Senin, 12 Oktober 2015

Menebas Rindu di Gunung Slamet




Panorama Gunung Slamet dari Puncak Sakub, Bumiayu.
Foto diambil tanggal 4 September 2014 oleh Fikri Adin.


SELAMAT malam. Entah kapan pun Anda membaca ini, tetaplah selamat malam dari saya. Ya, karena saya ngepost tulisan di malam hari, usai berkutat dengan banyak tulisan.

Tulisan kali ini soal pendakian Gunung Slamet. Iya, gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut akan menjadi objek tulisan ini. Gunung yang berlokasi di lima kabupaten di Jawa Tengah, Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes. 

Dan, kejutan! Kali ini, bukan saya yang menulis melainkan Rizqi Ramdhani. Perkenalkan, dia adalah layouter SatelitPost, yang biasa 'nata' halaman saya, halaman Leisure, cum yang sering ngajak berantem.

Rizqi dan timnya. Dari kiri: Ega, Rizqi, dan Mujiono. 
Ceritanya, akhir bulan September tepatnya Minggu (27/9), dia naik ke Gunung Slamet bareng kedua temannya, Ega dan Mujiono. Saya kenal Ega, karena pernah bareng ke Merbabu. Atlet lari dia, booo... Nama terakhir, saya nggak kenal. 

Sebelum berangkat, Rizqi sempat mampir ke rumah, ambil senter dan SB. Nah di situlah peran pertama saya: meminjamkan dua alat ini. Penting nih buat disebutin. Coba kalau nggak ada SB, dia mau tidur pakai apa coba? :v


Selasa (29/9) sore, saya lihat dia sudah ganti DP BBM. Tandanya, dia sudah turun, sudah di kosan dengan nyaman, dan sudah mandi. Langsung saya berondongkan beribu-ribu pertanyaan, terutama soal kondisi dan jalur pendakiannya via BBM. 

Penjelasan bla bla bla, saya usulkan gimana kalau cerita pendakiannya ditulis jadi feature atau tulisan khas buat di koran. Awalnya dia nggak mau, minder. Wong job tiap hari nata berita kok suruh nulis. Tapi bukan Juli namanya kalau nggak bisa ngerayu! Hahaha. Sejurus kemudian, oke dia mau asal nanti diedit. Santai mah. Urusan edit-mengedit, that's my job!

Rupanya, menulis feature tak semudah yang dibayangkannya. Dua hari kemudian, dia lapor: "Gieelah, aku wis nulis akeh banget, malah dadi puisi." Saya pun menjawab: "Kalem Qi, semangattttt. Hanya masalah terbiasa dan tidak." 

Beberapa hari kemudian, jadilah tulisan khas itu. Mau tahu panjangnya berapa? Tujuh lembar! Begitu saya buka, yang saya lihat bukan tulisannya tapi foto-fotonya. Hahaha. Tulisan baru saya baca pas malam Minggu (3/10), jelang tidur sambil BBM-an sama yang bersangkutan, detailing tulisan yang boleh saya kasih nilai, 6. Hehehe. 

And, this is. Tulisan perdana dari Rizqi soal Gunung Slamet yang mau tidak mau harus saya re-write. Tentu sudah ada persetujuan dari yang bersangkutan, termasuk pemuatan di blog.

Ini tulisan pertama. Masih ada satu atau mungkin dua tulisan lagi yang merupakan sambungannya. Kenapa nggak langsung semua? Karena terlalu panjang dan saya mengikuti jadwal pemuatan di koran SatelitPost, So, happy reading. Terima kasih sudah mampir. 

======================================================================
Dari Kabut hingga Badan Membentur Pohon 

DELAPAN tahun tak menjejakkan kaki di tanah tertinggi di Jawa Tengah, membuat saya rindu. Alhasil, saat pendakian menuju Gunung Slamet resmi dibuka kembali pasca-erupsi 2013 lalu, saya pun segera bergegas, menebas kerinduan ini. 

Bersama kedua kawan saya, Ega Firmanto dan Mujiono, kami menyusuri jalanan Purwokerto-Purbalingga menuju Dusun Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Minggu (27/9). Di dusun tersebut, berdirilah posko atau yang biasa disebut Basecamp Bambangan yang menjadi satu di antara pintu masuk menuju Gunung Slamet. 

Setelah berkutat pada jalanan yang berkelak-kelok, menanjak, plus menahan beban carriel yang telah menempel di punggung sejak dari keberangkatan, sampailah kami di Basecamp Bambangan, pukul 15.30 WIB. 

Ramai. Begitulah suasana yang dapat saya gambarkan. Para pendaki mulai menjejali basecamp. Beberapa dari mereka adalah yang ingin turun alias pulang. Sementara lebih banyak yang baru saja datang, hendak naik. Seperti kami. Dari informasi yang saya peroleh dari petugas, ada 500 pendaki yang akan melakukan pendakian pada hari itu. Rerata berasal dari Purbalingga, Purwokerto, Magelang, hingga Jakarta. 

Sebelum mendaki, para pendaki wajib melapor pada petugas dan membayar retribusi sebesar Rp 5 ribu sebagai perawatan sarana dan prasana serta Rp 10 ribu untuk parkir kendaraan. Kami pun tak langsung naik. Beristirahat sejenak demi mengembalikan tenaga sembari menata ulang perbekalan, agar jangan sampai ada yang terlewatkan dan terlupakan.

Usai packing dan badan kembali bugar, kami bersiap. Bersiap mendaki, bersiap menyatu dengan alam, dan bersiap menggenapkan kerinduan. Tak lupa, doa dirapalkan agar Tuhan merestui perjalanan ini.

Pukul 16.30 WIB, kami mulai langkah pertama menuju Gunung Slamet. Baru beberapa langkah, sudah menerima ucapan selamat datang dari kabut tebal yang 'turun gunung.' Menghalangi sebagian pandangan. Tapi bagi kami, itu adalah keasyikan tersendiri.

Jalur menuju Pos 1 (Pondok Gembirung) sebenarnya belum begitu sulit. Kami hanya perlu melewati jalur sempit nan berdebu yang diapit ladang sesayuran dan umbi-umbian milik warga sekitar. Meski tak begitu menanjak, cukup untuk membuat tenaga mulai terkuras dan mandi keringat.

