Sabtu, 22 Agustus 2015

Catatan Pendakian Menuju Gunung Sumbing

Mendaki gunung bukanlah hobi utama saya. Namun, saya cukup senang bila diajak melangkahkan kaki ke tempat-tempat tertinggi. Seperti, pekan kemarin, ketika seorang kawan mengajak saya ke Gunung Sumbing.



JARUM jam menuju angka delapan. Motor saya sudah mengaspal di jalanan Banyumas-Banjarnegara, Minggu (16/8). Jalanan, relatif sepi pagi itu. Jadilah dengan kecepatan penuh, kami, saya bersama ketiga rekan, Reni Suryati, Supri, dan layouter SatelitPost, Anas Masruri, beranjak menuju Wonosobo. 

Kami sempat berhenti dua kali. Pertama di daerah Banjarnegara untuk mengisi perut dengan semangkuk soto Semarang nan menyegarkan. Kedua, di Pasar Kretek, Wonosobo, membeli buah-buahan sebagai bekal pendakian.

Sekitar pukul 11.15 WIB, kami tiba di pos pendakian Gunung Sumbing, Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Wonosobo. Tak hanya kami, puluhan bahkan ratusan pendaki telah memadati satu di antara basecamp yang menjadi jalur resmi pendakian gunung setinggi 3.371 mdpl ini. Tujuh kilometer dari basecamp, gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah itu, gagah menyambut kami.

Sempat beristirahat selama 1,5 jam sembari memastikan tidak ada bekal yang tertinggal, tepat pukul 13.00 WIB, pendakian pun dimulai. Cuaca cerah, cenderung panas memayungi kami. Awalnya, kami melintasi jalur beraspal sebelum sampai jalur bebatuan yang tersusun rapi, membelah Dusun Garung. 

Gunung Sumbing dari basecamp Dusun Garung. 

 Di sepanjang jalan, aroma tembakau kering menyeruak, menguar, memenuhi lubang pernapasan. Lembaran daun tembakau itu ditata rapi, dijemur di depan rumah, lapangan. Ya, sebagian besar warga di dusun menggantungkan nasib hidupnya dari ladang tembakau. 

Wajah-wajah ceria para pendaki. ki-ka: Mas Supri, Mas Anas, Reni
Selepas menikmati perjalanan di dusun tersebut, kami masuk ke ladang warga dan sempat berbincang dengan seorang petani yang hendak pulang soal harga tembakau. "Alhamdulillah, panen Mas, sak niki sekilo biasane seket ewu (Alhamdulilah, panen, Mas, sekarang satu kilogram Rp 50 ribu)," kata pria paruh baya sambil menenteng cangkul itu. 

Usai dari ladang warga, kami kembali bertemu dengan jalan bebatuan yang ditata rapi atau makadam sebelum menuju Pos 1 Malim KM III. Bisa dibilang, jalur ini cukup menyita tenaga dan waktu. Selain panjang, jalur ini mulai menanjak. Kami lebih sering berhenti untuk melepas lelah. 

Sebenarnya, ada cara 'mudah' menyelesaikan jalur ini yaitu menggunakan transportasi ojek. Warga sekitar menawarkan jasa ojek mengantar pendaki dari basecamp menuju Pos 1. Tarifnya sekitar Rp 25 ribu sekali jalan. Lumayan, bagi mereka yang ingin menyimpan waktu dan tenaga. 
Mereka, nampak dari belakang menuju Pos 1. Semangat, kakak!!!!
 Saat sinar matahari mulai meredup dan sayup terdengar suara azan Magrib, kami memutuskan berhenti. Meletakkan beban yang semakin berat di punggung, sembahyang, dan membuat teh, sebagai penghangat suasana yang semakin dingin. Rupanya, kami telah memasuki Pos 2 KM IV Genus. 

"Lepas dari Pos 2, nanti nglewatin jalur namanya engkol-engkolan. Ada tiga lajur tapi semuanya ketemu di titik sama. Dinikmatin aja jalannya, nyante, nggak usah cepet-cepet. Kalau capek, istirahat. Soalnya jalurnya nikmat bangettt," ujar Supri. Sebagai jawaban, kami menganggukkan kepala sambil memakai masker, kaus tangan, dan menyalakan senter. Perjalanan menuju Pos 3 pun dimulai di bawah langit yang mulai menghitam. 
Jalur pendakian mulai Pos 1

Baru saja melangkah, rombongan kami berhenti. Banyaknya pendaki yang naik, membuat kami berjalan satu per satu. Antre. Tak apa. Anggap saja sembari melepas lelah. Dibanding jalur yang telah kami lalui sebelumnya, jalur engkol-engkolan jauhhh lebih susah. Kondisi jalur berupa track tanah merah berpasir dan sedikit licin. Minim pohon lagi. Bila tak hati-hati melangkah, bisa saja terpeleset.

Banyak pendaki bilang, tanjakan di jalur ini sungguh tak manusiawi. Maksudnya, sama sekali tak ada bonus berupa jalan datar. Tanjakan curam semua. Apalagi dengan kemiringan hingga 70 derajat. Alhasil, sebagian besar dari tanjakan ini saya lalui dengan merangkak, merayap. Tenaga pun nyaris terkuras habis di jalur ini. Entah sudah puluhan kali kami berhenti di jalur ini. 

Semangat saya nyaris down. Rasanya, hampir mustahil menyelesaikan ongkel-ongkelan. Ini belum separuhnya. 

"Istirahat dulu aja, santai. Kalau capek, lihat ke bawah, lihat apa yang kalian udah lalui," ujar Supri yang sepanjang perjalanan terus menyemangati kami. 

Ya, di antara kami berempat, maka Supri-lah yang bisa dibilang senior. Terhitung, sudah tiga kali ia mendaki Gunung Sumbing yang membuat pria asal Banyumas ini hapal jalur pendakian. 

Benar saja. Saat kami berbalik, duduk, merebahkan badan, terhampar luas pemandangan Wonosobo di malam hari. Kerlap-kerlip lampu, lalu-lalang kendaraan di jalan utama Wonosobo-Temanggung, Gunung Sindoro, gagah menjulang di depan kami, menjadi penawar lelah paling ampuh malam itu. Apalagi saat mendongak ke atas, ke langit. Langit malam itu cerah, dipenuhi bintang. Spektakuler.

Teriakan semangat dari rekan sesama pendaki, juga membuat rasa lelah dan down perlahan hilang. Setiap kali kami berhenti, maka pemandangan nan eksotis dan hentakan semangat menjadi obat. Rasa pesimistis sirna, digantikan dengan optimisme tinggi: yakin sampai tempat camp.

