Senin, 16 November 2015

Cerpen Anak: Hadiah Terindah Wita

ILUSTRASI KADO. SUMBER: CLIPARTPANDA.COM

Selamat Malam,  
Ini adalah kali ke dua saya ngepost cerpen anak yes. Selain menepati kekonsistenan (halah), setiap hari Senin, menerbitkan cerpen, juga belum ada tulisan atau catatan perjalanan lain yang perlu dibagikan. Hehehe


Sekilas soal cerpen ini. Honestly, saya mendapatkan nama Bang Todi dari sebuah drama radio. Jadi begini, sekitar tahun 2006 (kalau nggak salah), sebuah radio swasta yang siar di Solo selalu menyiarkan drama saat bulan Ramadan. Tayangnya tiga kali sehari, setelah Ashar, jam 11 malam, dan saat sahur alias re-run



Kalau kalian pikir dramanya itu drama kolosal, dengan cerita masa lampau, zaman kerajaan-kerajaan gitu, salah besar. Ceritanya kekinian booo, dengan efek-efek suara dan soundtrack lagu yang hits pula. Seperti Muse-Starlight, Fix You-nya Coldplay, dan dua lagu ini favorit saya sampai sekarang. 


Sebagai fans berat radio itu, saya hampir nggak pernah melewatkan siaran dramanya. Alhasil, saban sore, ba'da Ashar, saya sudah stand by, ngerasin volume radio, demi drama ini. Tentu sambil nyapu. Kalau pun ketinggalan, bela-belain begadang deh


Nah, si Todi ini adalah pemeran utama dalam drama radio tersebut. Ia dicitrakan sebagai pria yang matang, baik, penyayang, dan humble banget. Terinspirasi dari Bang Todi yang keren itulah, saya menggunakannya dalam tokoh cerpen anak kali ini. Nggak beda jauh sama Bang Todi yang di drama radio, Bang Todi yang di cerpen ini juga sayanggggg banget sama adiknya. 



Sudah ya. Selamat membaca...


=====================================================================


WITA sangat kesal dengan ulah Bang Todi hari ini. Kenapa? Karena sang kakak baru saja menabrakkan sepeda kesayangan Wita ke pagar. 


Jelas saja Wita marah. Seharian ia ngambek. Meski warnanya sudah pudar, namun sepedanya tetap menjadi kesayangan. Lantaran sepeda itu dibeli kakek Wita sebagai hadiah ulang tahun. 


Ceritanya ini Wita lagi marah.
Sumber: CLIPARTPANDA.COM
"Abang tahu kan, sepeda itu diberikan kakek khusus untuk Wita?" ucap Wita kesal pada kakaknya.

"Ya, Dek.. Abang tahu.. Makanya Abang minta maaf. Sumpah Dek, Abang nggak sengaja. Besok Abang ganti deh," rayu Bang Tody.


"Nggak mau! Wita maunya sepeda itu!" Wita terpaksa berteriak saking kesalnya.


"Ya deh, Abang beliin sepeda yang mirip sama sepeda itu."


"Nggak mau! Pokoknya Wita cuma mau sepeda itu. Nggak mau yang lain!"


"Kan sepedanya udah rusak berat Dek, kalaupun mau dibenerin susah jalan lagi..."


"Salah Abang dong, kenapa sampai ngerusakin. Pokoknya Wita nggak mau tahu. Harus sepeda itu!"


Bunda pun datang melerai. "Eh, eh, ada masalah apa nih? Kok ada yang teriak-teriak sampai kedengeran di bawah?" tanya Bunda.


"Bun, Abang.. Sepeda Wita ditabrakin ke pagar. Bunda tahu kan sepeda itu dari kakek buat hadiah ulang tahun Wita..."


Bunda langsung berpaling. "Bener, Bang?" 


Todi mengangguk lemah. "Tapi Adek juga keterlaluan, Bun. Masak Abang udah minta maaf, nggak mau dimaafin juga," sela Todi. 


"Pokoknya Wita mau sepeda itu saja. Nggak mau yang lain!" bentak Wita. 


"Adek.. Udah, udah. Ok, nanti kita cari solusinya, gimana caranya memperbaiki sepeda itu. Kalau tidak bisa baru beli lagi. Ok? Dicoba dulu saja..." Mendengar saran itu, kedua murid SD Harapan Bangsa ini mengangguk pelan. 


(***)


Todi berusaha mati-matian memperbaiki sepeda itu. Tapi tetap saja tidak bisa karena kondisi sepeda yang cukup parah. Bagian roda bengkok dan rem blong. 


Todi pun putus asa. Ia menemui bunda dan melaporkan hasilnya. Wita harus dibelikan sepeda baru. Bahkan Todi bersedia mengeluarkan tabungannya untuk membeli sepeda baru.


Bunda pun terharu dan menuruti keinginan putra sulungnya. Sementara Todi memecah celengan dan menghitung, ibu bersiap-siap pergi. Sedangkan Wita masih berada di rumah temannya, belajar kelompok.

Si Abang Todi yg baik banget.
SUMBER: cipartheaven

"510, 520, 530, 550. Hore, tabunganku Rp 550 ribu. Cukup untuk beli sepeda apa ya?" kata Todi girang. "Bun, tabungan Abang ada Rp 550 ribu.." teriak Todi pada Bunda yang sudah menunggunya di teras. 