Tak terasa, jarum jam menunjuk 17.45 WIB, jelang Magrib. Dengan napas tersengal-sengal, kami pun sampai di Pos 1 dengan ketinggian 1990 mdpl. Capek. Namun, rasa lelah itu seketika terobati kala bertemu dengan warga setempat yang berjualan. Iya, di pos ini, masih bisa menemukan penjual yang menjajakan beragam makanan seperti gorengan, buah-buahan, dan minuman kopi dan air mineral. 

Pondok Gembirung merupakan Pos 1 di JalurBbambangan. 
Terdapat warga yang berjualan bagi para pendaki yang sedang istirahat.
 Mereka berjualan pada hari Sabtu dan Minggu.
Jangan tanya soal harganya. Untuk satu potong gorengan dihargai Rp 1.500, air mineral ukuran sedang Rp 6 ribu, serta nanas dan semangka dihargai Rp 3 ribu per potong. Mahal? Sebanding dengan usaha mereka mendaki sembari memanggul barang dagangan. Apalagi, mereka hanya berjualan saat akhir pekan.

Sambil menunggu azan Magrib, melepas lelah, saya pun menyomot beberapa poyong semangka dan nanas. Segarrr. Langsung memenuhi tenggorokan. Pun masih diberi bonus cerita-cerita tentang Gunung Slamet. Utamanya soal Pos 1 alias Pondok Gembirung. Nama Gembirung diambilkan dari seorang tetua yang sangat dihormati oleh warga sekitar, yaitu Kajeng atau Ki Ajeng Gembirung. 

Segendang sepenarian dengan Pos 2 yang dinamakan Pos Walang. Diambilkan dari nama Kajeng Walang. Sayang, kisah bagaimana penyematan kedua nama itu di pos pendakian, tak banyak diketahui. Hanya juru kunci dan anaknya yang mengetahui.

Malam pun turun. Menggantikan sore demi memberi kesempatan pada matahari untuk kembali ke peraduan. Tenaga kami telah kembali dan siap melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 Walang, ditemani sinar rembulan. 

Jarak dari Pos 1 menuju Pos 2, lumayan jauh. Dalam hitungan jarak datar, kurang lebih 725 meter dan bisa ditempuh dengan waktu 40 hingga 60 menit. Namun, kami 'berhasil' menyelesaikannya dalam waktu 1,5 jam alias 90 menit. Lebih lama dari hitungan normal. Selain trek yang kian menanjak, juga mulai kelelahan. Di Pos 2, kami mulai menjumpai beberapa pendaki yang sudah berkemah. Rerata adalah pendaki yang baru saja turun dari puncak dan memutuskan untuk membuat tenda di Pos 2 dengan ketinggian 2245 mdpl.

Istirahat sebentar, kami segera bergegas. Malam pun kian pekat, membimbing kami menuju Pos 3 Pondok Cemara. Jaraknya tak jauh. Hanya butuh 40 menit. Tepat pukul 21.45 WIB, kami tiba di ketinggian 2475 mdpl. Rupanya kami tak sendirian. Ada sekelompok pendaki asal Purbalingga yang tengah beristirahat sambil menghangatkan badan dengan membuat api unggun. 

Surprise. Tak hanya mereka namun juga dua orang pedagang! Ya, di ketinggian nyaris 2500 mdpl, kami masih menjumpai pedagang. Walau tak selengkap di Pos 1, tetap saja ini kejutan. Ditambah perut kembali berteriak, meminta kembali diisi. Jadilah lontong dan gorengan tahu empat biji yang tersisa, kami tandaskan. Habis. Kenyang. Badan pun ikut terasa hangat di tengah dinginnya malam yang kian merambat. 

Pukul 22.00 WIB, kaki siap diajak ke pos selanjutnya. Pos 4? Bukan, itu bukan pos tujuan utama. Langsung menuju Pos 5 Samhyang Rangkah di ketinggian 2650 mdpl. Bukan tanpa alasan kenapa kami memilih melewati pos di ketinggian 2555 mdpl tersebut. Angker. Sesuai nama yang disematkan pada Pos 4, Samarantu yang artinya hantu samar-samar. Itulah kenapa para pendaki, tak terkecuali kami menghindar untuk mendirikan tenda di pos ini. 

Bergegas ke Pos 5, kami harus melewati jalur yang menyempit disertai cerukan dalam. Tak terhitung berapa kali ransel harus tersangkut di ranting pepohonan yang melintang di atas kepala. Itu sebabnya, harus lebih menunduk. Namun apa daya, makin gelapnya malam dan semakin lelahnya badan, membuat saya beberapa kali kehilangan konsentrasi.

"Aduh! Sirahku," seru saya pada dua kawan yang berjalan di depan. 

"Kenangapa ko?" tanya Ega. 

Naik-naik ke puncak gunung, indah-indah sekali.
Saya pun mengusap-usap kepala yang terasa nyeri. Setelah saya selidiki, rupanya baru saja saya membentur sebuah pohon. Senter yang saya kenakan tak cukup membantu penghilatan. Tidak keras tapi cukup membuat saya mengaduh. 

Dan setelah perjalanan melelahkan dan menguras tenaga itu, sampailah kami di Pos 5. Di sana, kami telah menjumpai para pendaki yang telah terlebih dahulu mendirikan tenda, memasak, melepas lelah, tidur. Seperti kami yang sejurus kemudian langsung membuka peralatan, bergegas memasang tenda, dan istirahat. 

Sebenarnya, kami ingin ngecamp di Pos 7 supaya lebih santai saat perjalanan ke puncak. Namun atas saran dari pedagang di Pos 3 tadi, kerap ada kawanan babi liar yang usil dan membawa carrier pendaki di Pos 7, maka kami memilih ngecamp di Pos 5, tepat pukul 22.45 WIB. 

Enam jam 15 menit. Itu waktu yang kami tempuh dari Basecamp Bambangan menuju Pos 5. Cukup membuat kami mandi keringat. Cukup menguras tenaga. Dan cukup sampai di sini dulu. Kami harus lekas tidur demi pendakian menuju puncak, keesokan harinya. (*)


penulis: Rizqi Ramdhani
editor: Sri Juliati 



Minggu, 04 Oktober 2015

Sisa-sisa yang Tidak Sia-sia

SELALU ada cerita yang tak terduga dalam setiap perjalanan. Sisi lain, selain inti kisah itu sendiri. Dan rasanya, sayang banget jika tidak ditulis.