Dan setelah melalui engkol-engkolan, sampailah di Pos 3 KM V Sedelupak Roto. Total, kami telah berjalan sepanjang lima kilometer. Di Pos 3, telah banyak berdiri tenda. Karena tak ada lagi tempat untuk mendirikan camp, kami memutuskan untuk kembali menanjak hingga ke Pestan yang menjadi lokasi ngecamp paling favorit.

Namun, jalur menuju Pestan bukanlah jalur yang nyaman karena harus kembali melewati track menanjak. Meski tak seperti jalur engkol-engkolan, tetap saja, kami kewalahan. Berkali-kali kami menyemangati diri kami masing-masing. "Sebentar lagi sampai, sebentar lagi sampai."

Pestan merupakan kawasan yang hampir keseluruhan hanyalah rerumputan dan hanya ada beberapa pepohonan kecil. Alhasil, angin berhembus sangat kencang di area ini. Namun, di sini, telah berdiri tenda yang akan menjadi 'rumah' para pendaki. 

Setelah menemukan sedikit tanah kosong, di balik rerimbunan, kami pun berbagi tugas. Supri dan Anas mendirikan tenda, sedangkan saya dan Reni memasak. Mi rebus telur dengan lauk ikan asin dan teh hangat menjadi santapan kami malam itu. Tak terasa, jam menunjuk angka 10 dan kami pun bersiap tidur, demi perjalanan ke puncak, dinihari nanti.

=====================================================================


Perjalanan 4,5 Jam Terbayarkan


ANGIN malam menderu. Menghantam sisi-sisi tenda. Suara kerasnya membuat saya terbangun. Senin (17/8), pukul 01.20 WIB.

Setelah memastikan tak ada apa-apa dengan 'rumah' kami, saya kembali merebahkan badan, memejamkan mata. Suara angin terus bergemuruh. 

Barulah pada pukul 02.00 WIB, saat alarm berbunyi, kami berempat, saya, Reni Suryati, Supri, dan Layouter SatelitPost, Anas Masruri benar-benar bangun, membuka tenda. 

"Wuzzzz wuzzzz wuzzzz." Angin dingin menampar wajah. Kami pun kompak, kembali masuk tenda.

Sambil mengumpulkan 'nyawa', di dalam tenda, kami menyiapkan beberapa perbekalan untuk perjalanan menuju puncak Gunung Sumbing sesuai rencana. Di samping membuat teh untuk menghangatkan badan. 

Selepas bersiap dan badan sudah mulai beradaptasi dengan hawa dingin di ketinggian 2.437 mdpl, tepat pukul 03.00 WIB, kami memulai perjalanan. Menuju puncak. Menuju ketinggian 3.371 mdpl.

Telapak tangan diusap-usapkan untuk 'mengalirkan' udara hangat. Jaket dirapatkan. Sambil berjalan, sambil berdoa. Harapan agar Tuhan memberi kemudahan dan kelancaran untuk summit attack pagi ini, membumbung tinggi. 

Langit masih pekat. Cahaya senter dari para pendaki lainnya, dengan tujuan yang sama, mulai nampak. Menciptakan formasi bak bintang berjalan. Kaki-kaki kecil mulai menapaki jalur pendakian. Selangkah demi selangkah.

Teriakan semangat, izin jalan duluan, permisi, memenuhi jalur Pestan menuju Pasar Watu. Disebut Pasar Watu, karena jalur ini berupa bebatuan yang berserakan. Hati-hati saat melangkah dan berpijak. Bisa jadi batu yang dipijak tak cukup kuat dan membuatnya tergelincir, jatuh. Para pendaki akan berseru, mengingatkan pendaki lainnya atau yang di bawah untuk menghindar dengan kata 'awas batu' dan 'rock'.

Cukup lama kami berkutat di Pasar Watu. Track yang kian menanjak, tanpa ampun, dan tiada henti. Sempat ada bonus sedikit berupa jalan menurun yang di sisi kirinya terdapat jurang. Setelah itu, kami kembali menemui tanjakan curam. Dahi dan lutut semakin lebih sering beradu, bertemu saking curamnya. Dan saya, entah sudah berapa kali saya menyelesaikan jalur ini dengan merangkak. 
Jalur ke Watu Kotak. Foto diambil saat turun.

"Sesekali kita memang harus merangkak, menunduk, untuk bisa sampai ke puncak. Sama kayak hidup," kata Supri seraya menyemangati kami yang mulai kelelahan.

Usai melintasi Pasar Watu, di hadapan kami ada sebuah batu yang amat besar. Lokasi ini disebut Watu Kotak yang merupakan perbatasan kilometer VI. Kami pun melepas lelah. Berbalik dan melihat ke bawah. 

Pemandangan super keren terbentang di hadapan. Awan berarak, menyelimuti wilayah Wonosobo-Temanggung. Bagai lautan warna putih. Semburat warna orange, khas matahari hendak bangun memberi warna tersendiri. Indah dan amat eksotis. Kami pun terhipnotis dengan keajaiban ini.

"Kerennnnn bangettttttt. Amazingggg, gengs...," teriak saya.
Spektakuler di pagi hari. Lautan awan dari ketinggian 2.763 mdpl

Semuanya terkagum. Bahagia. Sempurna, terbentang keindahannya. Sempurna, karena ini ciptaan dari sang Maha Sempurna. Syukur pun kami panjatkan melalui doa di subuh itu. 

Panorama ini menjadi obat segala letih. Memompa semangat demi kembali meneruskan perjalanan menuju puncak. Dari Watu Kotak, kami mendaki menuju Tanah Putih. Track menanjak dengan bebatuan belumlah habis.

Tepat saat sampai di Tanah Putih, matahari di hari Kemerdekaan, Senin, 17 Agustus terbit. Memberi warna terang pada semesta. Memancarkan cahaya benderang. Menyingkap pekat dan gelap yang masih menggantung di langit. Sementara di atas sana, sayup terdengar lantunan lagu Indonesia Raya dari para pendaki yang telah terlebih dahulu sampai. 

"Nggak masalah, nggak dapat sunrise di puncak. Sampai di puncak aja udah bersyukur banget, sunrise itu bonus," ujar Supri yang terus sepanjang perjalanan, tak henti membagikan semangat dan membimbing kami. 

Ya bagi kami, terutama saya, menikmati sunrise di puncak gunung adalah bonus setelah melewati semua ini. Yang paling utama, bagaimana kami semua bisa sampai puncak bersama dan pulang dengan selamat. 
Jalur di Tanah Putih. Foto diambil saat turun. 
Bisa dibilang, jarak Tanah Putih menuju puncak Gunung Sumbing, hanyalah sepelemparan batu. Tak seperti jarak track engkol-engkolan, jalur Pestan menuju Pasar Watu, atau bahkan dari basecamp sampai ke Pos 1. Dekat. Tapi terjalnya jalur membuat kami lebih kerap berhenti. Ditambah dengan tenaga yang nyaris terkuras. 