Mereka bergegas ke toko sepeda. Ada banyak sepeda dengan berbagai macam warna, corak, dan bentuk. Todi terheran-heran. Ia berkeliling toko dan menemukan sepeda yang mirip dengan sepeda Wita. Hanya warnanya saja yang berbeda. Biru tua. 


"Pak, sepeda itu yang warna merah masih ada tidakk?" tanya Todi pada pelayan toko.


"Wah, sudah tidak ada lho.. Yang itu saja tinggal satu-satunya," terangnya. 


Karena sudah tidak ada lagi yang cocok, maka Todi membeli sepeda biru tadi. Setelah dicek, uang Todi kurang Rp 250 ribu. Lantaran sepeda itu seharga Rp 800 ribu. 


Todi kecewa dan memalingkan muka pada Bunda. Bunda yang seakan mengerti, mendekati Todi dan mengeluarkan dompetnya. "Sudah, Todi simpan saja uangnya. Biar sepeda ini, Bunda yang membelikannya," ucap Bunda.


"Tapi, Bun..."


"Sudah.... Simpan saja tabungannya," sergah Bunda. Todi pun terpaksa memasukkan kembali uangnya.


(***)


Sesampai di rumah, Todi langsung memberikan sepeda ini pada Wita. Terang saja, Wita teriak-teriak karena sepeda baru tidak sama dengan sepeda lamanya. 


Kali ini Wita benar-benar ngambek. Ia tidak mau menyapa abangnya, bunda, dan ayahnya. Ia hanya diam saja. Raut wajahnya juga muram. 


Suatu hari, Todi menggeledah isi tas Wita. Ia menemukan selembar kertas bertuliskan kontes sepeda hias. Terpikirlah satu ide cemerlang. 


Todi merombak habis-habisan sepeda Wita. Dihias dengan kertas creep, batik, dan lainnya. Benar-benar cantik. 


Todi mengerjakan sendiri di gudang. Sepulang sekolah ia langsung ke gudang. Pasalnya, Todi hanya punya waktu tiga hari untuk menghias sepeda. 


Sementara itu, Wita semakin kecut saja. Apalagi, hari ini dilaksanakan kontes sepeda hias. Wita jelas tidak mungkin ikut karena ia tidak menyukai sepedanya. Namun...

Ini hadiah sepeda buat Wita. Sumber: clipartpanda.com

"Tara.... Adek.....," panggil Todi. Wita hanya menengok. Matanya terbelalak. Kaget. 

Sepeda barunya berubah total lebih cantik dengan hiasan batik, kertas creep, dan lainnya. 

"Ini Abang yang bikin?"


"Iya, gimana? Bagus nggak?"


Wita hanya mengangguk dan tersenyum senang.


(***)


"Pemenang kontes sepeda hias kali ini, Wita dari kelas lima," kata Bu Astuti, wali kelas lima SD Putera Harapan. 


Wita kegirangan. "Hore...............," teriaknya.


Todi melihatnya dari kejauhan. Kerja kerasnya membuahkan hasil juara. Tak hanya itu saja, Todi sudah berbaikan dengan Wita. Adik perempuan satu-satunya yang ia sayangi. (*)




Purwokerto, 15 Oktober 2011

Senin, 09 November 2015

Kumpulan Cerpen

HALLO, selamat malam. 
Satu naskah cerpen yang pernah dimuat di koran sebelah, 2011.
Thanks utk gambarnya Mas Suro Adi

Ini adalah kali pertama nulis di bulan November setelah off beberapa hari. Apalagi alasannya karena pekerjaan. Padahal pekerjaannya kan nulis ya? Emm, tauk ah. 

Jadi begini, Minggu (8/11) kemarin itu saya lagi happy banget. Bukan, bukan karena menang lomba atau dapat hadiah. Seharian itu saya belanja perkakas rumah tangga macam sapu, pengki, kotak tisu buat di meja kerja, termasuk dua frypan yang cuma dibanderol Rp 40 ribu. Pulangnya, panen mangga depan rumah sama Kak RosHahaha. Iya, sesimple itu ke-happy-an saya. 

Tapi memang ada yang lebih bikin happy kok. Saya menemukan beberapa karya, cerita pendek anak yang dulu muat di koran sebelah alias media tempat saya pertama kali bekerja.

Jadi dulu itu, ada semacam tugas 'khusus' yang disematkan pada saya setiap minggu: menulis cerita pendek anak-anak.

Awalnya, tulisan saya masih panjanggg bangettt dan langsung ditolak sama editornya. Nyoba lagi yang kedua, masih juga nggak dimuat. Saya coba lagi, coba terus, sampai nggak tahu berapa bulan kemudian, akhirnya cerpen saya diterima editor. Sejak saat itulah, setiap seminggu sekali, saya menulis cerpen anak-anak sampai akhirnya keluar dari media tersebut. 

Dulu, sebelum resign, saya berencana mengumpulkan beberapa cerpen yang sudah pernah diterbitkan. Tapi apa daya, saking sibuknya nyari dan nulis berita, sampai nggak punya waktu buat beberes file. Padahal kalau dikumpulkan mungkin ada 30-an judul kali ya. Lumayan kalau dijadikan kumpulan cerpen. Hehehe. Sempat juga minta tolong dengan teman lain yang masih stay di kantor itu tapi sampai sekarang belum dicariin juga. Ya  sudahlah, mungkin bukan rizki saya.  