Dari ki-ka: Reni, Simbah als Widi, Juli, Nur, Adek als Firman
Seperti petualangan menuju Gunung Prau dan Bukit Sikunir, Dieng, Wonosobo bareng Nur Fatimah, Reni Suryati, Widi Nugroho, dan Firman Al Ahyar, Sabtu-Minggu (12-13/9).

Semuanya akan saya tuliskan di sini, tentu dengan gaya bahasa yang berbeda, dibanding dua tulisan sebelumnya. Selamat membaca sambil ngopi... sruput duluuu.......

1. Satu Bulan
Siapa penggagas piknik kali ini? Tak lain dan tak bukan adalah Mas Widi. Itu, mas-mas asli Yogya yang ketemu di Gunung Papandayan. Iya, mas-mas yang cuma pakai celana pendek pas muncak. Yang juga ngajakin ke Curug Cibeureum, Cibodas, Mei lalu. Iya, itu orangnya. 

Nah, ini yang ngajakin piknik. Iya, itu yang jalan sendiri, di belakang.
Satu sore, dia Wasap. Tanya soal rute ke Dieng, Prau, jauh nggak dari Purwokerto. Setelah saya jelaskan, eh lha dalah malah langsung ngajak ke sana. Tanpa pikir panjang, saya pun mengiyakan. Apalagi, saya udah kangen berat sama Prau. Nyaris setahun nggak ke sana.

Tanggal berapa kita ke Prau? Diputuskan tanggal 12-13 September, pas hari Sabtu-Minggu. Artinya, saya harus minta libur dua hari. Boleh nggak ya? 

Di tengah kebimbangan itu, muncullah kabar baik. Pak Kholil, Redaktur Pelaksana mau cuti dari Selasa (8/9)-Jumat (11/9). Kalau Pak Lil, nggak berangkat, artinya saya harus standy by di kantor, termasuk Selasa yang jadi jatah saya libur. 

Langsung saja saya samber sambil nyengir: "Pak, berarti liburku diganti Sabtu aja ya, malam Minggu. Sama minta izin Minggu, nanti kuganti Selasa depan."

Pak Lil sempat mikir bentar. "Ya nggak apa-apa, asal edisi Mingguan beres," kata dia. 

"Yessss!!! Mingguan kalau sama Juli mah aman, Pak. Jumat udah kelar," ujar saya penuh keyakinan dan mantap. Udah biasa kan Jul? 

Nah, mau tahu berapa lama kami merencanakan perjalanan ini? Sebulan! Tepat tanggal 12 Agustus, si mas ini nge-Wasap ngajakin, sambil ngerencanain ini-itu, bawa apa aja, transport gimana, dan lainnya. Agak kaget juga sih, karena rata-rata perjalanan yang saya lakukan, persiapannya paling dua minggu sebelum hari H. Bahkan bisa jadi seminggu atau malah sehari. Berkaca pada pengalaman-pengalaman sebelumnya, ada beberapa agenda yang gagal dilakukan saat direncanakan jauh-jauh hari. 

Namun bukan berarti persiapan itu tidak penting. Amat penting. Bahkan, sukses tidaknya sebuah acara, kegiatan, dan lainnya ditentukan dari persiapan. Cuma kalau orangnya tipe macam saya yang suka menggebu-gebu di awal dan nglokro di belakang, maka persiapan singkat atau malah ndadak bisa jadi jalan tengah. Ya daripada udah disiapin jauh-jauh hari dan akhirnya nggak jadi, ya mangkel!

2. Teman Baru
Rencana mau ke Gn Prau sudah saya sounding-kan bareng teman-teman, seperti Nur Fatimah alias Nung sama Reni Suryati. Mereka pun angkat tangan sambil ngangguk. Berangkat. Sempat ngajakin beberapa teman tapi, karena ada berbagai sebab dan alasan, jadilah kami bertiga yang 'bertugas' mengantar tamu dari Jakarta itu. 

Awalnya, ada empat orang dari Jakarta yang mau naik. Selain Widi, ada yang namanya Firman, Andre, sama Leeyoo. Dua yang saya sebut terakhir mundur. The show must go on, petualangan harus terus berlanjut. 

Nah, dua malam sebelum hari H. Saat saya laporan sama Mas Widi soal tenda, dia bilang: "Aku yang nggak aman. Sabtu suruh masuk." Saya pun jawab (lebih tepatnya nyemprot): "Bolosss, apa-apaan kalau nggak jadi." Ada nada jengkel waktu itu. Tapi lekas saya cairkan dengan emoticon melet (:p) dan tertawa (:D). Plus bumbu, kalau saya percaya pada kemampuan melobi dan merayunya. Karena kejadian ini sama persis yang kami alami waktu main ke Cibodas, Mei lalu. Dan Alhamdulillah, berhasil!!!

Jadilah, hanya ada dua orang yang ke sini, Mas Widi dan Firman. Berangkat dari Jakarta, Jumat (11/9) sekitar pukul 21.00 WIB malam, pakai KA Serayu Malam, sampai di St Purwokerto, keesokan harinya tepatnya Sabtu (13/9) pukul 07.30 WIB. Artinya, mereka menempuh perjalanan dari Jakarta-Purwokerto sekitar 10 jam! Pegel-pegel deh. :D

Yang bertugas buat jemput mereka adalah saya dengan Reni. Dan, itu kali pertama saya bertemu dengan seorang teman baru. Yap, Firman. Kali ini, kami langsung kenalan, nggak kayak di Gn Papandayan beberapa waktu lalu, kenalannya pas udah mau pulang. 

Si Adek sama si Kakak. Adek yang kuat ya... :D
Pas pertama kali ketemu, saya mbatin: "Wah, bongsor juga nih, bocah." Setelah sampai rumah, muncullah naluri kewartawanan saya alias suka tanya-tanya. Seperti asal, di Jakarta berapa tahun, dan lainnya. Bukan asl plz kok. Hihihi.

Firman, yang kemudian dan seterusnya saya panggil dengan sebutan adek, adalah anggota termuda sekaligus terkuat di tim kami. Termuda secara umur dan paling kuat karena dia yang bawa tenda. Malu ya Dek, sama umur, kalau nggak kuat bawa tenda. Heheheu. Karena yang paling muda dan kuatlah, dia selalu jalan di depan. Bahkan sampai menantang saya lari pas pulang via jalur Dieng. Dilakuin? Nggak. Hemat tenaga, boiiiii... Masih jauhhh...