Maka dengan sisa-sisa tenaga, kami kembali mendaki, walau tertatih-tatih sambil terus menyemangati diri sendiri: "Sebentar lagi puncak, Jul. Sebentar lagi. Kuat, kuat." 

Sekitar 100 meter dari puncak, kami menemukan pertigaan. Satu lurus, terus mendaki dan ke kanan untuk menuju Puncak Kawah Gunung Sumbing. Kami memilih lurus. Puncak Buntu menjadi tujuan. Gunung Sumbing memang memiliki dua puncak yaitu Puncak Buntu dan Kawah dengan ketinggian yang tak jauh beda. 

Saat tenaga sudah habis, kaki sudah tak lagi kuat untuk terus mendaki, dan matahari kian benderang, rupanya kami telah sampai di bagian tertinggi dari Gunung Sumbing. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4,5 jam dari Pestan, dari pukul 03.00-07.30 WIB, sampailah kami di puncak tertinggi kedua di Jawa Tengah ini. 

Gunung Sindoro, Gunung Prau, dan Pegunungan Dieng
Setelah menemukan tanah sedikit lapang, cukup untuk meluruskan kaki dan punggung, kami berhenti. Menghadap ke depan dan tampaklah di sana Gunung Sindoro, gagah menjulang. Gunung setinggi 3.136 mdpl itu tampak merayu. Di belakangnya, ada Gunung Prau, yang saat 17-an kemarin rupanya disambangi 6 ribu pendaki. Juga Gunung Slamet dan kawasan Pegunungan Dieng. Sementara jika berbalik ke belakang, Gunung Merapi, Merbabu, dan Lawu 'menyembul' di antara lautan awan.

Rasanya, saat berada di titik tinggi walau bukan yang tertinggi di Gunung Sumbing, sangat luar biasa. Ada rasa puas, syukur yang tiada terhingga. Yang tak mampu dijabarkan dengan serentatan kata-kata, selain dengan kata: Alhamdulillah.

Bagaimana tidak. Setelah melewati jalur terpanjang dari basecamp ke Pos 1, dari Pos 1 ke Pos 2, melintasi engkol-engkolan demi menuju Pos 3, yang disambung melintasi tanjakan ke Pestan, 'bermain' di antara bebatuan di Pasar Watu, beristirahat di Watu Kotak, dan mendaki di Tanah Putih, semua lelah dan usaha keras itu terbayar.

Cozmeed dan puncak tinggi Gunung Sumbing
Dari ketinggian 3.371 mdpl itu, kami banyak belajar. Pantang menyerah, kerjasama, saling menyemangati, sabar, dan legowo. Pantang menyerah dengan segala tanjakan. Kerjasama, bagaimana saling berbagi peran. Saling menyemangati saat ada satu di antara kami mulai hopeless. Sabar karena puncak tak akan lari. Legowo tidak bisa menikmati momen sunrise.

Di puncak itu, berfoto menjadi agenda wajib. Kami juga memasak nasi goreng dan teh hangat. Rasanya, sudah pasti sangat lezat. Apalagi bukan hanya kami saja yang menikmati, beberapa rekan pendaki lain juga ikut 'menghabiskan.'
Monggo, nasi goreng spesial dicicip... :) 

"Monggo, Mas, dicicipi. Lumayan lho..." seru layouter SatelitPost, Anas Masruri pada rekan pendaki lain yang duduk di sebelah kami. 

"Iya, Mas. Ayo, ayo, kita semua di sini saudara, nggak usah sungkan-sungkan, habiskan..." kata Supri menimpali.  Benar saja, lima menit kemudian. Seporsi nasi goreng itu langsung tandas. 

Puas menikmati puncak Sumbing, kembali ke tenda di Pestan menjadi agenda selanjutnya. Bisa dibilang, waktu tempuh saat naik dan turun berbeda, nyaris separuhnya. Jika untuk naik kami butuh waktu 4,5 jam, saat turun kami menghabiskan waktu dua jam. Setelah berkemas, memastikan tidak ada sampah dan bekal yang tertinggal, kami pun pulang. Tepat saat kabut turun dan kembali melintasi track engkol-engkolan yang 'aduhai' itu. Pukul 17.30 WIB, kami tiba di basecamp
Pak Ketua sekaligus bapak dua anak takzim menulis. 
 Selamat merencanakan pendakian. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi puntung rokok karena dapat mengakibatkan kebakaran. Termasuk bila membuat api unggun, pastikan telah memadamkannya. Yang paling utama, patuhi semua peraturan dan pantangan saat mendaki seperti jangan mengeluh di Pestan serta jangan bohong dan sombong saat di Dusun Garung. (sri juliati)




Alhamdulillah, sampai puncak... 

ketika biru bertemu biru dan aku mencintai warna biru...

Halooo, kamu-ku... Selamat pagi... :)

Saat lelah, pandanglah ke bawah.



Naskah ini telah terbit di Harian Pagi SatelitPost edisi Sabtu (22/8) dan Minggu (23/8) halaman Etalase (1) sebagai Feature. 

Big thanks, guys. Kalian keren... 







Rabu, 05 Agustus 2015

Sahabat Sejati Itu Bernama BNI



22 OKTOBER 2007. Jarum jam belum sempurna menuju angka 1. Cuaca tak begitu panas, sedikit berawan.

Kendaraan lalu lalang di Jalan HR Bunyamin, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Jalan sepanjang 2,5 km ini, membentang dari utara ke selatan menjadi satu di antara jalan utama di Kota Satria. Menjadi urat nadi perekonomian sekaligus kehidupan bagi masyarakat Purwokerto, utamanya para mahasiswa. Sebab di jalan inilah, universitas terbesar di Purwokerto, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berdiri gagah.

Di satu sisi, di jalan yang tak pernah tidur ini, seorang remaja berdiri. Usianya masih 18 tahun kala itu. Dia tak sendiri. Ada beberapa orang, berdiri dan duduk, seakan menunggu antrean.

Begitu jarum jam menunjuk angka 1, begitu plakat dibalik, dari close menjadi open, dia dan beberapa orang tadi masuk ke sebuah bangunan berlantai dua. Di hadapannya, berdiri seorang petugas keamanan yang dengan ramah bertanya soal keperluan.

"Mau buka rekening, Pak," jawabnya. Petugas keamanan dengan sigap memberikan lembaran kertas antrean. "Nanti ke bagian customer service ya, nunggu dipanggil nomor antreannya."

