Tampilkan postingan dengan label serayu pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serayu pagi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2015

Part 4: Pasukan Chiboy I


Yang Tercecer

PASUKAN joged dangdut a.k.a pasukan chiboy. Begitu Mas Widi Nugroho menamai rombongannya yang terdiri dari Mas Ferry Akbar, Mas Ali, dan temennya Mas Ali yang sampai sekarang saya nggak tahu namanya siapa.

Pasukan ini wajib ditulis karena merekalah yang banyak banget membantu kami selama pendakian di Gunung Papandayan. Dari naik sampai kemudian turun, mereka jadi sahabat perjalanan alias travelmate. Mungkin, mas-masnya ini takjub melihat kami berlima, cewek semua, nggak ada cowok, jauh-jauh datang dari Purwokerto lagi. Heheheuu.

Kami bertemu dengan pasukan chiboy di Terminal Guntur. Tepatnya saat berangkat menggunakan angkot menuju Desa Cisurupan, Garut. Awalnya, kami nggak terlalu mahfum dengan mereka karena langsung masuk ke dalam angkot. Saya, Nur, dan Mbak Icung di depan, sedangkan Reni dan Mbak Linda di belakang. 

Sepanjang perjalanan, sama sekali nggak ada obrolan atau sekadar kenalan. Jadi selama satu jam perjalanan itu, kami asyik dengan obrolan rombongan masing-masing. Baru saat sampai di Masjid Cisurupan, ada sedikit obrolan yang entah diinisiasi oleh siapa. Karena selain pasukan chiboy itu ada rombongan lain berpasangan mas dan mbak yang sampai sekarang saya juga nggak tahu namanya siapa. Yang saya tahu, dari rombongan mbak mas itu ada satu orang asli Tambak, Banyumas.

Mereka menawarkan untuk sewa mobil bak bersama. Langsung saja kami iyakan. Namun, kami mohon izin buat salat Asar. Usai salat, kami packing bentar lantas menuju rombongan tersebut. Ramah tamah bentar dan meminta satu di antara mereka buat fotoin kita, heheheu. Kalau nggak salah sih Mas Widi.

Nggak lama, satu unit mobil bak terbuka datang dan siap mengantarkam kami ke Camp David yang menjadi lokasi awal pendakian. Per orang, dipatok tarif Rp 20 ribu.

Dua di antara pasukan chiboy. Paling ujung Mas Ferry, sampingnya Mas Widi
Selama di mobil bak, masih tidak ada percakapan di antara kami semua. Hanya obrolan ringan masing-masing pasukan sambil menikmati kerennya jalan menuju Camp David. Rumah di kanan-kiri, jalan berkelok, menanjak, dan hawa dingin mulai menyusup. Sesekali kabut turun, ikut menyambut kedatangan kami ditingkahi suara serangga khas hutan.

Memasuki Camp David, seorang petugas meminta ketua kelompok untuk turun, melakukan pendaftaran. Dua di antara rombongan kami turun, ya si mas-masnya itu. Begitu sampai dan berhenti, saya baru ngeh, kalau harus ikut mendaftar. Akhirnya, saya narik Nur buat nemenin ke pos pendaftaran. 

Kami pun menuju pos pendaftaran dan ketemu perwakilan pasukan chiboy yang tengah mengantre. Kalau nggak salah inget, Mas Ferry sama Mas Widi. Dari pembicaraan mereka dengan petugas pos, Camp Pondok Seladah yang menjadi rumah untuk para pendaki telah penuh. Mau tidak mau harus ngecamp di Camp Guber Hut. Pun dengan kami yang memilih aman dengan mengikuti pilihan mereka. Sedari di bak terbuka tadi, niat saya memang mengekor sama pasukan itu. Duh, ketahuan deh...

Kami pun mendaftar, mengisi buku 'tamu' sedangkan petugas menanyai identitas kami. Nama penanggungjawab, nama kelompok, asal, rencana camp, dan kepulangan. Awalnya, kami mau pulang hari Minggu sesuai rencana semula tapi...

"Kalau pulang hari Minggu, bayarnya double, per orang Rp 15 ribu, sehari Rp 7.500," kata petugas tersebut.