3. Pasukan Kece Bong
Itu adalah nama yang disematkan pada pasukan kami. Siapa lagi kalau bukan Mas Widi. Pasukan kece bong adalah sekumpulan anak-anak muda yang keren, gemesh, dan tetap kece di manapun, kapan pun, walau baru tidur dan nggak mandi. Hihihi. 


Pasukan Kece Bong swafoto di dalam tenda. Tetap kece. 
Pasukan ini beda ya sama pasukan kece bong kebanyakan. Just kece bong dengan penulisan berjarak antara kece dan bong. Pun tidak ada embel-embel belakangnya.

Tertarik untuk jadi anggota pasukan kami? Boleh. Free kok. Syaratnya juga gampang. Siap jalan jauh dan jangan ngeluh. Susah? Ya wajar sih, pekerjaan paling mudah di dunia ini kan mengeluh. For more information, hubungi langsung sama kepala sukunya, di IG @widinugroho28. Angka 28 menandakan umur si pemilik akun. #eh 

Sekilas soal Mas Widi. Frankly speaking, paling nggak tahan kalau nggak cerita soal ini orang. Saya mengaku: saya tertipu. Awalnya, saya kira, dia akan seperti waktu di Gn Papandayan dan Cibodas, beberapa waktu lalu. Yang kalem, cool, sedikit malu, dan jarang mau difoto, meski dia tetap jalan paling belakang dan pakai celana pendek. Saya kira, dia cuma ramai pas di WA atau BBM saja.

Dan, perkiraan ini berubah 180 derajat! Dia bukan lagi Widi yang cool, yang ogah difoto. Yang ada dia ngajak swafoto mulu. Nyaris semua foto-foto di Tepi, foto selfie-nya. Sebagai peringatan, jangan berikan hape sama Mas Widi. Niscaya, memori ponsel bakal penuh sama foto-fotonya. x_x 

Pun dengan si Adek. Saya pikir dia akan sama antengnya, mirip seniornya. Ternyata nggak. Anaknya seru dan hobi selfie. Duh jon...

Di mana pun dan kapan pun, swafoto tetap hayuk ajah. 
Overall, di tim ini kami saling melengkapi. Ecieee... Si Adek yang kuat, yang bawa tenda. Nung yang walau kecil badannya tapi paling senior di antara kami. Maklum, anak Mapala. Reni, si juru masak, suporter paling semangat, dan Mas Widi yang jadi penyapu, memastikan tidak ada yang tertinggal. 


Saya? Kebagian merekam, mengamati, dan menulis cerita lah dengan iming-iming muat di koran sama blog. Siapa coba yang nggak mau, kisahnya dibaca orang se-Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, sebagian Gombong dan Bumiayu. Hahaha. Apalagi berkat catatan perjalanan ini, banyak pembaca yang suka dan ngefans. Seperti Mbak Ningsih, Mbak Irtanti, Pak Hartoko yang bilang: "kalau baca tulisannya Mbak Juli itu, seperti ikut beneran, ikut ngrasain dinginnya, ikut takjub melihat sunrise." Sedikit narsis boleh kan? :v

4. Menembus Kabut
Sesuai rencana, kami berangkat dari Purwokerto menuju Dieng dengan menggunakan sepeda motor sekitar pukul 13.00 WIB. Pembagiannya, Mas Widi boncengan sama Reni, Nung sama si ade, dan saya sama Supri. Motor yang gantengnya maksimal! 


Supri nih, yang gantengnya maksimal. Foto di kosan lama. 

Brum brum brum. Motor melaju, membelah Jalan Riyanto Sumampir, Pabuwaran, Tambaksogra, Sumbang, masuk ke Padamara, Purbalingga, membelah jalanan di Kota Perwira dan melaju hingga ke Bojong dan Wirasaba. Nah pas sampai di jalan arah ke Wirasaba itu, saya sudah bahagia, jalanan mulus, enak buat si Supri. Saya pun teriak, "Jayalah Purbalingga." Tapi nggak lama. Tadaaaaaaa, jalan rusak, berlubang di-mana-mana, sampai bingung mau lewat mana, menyambut kami. Langsung kalimat Jayalah Purbalingga saya tarik. Jalan PHP!

Lepas dari jalanan rusak itu, kami kembali ngaspal jalanan Purbalingga-Banjarnegara. Wuuuhhh, mulusss. Tapi, no offense ya, jalanan Banjarnegara itu mbosenin. Lurusnya minta ampun! Panjang lagi. Berasa nggak habis-habis kalau lewat jalan di daerah itu.

Sayang, mulusnya jalanan Banjarnegara hanya sebentar, begitu masuk kota, selamattt, jalannya bergelombang dan di beberapa lokasi berlubang. Duh, jalan rusak di Banjarnegara itu selalu diberitain lho, sering ditulis sama Mas Maula dan Mas Gatot, wartawan SatelitPost Banjarnegara. Tapi kok ya nggak dibenerin juga. Duh, Gusti. 

Setelah dari Banjarnegara, kami mulai masuk ke Wonosobo. Tapi tunggu dulu, kok belakang saya nggak pasukan kece bong? Alhasil, di deket markas kantornya cabangnya Kak Ros di Wonosobo, saya berhenti sambil menunggu mereka. Ditambah kepala bagian belakang juga mulai cenat-cenut. Mungkin karena kurang minum plus terlalu lama berkendara. 

Agak lama menunggu mereka, sekitar 20 menit. Setelah kembali bersama, kami berlima bergegas menuju Wonosobo dan di sinilah saya mengalami tragedi yang paling ditakutkan semua pengendara yang tidak memiliki kelengkapan berkendara. Razia kendaraan bermotor alias tilangan! Kena, Jul? Ada dehhh, ;)

Lepas dari razia itu, kami sempatkan mampir sebentar di masjid setelah Alun-alun Wonosobo untuk salat Asar sambil kembali berkemas. Maklum ada yang bawaannya sedikit. Hheheu. Dari masjid itu, kami masih mampir bentar isi bahan bakar untuk motor dan perut. Tepat pukul 17.30 WIB, kami benar-benar menuju Dieng. 

