Tampilkan postingan dengan label slamet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label slamet. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2015

Menebas Rindu di Gunung Slamet: Puncak Nggak Akan Lari Kok


YAP. Ini adalah bagian terakhir dari tulisan khas alias feature-nya Rizqi. Tulisan ini lebih pada perjuangan mereka ke Puncak Slamet. Selanjutnya, silakan disimak. Semoga berkenan, maaf bila ada salah-salah kata. 

==================================================================

KONDISI kawah Gunung Slamet di sekelilinganya masih terdapat
 material pasir hitam akibat erupsi setahun yang lalu, Senin (28/9).
SATELITPOST/RIZKY RAMADANI


PUNCAK ada di hadap kami. Tanah tertinggi di Jawa Tengah itu, nyata di depan kami. Tinggal beberapa langkah lagi, kaki ini akan menjejak untuk kali ketiga.

Rupanya, kami sudah berjalan selama 2,5 jam dari Pos 5 Samhyang Rangkah menuju Pos 9 Pelawangan. Kami mulai pendakian dari Pos 5, tempat kami ngecamp pukul 07.30 WIB dan sampai di Pos 9, yang menjadi 'gerbang' menuju puncak Slamet pukul 09.00 WIB. 

Jalan dari Pos 5 hingga Pos 6 Samhyang Jampang tak terlalu jauh. Cukup mendaki sekitar 25 menit, kami sampai di ketinggian 2800 mdpl. Kami pun sempat beristirahat sebentar, duduk santai di sebatang pohon yang tumbang. 

Usai mengembalikan tenaga, kami kembali berjalan menuju Pos 7 yang jaraknya sedikit lebih jauh. Sepanjang perjalanan menuju pos bernama Samhyang Kendit tersebut, saya menjumpai 'keajaiban' lain, tanaman edelweis. Saya bersyukur masih bisa menjumpai si bunga abadi dengan kecantikan yang sungguh memikat ini. Sesi foto bersamanya pun jelas tak kami lewatkan.
Jalur menuju Pos 7. Iya, ini yang kebakaran kemarin.

Sayangnya, baru beberapa langkah dari rerimbunan si bunga abadi, kami menjumpai pemandangan yang tidak enak dilihat. Di jalur yang kami lewati terdapat sisa-sisa pohon bekas terbakar. Akibat dari ulah pendaki yang sembrono membuat api unggun dan tidak benar-benar dimatikan saat meninggalkan, membuat terjadinya insiden kebakaran di jalur pendakian. Kejadian ini terjadi usai dibukanya kembali jalur pendakian Slamet pasca-erupsi.

Dari Pos 7, kami langsung beranjak ke Pos 9, tanpa perlu berhenti di Pos 8 Samhyang Katebonan. Pasalnya, jarak antara ketiga pos ini teramat pendek. 

"Mau muncak, Mas? Udah, istirahat dulu saja. Puncak nggak akan lari kemana-mana kok," kata seorang pendaki yang tetiba saja menyapa kami begitu sampai di Pos 9.


Monggo, istirahat dulu, Mas. Nggak akan lari puncak dikejar. 
Ajakan ini tak kuasa kami tolak. Selain mengistirahatkan kaki, kami juga perlu menghimpun tenaga untuk pendakian ke puncak yang jelas-jelas ada di depan saya. Ya, pendakian sebenar-sebenarnya pendakian dimulai dari Pos 9. Medan terjal dengan kemiringan kurang lebih 30-45 derajat serta material batuan cadas akan menjadi sahabat kami. 

Dengan penuh perjuangan serta kesabaran, kami mulai menapakkan kaki di bebatuan cadas. Pelan-pelan agar tidak terperosok. Maklum, bebatuan di sini ada yang berbentuk kerikil yang bisa membuat kaki terperosok jika salah meniti langkah. Perlu keseimbangan serta kehati-hatian saat melewati medan ini. 

Baru setengah perjalanan di medan bebatuan tersebut, kabut mulai ikut naik. Matahari langsung tertutup awan dan sempat membuat kami kecewa. Tak mungkin menyelesaikan perjalanan dengan kondisi seperti ini. Sangat berbahaya jika semua jalur tertutup kabut. Selain juga menutup pemandangan di atas dan kawah Gunung Slamet.