Alhasil, lewat keputusan singkat, kami pun sepakat untuk turun hari Sabtu. Gara-garanya ya Rp 7.500 itu padahal kalau dipikir-pikir, lha wong cuma Rp 7.500 kok. Nggak mahal-mahal amat. Setelah mendapat surat keterangan, kami bergegas menuju rombongan yang telah menunggu. 

Kabut tebal perlahan turun. Menutupi sebagian pandangan. Namun tak lama, kabut itu menghilang bersamaan dengan azan Magrib yang sayup terdengar. Meninggalkan hawa dingin. 

Telapak tangan diusap-usapkan untuk 'mengalirkan' udara hangat. Jaket dirapatkan. Sesekali tubuh melakukan gerakan ringan agar tak terperangkap dalam hawa dingin. 

Lima menit kemudian, doa-doa dipanjatkan. Harapan agar Tuhan selalu memberi keselamatan dan kelancaran dalam perjalanan kali ini, membumbung tinggi. 

Sementara saat langit gelap mulai mengungkung, pantulan sinar yang berasal dari senter mulai terlihat. Menciptakan formasi bak bintang berjalan. Kaki-kaki kecil mulai menapaki jalur pendakian yang tertutup bebatuan. Selangkah demi selangkah.

Sedikit puitis? Iya, empat paragraf di atas itu sebenarnya buat tulisan feature yang mau muat di koran. Berhubung terlalu panjang jadi dengan amat terpaksa saya ganti. 

Di jalur pendakian itulah, kami mulai sedikit akrab dengan pasukan chiboy. Mulai berani bikin gurauan, ledekan, obrolan ringan, atau sekadar mengingatkan untuk berhati-hati. Misal, "kalau udah capek istirahat aja mbak, ntar kita tungguin kok" atau "mbak, kalau bawaannya berat, suruh bawa yang jalan di depan tuh, dia nggak bawa apa-apa."

Ternyata benar, setiap kami ambil napas, istirahat sejenak, pasukan chiboy tetap di belakang kami. Padahal, tak terhitung berapa kali kami berhenti. Pun saat saya mulai kepayahan di tanjakan terakhir keluar dari hutan. Satu dari mereka sempat tanya sambil nunjuk daypack dan tas selempang saya: "banyak banget bawanya mbak." "Nggak kok mas, ini yang depan isinya kecil-kecilan kok." Maksudnya kecil-kecilan adalah barang kecil kayak dompet, ponsel, peralatan tulis, charger, dan camilan yang ternyata cukup berat juga. Hiks

Sekian lama berjalan di tanah landai berbatu, ternyata membuat saya nyaris hopeless. Berkali-kali saya minta berhenti. Dan tepat di saat saya merasa putus aja, aroma harum tercium. Samar-samar memenuhi indra penciuman. Uhmmm, saya kenal dengan aroma ini. Aroma yang begitu sedap dan lezat. 

"Indomie," tebak saya dan Reni dalam waktu bersamaan. Anggota pasukan chiboy, Mas Ferry pun menyambung. "Rasa soto nih, Mbak."

Demi mendengar kata mi instan dan mencium aromanya yang khas, mata saya langsung berbinar. Mempercepat langkah. Tak lagi peduli soal beban yang makin berat dan malam yang kian dingin.

Dan, kejutan. Di balik bukit kecil, tanah lapang terhampar. Tenda-tenda berjejeran, membentuk barisan. Cahaya dari senter atau lilin di sekitaran tenda, memberi tanda, kami telah sampai di Camp Guber Hut. Ahhh, senangnya... 

Tak ingin membuang waktu, segera saja, kami pun mencari sebidang tanah untuk mendirikan empat tenda. Dua tenda milik mas dan mbak itu. Satu tenda buat kami dan satu lagi buat pasukan chiboy. Tetap bareng sama mereka. 

Setelah itu, aktivitas bongkar pasang pun dimulai. Rombongan kami memilih bareng-bareng mendirikan tenda. Meski tetep yang paling banyak kerja adalah Nur karena dia paling punya banyak pengalaman. Saya cuma bantu-bantu dikit, bantu masang kerangka. Lumayan tambah ilmu.