Perjalanan menuju Dieng sangat jauh berbeda dibanding perjalanan yang pernah saya lakukan sebelumnya. Ini adalah kali pertama saya motoran sendiri, jadi sopir buat diri sendiri. Sempat agak was-was tapi Bismillah saja sambil berhati-hati bawa si Supri. Maklum, motor tua. Ketika sudah di area tanjakan dan turunan, serta kelokan panjang, saya cuma memacu Supri di gigi 2. Paling pindah ke gigi 1 abis itu balik lagi ke gigi 2. 

Selain itu, awan hitam yang mulai menggelayut, menandai dimulainya malam hari. Suara binatang malam mulai terdengar. Dan kabut pun perlahan turun. Membuat saya mulai kedinginan, merembes melalui jaket. Juga mulai menghalangi jarak pandang. Sebelumnya saya bisa melihat sekitar enam meter, lama-lama berkurang, lima, empat, tiga, dua, dan satu. Ya, saya hanya memiliki kemampuan melihat dalam jarak satu meter, mengandalkan lampu depan si Supri.


Jalan menuju Dieng di siang hari. Iya, itu yang berjajar kendaraan.
Dan, saat kabut turun inilah, nyali saya sedikit ciut. Di jalanan itu, hanya ada mobil colt dan satu sepeda motor di depan. Dan saya sama sekali enggan menyalip dua kendaraan itu. Sementara teman-teman jauh di belakang.

Dari beberapa perjalanan malam hari yang pernah saya lakukan, honestly, ini yang bikin saya olahraga jantung. Dulu, saya pikir, ngaspal jalur selatan Jawa Tengah di malam hari dalam situasi hujan, sudah yang paling bikin tratapan. Ternyata ada yang lebih. Apalagi di sepanjang Dieng itu, saya jarang berpapasan dengan pengendara lain, baik yang searah maupun berlawanan.

Sudah. Di titik itulah saya pasrah. Saya bilang sama Tuhan: "Tuhan, Engkau pelindungku. Apapun yang terjadi, itu terserah pada-Mu saja." Dan saya pun merapalkan beberapa ayat dan surat. Entah saat ketemu tanjakan, turunan, belokan, atau landai. Begitu seterusnya sampai kabut perlahan menghilang, dan saya bisa memandang dengan jangkauan normal. Alhamdulillah...

Apalagi tak lama, kami sampai di gapura selamat datang di Dieng. Huaaa, legaaaaaa sekali. Berkali-kali saya mengusap dan memujinya: Kamu hebat, Sup. Kamu keren. Saya juga. Hehehe. And I was so excited. Takjub aja kok bisa nyetir sendirian ke Dieng, nembus kabut. Ini pengalaman seru.

Dan saking excited dan terharunya, begitu sampai di halaman Kantor Desa Patakbanteng, saya mencium Supri sambil bilang: "I am so proud of you, Sup." Tak lupa memeluk dua sahabat saya, Nur dan Reni dengan kondisi agak gemetar. Gemetar karena kaget dan dingin.

Di halaman kantor kepala desa itu kami hanya menitipkan motor dan helm. Iyess, karena basecampnya udah pindah ujung Desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo. Tarif nitipin motor dan empat helm, Rp 22 ribu. Oleh mas-mas penjaga parkir, kami diberitahu jalan menuju basecamp, yang ternyata nggak jauh dan ada arah penunjuknya. 

5. Hardwell
Robbert van de Corput. Itu nama asli si mas ganteng asli Belanda yang kemudian bernama panggung Hardwell. Dua kali dinobatkan sebagai The World's No. 1 DJ on DJ Magazine's tahun 2013 dan lagi 2014. 


Make some noise... Hardwell. sumber: fotonet
Pertanyaannya, ada hubungan antara mas ganteng ini sama Gunung Prau? Ada. 

Sepanjang perjalanan, baik naik dan turun, saya nyanyi lagu-lagu racikannya. Sampai beberapa beat ringan yang sering ia tampilkan saat tur. Mulai dari Apollo, Dare You, Young Again, Never Say Goodbye, sampai yang kemudian jadi favorit saya dua bulan belakangan ini, Follow Me dan beberapa lagu yang kemudian baru saya ketahui judulnya, Mad World dan Echo

Ini sebagai efek sebulan penuh, dari Agustus, turun dari Gn Sumbing langsung tancap gas dengerin Hardwell, setiap hari. Mungkin kalau mas ganteng ini ada di samping saya, dia bakal teriak: "Juli, bosennn, disetel kamu terus."

Nggak lupa lagunya Ed Sheeran-Photograph. Ah lagunya Paramore yang Ain't It Fun juga jadi soundtrack pas lari-larian di padang aster. Itu janji saya tahun lalu. Kelak kalau lewat jalur ini, saya harus nyanyi lagunya Paramore. Dan baru keinget masih ada lagunya Zedd yang Beautiful Now. Padahal pas buat dinyanyiin di jalur Dieng itu. 

Padang Aster, yang bikin saya nyanyi lagunya Paramore
Dan, satu lagu wajib pas di gunung: A Sky Full of Stars-nya Coldplay. Itu saya gumamkan saat melihat langit bertakhtakan gemerlap bintang, yang aduhaiii, kerennn banget. Emejing! 

The Script dan Owl City untuk sementara saya simpen dulu. Nah begitu turun, saya malah nyanyi lagunya Payung Teduh dan Float. Jeglek banget! 

6. Sikunir, Kami Datang...
Sesuai rencana semula, begitu kami turun via Jalur Dieng, kami akan langsung menuju Sikunir. Jaraknya memang nggak begitu jauh karena masih di kawasan Dieng. Di jalan kami sempat merogoh kocek Rp 10 ribu untuk masuk ke kawasan lokawisata Dieng.

Kami ke sana sekitar pukul 11.00 WIB. Sayang, kabut lagi-lagi turun dan menghalangi pandangan. Termasuk saat kami tiba di area parkir Sikunir. Kondisi ini sempat bikin galau, antara mau naik apa enggak. Namun, demi mengusir rasa penasarannya Mas Widi dan Firman, sambil berharap siapa tahu di jalan, kabutnya hilang, kami putuskan untuk naik. 


Kami sampai di Sikunir. Hal wajib foto di sini. 
Nah, bukannya menghilang, kabut malah semakin tebal. Di tengah jalan, kami memutuskan untuk turun lagi setelah beberapa kali swafoto. Sayang...