Jalur menuju Puncak Slamet. Juli, lihat Mbak itu, kamu nggak kepengin? 
Kami tunggu dengan sabar sampai kemudian kabut itu menghilang dan mulai lagi pendakian. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, sampai satu setengah jam kemudian, kami berhasil melewati jalur bebatuan dari Pos Pelawangan. 

Yes. Puncak! Dua kaki saya rupanya sudah menginjak di puncak. Dua kaki saya sudah menapak di tanah tertinggi Jawa Tengah dengan ketinggian 3482 mdpl. Kami bertiga, saya, Ega Firmanto dan Mujiono sampai dengan selamat di atapnya Jawa Tengah. 

"Alhamdulillah akhirnya sampai semua di puncak," kata Mujiono, anggota organisasi pencinta alam Walang Ajibarang yang kali pertama naik ke Gunung Slamet.

Ada banyak rasa yang tak bisa dilukiskan. Haru, bahagia, senang, jadi satu. Juga rasa syukur yang tak henti kami ucapkan pada Tuhan. Sungguh, terima kasih Tuhan sudah melindungi dan menjaga kami. Sudah menciptakan karya yang luar biasa indah ini. Kami sangat kagum, terpesona, sampai tak henti-henti memandang sekeliling puncak.

Puas menikmati pemandangan ini, kami kembali berjalan menuju bibir kawah. Ada semacam tugu atau batas kabupaten antara Purbalingga-Banyumas. Dari situ, kami melihat kawah Gunung Slamet yang begitu luas, lengkap dengan lubang menganga di tengah kawah berselimutkan kepulan asap belerang. Bila ingin mengitari kawah, bisa ditempuh dengan waktu sekitar dua jam. 
PUNCAK SLAMET, 3482 MDPL. 

Saya takjub melihat karya ini. Sempurna dari Sang Maha Sempurna. Saya pun lantas mengingat bagaimana perjuangan untuk sampai di sini. Canda tawa dengan pedagang dan pendaki lain. Tertatih-tatih melewati jalur pendakian. Menikmati kemewahan di pagi hari, ngopi sambil melihat sunrise. Sungguh, ini akan jadi cerita tak terlupakan. 

Puas menikmati pemandangan di puncak, yang walaupun tertutup kabut, pukul 11.30 WIB, kami bergegas turun. Kembali ke Pos 5. Dibanding perjalanan naik, perjalanan turun kali ini lebih cepat dan tidak menguras tenaga. Yang diperlukan hanya kehati-hatian dan fokus saat menuruni lereng supaya tidak tergelincir dan jatuh ke jurang.

Satu setengah jam kemudian, tepatnya pukul 13.00 WIB, kami sudah nyante di Pos 5. Cepat kan? Kami tak ingin bergegas pulang dan memutuskan kembali 'menginap' di hotel seribu bintang, bertakhtakan bintang-gemintang di langit. 

Keesokan harinya, Selasa (28/9), kami bersiap untuk berkemas. Pulang menuju Basecamp Bambangan. Berangkat dari Pos 5 pukul 07.30 WIB, sampai di basecamp pukul 11.30 WIB. Kami sangat santai saat perjalanan pulang dengan alasan ingin lebih menikmati pemandangan di sekitar Gunung Slamet. Padahal alasan sebenarnya, kaki saya terkilir sehingga 'menghambat' laju jalan.

Bagi saya, ini sungguh perjalanan yang amat menyenangkan. Bisa kembali datang, mengunjungi Simbah Slamet adalah satu keinginan saya selama delapan tahun ini. Kerinduan padanya sudah tertebas dan tersampaikan. Lunas. Namun, bukan berarti saya tak akan lagi mengunjungi Gunung Slamet. Pasti. Suatu hari nanti, saya akan kembali lagi ke sini. Tentu dari jalur pendakian yang berbeda. Terima kasih Tuhan, alam, dan Gunung Slamet. 