Nah, ndilalahe, ada teman yang tetiba ngechat. Terus saya pun iseng buka beberapa percakapan kami terdahulu. Dan ternyata, ada puluhan cerita pendek yang pernah saya kirimkan pada teman saya itu... Wuaaahhh, happyyyy banget. Kayak nemuin harta karun! Iya, bagi saya, cerpen-cerpen itu adalah harta karun yang hilang. Setidaknya, saya pernah punya karya dan karya itu dibaca oleh anak-anak di Banyumas Raya sekitarnya. Juga kelak, akan dibaca pasangan dan anak-anak saya. 

Bisa dibilang, tulisan atau tema dalam cerpen saya itu, terlalu mainstream alias biasa banget. Nggak kayak penulis cerpen anak lainnya yang wuuuhhh, jempol. Idenya luar biasa. Biasanya ya tentang baik, buruk, jahat, bohong, jujur, marah, sabar, dan lainnya. Kalau ditanya idenya dari mana, ya dari mana saja. Seringnya dari beberapa pengalaman yang pernah saya alami waktu kecil, termasuk waktu saya hilang di acara Sekaten pas kelas 5 SD. Juga dari buku atau cerita-cerita yang pernah saya baca. 

Kalau pas nulis, biasanya malam jelang dinihari, setelah pulang kantor. Maklum, insomnia saya, parah banget. Dlosoran di kasur, sambil dengerin lagu-lagunya Owl City, lalu ngetik pake BB Gemini. Bagi saya, itu mood booster banget. Bahkan, saya pernah bikin status di fesbuk: "Gara-gara insomnia, Adam Young als Owl City bisa punya lagu-lagu bagus. Kalau saya, cerpen anak saja deh." Iya, zaman itu, saya emang lagi kesengsem sama Mas Adam. Sampai sekarang sih.

Ok, sampailah pada akhir bagian sekapur sirih ini. Maap, terlalu panjang, hehehe. Saya akan men-share cerpen-cerpen waktu di media sebelah, sepekan sekali, setiap hari Senin. Siapa tahu jadi inspirasi buat dongengin anak, ponakan, atau temen yang susah tidur. Oke, selamat mencoba dan semoga wawasannya bertambah. Bye.


NB: Maap bila ada kesamaan nama dan tokoh. Serius, ini nggak disengaja. :)
==================================================================
Sungai Jovindra


ILUSTRASI SUNGAI. SUMBER: PINTEREST
Oleh : Sri Juliati


PADA zaman dahulu kala, hiduplah raja dan ratu yang baik hati. Mereka memerintah kerajaan Nusanta dengan bijaksana. Raja Jalandra dan Ratu Jisca namanya. Selain dikenal bijaksana, mereka dikenal sebagai pemimpin yang ramah dan baik hati. Bahkan mereka tidak segan-segan turun langsung menemui rakyatnya untuk melihat kehidupan mereka secara langsung.

Raja dan ratu memiliki dua orang anak lelaki, yang bernama Judika dan Jovindra. Meski kakak adik, namun tabiat mereka tidak sama. Judika dikenal sebagai kakak yang berperangai kasar. Selain galak, ia juga sering marah-marah. Berbeda dengan adiknya yang berperilaku baik. Oleh sebab itu, rakyat di kerajaan Nusanta lebih menyukai sang adik dibanding sang kakak.

***

Suatu hari, mereka berdua berjalan-jalan di sekitar kerajaan untuk mencari angin segar. Di jalan, mereka dielu-elukan rakyat. Terutama Jovindra. 

Setiba di pasar, timbullah niat jahat Judika. Ketika berjalan di dekat penjual buah, ia menyambar satu buah apel dan cepat-cepat dimasukkan di saku tas Jovindra. Ia pun lantas berteriak pada pedagang buah. 

"Hei kau, pedagang buah. Apakah kamu tidak melihat ada yang berkurang dalam keranjang buahmu ini?"

Mendengar teriakan Judika, Jovindra lantas berhenti. Orang-orang pun juga melihat ke arah mereka berdua.

"E...e... Sepertinya tidak, Pangeran," jawab pedagang buah tersebut.

"Coba kau cek lagi. Aku yakin pasti ada yang kurang. Sebab, aku melihat ada orang yang mengambil satu apelmu," kata Judika sambil tersenyum licik. 
ILUSTRASI APEL. SUMBER: FOTONET

Pedagang pun lantas memeriksa seluruh apel yang berada di keranjangnya. Benar saja, ada satu apel yang hilang. 

Judika lantas menyuruh orang-orang di sekitarnya mengeluarkan isi dalam tas mereka. Tak terkecuali Jovindra. Ketika ia merogoh tasnya, ia menemukan ada benda yang menonjol dalam tasnya. Ketika dikeluarkan, ternyata apel milik pedagang tadi.

Jovindra kaget bukan kepalang. Merasa tidak mengambil, ia lantas membela diri. "Sungguh, aku tidak tahu kenapa apel ini bisa berada di tasku," kata Jovindra. Bukannya membantu, Judika malah menuduh Jovindra mengambil apel itu. 

"Bagaimana bisa adikku, bukankah apel tidak punya kaki? Masak ia bisa jalan sendiri ke tasmu. Sudahlah adikku, kau mengaku saja, memang kau yang mengambil apel itu. Bahkan aku lihat tadi dengan jelas, tanganmu memang mengambil apel itu."

"Kakak, setega itukah kakak menuduhku. Aku berani bersumpah, bukan aku yang mengambil," teriak Jovindra. Namun, sia-sia saja Jovindra menjelaskan. Orang-orang yang berada di pasar tersebut telanjur mempercayai perkataan Judika.

