati mereka dan bertanya dengan bahasa yang saya tahu sedikit-sedikit artinya. Intinya, jalan menyusuri rel sampai ke ujung persimpangan, lalu nunggu angkot berwarna kuning hijau. Kami pun berucap terima kasih dan pamit pergi. Tapi sebelum pergi, kami sempat foto-foto dulu di area Stasiun Cibatu.
Stasiun Cibatu, Garut tampak lengang. 

Sayang, saat kami foto-foto menuju jalan yang dimaksud mas-mas tadi, satpam stasiun menegur kami. Ia bilang, nggak boleh foto-foto dan harus keluar melalui pintu stasiun di mana di sana ada banyak tukang ojek yang menawarkan jasanya. Awalnya, kami tetep keukeuh tapi makin lama, teguran si mas satpam kian keras terdengar. Ya sudah, kami mengalah dan menuruti apa kemauannya.

Benar saja, begitu kami keluar, tukang ojek merubung kami dan menawarkan jasa. Langsung saja kami tolak karena kami memilih jalan kaki dari stasiun sampai tempat mangkal angkot Cibatu-Terminal Guntur. "Nggak apa-apa jalan kaki, itung-itung latihan sebelum nanti naik, hehehe," goda saya pada Nur dan Reni.

Setelah berjalan selama 15 menit, sampailah kami di angkot berwarna ngejreng itu. Lantaran sepi, kami bebas memilih mau duduk di mana di kendaraan serupa colt tersebut. Saya sempat bertanya pada sang sopir, butuh berapa menit ke terminal. Jawabannya membuat kami saling tatap. "Lama Teh, satu jam jaraknya 25 km."

Daripada mati gaya di angkot, ngobrol-ngobrollah saya dengan pak sopir. Alhamdulillah, orangnya ramah dan mau menjelaskan apa yang saya tanyakan. Sayanya aja sih yang cerewet. Termasuk menjelaskan, kenapa di sepanjang jalan yang kami lewati banyak anak muda jogging padahal sudah siang hari. Dia juga promosi, selain Gunung Papandayan yang menjadi tujuan kami, Garut juga punya banyak tempat wisata. Yang lagi tenar, kata si bapak, Darajat Pass. Saya pun mengangguk dan inget kalau ada sahabat saya, anaknya Pak Bambang pekan lalu habis dari sini. Tak cuma itu, ada juga wisata air panas Cipanas, Gunung Cikurai, Gunung Guntur, dan lainnya. Bahkan si bapak bilang, ia siap mengantar kalau kami mau.

Di tengah-tengah obrolan, perut saya keroncongan, tanda minta diisi. Bakso menjadi makanan yang pertama kali terlintas di otak. Pertama, cuaca cerah seperti ini enaknya makan bakso. Ke dua, sepanjang jalan lihat warung bakso bertebaran. Dan, camilan stik pedas yang kami beli semalam, sedikit banyak menyelamatkan saya.

Sekitar satu jam kami di angkot, tibalah di Terminal Guntur yang menjadi meeting point antara kami dengan Mbak Icung (Suryati) dan Mbak Linda. Mereka berangkat dari Bekasi dan Jakarta.Untuk tarif, kami membayar Rp 10 ribu per orang. Kata si bapak sopir, harusnya cuma Rp 8 ribu tapi karena kami bawa ransel jadi nambah. Ya, nggak apa. 

Sesuai keinginan, saya langsung menuju warung bakso di depan terminal dan Nur mendadak galau mau makan apa. Niatnya mau makan nasi rames tapi sayurnya nggak ada. Akhirnya dia memilih makan bakso yang ternyata rasanya jauh dari perkiraan. 

Saat sampai di Terminal Guntur, kami disambut bapak-bapak yang kami duga sebagai calo. Tahu tujuan kami, mereka menawarkan untuk segera masuk ke angkot yang akan membawa kami ke Cisurupan. Kami menjelaskan, kami masih menunggu kawan dari Jakarta. Si bapak mengerti dan segera mencari target lainnya.