Sekadar saran bagi yang ingin melakukan pendakian, siapkan fisik, mental, peralatan, dan logistik. Utamanya air. Sebagai pandangan, kami membawa tiga botol air mineral ukuran besar, dua botol ukuran kecil, dan dua derigen air masing-masing lima liter. Musim kemarau menjadikan ketiadaan mata air di Pos 5 sehingga mau tidak mau harus membawa air dari basecamp. 

Selain itu, pastikan api yang telah dibuat baik dalam bentuk rokok maupun api unggun, harus benar-benar mati. Jika tak ingin kejadian kebakaran kembali terulang dan membuat jalur pendakian kembali ditutup seperti sekarang ini. Jangan lupa juga, bawa turun sampahmu. Gunung bukan tempat sampah. Salam. (rizqi ramdhani)


note: setelah merampungkan tulisan ini, Rizqi kembali lagi ke Gn Slamet dengan dalih mengantar teman-temannya dari Bekasi. 

Kamis, 15 Oktober 2015

Ngopi di Pos 5 Sambil Menikmati Sunrise


INI adalah bagian ke dua dari tulisan, Menebas Rindu di Gunung Slamet karya layouter SatelitPost. Bagian pertama, bisa dilihat di link http://tulisanjuli.blogspot.co.id/2015/10/menebas-rindu-di-gunung-slamet.html.

Sesuai dengan judulnya, tulisan ini bercerita tentang moment sunrise di Pos 5. Tentu, masih ada satu tulisan tentang perjalanan ke puncak. Sabar ya. Untuk sementara, sila disimak. 

===========================================================
MATAHARI terbit  difoto dariPos 5 pendakian Gunung Slamet, Senin (28/9).
SATELITPOST/RIZKY RAMDHANI

DELAPAN tahun yang lalu. Tepat di tanggal 17 Agustus 2007, pagi. Usai pengibaran sang saka Merah-Putih di puncak Gunung Slamet oleh Mapala Satria UMP. Setelah perayaan Hari Kemerdekaan. Api berkobar di Pos 4 Samarantu. Kabar ini datang dari seorang pendaki dan langsung tersiar cepat, termasuk di telinga saya. 

Insiden ini memaksa saya dan 239 pendaki lainnya bertahan atau mungkin lebih tepatnya terjebak di puncak. Demi apapun, kami tak bisa turun kala itu.

Delapan tahun kemudian. Senin (28/9), saya sudah terbangun di 'rumah' kecil kami di Pos 5 Samhyang Rangkah. Di atas ketinggian 2650 mdpl itu, masih terekam jelas dalam ingatan semua detil peristiwa delapan tahun silam. 

Ya, saya selamat. Sebab tak lama dari kabar kebakaran itu, tim Basarnas bergegas mendaki untuk melakukan pemadaman. Saya tak tahu persis apa penyebab kebakaran tersebut. Itulah satu peristiwa menegangkan yang pernah saya alami saat melakukan pendakian. 

Selain saya, dua rekan dalam pendakian, Ega Firmanto dan Mujiono juga telah bangun. Walau badan masih terasa pegal, mata merah kurang tidur, kami tetap memaksakan diri untuk bangun, untuk menyaksikan sebuah keajaiban alam di pagi hari. Golden sunrise di Pos 5 Gunung Slamet.

Demi menghangatkan badan dan suasana, saya pun bergegas memasak air. Kami sepakat untuk membuat kopi sebagai minuman 'pembuka' di pagi hari. Aroma harum kopi langsung menguar begitu air panas disiramkan di atasnya, memenuhi indra penciuman. Wuuuhhh, sedeppp... Itulah kemewahan yang bisa saya rasakan di gunung. Kapanlagi bisa ngopi di atas gunung sambil lihat sunrise?!

Bersandingkan secangkir kopi, kami bersama para pendaki lain, berdiri memandang ke arah yang sama. Timur. "Ini nih moment yang paling saya tunggu kalau manjat (Gunung) Slamet, lihat sunrise," kata seorang pendaki yang duduk di depan tenda. Mau tidak mau, ucapannya harus saya amini. 