***

Berita tentang Jovindra yang mencuri telah sampai ke telinga Raja Jalandra. Betapa malunya Raja Jalandra kala itu. Begitu pula dengan Ratu Jisca. Ia sangat terpukul sekali. Padahal selama ini, Jovindra dikenal sebagai anak yang baik.

Malam hari, ia mengumpulkan seluruh anggota kerajaan. Tak terkecuali kedua putranya.

"Sungguh, Ayah sangat malu dengan kelakuanmu, Jov. Ayah mengira kamu anak yang baik. Tapi kenapa kamu seperti itu di belakang Ayah. Apa kamu pernah diajari mencuri oleh Ayah?"

"Ayah, jujur... Bukan Jov yang mencuri. Sumpah Ayah, Jov sama sekali tidak mengetahui kenapa apel itu bisa berada dalam tas Jov. Ayah, percaya Jov...," kata Jovindra sambil menangis.

"Tapi Ayah, Judika benar-benar melihat tangan Jov mengambil apel itu. Dia berjalan persis di sebelah dengan keranjang apel itu. Makanya dengan gampang, ia menyambar apel itu dan cepat-cepat memasukkan dalam tasnya," ucap Judika.

"Kakak bohong!! Kak, apa yang kakak pikirkan? Kenapa kakak setega ini menuduhku? Apa yang kakak mau dari aku?"

"Ayah selalu mengajari kami untuk jujur. Walaupun jujur itu menyakitkan, namun Ayah percayalah. Apa yang Judika bilang adalah benar. Meski Jov adalah adik Judika, namun Judika tidak akan menutup-nutupi kesalahan Jov."

"Kakak!! Ayah, ibu.. Demi Tuhan, Jov tidak melakukan perbuatan itu. Ini hanya karangan kakak saja. Percayalah pada Jov..." ratap Jovindra sambil memohon ampunan dari kedua orangtuanya.

Jauh di lubuk hati, raja dan ratu sebenarnya juga tidak mempercayai apa yang dikatakan Judika. Namun, kenyataannya apel ada di tas Jovindra. Sementara mereka tengah kebingungan, Judika dan Jovindra malah bertengkar. Hingga, Raja Jalandra naik pitam. 

"Judika! Jov! Sudah diam!! Jov, perilakumu benar-benar keterlaluan. Apa yang Ayah katakan pada rakyat, ternyata anak Ayah adalah seorang pencuri. Ayah malu! Mulai sekarang, Jov bukan anak Ayah lagi. Keluar dari istana sekarang. Ayah tidak sudi punya anak seorang pencuri! Keluar dari istana sekarang juga!!" usir Raja Jalandra. 

Mendengar itu ucapan Raja Jalandra, semua orang kaget. Tak menyangka raja akan mengusir Jovindra. Ratu yang mendengar itu semakin menangis menjadi-jadi. 

"Ayah....," ucap Jovindra lirih, tak menyangka ia akan diusir ayahnya.

"Keluar sekarang juga dari istana. Ayah tak sudi melihatmu lagi!"

Ucapan raja Jalandra ini disambut dengan gelegar petir dan hujan yang turun dengan deras.

ILUSTRASI HUJAN. SUMBER: CLIPARTPANDA
Apa boleh buat, Jovindra terpaksa menuruti perkataan sang ayah. Dengan gontai, ia keluar dari istana dan menuju ke sebuah sungai yang berada di belakang kerajaan. Sungai itu cukup deras alirannya. Sementara Judika tersenyum simpul melihat kemenangannya. 

"Ayah, jika ayah tak bisa mempercayai apa yang Jov ucapkan, silakan. Namun, alam akan membuktikan bahwa Jov sama sekali tidak bersalah. Jov akan menceburkan diri ke dalam sungai ini. Jika, setelah menceburkan diri banyak ikan yang memakan tubuh Jov, berarti Jov tidak bersalah. Namun, jika tidak ada ikan, Jov memang pantas dihukum!" teriak Jov di tengah derasnya hujan.

Sebelum sempat mencegah keinginan Jov, Jov lantas menceburkan tubuhnya ke dalam sungai. BYUR!!!! Benar saja, banyak ikan yang mengerubungi dan memakan tubuh Jov yang sudah mati. Orang-orang yang melihat peristiwa tersebut, terperangah kaget. Benar apa yang dikatakan Jov, bahwa ia tidak mencuri. Raja pun menyesali keputusannya telah menuduh putra tercintanya tanpa bukti. Sejak itulah, penduduk kerajaan Nusanta memberi nama sungai itu Sungai Jovindra. (*)

Purwokerto, 4 Maret 2011 pukul 00.49 WIB





Jumat, 30 Oktober 2015

Banyumas juga Punya Bukit Teletubbies Lho




Sebagian view Bukit Teletubbies di Ds Karangtengah, Cilongok


BENTAR, saya mau nyanyi dulu dan, eh coba tebak single ini ada di serial apa ya? "Tinky-Winky, Dipsy, Laa Laa, Po. Teletubbies, Teletubbies, berpelukan... Eh Oh. Beep beep."

Sudah bisa ketebak ya? Jelas, semua anak-anak yang hidup di era 90-an pasti inget dengan serial ini, kecuali yang tidak. Yap, Teletubbies

Selain para tokoh yang lucu bin nggemesin, ada yang membuat saya jatuh cinta dan terus ingat serial ini hingga sekarang, yaitu Teletubbyland. Teletubbyland merupakan wilayah dengan bebukitan kecil nan hijau, lengkap dengan tanaman bunga, kelinci, burung, serta rumah Teletubbies.