FINISH. Lunas yess sudah ditulis sebagian besar perjalanan kali ini. Memang ada beberapa hal yang nggak ditulis demi kenyamanan dan keselamatan bersama. Maaf sekali jika terlalu lama nunggu tulisannya karena beberapa pekan terakhir, harus berkutat dengan banyaknya tugas, baik liputan, editing berita, share berita online, maupun proyek lainnya. Termasuk melahap buku dan mantengin tulisan-tulisan dari penulis favorit. Semoga berkenan. (*)


Galeri:
Oke. Tetap kecehh kan? 

Surprise. Ketemu teman sekelas waktu SMA, Ariyadi alias Ariel.
Di tangan saya, itu oleh2 dari Ariel waktu ke Rinjani, Lebaran kemarin.
Demm, delapan tahun nggak ketemu, dia masih inget suara saya. :D

Thanks Prau, sudah membuat kami rindu.

Yang dua asyik swafoto, satunya lagi nulis, satunya mager, jadi papan. *eh

Yeahhhh, I will fly... Nung, tunggu.... 

Biru dan hijau. Kombinasi paling berkelas yang bikin adem. 

Heiii, kamunya aku. Selamat pagi, semoga selalu dimudahkan
dan dilancarkan sama Tuhan. Aku tunggu kamu... #baper

Ih, apaan sih mas-mas ini. :v

Oke, mari nyanyi lagunya Float yang Pulang. Dan, lalu...............

Turun gunung, foto. Naik gunungnya enggak. Maapkeuunn T.T

Tiati, adek dan simbah. Thanks all... Di Stasiun Purwokerto. :))

Yeesss, ini bukti kalau merekaaaaaaaaaaa ituuuuu: hobi selfie








Jumat, 18 September 2015

Menangkup Lima Gunung, Menyaksikan Golden Sunrise


Catatan Pendakian Menuju Gunung Prau (2)


Aku di Gunung Prau

MALAM berbalut hawa dingin menyelemuti sunrise camp Gunung Prau. Badan saya mulai gemetar, menggigil. Dingin. Saya pun lekas merapatkan jaket dan sleeping bag agar tak semakin kedinginan.

Namun, malam jelang dinihari itu, Minggu (13/9), suasana masih saja ramai. Ada banyak percakapan, suara langkah kaki. Kian larut, kian banyak pendaki yang mulai berdatangan. Saat itu, jarum jam menuju angka tiga.

Satu setengah jam kemudian, seruan-seruan kencang kian terdengar. Banyak pendaki yang mulai bangun dan keluar tenda, menunggu momen spesial yang tersaji di Gunung Prau. Sementara kawan-kawan saya, Nur Fatimah, Reni Suryati, Firman Al Ahyar, dan Widi Nugroho, masih pulas tertidur. Hawa dingin yang masih mengungkung, membuat saya memilih tetap tinggal di tenda.

Barulah sekitar pukul 05.00 WIB, kami semua kompak bangun. Beberes tenda sejenak, sembahyang, dan keluar tenda. Begitu keluar, wuuhhh, dinginnya langsung menusuk tulang. Ingin rasanya kembali ke tenda, namun pemandangan yang terhampar jelas di hadapan kami jauh lebih menggoda.

Semburat warna orange di langit memberi sedikit cahaya pada pagi itu. Gradasi warna biru, hitam, dan jingga mencipta satu harmoni. Indah. Sementara di depan kami, dua gunung menjulang tinggi, menyentuh langit. Gunung Sindoro-Sumbing berdiri gagah. Nun jauh di sana, nampak Merapi, Merbabu, dan Lawu menyembul di antara lautan awan. 
Dek Firman tampak dari belakang. Wuhuuuu... 
Ini yang saya sebut dengan keajaiban pagi di Gunung Prau. Lima gunung nampak jadi satu tangkupan tangan. Jika menengok ke belakang, maka Gunung Slamet ikut terlihat. Semuanya gagah. Seakan mengajak kami untuk menjejakkan kaki di puncak-puncaknya.

Tak hanya itu. Masih di depan kami, sekumpulan awan bergerak, berarak, dan menyelimuti kawasan Dieng juga seluruh permukaan yang bisa kami lihat. Mereka nampak seperti permadani raksasa. Bila itu nyata permadani, ingin rasanya menjatuhkan badan, lalu melompat di atasnya. Sayang, itu awan. 

Apalagi saat awan bercampur kabut itu turun, melintasi perbukitan. Bagai air mengalir, menganak sungai, mengisi bagian-bagian kosong. Terus seperti itu. Tak berhenti. Cantik nian...

Pemandangan seperti ini yang sukses membuat saya rindu pada Prau. Tiga kali ke sini namun ribuan kali sudah saya dibuat jatuh hati. Hati saya, benar-benar tertinggal di sini. 

Kami dan ratusan pendaki terpukau. Apalagi saat menanti sang surya terbit di ufuk timur. Itu adalah momen yang tak terlupa. Tepat pukul 05.30 WIB, matahari muncul. Ia beranjak, memberi terang pada semesta. Membagikan cahaya hangat, menyingkirkan hawa dingin yang masih tersisa, menyapu warna hitam, dan menggantinya dengan sinar keemasan di langit. Luar biasa.
Enjoy sunrise. In frame: Nur dan Reni. Photo by me

Banyak orang menyebut, ini adalah momen Golden Sunrise yang tak akan pernah terlupakan saat di Gunung Prau. Inilah momen yang paling ditunggu para pendaki. Tak peduli, berapa jam yang mereka habiskan menuju Gunung Prau. Tak peduli, berapa keringat yang menetes saat mendaki. Tak peduli, berapa kali harus berhenti, meluruskan kaki. Menyaksikan keindahan ini adalah hadiah. Lunas tuntas. Bahkan masih diberi bonus lebih!

Kami semua terpukau. Terhipnotis. Seru-seruan kagum terdengar. Tak ingin menyiakan kesempatan ini, kami pun mengabadikan melalui bidikan kamera. Klik klik klik.
Bayangan. Tebak siapa saja di sini? 

"Amazing. Ini keren banget," kata Firman, kawan seperjalanan yang datang dari Jakarta. 