Ah iya, kami sempat dimarahin sama si bapak calo itu. Maksudnya mungkin baik tapi ada sedikit kesalahpahaman. Jadi ya suasana agak 'panas.' Versi kami, si bapak menyuruh kami lekas naik ke angkot, tapi kami belum mau karena Mbak Icung dan Mbak Linda belum dateng. Ya, kami agak ngotot juga sih ngomongnya. Terus bapaknya bilang: Iya, saya tahu mbaknya masih nunggu teman. Kami pun berpandangan, tanda bingung, "apa sih?"

Rupanya, rombongan yang ke Gunung Papandayan, bukan kami saja. Ada banyak. Banyak sekali malah. Datang tak henti, terus-menerus, bergerombol. Kami sempat bertemu dengan rombongan yang lain, dua orang mas-mas dari Purwakarta. Ngobrol-ngobrol bentar dan sempat merasa ayem, karena siapa tahu mas-masnya ini jadi sahabat di pendakian. Ternyata bukan, karena hingga sekitar satu jam Mbak Icung dan Mbak Linda nggak dateng-dateng. Sementara angkot yang membawa mas-masnya siap-siap berangkat. Mereka pun berucap permisi dan siapa tahu ketemu di atas.

Agak lama kami nunggu kedua mbak-mbak itu. Berkali-kali BBM tanya sudah sampai mana. Mungkin Mbak Icung atau Mbak Linda sampai bosan. Hahaha. Ditambah jalanan macet pula. Dasar kami yang tidak sabaran buat lekas ke Papandayan. Tapi beruntung, saat menunggu itu, nggak ada dari kami yang marah-marah apalagi sampai ngambek. Eh, ini nyindir ya... Heheheuu.

Yang pertama dateng adalah Mbak Icung sekitar jam 3-an sore. Mbak Linda datang sejam kemudian, sekitar jam 4. Nah begitu Mbak Linda dateng, kenalan bentar, langsung kita berangkat ke Cisurupan dengan angkot yang telah tersedia. Sesuai perjanjian dengan si bapak calo tadi, satu orang dipatok membayar Rp 20 ribu. Mahal? Standar sih untuk kami yang tidak tahu persis di mana itu Cisurupan. (*)

Jumat, 10 April 2015

Menjelajah Dua Curug di Desa Karangsalam, Baturraden (2, Habis)


Butuh Perjuangan Berat ke Curug Lawang

Curug Lawang di Desa Karangsalam, Baturraden.

SALAH jalan atau nyasar adalah hal biasa terjadi saat mengeksplore jalan baru. Apalagi jika rute tersebut masih sangat asing. Tak heran, jika nyasar kerap menjadi bumbu dalam perjalanan yang ditempuh SatelitPost, entah saat jalan-jalan ke bukit, laut, bahkan yang berembel-embel kota sekali pun.

Ada yang bilang, melakukan perjalanan belum lengkap rasanya kalau tidak nyasar. Sepakat. Karena dengan nyasar atau salah rute, kita akan punya kisah dan petualangan baru. Siapa tahu, dengan nyasar, kita bisa menemukan satu tempat yang tak kalah menariknya.

Dan saat penjelajahan Minggu (23/11/2014) ke Desa Karangsalam, Baturraden, SatelitPost sempat salah jalan saat ke Curug Lawang. Yang seharusnya jalan ke kanan tapi kami malah mengambil ke kiri. Hikmahnya, kami menemukan buah kecil, berwarna merah yang kami sebut dengan strawberry hutan. Lumayan buat ngemil meski rasanya sedikit asam. 

Kami pun terpaksa berbalik arah dan menemukan jalan kecil. Nyaris tak terlihat karena hampir sepenuhnya tertutup rerumputan. Tak hanya itu, lebar jalan tersebut amat kecil, bahkan terpaksa kami merambat pada tebing batu. Termasuk menerabas aliran irigasi sehingga membuat badan dan tas basah. Sedikit saran, karena ini perjalanan mblusuk ke hutan, lengkap dengan tanah basah, bebatuan licin, dan kubangan air, sebaiknya kenakan alas kaki berupa sandal atau sepatu gunung. 