Singkat cerita, berbekal Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), serta uang tunai senilai Rp 200 ribu, remaja tersebut resmi menjadi nasabah BNI 46 Cabang Pembantu (Capem) Unsoed atau yang biasa disebut dengan BNI Unsoed. Hingga kini.

Hampir delapan tahun, remaja yang kini beranjak usia 26 tahun tersebut tetap setia bersama BNI. Jika dulu, saat duduk di bangku kuliah, ia memanfaatkan BNI Taplus Mahasiswa (BNI Tapma), sekarang sudah 'meningkat', menjadi nasabah BNI Taplus.

Dan remaja itu adalah penulis. Sejak menyandang status mahasiswa Unsoed hingga sekarang menjadi karyawan, penulis tetap menjadi secuil bagian dari BNI. Setia berada di barisan nasabah bank yang didirikan begawan ekonomi, Margono Djojohadikusumo.

Memilih BNI sebagai tempat menabung dan bertransaksi keuangan lainnya bukanlah tanpa alasan. Pertama, banyak dari teman penulis yang menjadi nasabah BNI. Semua kompak bilang, pelayanan yang diberikan bank berkode saham BBNI ini memuaskan dan cepat. Kedua, jarak kantor cabang pembantu BNI dengan kampus relatif lebih dekat. Hal ini tentu memudahkan penulis saat hendak bertransaksi. Kala itu, transaksi keuangan yang kerap dilakukan adalah menabung dan tarik tunai.

Ketiga, tarif potongan administrasi yang dikenakan BNI cukup terjangkau. Penarikan, cek saldo via ATM, free. Menabung pun free. Hanya potongan biaya administrasi per bulan dengan nominal yang sangat mahasiswa dan manusiawi. Juga berbagai kelebihan lain yang diberikan BNI.

Menemukan ATM BNI Semudah Menemukan Minimarket
Selama hampir delapan tahun menjadi nasabah, telah banyak kisah dan pengalaman yang pernah penulis lalui. Terutama haru-biru kehidupan masa kuliah, penulis lalui bersama BNI. Mulai dari pembayaran SPP, wisuda, hingga penerimaan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA). Semua itu selalu dengan BNI.

Bahkan dengan BNI, penulis mahfum dengan transaksi keuangan, di luar menabung dan tarik tunai. Masih segar di ingatan, bagaimana delapan tahun lalu, penulis sama sekali tak tahu cara menarik uang via ATM BNI. Tangan gemetar, gagap, dan menerka-nerka apa yang harus dilakukan. Sedikit memalukan, memang.

Juga saat penulis harus bolak-balik memeriksa saldo tabungan gegara terdengar kabar beasiswa telah masuk ke rekening masing-masing. Peristiwa ini terjadi tahun 2010. Kabar tersebut masih simpang-siur. Ada beberapa rekan yang bilang sudah masuk, tak sedikit yang menggeleng.

Untuk lebih memastikan, berangkatlah penulis ke ATM terdekat. Kala itu, sama sekali tidak terbersit untuk menggunakan layanan SMS Banking. Alhasil, dalam sehari, lebih dari lima kali mengecek saldo tabungan. Bayangkan, bila BNI tega membebankan tarif administrasi saat setiap kali cek saldo, berapa 'kerugian' yang harus penulis tanggung.

Termasuk saat uang di tangan nyaris habis, BNI memberikan 'penyelamatan'. Penulis masih bisa menarik uang meski sisa saldo tabungan tak lebih dari Rp 60 ribu. Sebab, hingga kini, hanya BNI-lah yang menyediakan ATM dengan pecahan uang Rp 20 ribu.

Berbicara mengenai ATM, menemukan ATM berplang BNI semudah menemukan minimarket yang 'bertebaran' di kanan-kiri jalan. Artinya, nyaris sepanjang jalan di Purwokerto dapat dengan mudah ditemukan ATM BNI.

Di Jalan HR Bunyamin, Purwokerto misalkan, ada sekitar lima ATM BNI GALLERY berdiri. Terbesar dan terlengkap berada di depan Kantor Capem Unsoed serta samping RM Mie Kelinci III. Selain menyediakan mesin ATM tarik tunai dengan nominal mulai Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu, BNI juga melengkapinya ATM jenis setor tunai (Cash Deposit Machine) serta ATM yang diperuntukkan untuk transaksi non-tunai.

Catatan saja, saat ini KCU BNI Purwokerto telah memiliki 102 ATM yang tersebar hingga ke pelosok Banyumas. Jumlah ini meningkat pesat dibanding tahun 2012 yang hanya 50-an ATM. Tahun ini, KCU BNI Purwokerto akan menambah 15 mesin ATM yang akan disebar ke beberapa wilayah.

Dalam wawancara yang pernah penulis lakukan, Pimpinan Cabang BNI Kantor Purwokerto, Mohammad Prasetio bilang, bukan tanpa alasan kenapa bank pelat merah ini jor-joran untuk urusan penyediaan mesin ATM. Pertama, angka transaksi di ATM BNI sangat luar biasa yaitu mencapai 6 ribu transaksi per bulan. Padahal untuk mencapai titik BEP, hanya perlu 4 ribu transaksi per bulan. Bahkan, untuk ATM nominal Rp 20 ribu di kompleks Unsoed, maka transaksinya bisa mencapai 25 ribu per bulan.

Artinya, untuk mengatasi lonjakan transaksi ini, BNI Kantor Purwokerto membutuhkan lebih banyak lagi ATM. Apalagi ke depan, ATM akan menjadi tumpuan pertumbuhan bisnis perbankan, di samping menggenjot layanan Electronic Data Capture (EDC).

Maka dengan banyaknya ATM BNI sudah pasti memudahkan sekaligus memanjakan para nasabahnya. Termasuk penulis yang nyaris tiap minggu menyambangi ATM walau sekadar untuk membayar tagihan PLN, membeli pulsa, setor atau pun tarik tunai.

Rasanya, amat pantas menyematkan frasa 'sahabat sejati' pada BNI. Bagaimana pun BNI telah bersama penulis, menemani baik suka dan duka, memberikan pelayanan maksimal yang hingga kini tak pernah dikeluhkan sebab BNI memberikan lebih. Jayalah BNI di tahun ke 69-nya dan teruslah melayani negeri, kebanggaan bangsa. Salam. (*)





Sabtu, 01 Agustus 2015

Surga Curug Itu Bernama Banyumas



BANYUMAS boleh bangga. Berada di lereng Gunung Slamet, tanah ini dianugerahi dengan buanyak sekali air terjun atau biasa kita menyebutnya dengan nama curug.  

Tak terhitung berapa banyaknya air terjun di Banyumas. Bisa jadi puluhan, bahkan sangat mungkin ratusan. Rasanya, sangat pantas bila menyebut Banyumas adalah surganya curug.