Dan, kejadian tersebut cepat saja. Di timur, pancaran garis cakrawala berwarna merah kekuningan mulai terlihat. Itu jadi satu tanda, sang penguasa siang akan segera terbit. Saya pun bersiap, berbekal kamera ponsel, mengarahkan posisi di mana ia akan muncul dan mulailah, klik klik klik. Ia, matahari bangun, muncul dan menampakkan diri. Menjadikan semua panorama yang lihat menguning, bukan kuning melainkan, menjadi emas seperti warnanya. Juga semburat warna biru. Menjadikan langit yang semula pekat menjadi terang. Membangunkan semesta raya dan tentu saja saya yang masih terkantuk-kantuk. 

"Mas, minta tolong fotoin dong, yang belakangnya ada sunrise ya," pinta seorang pendaki wanita sembari menyodorkan kameranya. 

Saya pun tak kuasa menolak permintaan itu, walau sebenarnya saya juga kepengin difoto seperti itu. Hehehe.

Sejuknya udara pagi, ditambah kicauan burung, suara khas babi hutan, dan lolongan anjing hutan menambah semarak suasana pagi hari di Pos 5. Hijaunya punggungan bukit yang mulai terlihat kala matahari kian meninggi, membuat mata semakin segar. Sebuah harmoni panorama yang luar biasa indah. 

Suasana dan kondisi Pos 5 juga kian ramai dengan coletehan-celotehan para pendaki. Ada sekitar lima tenda yang berdiri di camp area tersebut. Dalam hitungan saya, itu banyak dan sempat membuat kami bingung saat mendirikan tenda. Kondisi Pos 5 sekarang jauh berbeda dibanding dulu. Dulu, area camp masih luas. Sekarang, sudah nampak rimbun dengan tanaman perdu. 

Tak terasa, jarum jam sudah menunjuk angka enam. Saatnya sarapan. "Gie arep masak apa nggo sarapan? Masak sayur bayem bae apa?” tanya Ega kepada saya. 

"Ya kena, sing penting kena nggo sarapan, nyong tak gawe wedang susu ya," sahut saya kepada Ega, si atlet maraton. 

Momen kebersamaan dan canda tawa riang menemani aktivitas pagi itu. Tentu saja, apapun makanannya tetap kami lahap sebab bagaimana pun saat melakukan pendakian ke puncak, jangan sampai perut dibiarkan kosong. Sarapan itu kunci. 

Usai sarapan, kami masuk ke tenda, menyiapkan bekal untuk summit attack. Bersiap menuju puncak. Bersiap menjejak di ketinggian 3428 mdpl. Bersiap melangkah di tanah tertinggi di Jawa Tengah. Tuhan, restui dan lindungi perjalanan kami. (*)


penulis: rizqi ramdhani
editor: sri juliati



Senin, 12 Oktober 2015

Menebas Rindu di Gunung Slamet




Panorama Gunung Slamet dari Puncak Sakub, Bumiayu.
Foto diambil tanggal 4 September 2014 oleh Fikri Adin.


SELAMAT malam. Entah kapan pun Anda membaca ini, tetaplah selamat malam dari saya. Ya, karena saya ngepost tulisan di malam hari, usai berkutat dengan banyak tulisan.

Tulisan kali ini soal pendakian Gunung Slamet. Iya, gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut akan menjadi objek tulisan ini. Gunung yang berlokasi di lima kabupaten di Jawa Tengah, Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes. 

Dan, kejutan! Kali ini, bukan saya yang menulis melainkan Rizqi Ramdhani. Perkenalkan, dia adalah layouter SatelitPost, yang biasa 'nata' halaman saya, halaman Leisure, cum yang sering ngajak berantem.

Rizqi dan timnya. Dari kiri: Ega, Rizqi, dan Mujiono. 
Ceritanya, akhir bulan September tepatnya Minggu (27/9), dia naik ke Gunung Slamet bareng kedua temannya, Ega dan Mujiono. Saya kenal Ega, karena pernah bareng ke Merbabu. Atlet lari dia, booo... Nama terakhir, saya nggak kenal. 