Sekitar setengah jam berkutat dengan tenda pinjaman itu, akhirnya 'rumah sementara' kami kokoh berdiri. Alhamdulillah. Daypack dimasukkan dan mulai berbagi tugas. Mbak Linda, Mbak Icung, dan Reni masak, saya sama Nur ngurusin dalam tenda. Kelihatan modusnya ya? Yo ben. 

Tapi waktu lihat sebelah, kok tenda pasukan chiboy belum jadi ya? Malah masih repot dengan urusan kerangka tenda. Emm, maaf ya mas, kami nggak bantuin. Beberapa dari mereka juga sempat minta izin, pintu tenda berhadapan dengan pintu tenda kami plus tali tenda juga dipasang di sekitar areal.

"Mbak, nggak apa-apa ya, talinya di sini. Tenang Mbak, kita cowok baik-baik kok," kata mereka. Kalem Mas, malah kita yang harusnya terima kasih udah mau nungguin. 

Minuman hangat pun telah siap. Seperti biasa, saya bikin kopi bareng Mbak Icung. Teman yang lain bikin teh dan teh jahe. Melihat pasukan chiboy yang masih usreg bikin tenda, kami menawarkan teh jahe bikinan Mbak Linda. Lumayan to, mas? Hehehe

Nggak lama, masakan mi instan telur nyemek siap disantap. Langsung saja kami makan ramai-ramai tanpa perlu dipindah ke piring. Enakkknyaaa... Mi instan emang juara, apalagi di tengah gunung begini. Dan lagi-lagi, saya didaulat menjadi penyapu makanan yang bertugas menghabiskan mi yang masih tersisa. Saya sih seneng-seneng aja malah minta dibikinin mi lagi. Huh, dasar saya yang doyan makan tapi nggak gemuk-gemuk. :p

Di sela-sela makan malam itu, Mas Widi menawarkan hal menarik. "Mbak, besok ke puncak mau bareng lagi nggak? Kalau mau, besok jam 5 berangkat ya." Tanpa banyak pikir, kami langsung mengiyakan. Jelas banget kami mau ikut kalian, Mas.

Agenda makan malam pun akhirnya kelar. Sementara Reni masih ribet mau masak nasi plus agar-agar, kami berleha-leha sebentar dan masuk tenda. Nur memilih tidur, Mbak Linda hunting foto, saya dan Mbak Icung main kartu yang berakhir dengan kekalahan Mbak Icung. Sementara pasukan chiboy, pas saya tengok, mereka masih makan. 

Dan, waktu saya keluar, pemandangan amazing tersaji di langit Papandayan. Lingkaran cahaya di sekitar bulan membentuk Halo dengan bintang-bintang kecil yang terlihat, kalah dengan cahaya bulan. Rasa takjub melihat kebesaran Tuhan yang selalu sempurna. Dan, lagu Yellow dan A Sky Full of Stars milik Coldplay langsung terlintas. (*)

Rabu, 22 April 2015

Part 3: Waiting on You


Yang Tercecer


PUKUL 12.05 WIB. Kami bertiga, saya, Nur, dan Reni sampai di Stasiun Cibatu, Garut. Dari referensi yang pernah saya baca, stasiun ini pernah disinggahi komedian legendaris, Charlie Chaplin. 

Setiba di stasiun, toilet menjadi tujuan pertama. Panggilan alam sudah tidak bisa ditahan. Duh.

Usai keluar dari toilet, saya sempat bertemu dengan rombongan penjemput yang kalau saya dengarkan logat bicaranya, mereka berasal dari Cilacap. Ternyata benar, mereka dari Kroya. Saya pun bertanya bagaimana akses dari stasiun ke terminal. Ibu tersebut menggeleng pelan. "Wah, nggak tahu mbak, soalnya jarang ke sini pakai kendaraan umum," jawab beliau.