Berjalan kurang lebih 100 meter, suara gemericik air mulai terdengar. Itu tandanya, kami melalui jalan yang benar dan sebentar lagi akan sampai di tujuan kedua. Benar saja, setelah melewati jalanan yang sempit dan butuh kehati-hatian tersebut, kami melihat sebuah gua lengkap dengan bebatuan besar di bagian depannya. Masuklah kami ke dalam gua tersebut dan pemandangan ajaib terbentang di depan mata kami. Air turun dari ketinggian sekitar 10 meter (mungkin), membentuk kolam bening, lantas mengalir di tengah gua. Amboiii, indahnya...... 
Rute jalan ke Curug Lawang, Minggu (23/11/2014)

Sama seperti di Curug Telu, curug ini juga tak terlalu ramai dikunjungi orang. Malah saat itu, hanya kami bertiga yang menikmati potongan keindahan buatan Tuhan ini. Benar-benar seperti milik sendiri, tak ada riuh rendah teriakan, suara-suara seru. Hanya ada kami bertiga, tetesan air di dalam gua, batu-batu besar nan licin, dan ditingkahi serangga khas hutan. Sungguh damai.

Sartinah, warga Desa Karangsalam RT 5 RW 1, Baturraden mengatakan, curug ini dinamakan Curug Lawang lantaran gua di sini membentuk seperti lawang atau pintu. Namun, ada juga yang menyebutnya sebagai Curug Bidadari saking indahnya. Apapun sebutannya, tetap saja Curug Lawang sebagai tempat yang tepat untuk melepas penat, mengucap syukur, mengagumi karya Tuhan.

Tak sampai satu jam kami menikmati keindahan ini. Selain hujan mulai turun (lagi), jarum jam juga menunjuk angka 3, membuat SatelitPost segera bergegas.

Lokasi yang agak tersembunyi dan butuh 'perjuangan' untuk menikmati potongan keindahan alam ini, bisa menjadi alasan kenapa Curug Telu dan Curug Lawang tak diketahui banyak orang. Namun, akhir-akhir ini, kedua curug ini, terutama Curug Telu mulai ramai dikunjungi. 

Hal ini diakui pula oleh Slamet, warga Desa Karangsalam RT 5 RW 1 yang rumahnya sering menjadi tempat titipan sepeda motor. "Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ya sekarang sudah banyak yang ke sini. Kebanyakan mahasiwa Unsoed tapi pernah ada yang datang rombongan dari Jakarta," ujar dia.

Rupanya, potensi wisata alam di Desa Karangsalam tak cuma kedua curug tersebut. Masih ada Curug Moprok dan Curug Tebela yang tak kalah keren dan siap dijelajahi lagi. 

Mengingat potensi curug yang amat potensial, Slamet pun berharap agar pemerintah daerah memberikan perhatian yang lebih, seperti membangunkan akses transportasi yang memadai. 

Sekadar saran jika Anda ingin ke sini, selain mengenakan alas kaki berupa sandal/sepatu gunung, juga wajib membawa snack atau minuman. Termasuk jika Anda ingin berenang, bisa membawa pelampung atau ban dari rumah. Yang kedua, siapkan fisik Anda dan jangan mengeluh. Jika ingin menitipkan kendaraan pribadi atau bertanya lebih lanjut tentang curug ini, bisa menghubungi Slamet di nomor 0822 2565 9238. Selamat menjelajah. (sri juliati)



#tulisan ini sudah termuat di Harian Pagi SatelitPost, halaman Etalase 

Menelusuri Eksotisme Curug di Desa Karangsalam (Bagian 1)


Berlumur Keringat untuk Menatap Eksotisme

Curug Telu di Desa Karangsalam, Baturraden.


"TANAH seribu curug. Bolehkah menyematkan sebutan ini pada Banyumas?" 

Begitu kata seorang teman pada SatelitPost. Alasannya tak muluk-muluk. Ada banyak curug atau yang dalam bahasa Indonesia berarti air terjun di wilayah ini. Nyatanya benar walau, tak ada hitungan pasti berapa jumlah curug di Banyumas. Bisa jadi lebih dari 10 atau malah 20. 

Minggu (23/11/2014) pagi, SatelitPost dan dua orang kawan menjelajahi dua dari sekian banyak curug di Banyumas, yakni Curug Telu dan Curug Lawang. Lokasinya, tak jauh dari Kota Purwokerto. Tepatnya di Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden, Banyumas atau sekitar 20 menit dari pusat kota dengan sepeda motor. 