Sebelum berangkat, Rizqi sempat mampir ke rumah, ambil senter dan SB. Nah di situlah peran pertama saya: meminjamkan dua alat ini. Penting nih buat disebutin. Coba kalau nggak ada SB, dia mau tidur pakai apa coba? :v


Selasa (29/9) sore, saya lihat dia sudah ganti DP BBM. Tandanya, dia sudah turun, sudah di kosan dengan nyaman, dan sudah mandi. Langsung saya berondongkan beribu-ribu pertanyaan, terutama soal kondisi dan jalur pendakiannya via BBM. 

Penjelasan bla bla bla, saya usulkan gimana kalau cerita pendakiannya ditulis jadi feature atau tulisan khas buat di koran. Awalnya dia nggak mau, minder. Wong job tiap hari nata berita kok suruh nulis. Tapi bukan Juli namanya kalau nggak bisa ngerayu! Hahaha. Sejurus kemudian, oke dia mau asal nanti diedit. Santai mah. Urusan edit-mengedit, that's my job!

Rupanya, menulis feature tak semudah yang dibayangkannya. Dua hari kemudian, dia lapor: "Gieelah, aku wis nulis akeh banget, malah dadi puisi." Saya pun menjawab: "Kalem Qi, semangattttt. Hanya masalah terbiasa dan tidak." 

Beberapa hari kemudian, jadilah tulisan khas itu. Mau tahu panjangnya berapa? Tujuh lembar! Begitu saya buka, yang saya lihat bukan tulisannya tapi foto-fotonya. Hahaha. Tulisan baru saya baca pas malam Minggu (3/10), jelang tidur sambil BBM-an sama yang bersangkutan, detailing tulisan yang boleh saya kasih nilai, 6. Hehehe. 

And, this is. Tulisan perdana dari Rizqi soal Gunung Slamet yang mau tidak mau harus saya re-write. Tentu sudah ada persetujuan dari yang bersangkutan, termasuk pemuatan di blog.

Ini tulisan pertama. Masih ada satu atau mungkin dua tulisan lagi yang merupakan sambungannya. Kenapa nggak langsung semua? Karena terlalu panjang dan saya mengikuti jadwal pemuatan di koran SatelitPost, So, happy reading. Terima kasih sudah mampir. 

======================================================================
Dari Kabut hingga Badan Membentur Pohon 

DELAPAN tahun tak menjejakkan kaki di tanah tertinggi di Jawa Tengah, membuat saya rindu. Alhasil, saat pendakian menuju Gunung Slamet resmi dibuka kembali pasca-erupsi 2013 lalu, saya pun segera bergegas, menebas kerinduan ini. 

Bersama kedua kawan saya, Ega Firmanto dan Mujiono, kami menyusuri jalanan Purwokerto-Purbalingga menuju Dusun Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Minggu (27/9). Di dusun tersebut, berdirilah posko atau yang biasa disebut Basecamp Bambangan yang menjadi satu di antara pintu masuk menuju Gunung Slamet. 

Setelah berkutat pada jalanan yang berkelak-kelok, menanjak, plus menahan beban carriel yang telah menempel di punggung sejak dari keberangkatan, sampailah kami di Basecamp Bambangan, pukul 15.30 WIB. 

Ramai. Begitulah suasana yang dapat saya gambarkan. Para pendaki mulai menjejali basecamp. Beberapa dari mereka adalah yang ingin turun alias pulang. Sementara lebih banyak yang baru saja datang, hendak naik. Seperti kami. Dari informasi yang saya peroleh dari petugas, ada 500 pendaki yang akan melakukan pendakian pada hari itu. Rerata berasal dari Purbalingga, Purwokerto, Magelang, hingga Jakarta. 

Sebelum mendaki, para pendaki wajib melapor pada petugas dan membayar retribusi sebesar Rp 5 ribu sebagai perawatan sarana dan prasana serta Rp 10 ribu untuk parkir kendaraan. Kami pun tak langsung naik. Beristirahat sejenak demi mengembalikan tenaga sembari menata ulang perbekalan, agar jangan sampai ada yang terlewatkan dan terlupakan.

Usai packing dan badan kembali bugar, kami bersiap. Bersiap mendaki, bersiap menyatu dengan alam, dan bersiap menggenapkan kerinduan. Tak lupa, doa dirapalkan agar Tuhan merestui perjalanan ini.