Nggak lama setelah ibu dan rombongannya itu pergi, sekelompok pekerja stasiun tengah bergerombol dan seolah menghampiri kami. Tanpa babibu, Reni yang rupanya mahir berbahasa Sunda langsung mendekati mereka dan bertanya dengan bahasa yang saya tahu sedikit-sedikit artinya. Intinya, jalan menyusuri rel sampai ke ujung persimpangan, lalu nunggu angkot berwarna kuning hijau. Kami pun berucap terima kasih dan pamit pergi. Tapi sebelum pergi, kami sempat foto-foto dulu di area Stasiun Cibatu.
Stasiun Cibatu, Garut tampak lengang. 

Sayang, saat kami foto-foto menuju jalan yang dimaksud mas-mas tadi, satpam stasiun menegur kami. Ia bilang, nggak boleh foto-foto dan harus keluar melalui pintu stasiun di mana di sana ada banyak tukang ojek yang menawarkan jasanya. Awalnya, kami tetep keukeuh tapi makin lama, teguran si mas satpam kian keras terdengar. Ya sudah, kami mengalah dan menuruti apa kemauannya.

Benar saja, begitu kami keluar, tukang ojek merubung kami dan menawarkan jasa. Langsung saja kami tolak karena kami memilih jalan kaki dari stasiun sampai tempat mangkal angkot Cibatu-Terminal Guntur. "Nggak apa-apa jalan kaki, itung-itung latihan sebelum nanti naik, hehehe," goda saya pada Nur dan Reni.

Setelah berjalan selama 15 menit, sampailah kami di angkot berwarna ngejreng itu. Lantaran sepi, kami bebas memilih mau duduk di mana di kendaraan serupa colt tersebut. Saya sempat bertanya pada sang sopir, butuh berapa menit ke terminal. Jawabannya membuat kami saling tatap. "Lama Teh, satu jam jaraknya 25 km."

Daripada mati gaya di angkot, ngobrol-ngobrollah saya dengan pak sopir. Alhamdulillah, orangnya ramah dan mau menjelaskan apa yang saya tanyakan. Sayanya aja sih yang cerewet. Termasuk menjelaskan, kenapa di sepanjang jalan yang kami lewati banyak anak muda jogging padahal sudah siang hari. Dia juga promosi, selain Gunung Papandayan yang menjadi tujuan kami, Garut juga punya banyak tempat wisata. Yang lagi tenar, kata si bapak, Darajat Pass. Saya pun mengangguk dan inget kalau ada sahabat saya, anaknya Pak Bambang pekan lalu habis dari sini. Tak cuma itu, ada juga wisata air panas Cipanas, Gunung Cikurai, Gunung Guntur, dan lainnya. Bahkan si bapak bilang, ia siap mengantar kalau kami mau.

Di tengah-tengah obrolan, perut saya keroncongan, tanda minta diisi. Bakso menjadi makanan yang pertama kali terlintas di otak. Pertama, cuaca cerah seperti ini enaknya makan bakso. Ke dua, sepanjang jalan lihat warung bakso bertebaran. Dan, camilan stik pedas yang kami beli semalam, sedikit banyak menyelamatkan saya.

Sekitar satu jam kami di angkot, tibalah di Terminal Guntur yang menjadi meeting point antara kami dengan Mbak Icung (Suryati) dan Mbak Linda. Mereka berangkat dari Bekasi dan Jakarta.Untuk tarif, kami membayar Rp 10 ribu per orang. Kata si bapak sopir, harusnya cuma Rp 8 ribu tapi karena kami bawa ransel jadi nambah. Ya, nggak apa. 

Sesuai keinginan, saya langsung menuju warung bakso di depan terminal dan Nur mendadak galau mau makan apa. Niatnya mau makan nasi rames tapi sayurnya nggak ada. Akhirnya dia memilih makan bakso yang ternyata rasanya jauh dari perkiraan. 

Saat sampai di Terminal Guntur, kami disambut bapak-bapak yang kami duga sebagai calo. Tahu tujuan kami, mereka menawarkan untuk segera masuk ke angkot yang akan membawa kami ke Cisurupan. Kami menjelaskan, kami masih menunggu kawan dari Jakarta. Si bapak mengerti dan segera mencari target lainnya.