"Iya, keren. Setiap gunung punya keindahan berbeda-beda. Treknya juga mantap," ujar Widi menambahkan. 
Ucapan wabilkhusus buat sahabat tercinta, Tante Ana


Lama sekali kami menyaksikan pemandangan ini. Hingga tak sadar, cahaya hangat matahari berubah menjadi panas. Kami pun sepakat kembali ke tenda. Sarapan, membereskan tenda sembari berkemas, dan pulang. Setelah memastikan tak ada satu pun barang yang tertinggal, juga sampah, kami memulai perjalanan pulang. Tepat pukul 08.00 WIB, kami turun bersama pendaki lainnya. 

Jalur yang kami tempuh pada perjalanan pulang kali ini pun berbeda. Jika saat berangkat kami mendaki via jalur Patakbanteng, kini kami pulang via jalur Dieng. Perbedaan yang amat terasa dari kedua jalur ini adalah treknya. Jika via Patakbanteng lebih menanjak, curam, dan berdebu, jalur Dieng lebih landai dan panjang. 

Pun jarak tempuhnya. Bila naik dari Patakbanteng, kami hanya butuh waktu 2,5 jam, nah naik melalui jalur Dieng bisa dua kali lipatnya. Bisa lima hingga enam jam! 

Di jalur ini, kami 'bermain' sebentar di padang bunga aster atau daisy. Bunga ini tampak cantik. Apalagi saat ia mekar dalam rerimbunan. Makin membuat kami jatuh hati. 
Swafoto pakai si tepi. Biarkan yang di samping saya ini tampak jelek. :p 

Padang bunga Daisy alias Aster. Satu sudut yang kurindukan di Prau

Juga Bukit Teletubbies. Disebut Bukit Teletubbies, kontur bukit ini memang seperti pemandangan bukit yang ada di film kartun anak-anak yang tenar tahun 2000-an itu. Saking gembiranya, saya sampai berlari-lari di kawasan ini. Selain untuk mengejar waktu turun supaya lebih cepat. Firman pun lantas menantang saya untuk kembali berlari hingga titik yang telah ditentukan. Tapi urung kami lakukan demi menghemat tenaga sebab perjalanan masih jauhhh. Pukul 11.30 WIB, kami sampai di jalur menuju Basecamp Dieng.

Lunas sudah perjalanan kali ini. Apalagi dalam pendakian kali ini, kami tak hanya mengantarkan dua kawan yaitu Firman dan Widi untuk menjejakkan kaki di Gunung Prau, namun juga menebas rindu pada tanah setinggi 2.565 mdpl itu. Untuk sementara, rasa kangen pada Prau sudah terobati. Entah seminggu, sebulan, atau tiga bulan kemudian. Rindu Prau itu pasti muncul lagi.
Foto di puncak tertinggi Bukit Teletubbies saat pulang. 

Sebagian orang beranggapan, Gunung Prau adalah satu dari sekian gunung yang ramah untuk pendaki pemula. Yang harus diperhatikan adalah air sebab di atas tak ada mata air. Selain itu, pihak pengelola juga menerapkan denda berupa bibit pohon yang diberlakukan atas pelanggaran yang dilakukan di Gunung Prau. Misal, untuk pelanggaran membuang sampah sembarangan dikenakan dua bibit pohon, menebang pohon lima bibit, mencoret pohon/batu lima bibit, dan lainnya. Selamat merencanakan pendakian. Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak. Jangan mengambil apapun kecuali gambar. Jangan membunuh apapun kecuali waktu. Salam. (sri juliati)

Fiuhhh, sampai juga. 


==============================================================

Tulisan ini sudah termuat di halaman 1 Harian Pagi SatelitPOst edisi Rabu (16/9)

Senin, 14 September 2015

Catatan Pendakian Menuju Bukit Prau (Bag 1)


Keajaiban Malam di Ketinggian 2565 Mdpl
Pemandangan di pagi hari dari Gunung Prau, 2565 mdpl. Nampak Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi, dan Merbabu.



DIENG sungguh eksotis. Semua pun sepakat. Dan, satu lokasi untuk menikmati kecantikan itu ada di Gunung Prau. Ini ceritanya.


"Semuanya siap ya. Nanti jalannya santai aja, nggak usah buru-buru. Kalau capek istirahat. Oke, sebelum naik, kita doa. Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing dipersilakan."

Sabtu (12/9) malam, di tengah rinai gerimis, kami berlima, saya, Nur Fatimah, Reni Suryati, Widi Nugroho, dan Firman Al Ahyar menundukkan kepala, menengadahkan tangan. Mulut pun komat-kamit. Merapalkan beberapa doa agar perjalanan kali ini, Tuhan selalu memberikan kemudahan, kelancaran, dan keselamatan.

Pendakian dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Saat gerimis mereda, kami menapakkan kaki di tangga Desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo menuju Gunung Prau. Jalur ini disebut Ondo Sewu. Disebut Ondo Sewu alias Tangga Seribu, mungkin karena jumlah anak tangganya banyak. 

Ini semacam 'tantangan' yang pertama harus dilalui. Sebab, bagi sebagian orang, menaiki tangga merupakan aktivitas yang menjemukan. Butuh tenaga ekstra.

Desa Patakbanteng merupakan satu dari beberapa jalur pendakian resmi menuju gunung setinggi 2.565 mdpl tersebut. Selain via Desa Patakbanteng, pendakian bisa dimulai dari Basecamp Dieng, Basecamp Kaliembu, Basecamp Dwarawati, dan Basecamp Wates. Kelima jalur ini memiliki keunikan tersendiri, namun akan berkumpul di titik area camp yang sama.

Setelah melewati Ondo Sewu, jalur pematang dan galengan di antara ladang warga menjadi trek selanjutnya. Jalan sekitar 100 meter, akan 'bertemu' dengan jalur makadam atau batu yang disusun rapi. Di jalur tersebut, kami mulai bertemu dengan beberapa rombongan pendaki lainnya. Seperti dari Kendal, Semarang, Kudus, dan lainnya. Saling ngobrol dan guyon dapatlah menjadi penyemangat menyelesaikan jalur yang kian menanjak ini.

Sampai di tikungan, kami berhenti sebentar. Sedikit demi sedikit, tenaga mulai terkuras. Rupanya, kami hampir sampai di Pos 1.