Dari serial inilah, setiap tempat atau bebukitan hijau langsung disematkan nama Bukit Teletubbies. Dan, sepengetahuan saya, Bukit Teletubbies di Jawa itu baru ada dua, yaitu di Gunung Prau dan kawasan Gunung Bromo.

Ternyata, nggak jauh dari 'rumah' saya, di Banyumas ada lho tempat yang disebut Bukit Teletubbies. Lokasinya ada di dekat Curug Cipendok, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Untuk detilnya, baca sampai selesai ya karena akan saya ceritakan semua di tulisan ini. Ini dia...

Kaki-kaki. Dunia yang seluas jangkauan kaki.
Saya mendapat cerita tentang Bukit Teletubbies dari Nur Fatimah, itu adik saya yang paling kecil, manja, tapi paling kuat bawa carrier. Hihihi. Berbekal penjelasan singkat, kami, saya, Rosmawati alias Kak Ros, Reni Suryati, dan Nur sepakat main ke Bukit Teletubbies, Minggu (11/10) kemarin. Saya, Kak Ros, dan Reni berangkat dari Purwokerto sekitar pukul 10.00 WIB, sedangkan Nur nunggu di Cilongok karena rumahnya di Ajibarang, yang jaraknya lumayan deket

Dengan menggeber si ganteng maksimal Supri -yang belum juga di-service sejak turun dari Dieng dan jatuh di Baturraden beberapa waktu lalu- kami pun meluncur mulus di jalanan Purwokerto-Cilongok. Sempat beberapa kali terjebak macet karena perbaikan jalan di Karanglewas dan Pasar Cilongok, sampailah kami di meeting point dengan Nur di pertigaan arah ke Desa Karangtengah, Cilongok. Sementara kami menunggu Nur, Reni memilih untuk kondangan dulu.

Nggak lama Nur pun datang dengan riangnya. "Tenang Mbak, aku udah bawa makanan sama minuman..." serunya setelah turun dari motor. Alhamdulillah, ini yang saya harapkan karena rasa haus sudah terasa sejak di jalan tadi. Bebalnya saya, nggak kepikiran buat mampir ke warung atau toko buat beli minum. 

Tak ingin kehilangan banyak waktu, kami segera melanjutkan perjalanan, lurus menuju Bukit Teletubbies. Arahnya sama kok kalau ke Curug Cipendok, ikutin jalan aja. Be calm, jalannya udah mulus kok dan diselingi banyak tanjakan yang cukup wow! Lumayan bikin si Supri ngos-ngosan. Hahaha. Saya? Ya berdoa semoga kuat nanjak sambil memacu dia pelan-pelan.

Sampai di pertigaan besar arah ke curug, berhenti bentar, tarik napas, dan tenangkan pikiran. Kalau nggak, bisa-bisa salah belok kayak saya. Iya, karena harusnya saya belok ke kiri, bukan ke kanan. Kalau ke kanan itu memang ke curug, sedangkan tujuan kami ke Bukit Teletubbies yang ada di sisi kiri. 

Dari pertigaan itu, tujuan sudah semakin dekat. Melintas di turunan terakhir, lalu arahkan ke kanan saat sampai di tikungan. Kerja keras sedikit melewati jalur bebatuan dan sampaiiiii

Begitu turun dari motor, beberapa pemuda dari Desa Karangtengah, di mana lokasi bukit itu bersemayam, sudah menyodorkan lembaran tiket masuk dan parkir. Kami perlu membayar Rp 3 ribu per kepala. 

Langsung saja, bagai anak sapi yang digembala, kami langsung berlarian menuju bebukitan hijau itu. Mencari tempat yang enak buat duduk dan nggelar lapak berupa aneka snack yang dibawa dari rumah. Kayak piknik keluarga? Ya memang. Hahaha

"Itu Kak Ros kamu apain, Ren?" dan Nung cuma melihat tanpa tahu berbuat apa.
 "Ini cara pengusiran yang halus," kata Kak Ros yang kami sambut dengan tertawa. Hehehe. Bisa-bisa. Maap ya mas dan mbak... (",)v

Beruntung, cuaca waktu itu tak terlalu panas. Tapi karena cuaca sedikit berawan itu, langit di atas Bukit Teletubbies tak terlalu biru dan terang. Sedikit kurang gimana gitu kalau difoto. #kayakkamubisamotretjul

Sebagian perbekalan. Maklum, kami wanita. 
Nggak cuma ngobrol, saling ledek, atau curhat kesamaan nasib (you know what-lah ya), aksi selfie dan groufie jadi hal yang tak boleh terlewatkan. Termasuk aksi jahil saya waktu meminta mereka lari-larian di padang terus saya foto dari atas. Hasilnya, ya mereka kayak semut lah. Lha wong kuecil buanget. Hihihi

Sejauh mata memandang, yang saya lihat di bebukitan ini hanya warna hijau. Hijaaaauuuu semuaaa. Ada bukit-bukit kecil, pepohonan rindang. Mirip sama Teletubbyland-nya di serial anak-anak itu. Teletubbies-nya, ya kita-kita ini. Pas kan, berempat. 
Hijau, Hijau, Hijau. 
Rumputnya memang bukan jenis rumput yang halus, kayak rumput Jepang atau rumput sintetis. Melainkan rumput yang biasa untuk makan sapi. Iya karena dari penuturan warga sekitar, dulunya lokasi ini memang buat tempat angon sapi.