Ah iya, kami sempat dimarahin sama si bapak calo itu. Maksudnya mungkin baik tapi ada sedikit kesalahpahaman. Jadi ya suasana agak 'panas.' Versi kami, si bapak menyuruh kami lekas naik ke angkot, tapi kami belum mau karena Mbak Icung dan Mbak Linda belum dateng. Ya, kami agak ngotot juga sih ngomongnya. Terus bapaknya bilang: Iya, saya tahu mbaknya masih nunggu teman. Kami pun berpandangan, tanda bingung, "apa sih?"

Rupanya, rombongan yang ke Gunung Papandayan, bukan kami saja. Ada banyak. Banyak sekali malah. Datang tak henti, terus-menerus, bergerombol. Kami sempat bertemu dengan rombongan yang lain, dua orang mas-mas dari Purwakarta. Ngobrol-ngobrol bentar dan sempat merasa ayem, karena siapa tahu mas-masnya ini jadi sahabat di pendakian. Ternyata bukan, karena hingga sekitar satu jam Mbak Icung dan Mbak Linda nggak dateng-dateng. Sementara angkot yang membawa mas-masnya siap-siap berangkat. Mereka pun berucap permisi dan siapa tahu ketemu di atas.

Agak lama kami nunggu kedua mbak-mbak itu. Berkali-kali BBM tanya sudah sampai mana. Mungkin Mbak Icung atau Mbak Linda sampai bosan. Hahaha. Ditambah jalanan macet pula. Dasar kami yang tidak sabaran buat lekas ke Papandayan. Tapi beruntung, saat menunggu itu, nggak ada dari kami yang marah-marah apalagi sampai ngambek. Eh, ini nyindir ya... Heheheuu.

Yang pertama dateng adalah Mbak Icung sekitar jam 3-an sore. Mbak Linda datang sejam kemudian, sekitar jam 4. Nah begitu Mbak Linda dateng, kenalan bentar, langsung kita berangkat ke Cisurupan dengan angkot yang telah tersedia. Sesuai perjanjian dengan si bapak calo tadi, satu orang dipatok membayar Rp 20 ribu. Mahal? Standar sih untuk kami yang tidak tahu persis di mana itu Cisurupan. (*)

Senin, 20 April 2015

Part 2: Save Trip


Yang Tercecer


JUMAT(3/4), pukul 04.30 WIB. Rusuh pagi telah dimulai. Tiga alarm hape berbunyi. Mau nggak mau, kami harus bangun karena tiga alasan. Subuh, alarm, dan berangkat. Sementara Nur dan Reni yang kebetulan nginep di rumah mandi, saya kembali melanjutkan tidur. Heheheuu.

Sempet tidur bentar, akhirnya saya beneran melek dan mandi. Dan, setelah bersiap-siap sekitar setengah jam, pasukan pun berangkat ke Stasiun Purwokerto. Boncengan naik motor karena jarak dari rumah ke stasiun lumayan deket. Saya dengan Kak Ros, Nung, dan Reni. Di stasiun, ketemu sama Mas Sonny (kakaknya kita-kita) yang bawain sleeping bag (SB) buat Nung. Sembari Nung dan Reni nitipin motor, kita masuk ke stasiun dan Alhamdulillah, yang jaga peron adalah Mbak Fitri, bekas anak kos dulu. Alhasil, 'para pengantar' ini boleh masuk setelah cek tiket dan KTP.
Foto dulu sebelum berangkat di Stasiun Purwokerto sama Kak Ros. Save Trip

Lima menit sebelum kereta berangkat, Nung dan Reni dateng. Setelah kumpul, foto bareng dengan latar KA Serayu Pagi menjadi kegiatan berikutnya. Nggak lama, kami pamitan sama Kak Ros dan Mas Sonny sambil cipika-cipiki dong. Save trip, semoga perjalanan ke Garut dimudahkan dan dilancarkan. 