Desa Karangsalam bisa ditempuh dari beberapa arah. Satu di antara lewat Jalan Baturraden. Sebelum gerbang bertuliskan "Kawasan Wisata Baturraden", ada pertigaan kecil belok kanan ke arah Kemutug. Terus ikuti jalan tersebut sampai menemukan SMPN 2 Baturraden. Dari sekolah tersebut lantas belok kanan dan Anda akan menemui pertigaan. Ambil kanan sebab jika lurus, Anda akan menuju Kotayasa, Sumbang. Ikuti jalan tersebut sampai menemukan SDN Karangsalam di kiri jalan. Bertemu pertigaan lagi, ambil kiri dan ikuti jalan. Dari sekolah tersebut tak sampai 1 km, bersemayamlah Desa Karangsalam di sisi kiri, dengan papan daftar tempat wisata dan gambaran peta desa, sekaligus ucapan selamat datang. Tenang, ada beberapa penunjuk arah untuk menuju desa tersebut. Jika masih bingung, tanya beberapa penduduk sekitar.

Nah, dari papan tersebut, Anda sudah masuk ke Desa Karangsalam. Ikuti jalan tersebut sampai bertemu dengan kandang ayam di sisi kanan. Ikuti jalan menanjak sampai Anda akan menemukan pertigaan besar kanan jalan, di samping toko yang menjual obat-obatan untuk tanaman milik Sartinah dan Slamet. Di sini, Anda bisa menitipkan sepeda motor. 

"Rumah kami sudah biasa jadi tempat titipan atau parkir wisatawan yang ke Curug Telu. Sebab tidak memungkinkan untuk bawa motor ke sana," kata Sartinah yang mengaku tak mematok biaya parkir yang dikenakan. Kata dia, seikhlasnya saja.

Rute menuju kawasan curug di Desa Karangsalam, November 2014.
Jalanan yang belum diaspal atau di-hotmix menjadi alasan kenapa Sartinah menyarankan agar lebih baik motor ditinggal. Apalagi, di musim hujan sekarang ini, maka jalanan dipastikan becek sehingga membuat Anda harus ekstra hati-hati. Kalau pun Anda bersikeras mengendarai sepeda motor, bisa saja. Namun, hanya sampai di tengah jalan saja dan mau tidak-mau, motor tetap wajib ditinggal. 

Dari pertigaan jalan tersebut sampai ke jalur curug hanya sekitar 2 km. Tak akan terasa lama karena Anda akan disuguhi barisan pemandangan yang amat indah. Ditambah dengan hawa yang sejuk, bakal membuat perjalanan makin mantap. Namun jangan sampai terlena karena masih ada perjalanan yang tak kalah menariknya. 

Dan, perjalanan 'menantang' berawal dari sini. Tempat terakhir di mana Anda boleh mengendarai motor. Sebab, dari sini Anda 'dipaksa' berjalan kaki. Pertama, Anda harus melewati pematang sawah yang beruntung sudah dibeton dan menerabas rerumputan liar. Lepas dari jalanan tersebut, Anda harus melompati bebatuan-bebatuan di sungai kecil. Beruntung saat itu aliran air di sungai tersebut tak terlalu besar. 

Setelah dari sungai tersebut, mulailah petualangan menyusuri galengan, satu per satu. Rasanya amat menyenangkan saat kaki bisa menjejak tanah sawah, mencium aroma persawahan yang khas, merasakan ademnya suasana lereng Gunung Slamet, dan menyapa beberapa petani yang asyik menggarap sawah. 

"Monggo Bu," sapa SatelitPost pada seorang wanita paruh baya bercaping. Ia yang tengah asyik mencabut tanaman gulma di sawahnya seketika langsung menghentikan pekerjaannya. "Iya Mbak, ati-ati," ujarnya sambil terus memandang kami, mungkin sampai kami benar-benar hilang dari pandangannya. 

Perjalanan ini belum usai karena kami harus mblusuk ke hutan. Saat di sini, Anda harus ekstra hati-hati. Selain rute jalan yang menurun, juga licin. Apalagi saat kami datang ke sini, gerimis sempat turun. SatelitPost nyaris terpeleset karena bebatuan licin dan pijakan tanah yang gembur.