"Kak Ros, kamu kenapa?" 
Puas foto-foto dan sempat mati gaya, kami pun memutuskan untuk mlipir, jalan lagi ke tempat lain. Waktu itu, lumayan ramai sama anak-anak muda.

Ketika jarum jam sudah menunjuk angka dua, artinya kami harus bergegas. Utamanya saya, harus segera pulang. Maklum, mau kerja booo. Pun kondisi Kak Ros yang sedikit 'mengkhawatirkan' karena ternyata ini hari pertamanya kedatangan tamu. Segeralah kami memaju kendaraan pulang. Perjalanan pun diakhiri dengan kembali segarnya Kak Ros setelah makan Mi Ayam Kamandaka, depan rumah. Haisshhh!!! (*)


Galeri:
Buka makanan, grak!!!

Aku akan tetap kokoh, Jul. Kamu juga ya. #oposih?

Katanya, biar di-endorse. Kiri sama Hand Sanitizer-nya Nuvo, tengah Vaseline, kanan, nggak tahu sama apa. 

Perhatikan Bukitnya, jangan modelnya. 

Kan... Akunya nggak diajak selfie. Huftttt

"Mbak, itu yang sebelah sana mau kubikin kandang."
"Ya udah, sisanya mau aku bikin kolam ikan sama rusun." #khayal


Celfie eh Groufie ya pake B612. Ngoahahaha.

Pasukan Teletubbies yang bentar lagi jadi Pasukan Bela Negara

Aku menemukan damai di sini. 




Minggu, 18 Oktober 2015

Menebas Rindu di Gunung Slamet: Puncak Nggak Akan Lari Kok


YAP. Ini adalah bagian terakhir dari tulisan khas alias feature-nya Rizqi. Tulisan ini lebih pada perjuangan mereka ke Puncak Slamet. Selanjutnya, silakan disimak. Semoga berkenan, maaf bila ada salah-salah kata. 

==================================================================

KONDISI kawah Gunung Slamet di sekelilinganya masih terdapat
 material pasir hitam akibat erupsi setahun yang lalu, Senin (28/9).
SATELITPOST/RIZKY RAMADANI


PUNCAK ada di hadap kami. Tanah tertinggi di Jawa Tengah itu, nyata di depan kami. Tinggal beberapa langkah lagi, kaki ini akan menjejak untuk kali ketiga.

Rupanya, kami sudah berjalan selama 2,5 jam dari Pos 5 Samhyang Rangkah menuju Pos 9 Pelawangan. Kami mulai pendakian dari Pos 5, tempat kami ngecamp pukul 07.30 WIB dan sampai di Pos 9, yang menjadi 'gerbang' menuju puncak Slamet pukul 09.00 WIB. 

Jalan dari Pos 5 hingga Pos 6 Samhyang Jampang tak terlalu jauh. Cukup mendaki sekitar 25 menit, kami sampai di ketinggian 2800 mdpl. Kami pun sempat beristirahat sebentar, duduk santai di sebatang pohon yang tumbang. 

Usai mengembalikan tenaga, kami kembali berjalan menuju Pos 7 yang jaraknya sedikit lebih jauh. Sepanjang perjalanan menuju pos bernama Samhyang Kendit tersebut, saya menjumpai 'keajaiban' lain, tanaman edelweis. Saya bersyukur masih bisa menjumpai si bunga abadi dengan kecantikan yang sungguh memikat ini. Sesi foto bersamanya pun jelas tak kami lewatkan.
Jalur menuju Pos 7. Iya, ini yang kebakaran kemarin.

Sayangnya, baru beberapa langkah dari rerimbunan si bunga abadi, kami menjumpai pemandangan yang tidak enak dilihat. Di jalur yang kami lewati terdapat sisa-sisa pohon bekas terbakar. Akibat dari ulah pendaki yang sembrono membuat api unggun dan tidak benar-benar dimatikan saat meninggalkan, membuat terjadinya insiden kebakaran di jalur pendakian. Kejadian ini terjadi usai dibukanya kembali jalur pendakian Slamet pasca-erupsi.

Dari Pos 7, kami langsung beranjak ke Pos 9, tanpa perlu berhenti di Pos 8 Samhyang Katebonan. Pasalnya, jarak antara ketiga pos ini teramat pendek. 

"Mau muncak, Mas? Udah, istirahat dulu saja. Puncak nggak akan lari kemana-mana kok," kata seorang pendaki yang tetiba saja menyapa kami begitu sampai di Pos 9.


Monggo, istirahat dulu, Mas. Nggak akan lari puncak dikejar. 
Ajakan ini tak kuasa kami tolak. Selain mengistirahatkan kaki, kami juga perlu menghimpun tenaga untuk pendakian ke puncak yang jelas-jelas ada di depan saya. Ya, pendakian sebenar-sebenarnya pendakian dimulai dari Pos 9. Medan terjal dengan kemiringan kurang lebih 30-45 derajat serta material batuan cadas akan menjadi sahabat kami. 

Dengan penuh perjuangan serta kesabaran, kami mulai menapakkan kaki di bebatuan cadas. Pelan-pelan agar tidak terperosok. Maklum, bebatuan di sini ada yang berbentuk kerikil yang bisa membuat kaki terperosok jika salah meniti langkah. Perlu keseimbangan serta kehati-hatian saat melewati medan ini. 