Akhir-akhir ini, wisata curug memang tengah digandrungi banyak orang. Tua-muda, besar-kecil kesengsem dengan keindahan yang ditawarkan. Walau hanya sekadar berfoto untuk kemudian di-upload ke media sosial, hal ini menjadi keasyikan tersendiri. 

Tak ada yang salah dari aktivitas yang ini. Yang salah adalah mereka yang datang ke lokasi-lokasi curug ini lantas merusak alam dengan membuang sampah sembarangan dan melakukan aksi corat-coret. 

Dan, berikut SatelitPost merangkum beberapa kemegahan air terjun di kawasan Baturraden, Banyumas. Meski hanya sedikit, setidaknya bisa menjadi referensi tempat melepas penat dan lelah dari Purwokerto yang mulai ramai. Selamat menjelajah. Jangan lupa bawa sampahnya!

1. Desa KarangsalamCURUG Telu, Lawang, Moprok, Abang, Kembar, dan Tebela adalah beberapa curug yang ada di Desa Karangsalam. Kesemuanya memiliki keunikan masing-masing. 


Curug Telu
Curug Telu misalnya. Sesuai namanya, curug ini terdiri dari tiga air terjun yang jatuh dari ketinggian sekitar 25 meter. Curug ini lantas membentuk sebuah kolam yang sangat bisa digunakan untuk berenang, lantas mengalir membentuk sungai. 

Akses ke Curug Telu bisa dibilang cukup mudah namun melelahkan. Anda harus melalui anak tangga. Tak jadi masalah saat turun tapi saat naik atau perjalanan pulang, lutut rasanya mau copot.

Tak jauh dari Curug Telu, Anda bisa menikmati Curug Lawang atau Bidadari. Jatuh dari ketinggian sekitar 10 meter, curug ini seperti berada di dalam gua yang terbentuk dari tebing-tebing di sekitar curug. 


Curug Moprok
Bagi Anda yang senang menjelajah sungai, maka Curug Moprok bisa menjadi destinasi. Pasalnya, untuk sampai di curug yang berketinggian sekitar 80 meter ini, satu-satunya jalan yang harus dilalui adalah sungai dengan bebatuan besar. Hati-hati saat melangkah, bisa-bisa terpeleset.

Sedikit mlipir dari ketiga curug yang lokasinya berdekatan tersebut, bisa menjelajah ke Curug Abang dan Kembar yang benar-benar masih fresh dan belum terlalu banyak pengunjung. Ketiadaan akses yang memadai sepertinya menjadi alasan. Sebab, untuk sampai ke kedua lokasi ini, Anda harus menyusuri sawah dan sungai. 


Curug Jumeneng
Seperti Curug Jumeneng atau Juneng. Setelah melewati sawah, satu-satunya jalan adalah dengan menuruni tebing. Tak terlalu tinggi tapi cukup membuat lutut gemetaran. Namun, perjalanan melelahkan itu tak akan pernah sia-sia sebab keindahan alam membentang di hadapan. Curug Jumeneng juga bisa menjadi lokasi favorit bagi Anda yang hobi berenang. 

2. Desa Kemutug
ADA beberapa curug di Desa Kemutug yang bisa dijelajahi. Di antaranya Curug Lumarap/Gagak, Carang, dan Orak-arik. Istimewanya lagi, belum banyak orang yang datang ke sini. Alhasil Anda bisa menikmati curug-curug ini layaknya air terjun pribadi. Asyik.
Curug Lumarap atau Gagak


Curug Carang
Tak jauh dari Curug Lumarap, ada Curug Carang. Dibandingkan Curug Gagak, debit air di curug ini jauh lebih besar dan kencang. Membentuk kolam dengan air yang berlimpah. Biasanya, kolam ini dimanfaatkan warga untuk memancing.
Bagaimana aksesnya? Bolehlah dikatakan agak sulit dan menantang. Karena setelah berjalan jauh sekitar 30 menit menembus ladang kopi, Anda harus menuruni tebing yang cukup tinggi dengan cara merayap. Posisi tebing memang sangat menyulitkan untuk turun dengan cara biasa atau bahkan mengesot.



















3. Desa Ketenger
NAMA Curug Gede dan Bayan jelas sudah tak asing lagi. Namun jika Anda ingin menjelajah selain dua curug itu, maka Curug Penganten bisa menjadi pilihan. Disebut Curug Penganten lantaran curug dengan ketinggian 50 meter tersebut memiliki dua aliran alias sepasang. 
Curug Penganten

Untuk sampai ke lokasi curug ini, siap-siap saja dengan perjalanan menembus hutan lereng Gunung Slamet sekitar 1,5 jam dengan trek layaknya pendakian. Tenang, semua itu bakal terbayar lunas. Namun, karena aliran airnya yang cukup besar plus bebatuan nan tajam kurang disarankan untuk mandi. (*)









* Tulisan ini sudah termuat di Harian Pagi SatelitPost edisi Jumat (31/7) halaman Leisure Time.


Jumat, 24 Juli 2015

Perjalanan Bernama Mudik-Balik


HAMPIR delapan tahun, saya menjadi perantau. Menjadi orang baru di tanah orang. Masih di Jawa Tengah, tepatnya Purwokerto, Banyumas yang menjadi rumah, sekolah, sekaligus ladang penghidupan bagi saya sejak bulan September, 2007 hingga kini.

Artinya, selama delapan kali pula saya melakukan kegiatan yang awam dilakoni para perantau jelang Lebaran. Mudik.

Perjalanan mudik setiap tahunnya selalu meninggalkan kisah tersendiri dan pasti berbeda. Next time, bisa saya tuliskan beberapa kisah seru itu.

Mumpung suasana mudik masih sedikit hangat dan kebagian jatah nulis sorot, coba nulis tentang aktivitas mudik tahun ini. Selamat membaca.

======================

SABTU (25/7) hari ini adalah tepat H+7 Lebaran 2015. Toples-toples kue di meja mulai kosong, opor dan ketupat telah tandas jauh-jauh hari. Rumah kembali sepi, tetamu, sanak saudara, dan anak telah kembali ke tanah rantau. Kembali berkarya, bekerja, sembari menunggu momen ini, setahun lagi.

Persiapan jelang balik. Photo by: Indah Diana NA
Kembalinya para perantau ini terangkum dalam sebuah perjalanan bernama arus balik. Baik melalui darat, laut, maupun udara. Menggunakan beragam moda transportasi sesuai peruntukannya, seperti sepeda motor, mobil, bus, kereta api, kapal, dan pesawat terbang. Kembali sambil menenteng oleh-oleh, kuliner khas, dan cerita nostalgia di kampung halaman yang bisa dibagikan pada relasi. Juga meniupkan harapan agar tahun depan, bisa kembali pulang. Mudik.