Pukul 16.30 WIB, kami mulai langkah pertama menuju Gunung Slamet. Baru beberapa langkah, sudah menerima ucapan selamat datang dari kabut tebal yang 'turun gunung.' Menghalangi sebagian pandangan. Tapi bagi kami, itu adalah keasyikan tersendiri.

Jalur menuju Pos 1 (Pondok Gembirung) sebenarnya belum begitu sulit. Kami hanya perlu melewati jalur sempit nan berdebu yang diapit ladang sesayuran dan umbi-umbian milik warga sekitar. Meski tak begitu menanjak, cukup untuk membuat tenaga mulai terkuras dan mandi keringat.

Tak terasa, jarum jam menunjuk 17.45 WIB, jelang Magrib. Dengan napas tersengal-sengal, kami pun sampai di Pos 1 dengan ketinggian 1990 mdpl. Capek. Namun, rasa lelah itu seketika terobati kala bertemu dengan warga setempat yang berjualan. Iya, di pos ini, masih bisa menemukan penjual yang menjajakan beragam makanan seperti gorengan, buah-buahan, dan minuman kopi dan air mineral. 

Pondok Gembirung merupakan Pos 1 di JalurBbambangan. 
Terdapat warga yang berjualan bagi para pendaki yang sedang istirahat.
 Mereka berjualan pada hari Sabtu dan Minggu.
Jangan tanya soal harganya. Untuk satu potong gorengan dihargai Rp 1.500, air mineral ukuran sedang Rp 6 ribu, serta nanas dan semangka dihargai Rp 3 ribu per potong. Mahal? Sebanding dengan usaha mereka mendaki sembari memanggul barang dagangan. Apalagi, mereka hanya berjualan saat akhir pekan.

Sambil menunggu azan Magrib, melepas lelah, saya pun menyomot beberapa poyong semangka dan nanas. Segarrr. Langsung memenuhi tenggorokan. Pun masih diberi bonus cerita-cerita tentang Gunung Slamet. Utamanya soal Pos 1 alias Pondok Gembirung. Nama Gembirung diambilkan dari seorang tetua yang sangat dihormati oleh warga sekitar, yaitu Kajeng atau Ki Ajeng Gembirung. 

Segendang sepenarian dengan Pos 2 yang dinamakan Pos Walang. Diambilkan dari nama Kajeng Walang. Sayang, kisah bagaimana penyematan kedua nama itu di pos pendakian, tak banyak diketahui. Hanya juru kunci dan anaknya yang mengetahui.

Malam pun turun. Menggantikan sore demi memberi kesempatan pada matahari untuk kembali ke peraduan. Tenaga kami telah kembali dan siap melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 Walang, ditemani sinar rembulan. 

Jarak dari Pos 1 menuju Pos 2, lumayan jauh. Dalam hitungan jarak datar, kurang lebih 725 meter dan bisa ditempuh dengan waktu 40 hingga 60 menit. Namun, kami 'berhasil' menyelesaikannya dalam waktu 1,5 jam alias 90 menit. Lebih lama dari hitungan normal. Selain trek yang kian menanjak, juga mulai kelelahan. Di Pos 2, kami mulai menjumpai beberapa pendaki yang sudah berkemah. Rerata adalah pendaki yang baru saja turun dari puncak dan memutuskan untuk membuat tenda di Pos 2 dengan ketinggian 2245 mdpl.

Istirahat sebentar, kami segera bergegas. Malam pun kian pekat, membimbing kami menuju Pos 3 Pondok Cemara. Jaraknya tak jauh. Hanya butuh 40 menit. Tepat pukul 21.45 WIB, kami tiba di ketinggian 2475 mdpl. Rupanya kami tak sendirian. Ada sekelompok pendaki asal Purbalingga yang tengah beristirahat sambil menghangatkan badan dengan membuat api unggun. 

Surprise. Tak hanya mereka namun juga dua orang pedagang! Ya, di ketinggian nyaris 2500 mdpl, kami masih menjumpai pedagang. Walau tak selengkap di Pos 1, tetap saja ini kejutan. Ditambah perut kembali berteriak, meminta kembali diisi. Jadilah lontong dan gorengan tahu empat biji yang tersisa, kami tandaskan. Habis. Kenyang. Badan pun ikut terasa hangat di tengah dinginnya malam yang kian merambat. 