Baru setengah perjalanan di medan bebatuan tersebut, kabut mulai ikut naik. Matahari langsung tertutup awan dan sempat membuat kami kecewa. Tak mungkin menyelesaikan perjalanan dengan kondisi seperti ini. Sangat berbahaya jika semua jalur tertutup kabut. Selain juga menutup pemandangan di atas dan kawah Gunung Slamet.


Jalur menuju Puncak Slamet. Juli, lihat Mbak itu, kamu nggak kepengin? 
Kami tunggu dengan sabar sampai kemudian kabut itu menghilang dan mulai lagi pendakian. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, sampai satu setengah jam kemudian, kami berhasil melewati jalur bebatuan dari Pos Pelawangan. 

Yes. Puncak! Dua kaki saya rupanya sudah menginjak di puncak. Dua kaki saya sudah menapak di tanah tertinggi Jawa Tengah dengan ketinggian 3482 mdpl. Kami bertiga, saya, Ega Firmanto dan Mujiono sampai dengan selamat di atapnya Jawa Tengah. 

"Alhamdulillah akhirnya sampai semua di puncak," kata Mujiono, anggota organisasi pencinta alam Walang Ajibarang yang kali pertama naik ke Gunung Slamet.

Ada banyak rasa yang tak bisa dilukiskan. Haru, bahagia, senang, jadi satu. Juga rasa syukur yang tak henti kami ucapkan pada Tuhan. Sungguh, terima kasih Tuhan sudah melindungi dan menjaga kami. Sudah menciptakan karya yang luar biasa indah ini. Kami sangat kagum, terpesona, sampai tak henti-henti memandang sekeliling puncak.

Puas menikmati pemandangan ini, kami kembali berjalan menuju bibir kawah. Ada semacam tugu atau batas kabupaten antara Purbalingga-Banyumas. Dari situ, kami melihat kawah Gunung Slamet yang begitu luas, lengkap dengan lubang menganga di tengah kawah berselimutkan kepulan asap belerang. Bila ingin mengitari kawah, bisa ditempuh dengan waktu sekitar dua jam. 
PUNCAK SLAMET, 3482 MDPL. 

Saya takjub melihat karya ini. Sempurna dari Sang Maha Sempurna. Saya pun lantas mengingat bagaimana perjuangan untuk sampai di sini. Canda tawa dengan pedagang dan pendaki lain. Tertatih-tatih melewati jalur pendakian. Menikmati kemewahan di pagi hari, ngopi sambil melihat sunrise. Sungguh, ini akan jadi cerita tak terlupakan. 

Puas menikmati pemandangan di puncak, yang walaupun tertutup kabut, pukul 11.30 WIB, kami bergegas turun. Kembali ke Pos 5. Dibanding perjalanan naik, perjalanan turun kali ini lebih cepat dan tidak menguras tenaga. Yang diperlukan hanya kehati-hatian dan fokus saat menuruni lereng supaya tidak tergelincir dan jatuh ke jurang.

Satu setengah jam kemudian, tepatnya pukul 13.00 WIB, kami sudah nyante di Pos 5. Cepat kan? Kami tak ingin bergegas pulang dan memutuskan kembali 'menginap' di hotel seribu bintang, bertakhtakan bintang-gemintang di langit. 

Keesokan harinya, Selasa (28/9), kami bersiap untuk berkemas. Pulang menuju Basecamp Bambangan. Berangkat dari Pos 5 pukul 07.30 WIB, sampai di basecamp pukul 11.30 WIB. Kami sangat santai saat perjalanan pulang dengan alasan ingin lebih menikmati pemandangan di sekitar Gunung Slamet. Padahal alasan sebenarnya, kaki saya terkilir sehingga 'menghambat' laju jalan.

Bagi saya, ini sungguh perjalanan yang amat menyenangkan. Bisa kembali datang, mengunjungi Simbah Slamet adalah satu keinginan saya selama delapan tahun ini. Kerinduan padanya sudah tertebas dan tersampaikan. Lunas. Namun, bukan berarti saya tak akan lagi mengunjungi Gunung Slamet. Pasti. Suatu hari nanti, saya akan kembali lagi ke sini. Tentu dari jalur pendakian yang berbeda. Terima kasih Tuhan, alam, dan Gunung Slamet. 

Sekadar saran bagi yang ingin melakukan pendakian, siapkan fisik, mental, peralatan, dan logistik. Utamanya air. Sebagai pandangan, kami membawa tiga botol air mineral ukuran besar, dua botol ukuran kecil, dan dua derigen air masing-masing lima liter. Musim kemarau menjadikan ketiadaan mata air di Pos 5 sehingga mau tidak mau harus membawa air dari basecamp. 

Selain itu, pastikan api yang telah dibuat baik dalam bentuk rokok maupun api unggun, harus benar-benar mati. Jika tak ingin kejadian kebakaran kembali terulang dan membuat jalur pendakian kembali ditutup seperti sekarang ini. Jangan lupa juga, bawa turun sampahmu. Gunung bukan tempat sampah. Salam. (rizqi ramdhani)


note: setelah merampungkan tulisan ini, Rizqi kembali lagi ke Gn Slamet dengan dalih mengantar teman-temannya dari Bekasi. 

Kamis, 15 Oktober 2015

Ngopi di Pos 5 Sambil Menikmati Sunrise


INI adalah bagian ke dua dari tulisan, Menebas Rindu di Gunung Slamet karya layouter SatelitPost. Bagian pertama, bisa dilihat di link http://tulisanjuli.blogspot.co.id/2015/10/menebas-rindu-di-gunung-slamet.html.