Seperti diketahui, perjalanan mudik dan balik adalah ritual tahunan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam jelang Lebaran. Tradisi turun-temurun yang mengakar amat kuat dan tak akan pernah hilang selama masih ada tanah perantauan dan kampung halaman. Walau uang di saku hanya cukup untuk sekali perjalanan, walau harga beras dan telur naik, walau baju baru tak terbeli, bahkan saat sudah kehabisan tiket, para perantau akan tetap berusaha, mencari cara agar bisa pulang, kembali ke rumah.

Dan, tahun ini, sekitar 22 juta rakyat Indonesia melakukan perjalanan mudik-balik. Tersebar ke berbagai penjuru negeri.

Meski telah menjadi rutinitas tahunan, perjalanan ini selalu diwarnai dengan berbagai masalah. Terkesan, berbagai problematika ini dibiarkan abadi. Seabadi sinetron Cinta Fitri atau Tukang Bubur Naik Haji. Terkesan, pembuat, pelaksana, serta pengawas kebijakan yang tak lain adalah pemerintah enggan mengurai masalah yang kerap mendera dan menemukan solusinya.
Pusing menghadapi macet, mlipir dulu, nyicip es dawet ireng.

Kemacetan menjadi masalah utama dan pertama yang selalu menghantui dalam setiap perjalanan mudik-balik. Dan cerita tentang macet selalu berulang setiap tahunnya. Seperti yang saya rasakan tahun ini, saat perjalanan balik pada Selasa (21/7) kemarin. Butuh nyaris sembilan jam untuk sampai ke Kota Purwokerto dari kampung halaman, Klaten. Sama-sama menggunakan sepeda motor, perjalanan balik kemarin lebih lama dibandingkan saat mudik yang memakan waktu enam jam. 

Hal ini sebagai imbas kemacetan yang terjadi di sepanjang jalur selatan Jawa Tengah, mulai dari Kutoarjo, Purworejo hingga Buntu, Banyumas. Di beberapa titik memang sempat lancar namun perjalanan kembali tersendat saat 'bertemu' dengan perlintasan kereta api, pasar, atau persimpangan jalan. Bahkan satu mobil mogok atau berhenti pun bisa membuat macet ratusan meter. 

Ini juga diperparah dengan kondisi jalan yang tak sepenuhnya dalam kondisi baik dan nyaman dilewati. Saya merasakan begitu besar perbedaan antara ruas jalan di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di DIY, ruas jalan yang tersedia cukup lebar -untuk tidak melebihkan dengan kata sangat. Satu lajurnya mampu menampung dua mobil dan beberapa motor dengan lajur terpisah. Plus dalam kondisi jalan yang mulus. Tapi begitu masuk ke Purworejo lantas menyusuri Kebumen, jalanan mulai menyempit. Satu lajur hanya untuk satu mobil dan motor. Jika ada mobil yang menyerobot, memakan bahu jalan, membuat para pengendara motor harus turun, tersingkir dari jalanan beraspal. Hal ini pula yang dirasakan teman, kerabat, serta banyak pemudik lainnya. 
Senja dari Sruweng, Kebumen. Iseng sambil nunggu nggak macet.
Benar, saat arus perjalanan tersebut, ratusan hingga jutaan kendaraan turun ke jalan dalam waktu yang bersamaan. Semuanya demi satu tujuan, kampung halaman atau tanah rantau. Namun, bukankah masalah ini masalah klasik? Masalah yang sudah ada sejak dulu? Bukankah pemerintah punya waktu 11 bulan untuk mencari, memikirkan, dan menemukan solusi sebelum menghadapi musim mudik-balik tahun depan lagi? Mosok dari dulu sampai sekarang nggak ada solusi yang mumpuni, setidaknya mengurangi lah.

Memaksimalkan penggunaan jalur alternatif dirasa cukup untuk mengurai kemacetan di jalur utama. Sayangnya, pemerintah selalu menanaktirikan jalur alternatif yang sebenarnya bisa menjadi penyelamat. Kondisi jalur alternatif dibiarkan apa adanya. Minim fasilitas seperti lampu penerangan. Bahkan kondisi jalannya pun mengenaskan. Penuh lubang. Imbasnya, para pemudik pun pikir-pikir untuk melalui jalur tersebut. 

Menyalahkan pemerintah tanpa mengoreksi diri juga tak akan memecahkan masalah. Tak bisa dipungkiri, jumlah kendaraan pribadi yang digunakan untuk mudik-balik setiap tahun kian meningkat. Ditambah dengan karakter pengendara yang berbeda-beda. Sangat mustahil sama. Sama-sama tertib lalu lintas. Pastilah ada satu-dua pengendara yang tak taat aturan seperti menyerobot lajur motor atau menggunakan jalur berlawanan arah.

Kita, terutama saya sangat mendamba bisa melakukan perjalanan mudik-balik dengan aman, nyaman, lancar, dan bebas hambatan macet. Kapan? Semoga tahun depan tapi, entahlah. Salam. (*)


* Tulisan ini muat di kolom Sorot Redaksi SatelitPost, Sabtu (25/7)


Sabtu, 20 Juni 2015

Antara Batu, Malang, dan Bromo


BAGIAN 1


PUKUL 05.12 WIB, Kamis, 25 Desember 2015. Menengok jam tangan, melihat sekitar. Jalanan sepi, bekas tersapu kabut, dan dingin. Kembali menutup badan dengan selembar kain dan merapatkan badan. 

Melanjutkan tidur sebentar lantas terbangun lagi. Sebenarnya, mata masih berat untuk membuka. Namun goncangan-goncangan kecil kerap terasa membuat saya memilih bangun. Benar-benar bangun walau serangan ngantuk terus menghantam. 

"Itu hapemu jatuh," bilang Hoho sambil menyenggol badan. 

Saya pun geragapan. Antara sadar, tahu bahwa ponsel yang di-charge jatuh meski di satu sisi terkantuk-kantuk. Setelah mengambil hape, sedikit banyak tersadar, jika kami sudah memasuki wilayah Malang, Jawa Timur.

Matahari masih terlalu malu untuk menampakkan diri. Jalanan di luar kereta ini sudah mulai ramai. Para penumpang mulai banyak yang bangun, bercakap dengan kawan-kawannya, sembari berkemas. Suasana gerbong makin renyah dengan obrolan-obrolan ringan mereka. Sedikit banyak, saya menguping.

Stasiun Malang Kotalama. Begitu yang tertulis di papan yang saya baca. Berada di ketinggian 429 meter di atas permukaan laut. Cukup tinggi dibandingkan Stasiun Kota Purwokerto yang hanya 75 meter. Kereta yang kami tumpangi, KA Matarmaja berhenti sebentar menurunkan penumpang. 