Pukul 22.00 WIB, kaki siap diajak ke pos selanjutnya. Pos 4? Bukan, itu bukan pos tujuan utama. Langsung menuju Pos 5 Samhyang Rangkah di ketinggian 2650 mdpl. Bukan tanpa alasan kenapa kami memilih melewati pos di ketinggian 2555 mdpl tersebut. Angker. Sesuai nama yang disematkan pada Pos 4, Samarantu yang artinya hantu samar-samar. Itulah kenapa para pendaki, tak terkecuali kami menghindar untuk mendirikan tenda di pos ini. 

Bergegas ke Pos 5, kami harus melewati jalur yang menyempit disertai cerukan dalam. Tak terhitung berapa kali ransel harus tersangkut di ranting pepohonan yang melintang di atas kepala. Itu sebabnya, harus lebih menunduk. Namun apa daya, makin gelapnya malam dan semakin lelahnya badan, membuat saya beberapa kali kehilangan konsentrasi.

"Aduh! Sirahku," seru saya pada dua kawan yang berjalan di depan. 

"Kenangapa ko?" tanya Ega. 

Naik-naik ke puncak gunung, indah-indah sekali.
Saya pun mengusap-usap kepala yang terasa nyeri. Setelah saya selidiki, rupanya baru saja saya membentur sebuah pohon. Senter yang saya kenakan tak cukup membantu penghilatan. Tidak keras tapi cukup membuat saya mengaduh. 

Dan setelah perjalanan melelahkan dan menguras tenaga itu, sampailah kami di Pos 5. Di sana, kami telah menjumpai para pendaki yang telah terlebih dahulu mendirikan tenda, memasak, melepas lelah, tidur. Seperti kami yang sejurus kemudian langsung membuka peralatan, bergegas memasang tenda, dan istirahat. 

Sebenarnya, kami ingin ngecamp di Pos 7 supaya lebih santai saat perjalanan ke puncak. Namun atas saran dari pedagang di Pos 3 tadi, kerap ada kawanan babi liar yang usil dan membawa carrier pendaki di Pos 7, maka kami memilih ngecamp di Pos 5, tepat pukul 22.45 WIB. 

Enam jam 15 menit. Itu waktu yang kami tempuh dari Basecamp Bambangan menuju Pos 5. Cukup membuat kami mandi keringat. Cukup menguras tenaga. Dan cukup sampai di sini dulu. Kami harus lekas tidur demi pendakian menuju puncak, keesokan harinya. (*)


penulis: Rizqi Ramdhani
editor: Sri Juliati 



Sabtu, 01 Agustus 2015

Surga Curug Itu Bernama Banyumas



BANYUMAS boleh bangga. Berada di lereng Gunung Slamet, tanah ini dianugerahi dengan buanyak sekali air terjun atau biasa kita menyebutnya dengan nama curug.  

Tak terhitung berapa banyaknya air terjun di Banyumas. Bisa jadi puluhan, bahkan sangat mungkin ratusan. Rasanya, sangat pantas bila menyebut Banyumas adalah surganya curug.

Akhir-akhir ini, wisata curug memang tengah digandrungi banyak orang. Tua-muda, besar-kecil kesengsem dengan keindahan yang ditawarkan. Walau hanya sekadar berfoto untuk kemudian di-upload ke media sosial, hal ini menjadi keasyikan tersendiri. 

Tak ada yang salah dari aktivitas yang ini. Yang salah adalah mereka yang datang ke lokasi-lokasi curug ini lantas merusak alam dengan membuang sampah sembarangan dan melakukan aksi corat-coret. 

Dan, berikut SatelitPost merangkum beberapa kemegahan air terjun di kawasan Baturraden, Banyumas. Meski hanya sedikit, setidaknya bisa menjadi referensi tempat melepas penat dan lelah dari Purwokerto yang mulai ramai. Selamat menjelajah. Jangan lupa bawa sampahnya!