Sesuai dengan judulnya, tulisan ini bercerita tentang moment sunrise di Pos 5. Tentu, masih ada satu tulisan tentang perjalanan ke puncak. Sabar ya. Untuk sementara, sila disimak. 

===========================================================
MATAHARI terbit  difoto dariPos 5 pendakian Gunung Slamet, Senin (28/9).
SATELITPOST/RIZKY RAMDHANI

DELAPAN tahun yang lalu. Tepat di tanggal 17 Agustus 2007, pagi. Usai pengibaran sang saka Merah-Putih di puncak Gunung Slamet oleh Mapala Satria UMP. Setelah perayaan Hari Kemerdekaan. Api berkobar di Pos 4 Samarantu. Kabar ini datang dari seorang pendaki dan langsung tersiar cepat, termasuk di telinga saya. 

Insiden ini memaksa saya dan 239 pendaki lainnya bertahan atau mungkin lebih tepatnya terjebak di puncak. Demi apapun, kami tak bisa turun kala itu.

Delapan tahun kemudian. Senin (28/9), saya sudah terbangun di 'rumah' kecil kami di Pos 5 Samhyang Rangkah. Di atas ketinggian 2650 mdpl itu, masih terekam jelas dalam ingatan semua detil peristiwa delapan tahun silam. 

Ya, saya selamat. Sebab tak lama dari kabar kebakaran itu, tim Basarnas bergegas mendaki untuk melakukan pemadaman. Saya tak tahu persis apa penyebab kebakaran tersebut. Itulah satu peristiwa menegangkan yang pernah saya alami saat melakukan pendakian. 

Selain saya, dua rekan dalam pendakian, Ega Firmanto dan Mujiono juga telah bangun. Walau badan masih terasa pegal, mata merah kurang tidur, kami tetap memaksakan diri untuk bangun, untuk menyaksikan sebuah keajaiban alam di pagi hari. Golden sunrise di Pos 5 Gunung Slamet.

Demi menghangatkan badan dan suasana, saya pun bergegas memasak air. Kami sepakat untuk membuat kopi sebagai minuman 'pembuka' di pagi hari. Aroma harum kopi langsung menguar begitu air panas disiramkan di atasnya, memenuhi indra penciuman. Wuuuhhh, sedeppp... Itulah kemewahan yang bisa saya rasakan di gunung. Kapanlagi bisa ngopi di atas gunung sambil lihat sunrise?!

Bersandingkan secangkir kopi, kami bersama para pendaki lain, berdiri memandang ke arah yang sama. Timur. "Ini nih moment yang paling saya tunggu kalau manjat (Gunung) Slamet, lihat sunrise," kata seorang pendaki yang duduk di depan tenda. Mau tidak mau, ucapannya harus saya amini. 

Dan, kejadian tersebut cepat saja. Di timur, pancaran garis cakrawala berwarna merah kekuningan mulai terlihat. Itu jadi satu tanda, sang penguasa siang akan segera terbit. Saya pun bersiap, berbekal kamera ponsel, mengarahkan posisi di mana ia akan muncul dan mulailah, klik klik klik. Ia, matahari bangun, muncul dan menampakkan diri. Menjadikan semua panorama yang lihat menguning, bukan kuning melainkan, menjadi emas seperti warnanya. Juga semburat warna biru. Menjadikan langit yang semula pekat menjadi terang. Membangunkan semesta raya dan tentu saja saya yang masih terkantuk-kantuk. 

"Mas, minta tolong fotoin dong, yang belakangnya ada sunrise ya," pinta seorang pendaki wanita sembari menyodorkan kameranya. 

Saya pun tak kuasa menolak permintaan itu, walau sebenarnya saya juga kepengin difoto seperti itu. Hehehe.

Sejuknya udara pagi, ditambah kicauan burung, suara khas babi hutan, dan lolongan anjing hutan menambah semarak suasana pagi hari di Pos 5. Hijaunya punggungan bukit yang mulai terlihat kala matahari kian meninggi, membuat mata semakin segar. Sebuah harmoni panorama yang luar biasa indah. 

Suasana dan kondisi Pos 5 juga kian ramai dengan coletehan-celotehan para pendaki. Ada sekitar lima tenda yang berdiri di camp area tersebut. Dalam hitungan saya, itu banyak dan sempat membuat kami bingung saat mendirikan tenda. Kondisi Pos 5 sekarang jauh berbeda dibanding dulu. Dulu, area camp masih luas. Sekarang, sudah nampak rimbun dengan tanaman perdu. 

Tak terasa, jarum jam sudah menunjuk angka enam. Saatnya sarapan. "Gie arep masak apa nggo sarapan? Masak sayur bayem bae apa?” tanya Ega kepada saya. 

"Ya kena, sing penting kena nggo sarapan, nyong tak gawe wedang susu ya," sahut saya kepada Ega, si atlet maraton. 

Momen kebersamaan dan canda tawa riang menemani aktivitas pagi itu. Tentu saja, apapun makanannya tetap kami lahap sebab bagaimana pun saat melakukan pendakian ke puncak, jangan sampai perut dibiarkan kosong. Sarapan itu kunci. 

Usai sarapan, kami masuk ke tenda, menyiapkan bekal untuk summit attack. Bersiap menuju puncak. Bersiap menjejak di ketinggian 3428 mdpl. Bersiap melangkah di tanah tertinggi di Jawa Tengah. Tuhan, restui dan lindungi perjalanan kami. (*)


penulis: rizqi ramdhani
editor: sri juliati