Jalan sebentar di kawasan hutan tersebut, akan dua persimpangan. Karena tujuan pertama kami ke Curug Telu, maka kami memilih jalur ke kiri. Benar saja, belum ada 10 meter, tangga berundak-undak yang sudah dibuat sejak tahun 2000-an ini sudah menyambut kami. Seolah lekas menyuruh segera turun, kami pun bergegas. 

"Ayo, ayo cepet, bentar lagi nyampe," kata Nur Fatimah, pekerja swasta yang menemani perjalanan SatelitPost

Dari tangga tersebut, suara deburan air yang jatuh sudah terlihat sangat jelas. Sesekali terdengar teriakan pengunjung lain, yang sudah datang terlebih datang terlebih dahulu. Tak sampai lima menit, kami sampai. Namun belum benar-benar sampai karena kami masih di anak tangga paling bawah dan belum menyentuh air di curug tersebut. 

Dan saat SatelitPost pertama kali menginjak bebatuan di curug tersebut, rasa lelah selama di perjalanan hilang sudah. Tergantikan dengan eksotisme air terjun yang turun dari sekitar 25 meter. Mungkin, karena belum ada hitungan pasti soal ketinggian curug ini. 

Suara bedebum air benar-benar menjadi magnet tersendiri untuk lekas melepas alas kaki dan merendamnya di curug ini. Brrrr, dingin dari air dan hawa langsung terasa. Tapi itu tak menyurutkan SatelitPost untuk bermain air. Segeeeerrnyaaaaa. Bahkan tampak beberapa pengunjung yang berani berenang di kolam curug yang cukup lebar.

Curug ini diberi nama Curug Telu lantaran ada tiga air terjun dalam satu kawasan ini. Yang paling besar tentu curug utama, di mana curug tersebut membentuk satu curug terbesar dan dua 'anak' curug di sampingnya. Jika Anda berbalik, maka akan dua curug lain yang punya ketinggian hampir sama dengan curug utama, bakal 'menyihir' mata Anda. Sungguh cantik dan eksotis. Membuat mata tak berhenti untuk menatap dan mulut terus mengucap rasa syukur. (sri juliati/bersambung)

#tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Pagi SatelitPost, halaman Etalase. 

Selasa, 31 Maret 2015

Jelajah Curug di Desa Karangsalam, Baturraden

SUASANA perjalanan menuju Curug Moprok di Desa Karangsalam, Baturraden, Banyumas, Minggu (8/2). Satu-satunya akses menuju curug berketinggian sekitar 60 meter ini adalah melintasi sungai.