1. Desa KarangsalamCURUG Telu, Lawang, Moprok, Abang, Kembar, dan Tebela adalah beberapa curug yang ada di Desa Karangsalam. Kesemuanya memiliki keunikan masing-masing. 


Curug Telu
Curug Telu misalnya. Sesuai namanya, curug ini terdiri dari tiga air terjun yang jatuh dari ketinggian sekitar 25 meter. Curug ini lantas membentuk sebuah kolam yang sangat bisa digunakan untuk berenang, lantas mengalir membentuk sungai. 

Akses ke Curug Telu bisa dibilang cukup mudah namun melelahkan. Anda harus melalui anak tangga. Tak jadi masalah saat turun tapi saat naik atau perjalanan pulang, lutut rasanya mau copot.

Tak jauh dari Curug Telu, Anda bisa menikmati Curug Lawang atau Bidadari. Jatuh dari ketinggian sekitar 10 meter, curug ini seperti berada di dalam gua yang terbentuk dari tebing-tebing di sekitar curug. 


Curug Moprok
Bagi Anda yang senang menjelajah sungai, maka Curug Moprok bisa menjadi destinasi. Pasalnya, untuk sampai di curug yang berketinggian sekitar 80 meter ini, satu-satunya jalan yang harus dilalui adalah sungai dengan bebatuan besar. Hati-hati saat melangkah, bisa-bisa terpeleset.

Sedikit mlipir dari ketiga curug yang lokasinya berdekatan tersebut, bisa menjelajah ke Curug Abang dan Kembar yang benar-benar masih fresh dan belum terlalu banyak pengunjung. Ketiadaan akses yang memadai sepertinya menjadi alasan. Sebab, untuk sampai ke kedua lokasi ini, Anda harus menyusuri sawah dan sungai. 


Curug Jumeneng
Seperti Curug Jumeneng atau Juneng. Setelah melewati sawah, satu-satunya jalan adalah dengan menuruni tebing. Tak terlalu tinggi tapi cukup membuat lutut gemetaran. Namun, perjalanan melelahkan itu tak akan pernah sia-sia sebab keindahan alam membentang di hadapan. Curug Jumeneng juga bisa menjadi lokasi favorit bagi Anda yang hobi berenang. 

2. Desa Kemutug
ADA beberapa curug di Desa Kemutug yang bisa dijelajahi. Di antaranya Curug Lumarap/Gagak, Carang, dan Orak-arik. Istimewanya lagi, belum banyak orang yang datang ke sini. Alhasil Anda bisa menikmati curug-curug ini layaknya air terjun pribadi. Asyik.
Curug Lumarap atau Gagak


Curug Carang
Tak jauh dari Curug Lumarap, ada Curug Carang. Dibandingkan Curug Gagak, debit air di curug ini jauh lebih besar dan kencang. Membentuk kolam dengan air yang berlimpah. Biasanya, kolam ini dimanfaatkan warga untuk memancing.
Bagaimana aksesnya? Bolehlah dikatakan agak sulit dan menantang. Karena setelah berjalan jauh sekitar 30 menit menembus ladang kopi, Anda harus menuruni tebing yang cukup tinggi dengan cara merayap. Posisi tebing memang sangat menyulitkan untuk turun dengan cara biasa atau bahkan mengesot.



















3. Desa Ketenger
NAMA Curug Gede dan Bayan jelas sudah tak asing lagi. Namun jika Anda ingin menjelajah selain dua curug itu, maka Curug Penganten bisa menjadi pilihan. Disebut Curug Penganten lantaran curug dengan ketinggian 50 meter tersebut memiliki dua aliran alias sepasang. 
Curug Penganten

Untuk sampai ke lokasi curug ini, siap-siap saja dengan perjalanan menembus hutan lereng Gunung Slamet sekitar 1,5 jam dengan trek layaknya pendakian. Tenang, semua itu bakal terbayar lunas. Namun, karena aliran airnya yang cukup besar plus bebatuan nan tajam kurang disarankan untuk mandi. (*)









* Tulisan ini sudah termuat di Harian Pagi SatelitPost edisi Jumat (31/7) halaman Leisure Time.