Tepat pukul 06.30 WIB, kereta berangkat. Suara peluit dari pemimpin perjalanan KA disambut dengan sirine tanda berangkat oleh masinis. Pong... kereta pun bergerak perlahan, menuju selatan dengan mengangkut ratusan penumpang dengan tujuannya masing-masing. Karena kereta yang kami naiki tipe ekonomi, maka nggak heran jika di setiap stasiun besar dan menengah dia berhenti. Di Kabupaten Cilacap, dia berhenti di Stasiun Kroya, Maos, Gandrungmangu, dan Sidareja. Baru setelah itu masuk ke daerah Jawa Barat yang sayangnya, saya nggak terlalu hapal di mana kereta ini mampir. 

Setelah sekian jam di dalam kereta, rasa lapar, ngantuk, dan sedikit bosan mulai menghinggapi. Nur dan Reni asyik makan serabi yang dibeli sebelum berangkat. Saya makin camilan yang dibeli semalam. Hehehe. Beruntung, pemandangan di kanan kiri, terutama saat memasuki wilayah Jawa Barat memanjakan kami. Tak lama setelah seru-seruan itu, kami mulai bosan. Tapi kami punya penangkalnya. Iyap, main kartu! Jadi ketika penumpang yang lain memilih tutup telinga, tidur, atau melamun, kami main kartu. Lumayan seru karena kebosanan kami mencair.

Sayang, rasa kantuk mulai menyerang, membuat saya menyerah dan memilih tidur. Reni juga memilih tidur dan Nur jaga hape yang lagi di-charge. Maap ya Nung... Sementara kereta api seringkali berhenti karena ada masalah di AC.

Ada satu kejadian unik yang saya alami di kereta. Ada seorang pria yang naik dari Stasiun Sidareja. Umurnya sekitar 30-an. Duduknya di sebelah saya persis. Tapi karena kami agak sedikit 'menguasai' jadilah masnya duduk di kursi seberang yang masih sepi. Sampai di Ciamis, masnya pindah duduk di sebelah saya karena kursi yang dia tempati 'kembali' pada yang berhak. 

Maka terjadilah obrolan ringan khas para penumpang. Begini kira-kira:
Saya (S): Turun di mana, Mas?
Masnya (M): Di Bandung Mbak, Kiara Condong. Mbaknya?
S: Cibatu Mas, Garut.
M: Mau backpacker ya?
S: Oh nggak, mau ke Papandayan, Mas. 

Agak hening sebentar. Kemudian si masnya sempat tanya pernah naik ke mana aja. Terus asli darimana, kuliah atau kerja, dan lainnya. Sampai akhirnya...
S: Masnya di Bandung tinggal di mana?
M: Di belakang Gasibu, dulu sempet kuliah di ITB. 
S: Ohh, kakak saya juga di Bandung, tapi di daerah Bonbin. 
M: Oh iya? Kerja atau kuliah? 
S: Kerja. Jadi di deket ITB kan ada Masjid Salman, nah di deket masjid ada kantin, Kantin Salman namanya. Kakak saya kerja di sana. 
M: (tetiba dia kaget) Cewek atau cowok Mbak, kakaknya?
S: Cewek, Mas. Yang di bagian kasir. Namanya Mbak Ar...
M: Mbak Ari bukan? 
S: (beneran kaget) Iya Mas, lho kok tahu? 
M: (tertawa) Ya tahulah, wong aku sering makan di Kantin Salman, sering ketemu sama Mbak Ari, malah akrab banget sama dia. Adiknya? 
S: Ya iya Mas, adik kandung.
M: Oh iya, pantesan mirip.
S: Apanya yang mirip, Mas. Jelas-jelas lebih kerenan saya. Heheheu.

Saya pun tersadar, ternyata kakak saya itu cukup tenar di kalangan mahasiswa dan alumnusnya ITB. Iya sih, secara kakak saya sudah puluhan tahun kerja di kantin itu. Dari sejak saya masih SD kelas 1 sampai sekarang saya udah bisa nyari duit sendiri. Setelah itu, kami pun berbagi cerita tentang kakak saya dan perjalanan ini. Si mas yang tidak saya ketahui namanya itu juga kasih tahu, untuk sampai ke Stasiun Cibatu maka harus nunggu dua stasiun lagi, yang satu di antaranya Stasiun Cipeundeuy. Makasih Mas... (*)