Tak lama, kereta yang datang dari Jakarta itu melanjutkan perjalanan. Kami, saya dan Hoho, berkemas, merapikan penampilan. Tak banyak barang yang kami bawa. Hanya dua daypack berisi kebutuhan selama dua hari satu malam, camilan, dan air minum. 

Sekilas tentang Hoho. Nama lengkapnya Dodi Nugroho. Kepada orang baru, ia mengenalkan dirinya sebagai Dodi. Lima belas tahun usia persahabatan kami tepatnya sejak kelas 1 SMP, tahun 2000 silam. Berawal dari teman satu kelas, lantas 'berpisah' kala SMA, di bangku kuliah, di Jurusan D3 Bahasa Mandarin, Unsoed kami kembali bertemu. Dan bersahabat sampai sekarang. Ide ngetrip ke Malang ini pun saya dapat dari dia. 

tiket buat ke Malang
Kereta melambat. Penumpang mulai berdiri, berjalan beriringan menuju pintu gerbong. Pun kami. Satu hirup, dua hirup, sambil mengedarkan pandangan di sekitar, saya sadar, sudah berada di Malang. Sekarang, saya sudah benar-benar tersadar, tanpa tersisa rasa kantuk sedikit pun, walau boleh berhitung, pagi tadi, sekitar empat jam menutup mata. Itu pun sesekali harus terbangun. 

Hawa khas Kota Malang menampar wajah. Logat khas kota itu mulai terdengar karib di telinga. Juga patung singa yang ada di depan Stasiun Kota Malang. Ya, kota ini sangat bangga dengan Arema, klub sepakbola yang 'membirukan' langit dan Bumi Malang. 

"Makan atau langsung ke Batu?" tanya Hoho. 

"Makan dulu gimana? Laper..." ujar saya. 

Beruntung, di depan Stasiun Kota terhampar taman sekaligus kedai makan. Jumlahnya bisa mencapai puluhan, memanjang. Beberapa sudah ada yang buka, melayani pembeli. Sementara sisanya, masih ada yang bersiap membuka lapak.

Kami sempat menjelajah ke beberapa kedai sebelum akhirnya saya memutuskan menikmati seporsi pecel Madiun dengan lauk telur plus segelas teh hangat. Hoho yang awalnya hanya ingin menikmati teh hangat, rupanya tergiur dengan pecel yang saya makan. Enak, kata dia, setelah mencicip sesuap nasi pecel. Walhasil, laki-laki usia 26 tahun itu memesan pecel Madiun, persis seperti yang saya makan.

Harga untuk dua porsi pecel dan dua gelas teh hangat, tak terlalu mahal. Hanya Rp 25 ribu. Artinya, satu orang makan Rp 12.500. Apalagi porsi pecelnya lumayan bikin kenyang dan harus membuat Hoho turun tangan membantu saya. 

Kala itu, jam masih menunjukkan angka 08.30 WIB. Masih lumayan pagi. Keramaian juga belum mengintai kota ini. Malah kata Hoho, cenderung sepi. Sebab, jarang terlihat lalu lalang kendaraan bermotor. Dengan angkot biru jurusan ADL alias Arjosari-Dinoyo-Landungsari, kami menuju ke Terminal Landungsari sebelum berganti menggunakan bus jurusan Kediri untuk membawa kami ke Kota Batu, destinasi berikutnya. 

Malang sudah jauh berubah dibanding saat saya pertama kali ke sini akhir Desember 2011 silam. Banyak perubahan hingga harus membuat saya mengingat, kira-kira saya pernah melintas di jalan ini belum ya. 

Hampir 30 menit di dalam angkot. Tarifnya, dari Stasiun Malang ke Terminal Landungsari sekitar Rp 4 ribu. Sebelum turun, kami sempat tanya pada sopir angkot, akses Batu dan jam berapa angkot terakhir beroperasi. Untuk lebih memastikan, sekali lagi kami bertanya pada petugas Dishub yang tengah berjaga. 

"Lha niko mbak, bus yang ke Batu. Naik itu aja," katanya sambil menunjuk bus warna biru yang tengah menaikkan penumpang.

Tak mau ketinggalan, kami berlari kecil dan sampai di pintu belakang bus tepat waktu. Sayang, tak ada kursi kosong, bahkan sudah banyak penumpang yang berdiri dan berdesak-desakan. 

Bus jurusan Kediri ini pun berjalan. Busnya kecil, seperti mikro bus kebanyakan dengan dua pintu yang kesemuanya dijejali banyak penumpang. 

'Kemana Mbak, Museum Angkut atau Jatim Park?" tanya kondektur bus pada saya. Saya pun menoleh pada Hoho, meminta jawaban. "Lewat depan Museum Angkut kan, Pak?" tanyanya.

"Iya, lewat," jawab sang kondektur yang lantas kami putuskan untuk ke Museum Angkut terlebih dahulu. Untuk sampai ke sana, kami membayar Rp 15 ribu untuk dua orang. 

Sepanjang perjalanan, lebih banyak kendaraan pribadi yang melintas. Ya, jalur Malang-Batu padat merayap, tersendat-sendat. Bisa ditebak karena hari itu adalah hari libur, Natal sehingga banyak wisatawan yang berkunjung ke kota itu. Seperti kami.

"Kayak jalur ke Baturraden ya, Ho? tanya saya yang dijawab anggukan dan senyuman.Hampir 45 menit, kami berdiri di bus yang penuh sesak ini. Punggung saya agak pegal karena beban daypack yang lumayan berat. 

Memasuki Kota Batu, jalanan benar-benar padat merayap. Bus yang kami tumpangi mulai stuck, tak bisa bergerak usai keluar dari Terminal Batu. Saya dan Hoho berpandangan, mahfum ini akan memakan waktu yang agak lama. Akhirnya, kami memutuskan untuk turun dan jalan menuju Museum Angkut. Dekat? Banget. Mungkin sekitar 200 meter.
Hoho dari belakang dan Museum Angkut dari depan.

Sekitar pukul 10.00 WIB, kami sampai di museum alat transportasi terbesar di Indonesia ini. Ramai. Meski museum ini baru buka pukul 12.00 WIB, namun sudah banyak wisawatan yang memadati halaman parkiran dan depan museum. Bahkan, ada yang sudah mengular di depan loket. Terbanyak adalah keluarga.