MENDAKI gunung, lewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudera. Bersama teman, bertualang. Ost Ninja Hattori.
DESA Karangsalam, Kecamatan Baturraden boleh merasa bangga. Wilayah yang berjarak sekitar 15 km arah utara Kota Purwokerto ini mendapatkan ‘hadiah’ dari alam yang boleh saya sebut denganhidden paradise alias surga tersembunyi.
Desa Karangsalam memiliki empat wisata curug alias air terjun yang memiliki keistimewaan tersendiri, yakni Curug Moprok, Telu, Lawang, dan Tebela. Dan, petualangan seperti yang tertuang dalam lirik lagu film kartun lawas Ninja Hattori, membawa saya dan ketiga kawan bertandang ke Curug Moprok, Minggu (8/2).
Tak ada papan petunjuk untuk menuju curug-curug di sini. Hanya ada denah besar di depan pintu masuk desa. Namun, kita bisa bertanya pada penduduk sekitar yang meladang, maka dengan senang hati mereka akan menjelaskan super detil. Seperti beberapa warga yang kami temui, kemarin. Rupanya, warga di sini mulai akrab dengan para wisatawan yang hendak bertualang.
Badhe teng curug, nggih? Mpun ngertos dalane?” tanya seorang warga yang kebetulan melintas.
Sampun, bu. Matur nuwun,” jawab kami serempak.
Inilah satu hal yang paling saya senangi saat plesir yakni bertemu dengan warga lokal, bertegur sapa, lantas mendapat banyak kisah dari mereka. Sesuatu yang tidak akan pernah didapat jika hanya menghabiskan waktu di depan gadget.
Perjalanan ke Curug Moprok sesuai dugaan kami sebelumnya. Melewati galengan milik warga, blusukanmenuju jalur setapak yang ditumbuhi rerumputan liar, dan jalan satu per satu melintasi turunan licin. Namun inilah sensasinya. Sensasi berjalan di tepi hutan itu sungguh luar biasa. Jika beruntung, Anda bisa melihat monyet yang kebetulan melintas di sekitar hutan tersebut. Seperti kawan saya, Yeti dan Sonny. Sayang, saya tidak.
Selepas dari jalur setapak tersebut, kami bertemu dengan sungai penuh bebatuan yang menjadi aliran Curug Moprok. Inilah satu-satunya jalan alias akses untuk menuju curug tersebut. Jadi, untuk Anda yang gemar mengeluh, jangan ke sini deh.
Beberapa kali, kaki terperosok gegara salah menginjak batu yang licin. Malah Sonny sempat terjatuh ke sungai. Byurrr… Basah, sudah pasti. Itu risikonya.
Setelah berjalan kurang lebih 100 meter, lebih tepatnya sambil diselingi mlipir ke sungai yang memiliki kedalaman sekitar 50 cm, akhirnya dari balik batu besar, kami melihat air terjun itu.
Wah… keren banget… Ayo, ayo, sebentar lagi sampai,” teriak saya. Sebenarnya ini reaksi pertama saya saking nggumun-nya melihat keindahan tersebut.
Ketiga kawan yang sebenarnya sudah capek, langsung mendekat. Dan mereka pun meneriakkan hal yang sama. Melihat potongan Curug Moprok dari kejauhan, cukup membuat semangat kembali dan bergegas meneruskan perjalanan. Ahh, rasanya sudah sangat tidak sabar untuk lekas bermain di sekitar lokasi air terjun.
Akses menuju Curug Moprok. Satu-satunya jalan ya harus melalui aliran sungai ini.

Dan… akhirnya kami sampai! Hore… Pemandangan air terjun yang begitu indah terhampar di depan mata kami. Ya, hanya kami berempat. Sungguh, lukisan alam ini menyihir kami. Dari ketinggian sekitar 60 meter, jutaan butiran air berkumpul, turun terus-menerus, menghujam ke bumi, lantas membentuk sebuah telaga tenang yang aduhaiii, sangat sayang untuk dilewatkan. Lantas air di telaga ini mengalir, menuju sungai yang kami lewati tadi.
Dinginnya air berpadu dengan segarnya udara dan hijaunya alam membuat kami tersihir. Kami terhanyut dalam pesona alam. Membiarkan kaki terendam, bermain air, dan tentu saja mengambil foto. Ya, inilahhidden paradise, surga tersembunyi yang diberikan Tuhan untuk Banyumas. Tanah seribu 1.000 curug.
Sungguh. Mata kami dimanjakan oleh secuil karya Tuhan yang benar-benar masih alami. Suara bedebumair begitu menenangkan pikiran. Membuat kami tak henti mengucap syukur. Pertama atas keindahan air terjun ini. Kedua, kami masih bisa menikmati ciptaan indah-Nya.
Ada satu jam kami menikmati Curug Moprok. Sudah cukup puas untuk kami. Saatnya kembali, untuk melanjutkan petualangan. Senang rasanya bisa menikmati alam yang masih hijau.
“Terima kasih alam, terima kasih Tuhan, terima kasih sudah memberikan kisah berharga, semoga tetap terjaga seperti ini,” kata seorang kawan, Ros yang kami amini bersama-sama.
Sekadar pesan bagi Anda yang ingin menjelajah, jangan pernah meninggalkan sampah atau apapun yang bisa mengotori tanah ini. Bawa kembali sampah Anda, masukkan dalam kantung plastik atau tas, dan buang pada tempatnya. Air terjun dan sungai ini bukan tempat pembuangan sampah. Juga, jangan pernah sekalipun mencorat-coret bebatuan, apapun alasannya. Take nothing but pictures, leave nothing but footprints. Salam. (sri juliati)

Note:
Tulisan ini sudah pernah dimuat di Harian Pagi SatelitPost, Selasa (10/2/2015).