"Tanggung, yuk jalan lagi, depan Pos 1 tuh," kata Widi Nugroho sembari mengajak kami.

Kami pun bergegas, kembali melangkahkan kaki. Sampai di Pos 1 Sikut Dewo, sudah ada beberapa petugas yang mengecek tiket. Nah, jika ketahuan tidak membawa tiket masuk, siap-siap saja kembali ke basecamp ditambah denda berupa satu bibit tanaman. 

Dari informasi yang saya dapat dari petugas tersebut, sekitar 700 orang sudah naik ke Gunung Prau. Bisa dibilang, itu jumlah yang amat sedikit bila dibandingkan saat perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus kemarin, tercatat ada 6 ribu pendaki!

"Hati-hati aja, Mas, Mbak. Harus mulai pakai masker atau penutup hidung. Debunya banyak banget," ujar mereka.

Benar saja, baru sebentar naik ke Pos 1 menuju Pos 2 Canggal Walangan, debu-debu jalur pendakian bergerak, terbawa saat kaki melangkah lantas terbawa angin. Jalur pendakian menuju Pos 2 terbilang susah-susah gampang. Susah karena tubuh harus mulai beradaptasi dengan udara dingin serta trek yang semakin menanjak-berdebu. Gampang, karena setelah trek naik itu, jalur kembali landai dengan kanan-kiri terdapat warung makan milik warga setempat untuk sekadar melepas lelah.

Di Pos 2, kami sejenak melepas lelah. Meletakkan ransel. Menikmati camilan yang kami bawa. Tentu sambil bersenda gurau.

"Habis Pos 2, nanti treknya mantep banget. Semangat teman-teman tapi, udah dapet setengah perjalanan kok," ujar Nur Fatimah yang disambut teriakan semangat dari kami semua sambil berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan.

Baru sekian langkah, saya sudah meminta break alias istirahat. "Depan berhenti ya Dek," seru saya pada Firman Al Ahyar yang ada di depan. 

Saya pun duduk, meluruskan kaki. Pun dengan kawan-kawan. Rasa lelah mulai mendera. Padahal, yang tadi kami lalui, belum seberapa. Jalan masih panjang. 

Jalur menuju Pos 3, memang lebih berat dibanding trek sebelumnya. Kian menanjak, terjal, dengan kontur tanah berdebu. Saat menapak, kaki harus benar-benar mantap. Jika tidak, bisa terpeleset seperti yang terjadi pada beberapa kawan.

Di jalur ini pulalah, kami dan para pendaki lebih sering berhenti. Selain kian melelahkan, kami juga harus mulai antre demi menghindari debu yang beterbangan. Apalagi saat kami naik, bertepatan dengan turunnya kabut. Makin mantaplah jalur ini.

"Eh, jalan lagi yok. Dingin nih kalau berhenti terlalu lama," kata Reni. 

"Ayok, mending jalan pelan-pelan tapi terus gerak. Nih, sambil dimakan madu atau cokelatnya, buat nambah tenaga," ujar Widi menimpali Reni. 

Ya, kami tak ingin terlalu lama berhenti. Demi menghindari udara dingin yang mulai memerangkap tubuh. Kami harus terus berjalan, walau mulai tertatih-tatih.

Selesai dengan jalur tersebut, kami sampai di Pos 3 Cacingan. Jalurnya kembali menanjak namun tak seperti jalur dari Pos 2. Sudah ada anak tangga dari bambu sebagai pijakan. Kondisi ini jauh berbeda saat kali pertama saya ke sini, Maret 2014. Jalurnya masih berupa bebatuan dan sempit.

Tak lama berjalan, saya menemukan sekumpulan bunga aster. Artinya, kami sudah semakin dekat dengan camp area. Benar, baru saya memikirkan hal itu, Nur dan Firman yang berada di depan, berseru: "Mbak, landai... Udah sampai... Yey..." 

Benar, kami sudah sampai di jalur landai menuju camp area. Kami menyusuri setiap jengkal camp area demi menemukan sedikit tanah lapang untuk membangun 'rumah.' Ya, setiap akhir pekan seperti ini, Gunung Prau selalu ramai dengan para pendaki. Tak perlu khawatir tak mendapat tempat mendirikan tenda, sebab camp area di sini amat luas. Sangat. 
Ki-Ka: Si adek sama kakaknya alias Firman dan Nung.

"Pukul 22.30 WIB, dua setengah jam perjalanan. Yok bikin tenda," ujar Widi yang mulai membongkar ransel, mengeluarkan tenda.
Makan ya banyak, Juli...


Usai bekerjasama mendirikan tenda, sekitar 30 menit, kami mulai memasak. Kopi dan teh tersaji lebih dahulu, disusul mi serta makaroni rebus. Walau makaroni agak sedikit kurang matang namun tetap saja lahap dimakan. Lha wong lapar gegara tenaga terkuras habis saat pendakian tadi. Rencananya, setelah makan selesai, kami akan langsung masuk tenda, beristirahat. Namun, rasanya sayang melewatkan malam indah di Gunung Prau hanya dengan tidur. Saya pun menyibak tenda dan mendongak ke atas. Pemandangan langit yang sangat spektakuler tersaji di atas saya. 

"Mas Widi, keren banget. Eh ayo keluar, ini bintangnya keren banget," ujar saya dengan sedikit berteriak, walau tak terlalu kencang. 
Menu makan berupa makaroni setengah matang dan mi rebus.



Semuanya keluar dan menjadi saksi hidup bagaimana langit nan maha luas itu dipenuhi gemerlap bintang. Ribuan, jutaan, bahkan sangat mungkin miliaran jumlahnya. Kelap-kelip. Berkedip pada kami. Aihh, indah. Kami sangat beruntung, cuaca malam itu sangat cerah. Maka sambil menikmati sajian yang amat keren itu, kami duduk, ngopi-ngeteh, dan tentu saja tak melewatkan sesi swafoto. 

Dan, malam pun kian larut. Angin mulai berhembus. Dingin. Ditambah beberapa kawan mulai menguap. Kami pun sepakat masuk ke tenda, istirahat, merebahkan badan usai perjalanan melelahkan itu, demi menanti keajaiban esok pagi di Gunung Prau. (sri juliati/bersambung)


=================================
Naskah feature ini sudah dimuat di Halaman 1 Harian Pagi SatelitPost, edisi Senin (14/9).