Kami pun mengedarkan pandangan. Pasar Apung yang masih satu lokasi dengan Museum Angkut menjadi lokasi menunggu sebelum loket museum buka. Sesuai namanya, kami menemukan miniatur kecil pasar apung seperti di Kalimantan. 'Sungai', perahu, jembatan, dan warung atau tempat berdagang di tepinya. Di sanalah kami menunggu agak lama hingga akhirnya memutuskan kembali ke Museum Angkut. Pertama, agar lekas antre tiket. Ke dua, warung di sini belum ada yang buka. 

Antrean di depan loket makin mengular. Terbagi menjadi tiga baris. Hoho pun mengambil inisiatif untuk membeli tiket dan menyuruh saya duduk menunggu. Tak berapa dia menunggu, ternyata loket tiket sudah dibuka. Pun dengan pintu museum. Dari yang saya dengar dari petugas, pihak museum sengaja membuka lebih awal melihat banyaknya pengunjung yang ingin masuk. Jadi yang seharusnya buka pukul 12.00, maju satu jam menjadi 11.00 WIB. 
Gelang tiket atau Tiket Gelang. Intinya, butuh Rp 75 ribu buat beli ini.

"Rp 75 ribu tiketnya, Rp 30 ribu buat kamera. Kameranya kusubsidi deh," kata Hoho di depan saya sambil menunjukkan 'gelang kertas' sebagai ganti tiket. Yeay.

Satu aturan saat masuk ke Museum Angkut adalah pemeriksaan tas. Berhubung daypack saya lumayan besar dan agak ribet untuk membongkarnya, petugas pun mempersilakan saya tetap masuk. 

"AMAZING!" begitu kata saya saat menyaksikan koleksi di museum ini. Keren. Beragam koleksi alat angkut seperti mobil, dokar, kereta, dan sepeda motor seperti menyambut kami. Saya tak menghitung pasti. Tapi buanyak!! Koleksi-koleksi antik nan unik ini yang bikin saya kagum. Termasuk mobil Presiden RI pertama Soekarno seri Chrysler Windsor Deluxe yang bikin saya jatuh cinta. Beberapa koleksi diberi semacam pagar dan larangan tidak boleh disentuh. 

Termasuk saat naik ke lantai dua. Di sana telah menunggu alat angkut khas Indonesia. Mulai dari becak, andong, dokar, perahu, kapal, hingga kereta api. Untuk alat angkut tertentu seperti becak diumbar koleksi per daerah. 

"Ke sana yuk," bilang saya sambil menunjuk ke arah luar museum. Di sana, ada semacam miniatur pesawat luar angkasa Apollo. Dari wahana ini kami menikmati pemandangan Kota Batu yang sungguh segar. Lantas, ada pasangan yang meminta saya untuk mengambil gambar mereka. Klik klik klik. 
satu koleksi Museum Angkut favorit saya

Masuk lagi ke dalam, kami mulai menjelajah masing-masing alat angkut. Hoho nampak takzim mencari objek dan memotretnya. Saya? Baca setiap keterangan atau penjelasan yang telah ditempelkan di dekat objek. Agak lama saya berada di ruangan ini. Tanpa sadar, rupanya Hoho tak lagi berada di dekat saya. Saya celingukan di tengah banyaknya orang. Aduh. Apalagi saat saya buka HP, rupanya blank spot alias tidak ada sinyal. Meski sedikit panik namun berusaha tetap tenang. Setelah keluar dan terbebas dari wahana sepeda dan masuk ke Zona Pecinan dan Batavia, saya agak mulai lega karena dapat sinyal. 

Zona Pecinan dan Batavia ini menampilkan panorama Jakarta zaman dulu. Lengkap dengan Pelabuhan Sunda Kelapa dan aktivitasnya, beberapa alat angkutnya, toko, dan noni-abang yang mengenakan kostum Belanda. 

Setelah agak lama tengak-tengok kanan-kiri, muncullah Hoho dengan senyuman khasnya. "Hehehe, habis dari toilet," ujarnya sebelum saya bertanya macam-macam. Fiuhhh, lega... 

"Mau foto juga nggak sama itu," sambungnya sambil menunjuk noni-abang yang jadi perhatian banyak pengunjung. Saya pun menggeleng pelan. "Enggak, udah biasa. Cari yang lain aja," jawab saya. 
Akkkk, aku dimakan ikan... begitu kata Hoho.

Kami pun kembali berjalan dan masuk ke Zona Jepang. Di sana telah menunggu, koleksi alat angkut dari Jepang mulai dari motor dan mobil. Wihh, keren... Sebelum keluar, kami sempet selfie di satu unit mobil yang kece gegara spionnya.

Dan, Zona Amerika menyambut kami di langkah berikutnya. Zona ini dilengkapi scene gangster, Las Vegas, Broadway, dan Hollywood. Koleksi kendaraannya pun masih banyak. Dilengkapi dengan poster-poster film-film Hollywood. Tetiba: "Garis zebra cross-nya nggak kelihatan ya, Ho?" "Buat apa? Ohhh, foto biar kayak The Beatles..." Hihihi, ketahuan juga. 

Puas main dan beristirahat di zona ini, langkah kami berhenti di Zona Eropa. Italia menjadi negara pertama yang kami kunjungi. Tiga vespa unik menarik perhatian Hoho. "Fotoin," ucap dia. Setelah Italia, Prancis menjadi negara ke dua lengkap dengan miniatur Menara Eifel. "Gantian. Fotoin," kata saya. Setelah beberapa kali jepret, ternyata hasilnya kurang begitu bagus. 

Dan, Jerman adalah negara ke tiga di zona ini. Saya pun langsung excited dan meminta Hoho tidak jauh-jauh dari saya. Siapa tahu saya khilaf di negara Mario Gotze ini. Ternyata, benar. Nyaris semua foto di zona ini adalah foto saya. Setelah Jerman, kami menyambangi Inggris dan masuk ke miniatur Buckingham Palace dan berakhir di Zona Hollywood. Satu yang menarik di zona ini adalah patung Hulk yang tengah menghancurkan mobil. Hoho pun lantas bergerak maju dan memberi tanda: Fotoin. 

Lelah, kami beristirahat. Meluruskan kaki, menikmati jajan yang tersisi. Mendung menggelayut.

Langkah selanjutnya, menuntun kami ke Stasiun Jakarta Kota dan membawa kami 'merasakan' sensasi naik kereta dan ke luar menuju Pasar Apung. Di sini, kami sebentar menjelajah hingga mata saya tertuju pada anak-anak kecil yang membawa es krim. "Es krim, Ho, es krim...," rajuk saya mirip anak kecil. Jalan sebentar, kami melewati kedai es krim dan langsung memesan dua cup rasa cokelat. 

Usai menikmati es krim, kami melanjutkan perjalanan. Keluar dari Museum Angkut. Menuju destinasi selanjutnya. Saat itu, jarum jam menunjuk angka 3. (bersambung)